Tag Archives: Isto

Isto ke Barbershop

Pandemi ini memang sialan. Dia terjadi ketika anak saya berumur 2 tahunan dan belum belum berakhir ketika anak saya mau berumur 5 tahun. Bayangkanlah ada betapa banyak kesempatan eksplorasi yang hilang sebagai bagian dari mitigasi risiko yang diterapkan oleh saya dan Mama Isto sebagai orangtua.

Ya kalau disuruh memilih kesempatan eksplorasi sama keselamatan anak tentu kami akan auto menunjuk yang kedua, dong~

Di sisi lain, pandemi juga membuat kita belajar makna adaptasi. Anak saya karena dicekokin tentang makna masker dari usia 2 tahun lebih banyak, sampai sekarang urusan masker itu tertib minta ampun. Kalau kami lagi nongkrong di Starbucks, misalnya, ya dia pakai masker. Untuk minum, baru buka masker, dan kemudian dipakai lagi. Setertib itu, sih. Dan itu bukti bahwa anak-anak itu sebenarnya mau kok untuk pakai masker.

Pandemi juga membuat saya memperoleh kemampuan baru karena keterbatasan: cukur rambut. Ambyar sudah pasti. Ada kali 7-8 percobaan saya memangkas rambutnya Isto dan 2 diantaranya berakhir pitak. Waktu mencoba mesin bayi bahkan pitaknya paripurna. Untung dia belum paham bahwa penampilannya diusik oleh bapaknya. Jadi masih nggak apa-apa.

Akibatnya adalah rambut bagian belakang bawahnya itu jelek sekali. Awut-awutan. Sama sekali tidak cocok untuk dibawa ke sekolah. Penampilannya tampak memalukan dan untuk itu kami harus berbenah! Kebetulan, sejak September alias pasca gelombang Delta, saya sudah ke barbershop lagi. Dan saya lihat sendiri bahwa barbershop beradaptasi dengan baik. Bisa kok mencukur rambut sambil pakai masker, baik yang dicukur maupun yang mencukur. Di sisi lain, kalau saya yang nyukur, dia banyak alasan. Geli lah, gatel lah, dll. Saya pikir kalau dikasih ke orang yang dia nggak kenal, plus pakai alat bantu berupa apron dll mestinya dia lebih tenang.

Oya, kalau mau ngapa-ngapain, kami selalu berdiskusi. Hasil diskusi 3-4 hari, dia akhirnya mau cukur rambut di outside dengan orang. Kemarin, sepulang saya dari vaksinasi booster, begitu masuk rumah dia langsung nodong, “Pa, Eto mau cutting rambut di outside sama orang…”

Nah, mumpung mau, saya langsung bergegas membawanya berangkat ke salah satu barbershop yang direkomendasikan teman cocok untuk anak-anak. Tidak jauh benar dari rumah. Namun karena panasnya ngentang, kami naik taksi daring.

Mengapa barbershop dan bukan kiddy-kiddy-an seperti dahulu?

Pertama, saya agak tidak masuk akal sama tarif di kiddy-kiddy-an itu. Ha mosok rambut yang dipotong lebih sedikit, tapi tarifnya bisa dua kali lipat? Segitunya kalau cuma tempat duduk berupa mobil-mobilan juga ada di barbershop kan. Kedua, saya ingin Isto paham bahwa kelak di masa depan, tempat seperti barbershop adalah sarananya untuk berbenah diri. Yah, setidaknya berbenah rambut. Terakhir, saya sering melihat keintiman bapak-anak di barbershop dan tentu saya ingin mempraktikkan sendiri.

Seperti saya bilang tadi, kami berangkat dengan deal. Yha, bahwa Isto harus tenang, kalau tickle nggak apa-apa, harus nurut sama yang nyukur, dll-dll. Bagi saya inilah seninya parenting. Kita mungkin bisa mengancam dan dengan segera anak akan menuruti perintah. Hanya saja, apa gunanya sih mereka menuruti perintah kalau nggak paham esensinya? Mengancam itu hendaknya dipakai kalau lagi kepepet aja. Cuma, jangan dibuat juga keadaan kepepet terus biar bisa ngancem terus. Heuheu.

Dia masuk ke barbershop dengan girang dan tertawa-tawa. Seketika lantas masuklah barber berbaju Juventus dengan penampilan mirip Andrien Rabiot. Untunglah Isto tidak sedang pakai baju Inter. Kalau tidak, nanti judulnya kan ngeri:

INTER DICUKUR GUNDUL OLEH JUVE!

Ketika hendak meninggalkan rumah untuk cukur, Isto bilang bahwa dia adalah brave boy yang nggak akan nangis ketika cutting rambut di outside sama orang. Dan hal itu kemudian diulang-ulangnya ketika dia kemudian geli namun tetap tenang saat dicukur. Saya melihat bahwa dia sebenarnya pengen nggak nurut, tapi nggak kenal sama barber jadi perlawanannya nanggung.

Cukur rambut diakhiri dengan sesi keramas yang sayapun baru kenal itu beberapa tahun belakangan. Dulu ketika saya masih langganan Asgar kan nggak ada tempat keramas. Nah ini anak 4 tahun dikeramas pakai alat khusus yang ada di salon-salon itu. Dari matanya terlihat kan senyumnya. Hehe.

