Tag Archives: kerinduan

98 Hal Yang Pernah Dilakukan Anak Farmasi di Laboratorium

98HalAnakFarmasi

Dua hari ngubek-ngubek laboratorium yang kurang lebih setara canggihnya sama kantor lama bikin rindu masa-masa di laboratorium. Mengingat saya nggak pernah jadi QC, maka yang saya maksud rindu itu adalah masa-masa kuliah. Ya, masa-masa yang sama persis ketika saya mengenangnya via 97 Fakta Unik Anak Farmasi. Jadi nggak usah berlama-lama, berikut ini hasil mengenangnya: 98 Hal Yang Pernah Dilakukan Anak Farmasi di Laborasitorustorium:

Selengkapnya!

Pulang, Ke Hati Yang Bertuan

Aku pulang
setelah pencarian akan sebuah peraduan
setelah penyadaran akan sebuah kenyataan
setelah peringatan yang (mungkin) datang dari Tuhan

Aku pulang
setelah aku tidak menemukan tujuan
setelah aku tidak melihat masa depan
setelah aku tidak merasa nyaman

sumber: socialmediaforsmartpeople.com

Aku pulang
ke tempat yang masih sama
ke ruang yang tetap tiada
ke hati yang tetap tidak terbuka

Aku pulang
karena cinta memintaku pulang
karena hati ini merindu ruang
karena jiwa ini merasa sayang

Aku pulang
ya, aku pulang

Aku pulang
ke hati yang bertuan
ke hati penuh buncah kerinduan
ke hati pencari kesetiaan

Aku pulang
ke tempat yang tuannya bukan aku
ke tempat yang tidak merinduku
ke tempat yang tidak mencariku

Aku pulang
karena aku ingin pulang
karena aku masih berharap akan sebuah ruang
karena aku merasa menyerah sebelum berjuang

Aku pulang
untuk sebuah rasa yang tak terkatakan
pada sebuah hati yang jelas-jelas bertuan
demi sebuah rasa yang tak tertahankan

Aku pulang,
demi cinta.

Dalam sebuah permenungan, 030912

Makan Siang

Apa yang dirindukan orang kantoran ketika makan siang?

Makannya?
Siangnya?
Tidak kerjanya?

Atau apa?

Buat saya, kerinduan ketika makan siang adalah membahas banyak hal sambil tertawa bersama.

Terkadang kerinduan itu muncul lagi.

Saya pernah makan siang di beberapa perusahaan. Sebuah perusahaan di Jalan Raya Bogor punya nuansa yang asyik karena outdoor. Selain itu, juga asyik karena ada Plant Manager yang hobi cerita.

Saya pernah juga makan siang di sebuah pabrik di Bandung. Maaf kata, yang ini nggak banget. Kondisi tertutup dan sama sekali tidak hangat. Entahlah, itu kan menurut saya.

Nah, suasana paling enak saat makan siang adalah di sebuah perusahaan lain lagi, bukan di dua yang saya sebut pertama. Istirahat diplot 1 jam, dan nyaris dari 1 jam itu topiknya adalah menghibur diri. Mulai dari 12.15, ketika muka buthek karena kerjaan, sapaan hangat mengajak makan adalah poin penting.

“Ayo makan…”

Sebuah ucapan sederhana, tapi bermakna besar. Ini soal keakraban dan kekeluargaan.

Ketika makan, makannya sih biasa. Yang lebih penting adalah sesudah itu. Ketika makan habis, maka kelakar dimulai. Tergantung topik, kalau lagi ngomong bola semalam, ya lanjut itu topiknya. Kalau Real Madrid kalah, korban kelakarnya jelas. Kalau Inter kalah, korban kelakarnya banyak, apalagi kalau Liverpool yang kalah, korbannya jelas dan kelakarnya dalam. Hahaha..

Nggak cuma itu, semata diskusi hangat perpolitikan kadang muncul. Diskusi panas soal sepakbola juga ada. Sedikit-sedikit membahas kantor juga iya. Dan saya mengamati, personel-personel yang ada di meja makan itu, adalah pemegang posisi strategis. Artinya? Ini bukan sembarang orang, tapi dengan sembarang kelakar.

Obrolan akan diselingi oleh agenda rebutan koran. Ada 2 koran, yang sudah diintip dari sejak makan. Kalau ketika masuk kantin, itu koran nganggur, segera saja koran itu musnah dari atas meja, sudah sembunyi di kursi.

Obrolan juga bisa soal hasil main PS hari minggu, atau hasil pertandingan liga kantor sebelumnya, atau pembahasan rencana soal kedua event itu.

Selama 45 menit melupakan pekerjaan mungkin adalah poin yang menarik untuk refreshing, tapi sungguh saya PERNAH mengalami itu. Tidak selalu memang. Kadang meja juga sepi, tapi kebanyakan ramai.

Dan ramai itu yang menjadi kerinduan.

Yah, okelah, saya juga sering jadi korban. Tapi no issue, tersinggung akan dilibas oleh tersunggingnya senyum. Sesederhana itu kok. Toh dalam beberapa menit ke depan, kita bisa menertawakan orang lain.

Inilah makan siang. Bukan soal menu memang, tapi soal suasana.

Biarlah, hidup itu soal pilihan kan? Dan pilihan selalu menggandeng konsekuensi.

πŸ™‚