Mencoba Memahami Tantrum Si Bayi

Ada hal baru yang dilakoni Isto–anak saya–beberapa pekan terakhir. Biasanya jika menunjuk sesuatu yang tidak dituruti (yakali dia nunjuk Camry lalu saya turutin beli!), dia hanya menangis biasa. Sekarang, Isto akan menurunkan tubuhnya ke lantai, lalu ngesotlah, guling-gulinglah, dll. Tidak lama, sih. Tapi kemarin kejadiannya di Senayan City. Jadi bikin agak seru.

Yup, itulah tantrum.

Tantrum seperti yang dilakukan Isto, dilakukan oleh oleh Rafathar, El Barack, maupun oleh Gempita serta sebentar lagi akan dilakukan oleh Raphael Moeis. Al, El, dan Dul pada zamannya juga pernah tantrum. Jadi, selow saja, setiap anak-anak usia prasekolah punya masalah umum bernama tantrum. Pada kisaran usia 1-4 tahun ini, anak belum cukup bisa mengekspresikan keinginannya. Walhasil, manifestasinya adalah dengan meronta, makan teman, berteriak, menangis, tidur di sidang DPR, menjerit, ngeshare hoax, atau menghentakkan kedua kaki dan tangan ke lantai.

Sumber: Parenting Success Coaching

Lepas dari nasib sebagai bayi yang hanya bisa dicolek-colek pipinya, anak kemudian masuk ke tahap belajar berekspresi dan berpindah dari orientasi yang hanya diri sendiri seperti makan jari sendiri, berusaha berbalik badan, dll menjadi kudu beradaptasi dengan banyak hal. Adaptasi ini memunculkan kecerdasan sosial dan keinginan untuk mengaktualisasi diri. Namun, daya interaksi dan komunikasinya masih biasa aja karena dalam proses perkembangan yang ditandai dengan osakata yang terbatas, walhasil anak kesulitan berekspresi dan sebagaimana cinta diam-diam yang tidak diungkapkan, jadinya FRUSTASI. Tantrum menjadi wujud butuh dilihat alias caper sehingga manifestasinya tampak lebay.

Tirto menulis bahwa dalam penelitian Potegal dan Davidson (2003) yang dilakukan pada 335 anak usia 18-60 bulan, anak usia 18-24 bulan mengalami tantrum sebanyak 87 persen. Kemudian, Anak pada usia 30-36 bulan sebanyak 91 persen, dan berikutnya pada usia 42–48 bulan sebanyak 59 persen.

Pada umumnya, tantrum berlangsung selama 0,5 hingga 1 menit. Masih menurut Tirto, durasi rata-rata tantrum pada anak usia 1 tahun ialah 2 menit, anak yang berusia 2-3 tahun 4 menit, dan 5 menit untuk anak yang berusia 4 tahun. Dalam sepekan, anak usia 1 tahun dapat mengalami 8 kali tantrum. Dan tampaknya Isto lebih doyan tantrum sama Bapak Mamaknya alih-alih sama Aunty di sekolah.

Sumber: mumlifeaustralia.com

Frekuensi tantrum ini akan naik menjadi 9 kali pada anak berusia 2 tahun untuk kemudian terus menurun menjadi 6 kali pada anak yang berusia 3 tahun, dan 5 kali pada anak yang berusia 4 tahun. Tantrum pada anak akan berkurang frekuensinya selepas umur 3 tahun seiring dengan kemampuan verbal yang mulai berkembang sehingga mulai lancar mengekspresikan kemauannya.

Kalau umur 17 bulan kayak sekarang kan cuma nunjuk sambil bilang “inihhhh…. inihhhhhh….” tanpa jelas barangnya yang mana.

Walaupun masalah umum, orangtua tetap kudu pintar-pintar menyikapi tantrum ini. Penelitian Daniels, dkk (2012) yang dikutip Tirto menyatakan bahwa sebanyak 5-20 persen anak-anak mengalami tantrum parah dengan melukai diri sendiri atau orang lain atau juga menghancurkan benda-benda. Hal ini tentu berbeda dengan tantrum normal yang umumnya hanya dengan menangis, memukul lengan atau kaki, menjatuhkan diri ke lantai, ngeshare hoax, mendorong, bilang ‘sekadar mengingatkan’, menarik, atau menggigit dengan durasinya maksimal 15 menit, kurang dari lima kali per hari. Jika lebih dari itu maupun mulai melukai mantan, orangtua kudu waspada.

Sumber: ACTIVEkids

Merayu Agar Anak Tidak Tantrum
TIDAK DIREKOMENDASIKAN

Ikut-ikutan marah
LU KATA SAMA PACAR?!

Pahami Bahwa Tantrum Itu Umum
Banyak orangtua yang hanya jadi orangtua di akte, bukan menjadi orangtua dalam arti sebenarnya. Ada anak bukannya dipahami, tapi malah dipaksakan sesuai kehendaknya sendiri. Kan gawat. Ketika orangtua paham bahwa tantrum itu umum, maka yang muncul adalah EMPATI. Bahwa orangtua paham kalau si anak punya sesuatu yang ingin disampaikan tapi susah. Nah, sesuatu itulah misteri yang harus dipecahkan oleh orangtua. Nggak mau? Nggak usah punya anak. Beres.

Sumber: Scary Mommy

Antisipasi
Umumnya sih anak akan tantrum pada saat kritis seperti lapar, capek, atau sakit. Antisipasinya ya jelas siapkan makanan yang banyak, siapkan pijatan terbaik, siapkan pula obat-obatan esensial. Utamanya sih jangan biarkan anak lapar.

Beri Ruang
Ini penting sekali karena seringkali orangtua langsung ngamuk ketika anaknya tantrum. Saya kemarin juga pengen ngamuk di Sency, tapi takut direkam dan masuk Lambe Turah. Walhasil, itu si Isto saya biarkan saya usrek-usrek di lantai sambil menangis dengan saya jongkok 2 meter darinya. Suka-suka dia saja dulu. Toh tantrum ada durasi,  dan durasinya juga singkat. Nanti juga kelar.

Jangan Terpancing Emosi
Anda ingin dikenang oleh anak sebagai tukang pukul? Kalau mau silakan, saya sih No. Jadi, sabar-sabarkan, yha. Jadi sabar itu adalah pelajaran terbesar ketika kita menjadi orangtua.

Jangan Pula Lemah
Isto menunjuk parfum mahal bapaknya yang bahkan bapaknya sendiri pakainya ngirit-irit karena itu dibeli mamak Isto di London. Nggak mungkin dong saya kasih? Jadi, walaupun dia tantrum, saya tetap tidak boleh lemah dengan membiarkannya mendapatkan itu. Menyogok demi mengamankan amuk anak bukan cara yang tepat.

Beri Pelukan
Sesudah sesi ngambek kelar, layaknya gadis-gadis pada masa pacaran silam, yang dibutuhkan pada akhirnya adalah pelukan simbol kasih sayang. Jadi, jangan peluk emaknya saja, jangan peluk bapaknya saja, (jangan peluk emaknya anak tetangga), tapi peluk juga anaknya. Namun jangan kebalik juga kebanyakan peluk anaknya, lupa peluk emak atau bapaknya.

Sejauh ini, tantrumnya Isto masih baik-baik saja. Menurut saya, itu karena saya dan ibunya mencoba moderat padanya dengan memberi ruang, namun juga menjaga keamanannya, serta tidak dengan mudah memberikan yang dia inginkan. Semoga besok juga akan selalu baik-baik saja~

Advertisements

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.