All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

[Review] Kung Fu Panda 3

Reviu Kung Fu Panda

“You don’t even know kung fu!”
“Then you will teach us.”

Yeah! Akhirnya kita bersua lagi dengan Po, Panda jagoan yang kelakuannya lumayan menyebalkan. Saya yakin kita mengikuti kiprah Po dari jaman dia belum bisa kung fu sama sekali di Kung Fu Panda hingga kemudian bisa mendapatkan ‘inner peace’ di Kung Fu Panda 2 yang sudah lima tahun silam itu. Ibarat anak tangga, sesudah Po belajar jadi ksatria naga dan menguasai ‘inner peace’, kini saatnya Po merambah gawean baru: seorang guru.

Kalau mau dirunut, sepanjang dua edisi Kung Fu Panda, boleh dibilang kita hanya menemukan panda selain Po dalam konteks flashback. Dan kalau ingat, pada akhir Kung Fu Panda 2 muncul adegan sesosok panda tua yang merasakan bahwa anaknya masih hidup. Sambungan dari perasaan panda tua tadi baru muncul lima tahun kemudian. Gile, lama bener.

Selengkapnya tentang Kung Fu Panda 3!

Biskuit Menyala Ketika Dibakar? Mari Sayangi Otak Kita!

3D X-Ray of head with gears in brain

“Learning without thought is labor lost;
thought without learning is perilous.”
-Confucius

Terlepas dari pernyataan di atas dikeluarkan oleh orang dari Tiongkok sana dan merupakan leluhur dari salah satu mantan saya, tapi muatan dari rangkaian kata-kata yang mengawali tulisan ini adalah benar. Belajar tanpa berpikir, itu sama saja dengan buang-buang tenaga. Namun penekanan saya kali ini lebih kepada kalimat kedua: sekadar berpikir tanpa belajar itu bahaya, broh.

Jadi beberapa hari ini saya menyaksikan video viral, di-share oleh puluhan ribu manusia. Namanya manusia, punya otak, tentu saja bisa berpikir. Video viral itu adalah soal makanan sejenis biskuit yang syukurlah bisa terbakar, sehingga syukurlah videonya bisa viral, dan syukurlah jadi pada terkenal, dan syukurlah kita jadi tahu mana teman Facebook kita yang belajar dan berpikir, belajar tanpa berpikir, hingga berpikir tanpa belajar. Disyukuri saja, kak.

Saya tentu saja ogah ikutan nge-share video macam itu, tapi biar jelas saya nge-share screenshoot-nya saja, ya. Sudah menjadi visi misi ariesadhar.com untuk memberi pencerahan pada masyarakat selain dengan konsisten menyebarluaskan kegalauan dan kegamangan tentang jomblo menahun maupun LDR berkelanjutan. Hal itu tetap saya lakukan walaupun buku OOM ALFA kurang laku. Untuk itu, beli dong bukunya disini, ya?

Bakar

Baca komen-komen di video, saya sungguh trenyuh. Ternyata selain populasi jomblo yang besar, populasi orang-orang yang kurang paham tentang muatan video tersebut juga besar. Ya pantas saja keder sama MEA. Padahal kalau kita sadar, dibandingkan keder sama MEA, lebih baik kita keder sama MERTUA!

Selengkapnya!

Sebuah Godaan Untuk Menjadi Orang Baik

Orang Baik

Pembaca ariesadhar.com pasti mahfum benar bahwa saya nggak pernah menulis tentang pekerjaan saya dengan frontal. Bahkan nama perusahaan tempat saya bekerja dulu, cuma tertulis 1 kali saja dari sekian ratus posting yang menghuni blog berumur nyaris 8 tahun ini.

Kalaupun saya menulis tentang pekerjaan, itu adalah ilmu tentang pekerjaan yang saya lakoni, semisal salah satu posting terlaris di ariesadhar.com ini, atau tentang audit-auditan yang jumlahnya lumayan banyak. Kalaulah ada yang curhat, biasanya saya samarkan dengan cerita pendek. Bahkan saya sendiri baru mengaku ke dunia maya mengenai pekerjaan saya sekarang, baru ketika diwawancara sama bidhuan.com. Nggak percaya? Cek saja profil Facebook maupun LinkedIn saya. Disitu hanya tertulis bahwa saya adalah blogger di ariesadhar.com. Itu saja.

Maka, posting ini mungkin adalah salah satu jenis tabu di ariesadhar.com, tapi nggak apa-apa, demi menyemarakkan agenda Mengarang Indah milik De Britto Blogger Club alias DBBC yang dikoordinir dari Jalan Bantul Kilometer 5075. Spesial!

