[Review] Surat dari Praha

Menyaksikan acara Mata Najwa beberapa waktu yang lalu membuat saya geram. Ya, geram karena ada lho manusia keji yang bahkan rela meniadakan kewarganegaraan seseorang, hanya karena orang itu menolak dia. Kisah eksil tertolak karena stigma sosialis, komunis hingga kata sakti–PKI–itu bahkan masih ada SAMPAI SEKARANG. Po ora edan kuwi.

sumber: detik.com

Maka, ketika ternyata acara Mata Najwa itu mengarah pada iklan film terbaru Angga Dwimas Sasongko yang berjudul ‘Surat Dari Praha’, segera film itu masuk daftar untuk ditonton. Tentu saja tidak sendirian. Sedih amat, kak, nonton sendirian. Yha, seperti saya pas nonton The Avengers, sudah jomlo sendirian pula.

Ngomong-ngomong, sebelum tayang, film ini sudah sempat mendapatkan masalah, karena judulnya yang sama persis dengan sebuah buku yang ditulis oleh Yusri Fajar. Bagi saya, tiga kata itu memang begitu komersial untuk dijadikan judul. Jadi wajar kalau dua karya menggunakan judul yang sama. Saya tidak bisa memberi justifikasi karena saya cuma tukang fotokopi belaka belum baca bukunya. Tapi menurut saya, Mas Yusri Fajar bisa lho mendapatkan keuntungan dari penjualan dengan memakai booming film Surat dari Praha ini. IMHO.

Selengkapnya, baca disini yah!