Asuransi Penyakit Kritis, Kebutuhan Orangtua Milenial

Asuransi Penyakit Kritis, Kebutuhan Orangtua Milenial – Sebagaimana teman-teman ketahui, saya itu cukup lama bekerja di pabrik obat. Satu hal yang suka bikin saya bimbang kalau bekerja di pabrik obat—apalagi saya seorang perencana produksi—adalah soal sudut pandang dalam melihat obat. Obat dapat dipandang sebagai solusi terhadap penyakit, tapi di sisi lain obat itu harus ada ongkosnya dan itulah yang menyebabkan suatu obat mahal. Kalau waktu itu obat murah, apa ya saya bisa gajian dengan sejahtera? Bimbang, deh. Apalagi kita tahu penetrasi asuransi di Indonesia kala itu belum maksimal, jadi ada kemungkinan banyak yang harus membayar obat mahal pakai uang tabungan.

asuransi penyakit kritis
Obat-Obatan (dokumentasi pribadi)

Faktanya adalah obat itu diperlukan, terutama sekali untuk solusi pada setidaknya 10 penyakit kritis. Seorang teman, seumuran saya, pernah divonis kena kanker limfoma, yang untungnya stadium awal dan dia punya asuransi kesehatan. Kala itu, meski tidak diminta, saya dan beberapa rekan lain melakukan penggalangan dana. Uang yang terkumpul lumayan besar sebenarnya, tapi begitu dicek ke biaya pengobatan baru diketahui bahwa uang segitu hanya setara dengan sekali kemoterapi. Begitulah, di pabrik saya tahu betul kalau obat yang tinggi botolnya tidak lebih dari panjang jari kelingking, harganya bisa setara gaji saya bertahun-tahun.

Terutama untuk 10 jenis penyakit kritis seperti infarks miokard, penyakit pembuluh darah arteri koroner yang membutuhkan operasi bypass, operasi penggantian katup jantung, stroke, kanker, gagal ginjal, gagal hati, koma, transplatasi organ tubuh utama, dan luka bakar hebat 20% dari luas permukaan tubuh, pada prinsipnya menyebabkan penderitanya tidak produktif. Ya, entah tidak produktif karena memang tidak sadar, atau tidak produktif karena terjadi penurunan kemampuan dalam beraktivitas.

Bagaimana jika penderita itu adalah orangtua milenial dengan anak yang biaya kebutuhannya sedang banyak-banyaknya? Istri saya adalah seorang farmasis klinis di rumah sakit khusus kanker dan obrolan kami di rumah tidak jarang adalah tentang pasien-pasiennya. Dan faktanya bahwa yang masih muda dengan anak masih kecil seperti anak kami juga tidak jarang terjadi.

Apalagi, untuk kanker, para ahli pun masih terus bereksplorasi perihal penyebabnya. Seringkali kita mendapati bahwa orang-orang yang tidak merokok kena kanker, eh tetangga saya usia 80 tahun rokoknya jalan terus, hidupnya juga jalan terus tanpa kena kanker atau penyakit jantung. Ada juga orang yang makan apapun dan sehat-sehat saja, sementara orang lain yang makannya diatur malah kena kanker. Sejauh ini, penyebab kemunculan kanker yang fix betul itu masih belum diketahui.

Gejalanya juga demikian. Teman saya tadi ngeh kalau kanker ketika batuk tidak sembuh-sembuh. Sempat dikira TBC pula sampai dia bilang di grup WhatsApp, “guys, gue ternyata nggak kena TBC, tapi kena kanker”. Pasien lain lagi kadang malah baru sadar ketika kanker sudah menyebar (metastase) dalam kondisi dia pusing tidak hilang-hilang begitu dicek ternyata sumbernya bukan di kepala melainkan penyebaran dari kanker di tempat lain.

Atau contoh kasus beberapa orang terkenal tiba-tiba mengalami masalah kesehatan seperti stroke maupun serangan jantung yang menyebabkan harus ada tindakan lanjutan seperti operasi. Kalau orang kondang masih mending proteksinya banyak, kalau orang biasa seperti saya?

Berdoa dan berusaha untuk tidak terkena penyakit kritis memang penting, tapi akan jauh lebih penting jika ada persiapan, terutama finansial. Sebab, kita tidak selalu bisa mengandalkan penggalangan dana yang sifatnya temporer. Persiapan finansial ini berarti dalam kondisi sedang sakit, kita harus bisa dapat uang banyak demi mengobati penyakit itu. Padahal cari uang kan harus kerja, lha bagaimana bisa kerja kalau lagi sakit?

Pentingnya Asuransi Penyakit Kritis

Demikian pentingnya asuransi penyakit kritis, terutama untuk orangtua muda. Bukan apa-apa, sih, dengan adanya asuransi kesehatan apalagi yang merupakan asuransi penyakit kritis terbaik di Indonesia, kita bisa agak santai sedikit kalau amit-amit kena penyakit kritis. Setidaknya ada bala bantuan pendanaan ketika memang dibutuhkan. Asuransi kesehatan terbaik ini bukan berdoa untuk sakit lho, ya, tapi justru mempersiapkan diri dengan baik kalau-kalau ada kemalangan. Daripada pas kemalangan kita nggak punya duit, apa nggak malang kuadrat namanya?