Jadi, sesudah nyaris satu periode SBY-Boediono berkutat dengan Supply Chain baik di pabrik obat maupun pabrik ekstrak bahan alam, saya akhirnya mendapati sebuah turning point. Titik ketika kehidupan saya berubah begitu drastis. Dari gaji X menjadi sepertiga X, dari hidup mengurusi Capital Expenditure (CAPEX) dan Operating Expense (OPEX) hingga penyusunan bujet yang bunyinya miliaran menjadi pengantar surat, dari orang yang disapa ‘Pak’ oleh sebagian besar operator, menjadi manusia yang harus mengganti galon dengan bahagia. Ehm, kalau urusan membenahi kertas yang nge-jam, sih, tidak berubah. Sama saja, di pabrik iya, di kerjaan sekarang juga iya.

Selengkapnya!

Menikmati 5 Santapan Khas Makassar

Jpeg

Setelah 3 kali mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin namun tidak turun dari pesawat–karena memang pesawatnya transit dari Kendari dan dari/ke Jayapura–akhirnya saya mendapat kesempatan untuk benar-benar mendarat dan menginjakkan kaki di Sulawesi Selatan. Lumayan, sesudah kaki sisi Tenggara dan kepala, saya bisa juga berada di kaki sisi Selatan dari celebes. Wow!

photogrid_1454738199551.jpg

Dalam waktu nan singkat, memang sulit untuk menikmati suatu kota. Begitu, sih, pengalaman saya. Namun bagaimanapun, namanya lagi perjalanan kiranya rugi jika tidak menikmati santapan khas suatu kota. Termasuk ketika saya berada di Makassar, tentunya ada niatan untuk menikmati setiap kunyahan khas Makassar, meskipun sesudah makan terus mikir kira-kira berapa nilai kolesterol dalam darah. Heu. So, ini dia output kunjungan singkat saya ke Makassar, 5 santapan saja, kakak.

Klik untuk membaca selengkapnya!

Daftar Penyesalan: 6+1 Tempat Impian Untuk Dikunjungi di Sumatera Selatan

SONY DSC

Maret 2009, kali pertama saya melihat kokohnya Jembatan Ampera dari balik awan. Pertama kalinya pula mata saya mengagumi lekuk Sungai Musi nan mengagumkan itu. Dipadu garis nasib, akhirnya pertemuan pertama itu mengikat saya hingga akhirnya datang kembali ke Bumi Sriwijaya pada bulan Mei 2009. Kali ini sebagai manusia yang hendak bermukim di kota Palembang.

FILE048-edit

Sebuah perjodohan yang berusia 2 tahun nan sangat membekas bagi saya. Meski karena berpisah dengan Bumi Sriwijaya-lah saya jadi bisa melihat sisi lain Indonesia mulai Kendari sampai Papua. Maka, bahkan ketika sudah hampir lima tahun saya meninggalkan Bumi Sriwijaya pada umumnya dan Palembang pada khususnya, saya selalu punya kerinduan khusus pada Bumi Wong Kito Galo ini. Apalagi, banyak sekali tempat yang belum saya singgahi selama saya menjadi manusia yang minum air Musi. Tempat-tempat yang pada akhirnya berakhir sebagai perencanaan dari sekadar makan siang di kantin, tanpa sempat menjadi realisasi.

Tempat apa saja itu? Payo dijingok!

Selengkapnya!

98 Hal Yang Pernah Dilakukan Anak Farmasi di Laboratorium

98HalAnakFarmasi

Dua hari ngubek-ngubek laboratorium yang kurang lebih setara canggihnya sama kantor lama bikin rindu masa-masa di laboratorium. Mengingat saya nggak pernah jadi QC, maka yang saya maksud rindu itu adalah masa-masa kuliah. Ya, masa-masa yang sama persis ketika saya mengenangnya via 97 Fakta Unik Anak Farmasi. Jadi nggak usah berlama-lama, berikut ini hasil mengenangnya: 98 Hal Yang Pernah Dilakukan Anak Farmasi di Laborasitorustorium:

Selengkapnya!