Mengantar anak ke barbershop adalah milestone baru dalam kehidupan saya. Berdua saja dengan keintiman bapak-anak yang kerap saya lihat sebelumnya. Ah, semoga saya bisa selalu ada di sampingnya, sekurang-kurangnya sampai dia cukup tangguh untuk mengarungi beratnya dunia ini.

Ketika Anak Keminggris

Sejak kuliah lagi, yang terbayang oleh saya sebenarnya adalah kehidupan yang sangat akademis. Ya, sebenarnya sudah lumayan terbentuk di semester 1. Ketika itu, saya berangkat ke kampus untuk menyediakan waktu 3-4 jam di perpustakaan guna mengerjakan paper. Kadang-kadang, saya juga ke kampus Depok untuk pergi ke perpustakaan yang lebih besar. Terbayang juga untuk saya bisa mengikuti acara-acara akademis yang tersebar di penjuru Jakarta karena saya punya waktu untuk itu.

Pada saat yang sama, anak tetap di daycare. Sore hari dijemput sama istri. Pendidikan dia akan terjamin karena sejauh ini dia cukup oke kinerjanya di daycare. Nyaris nggak ada masalah berarti selain menggigit anak orang. Itupun sebenarnya karena dia diganggu terlebih dahulu.

Saya dan istri bahkan sudah punya perencanaan indah. Istri ikut conference di Singapura. Saya yang kebetulan liburan semester akan punya fleksibilitas untuk turut serta dan kami bisa liburan ke Singapura. Gambarannya, Singapura adalah negara pertama yang akan didatangi oleh Isto. Kami bahkan sudah menyiapkannya paspor. Ya, teman-temannya se-daycare sudah main ke Jepang sampai Perancis, sementara Isto paling jauh Jam Gadang. Sebagai orangtua, kami tentu ingin bikin anak senang dan tampak keren.

Apa daya, manusia hanya bisa berencana. COVID-19 kemudian menjadi penentu.

Semester 2 saya lewati lebih dari separo periodenya dengan kuliah sembari menjaga anak. Bikin paper tentu tidak bisa di perpus, jadilah di rumah saja. Sambil kadang-kadang diganduli untuk dibilang, “Papa jangan kuliah…”

Isto mana tahu kalau sampai saya telat lulus, pos anggaran terbesar yang terancam untuk digunakan (karena beasiswa saya tidak terima telat lulus) adalah biaya pendidikannya. Amit-amit. Jangan sampai, deh.

Ya begitulah. Mau tidak mau, anak saya betul-betul harus terikat dengan YouTube. Tidak di HP, sih. Saya dan istri membeli Smart TV Box sehingga YouTube-nya di TV. Mahal sedikit nggak apa-apa, yang penting gede. Pada periode tertentu kadang-kadang saya pakai streaming badminton juga, seperti pas Suhandinata Cup 2019. Enak nontonnya. Gede.

Pada saat dia terjebak bersama saya di rumah karena daycare-nya tutup dan kemudian ya akhirnya tutup permanen, usianya belum 3 tahun. Sekarang sudah lewat 3 tahun. Usia yang sangat krusial untuk masuknya hal-hal baru. Dan dampaknya terasa betul sekarang. Ya, gara-gara sebagian hidupnya terpaksa harus bersama YouTube, maka anak saya benar-benar keminggris ngomongnya. Tanpa perlu saya diajari.

Tayangan yang dia tonton adalah Peppa Pig, Blippi, dan sekarang Octonauts. Yang Octonauts sih baru ya, belum terasa dampaknya. Tapi kombinasi Peppa Pig dan Blippi betul-betul sangat meng-influence dia. Isto sering sekali storytelling dengan kata-kata Blippi, seperti “I show you…” atau “Here we go!” atau yang agak mirip “Hmmm, let’s do….” Demikian pula dengan kata-kata dan konteks yang ada di Peppa Pig, seperti kalau menerima makanan baru, dia sering bilang, “Hmm, delicious…”

Berhitung pun sudah lancar, tapi ya dari one sampai twenty, bukan satu sampai dua puluh. Kemarin kami beli paket sekolah daring yang elemen pengantarnya pakai bahasa Indonesia, ya anak saya berasa nggak nyambung. Padahal ya bisa, cuma pakai English.

Pada satu sisi ya saya senang-senang saja. Toh selama ini dia juga saya ajak ngobrol Bahasa Indonesia, kok. TOEFL saya kan 700 dari 3 kali tes, jadi memang penguasaan Bahasa Inggris saya nggak bagus-bagus banget. Emaknya sebagai lulusan Inggris yang sudah pasti keren. Ketika kemudian anak saya belum bisa berhitung satu, dua, tiga, dst tapi bisa one, two, three ya saya biasa aja juga. Kadang-kadang saja agak berpikir keras bagaimana kelak dia ketika masuk sekolah.

Ya mau bagaimana lagi? Ini konsekuensi. Toh menurut saya, pengaturan sekarang boleh dibilang berkat. Pas pandemi, pas saya kuliah, pas bisa daring pula. Jadi saya bisa menjaga anak saya dari dunia luar yang sedang kejam-kejamnya. Kalau kejadiannya pas saya sudah aktif lagi, boleh jadi daycare adalah pilihan tunggal yang tidak bisa dielakkan.

Jadi, kalau anak keminggris gimana? Kata saya ya udah, mau diapain lagi~