Jadi Konsumen Cerdas Dengan Aplikasi Cek BPOM

bepepom

Satu hal yang meresahkan saya belakangan ini–selain dari populasi jomlo yang meningkat–adalah berseliwerannya share-share-an di Facebook. Share yang dilakukan dari website dengan nama merangsang semacam ‘bagikanlah.net’ atau ‘sakkarepmulah.com’ ini ditunjang dengan judul nan semlohai pula, seperti ‘Terungkap! Babi Ternyata Haram! Sebarkan Jika Peduli!’. Dan yang paling bikin gemas adalah share-share-an itu kebanyakan tentang obat dan makanan, dan bagian paling mengenaskan adalah sebagian besar HOAX.

Persepsi saya masih sama seperti ketika saya menulis tentang hoax PPA. Dengan linimasa dan menggila seperti sekarang, saya sungguh merasa perlu agar otak bisa dicuil dan ditaruh sedikit di jempol. Biar orang yang nge-share itu sebelum bertindak mikir dulu. Soalnya, ada nih, kakak kelas dulunya pintar bin asisten–namanya kakak kelas berarti ya apoteker, bukan arsitek, soalnya saya anak farmasi–ketika nge-share sesuatu dan saya bilang hoax, malah nesu-nesu. Njuk aku kudu piye? Aku kudu sayang-sayang Hayati? Nanti Hayati lelah. Heu.

Untunglah, regulator tentang obat dan makanan di Indonesia lumayan MULAI responsif. Maklum, tahun 2014 awal saja ketika Twitter lagi galak-galaknya, regulator bernama Badan POM itu bahkan belum punya akun untuk bercuit ria. Untungnya sekarang sudah ada. Salah satu inovasi yang dibuat oleh Badan POM–yang sering kali dengan semena-mena disebut sebagai BPPOM itu–adalah aplikasi Android! Soal BPPOM ini kesalahsebutannya masif dan terstruktur. Pernah lihat gedung MLM di bilangan Gatot Subroto? Itu kan ada layarnya, dan tertulis bahwa produknya sudah terdaftar di BBPOM. Beuh!

Kembali ke topik. Untuk apa, sih, aplikasi Android?

Selengkapnya tentang Cek BPOM!

Menikmati Martabak 65A Nan Legendaris

Jpeg

Sejujurnya, saya bukan sengaja hendak menjadi manusia tukang review martabak. Kalaulah postingan ini tidak begitu jauh jaraknya dengan postingan martabak yang lain, itu lebih karena saya doyan martabak kebetulan belaka. Kalau kata orang keren, cosmological coincidence. Tsah. Ini semua terjadi karena dua hal. Satu, saya ingin makan martabak. Dua, pacar ingin makan di Pecenongan. Supaya mengakomodasi keduanya, maka kami berdua akhirnya makan Martabak Pecenongan.

Bagi saya, martabak adalah suatu pertanda keberlangsungan perekonomian masyarakat. Pertama, martabak bukan makanan primer. Martabak tidak bisa disubstitusikan dengan nasi. Ya, menurut ngana sajalah. Kedua, harga martabak boleh dibilang tidak murah. Mungkin martabak mini di Pasar Genjing murah, 4000 perak saja. Tapi martabak dengan ukuran normal itu diatas 20-30 ribu untuk rasa yang paling plain, kacang coklat. Artinya, ketika masih ada manusia yang beli martabak, berarti ada uang berlebih yang menandakan perekonomian baik. Nah, bagaimana jika harga martabaknya tembus seratus ribu lebih, yang beli ngantre pula? Cukup bisa menyebut bahwa perekonomian masyarakat Jakarta–khususunya–berada dalam posisi tangguh, kan?

Jadi begini, pada suatu malam minggu nan cerah, pergilah saya dan pacar naik si BG dari Benhil ke Pecenongan. Melewati rute umum, Sudirman ke Dukuh Atas lanjut Pasar Rumput lantas Manggarai hingga Matraman dan Kramat Raya, si BG melaju terus via Gunung Sahari hingga melewati Mal Golden Truly. Nah, tinggal belok kiri, kami sudah disambut dengan gapura khas Pecenongan. Sejujurnya, saya tidak terlalu tahu Pecenongan. Bagi saya yang lama tinggal di Cikarang, Pecenongan adalah Jalan Kedasih dan Kasuari di sekitar Jababeka. Padahal, jelas-jelas pada tahun Pecenongan yang asli mulai tumbuh, Pecenongan di Cikarang mungkin masih jadi tempat jin buang anak.

Persis begitu belok kanan, di kanan jalan sudah tampak tulisan ini:
wp-1453124199068.jpegPatokan yang jelas untuk belok kanan dan lantas parkir. Tulisan itu menjadi pembeda karena persis sesudah warung itu ada banyak warung martabak yang lain, sama-sama pakai nomor pula. Namun karena Pacar bilang bahwa Martabak 65A ini adalah pelopor martabak premium, maka saya akhirnya memarkir si BG dengan tertib dan damai. Agak kaget, sih, awalnya karena pukul 20.00 lebih sedikit pelanggannya sudah sembilan puluh sekian. Saya tahunya ya karena petugas Martabak 65A memanggil nomor antrean yang sudah kelar. Kalau dibandingkan dengan martabak yang saya review sebelumnya ini malah dua kali lipat. Buka dua jam, pelanggan seratus. Saya jadi heran, kenapa bisa begini? Ini edan. Orang-orang dipaksa mengantre SATU JAM hanya untuk sebuah kenangan martabak.

Selengkapnya tentang Martabak 65A

[Review] Surat dari Praha

Menyaksikan acara Mata Najwa beberapa waktu yang lalu membuat saya geram. Ya, geram karena ada lho manusia keji yang bahkan rela meniadakan kewarganegaraan seseorang, hanya karena orang itu menolak dia. Kisah eksil tertolak karena stigma sosialis, komunis hingga kata sakti–PKI–itu bahkan masih ada SAMPAI SEKARANG. Po ora edan kuwi.

sumber: detik.com

Maka, ketika ternyata acara Mata Najwa itu mengarah pada iklan film terbaru Angga Dwimas Sasongko yang berjudul ‘Surat Dari Praha’, segera film itu masuk daftar untuk ditonton. Tentu saja tidak sendirian. Sedih amat, kak, nonton sendirian. Yha, seperti saya pas nonton The Avengers, sudah jomlo sendirian pula.

Ngomong-ngomong, sebelum tayang, film ini sudah sempat mendapatkan masalah, karena judulnya yang sama persis dengan sebuah buku yang ditulis oleh Yusri Fajar. Bagi saya, tiga kata itu memang begitu komersial untuk dijadikan judul. Jadi wajar kalau dua karya menggunakan judul yang sama. Saya tidak bisa memberi justifikasi karena saya cuma tukang fotokopi belaka belum baca bukunya. Tapi menurut saya, Mas Yusri Fajar bisa lho mendapatkan keuntungan dari penjualan dengan memakai booming film Surat dari Praha ini. IMHO.

Selengkapnya, baca disini yah!

Belajar Korupsi di Perpustakaan KPK

Belajar Korupsi

Perpustakaan. Beuh. Waktu SD, saya pernah mengalami masa doyan ke perpustakaan karena tempatnya luas dan menawan. Bukan mau baca, cuma mau guling-guling menunggu Mamak pulang kerja. Kala SMP, agak malas karena perpustakaannya ada di pojokan nan sepi. Hiii. Namun saya mulai suka pinjam buku, termasuk buku tentang musibah Tampomas dan heroik itu. Saat SMA? Ini dia. Saya rajin ke perpustakaan. Meminjam dan membaca buku memang iya, namun tujuan yang lebih utama adalah berebut membaca Bola dan Hai terbaru, karena kalau sudah delay 1-2 hari, maka wajah mbak-mbak kece di Majalah Hai sudah tinggal kenangan. Bolong, kak. Tujuan lainnya ya tidak lebih tidak kurang adalah karena nggak punya duit buat jajan di kantin.

photogrid_1453820853167.jpgKetika masuk ke perguruan tinggi, perpustakaan buat saya adalah peraduan kedua. Tenang, masih bukan urusan belajar. Perpustakaan adalah tempat saya kabur dari rumah tempat numpang untuk waktu yang cukup lama–cerita suram masa lalu saya yang bisa dibaca di buku OOM ALFA yang lagi diskon gede-gedean. Selain itu, perpustakaan juga jadi tempat mengetik, karena saya belum punya komputer sendiri. Dan terakhir, perpustakaan adalah tempat melihat gebetan dari jauh, karena dari jendela perpustakaan tampak lorong cinta nan keji itu. Tsah.

Meskipun kini saya juga punya kartu Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) yang letaknya nggak jauh-jauh amat dari kos, tapi perpustakaan tidaklah menjadi bagian integral dalam diri saya, seperti halnya barisan para mantan. Lah. Maka, ketika dalam proses mencari bahan untuk sebuah project, bisa terpikir untuk mencari bahan ke perpustakaan malah bikin saya bingung sendiri. Kok iso kepikiran. Mungkin belum move on.

Selengkapnya baca disini!