Salah satu produk asuransi penyakit kritis terbaik di Indonesia adalah Mega Comforta, yang merupakan produk Asuransi Jiwa yang akan memberikan manfaat asuransi berupa perlindungan dari meninggal dunia akibat sakit maupun kecelakaan dan terdiagnosa pertama kali salah satu dari 10 penyakit kritis. Mega Comforta merupakan produk dari PFI Mega Life yang sudah dikenal sebagai salah satu asuransi kesehatan terbaik di Indonesia.

Fitur produknya sesuai untuk segmen orangtua milenial karena dimulai dari 18 sampai 59 tahun dengan masa perlindungan maksimal sampai usia 60 tahun. Usia segitu, bagi yang nikahnya telat kayak saya berarti anak sudah umur 30 tahun, diri sendiri sudah bisa pensiun dengan mapan—mestinya. Menuju usia 60 tahun itu yang sebenarnya penting karena untuk biaya hidup saja sudah mahal, belum lagi pendidikan, padahal kesehatan justru yang paling utama.

Premi Mega Comforta

Sebagai asuransi penyakit kritis, premi untuk Mega Comforta terbilang tidak menyulitkan sebagaimana tabel berikut ini. Sekadar perbandingan, kemarin saya dapat report dari sebuah aplikasi ojol bahwa orderan food saya dalam sebulan itu setara bayar paket C tiga bulan untuk usia saya yang sekarang ini. Sebuah bukti kalau order food selama ini masih lebih mahal.

Manfaat Mega Comforta

Setidaknya ada 3 manfaat utama yang bisa diperoleh dari asuransi penyakit kritis terbaik di Indonesia ini, yakni:

  • apabila Tertanggung meninggal dunia bukan karena kecelakaan dalam masa asuransi, maka kepada Yang Ditunjuk akan dibayarkan 100% (seratus persen) Uang Pertanggungan sesuai dengan plan yang dipilih dan selanjutnya asuransi berakhir.
  • apabila Tertanggung meninggal dunia karena kecelakaan dalam masa asuransi, maka kepada Yang Ditunjuk akan dibayarkan 500% (lima ratus persen) Uang Pertanggungan sesuai dengan plan yang dipilih dan selanjutnya asuransi berakhir.
  • apabila Tertanggung terdiagnosa untuk pertama kali salah satu dari 10 sepuluh) penyakit kritis, maka kepada Tertanggung akan dibayarkan 100% (seratus persen) Uang Pertanggungan sesuai dengan Plan yang dipilih dan selanjutnya asuransi berakhir.

Sekali lagi, mempersiapkan asuransi penyakit kritis ini bukan berharap kita kena penyakit kritis, tetapi sebagaimana prinsip asuransi di Indonesia bahwa yang kita siapkan adalah ketika kita kena apa-apa, setidaknya nggak bikin susah orang-orang tersayang, wabilkhusus pasangan dan anak-(anak), dengan telah menyiapkan pendanaan yang cukup memadai melalui asuransi kesehatan guna menjalani proses terapi yang pastinya tidak mudah itu. Sembari itu, tentu saja kita harus tetap rajin berolahraga dan menjaga tubuh dengan sebaik-baiknya.

asuransi penyakit kritis terbaik di indonesia
Berolahraga tetaplah penting (dokumentasi pribadi)

Demikian sedikit paparan tentang salah satu asuransi kesehatan terbaik ini, untuk informasi lebih lanjut bisa klik link Website PFI Mega Life ini atau kunjungi media sosial PFI Mega Life di Instagram @pfimegalife. Semoga kita sehat selalu supaya bisa jalan-jalan dan makan-makan bersama wisata kuliner. Sik penting maknyus!

Pentingnya Memiliki Asuransi Dari Sudut Pandang Orang Tua

Pentingnya Memiliki Asuransi Dari Sudut Pandang Orang Tua

Percaya atau tidak, ketika seseorang berubah status dari lajang menjadi menikah, sebenarnya nggak banyak hal yang berubah. Paling ya nggak bisa lagi menggebet anak orang sesukanya, karena kan sudah punya pasangan yang terikat secara resmi secara agama dan negara.

Akan tetapi, begitu statusnya berubah menjadi orang tua, nah, barulah perubahan besar terjadi. Bagaimanapun, orang tua baru itu diberi tanggung jawab untuk menangani sebuah kehidupan baru–yha, kecuali anaknya kembar, sih. Continue reading

Happy Life Ala Bapak Millennial: Perlindungan Untuk Keluarga

Sejak menjadi bapak millennial sembilan bulan yang lalu, hidup saya tidaklah sesederhana masa lalu ketika persoalan hanya tentang mau makan di warteg atau di restoran cepat saji. Kini, ada anak yang harus dipikirkan–bersama-sama dengan istri, tentu saja. Sekarang, bisa tidur 8 jam tanpa terputus sudah merupakan keajaiban dunia nomor 8.

Apalagi, hidup dan bekerja di Jakarta bolehlah disebut susah, pelik, dan sulit diprediksi. Terlalu banyak faktor eksternal yang mengatur hidup, yang otomatis menjadikan perlindungan pada diri sendiri menjadi sangat penting. Terlebih, saya adalah kaum commuter yang berkantor puluhan kilometer dari rumah dan harus berpindah-pindah moda transportasi mulai dari kendaraan pribadi, KRL, bis, hingga ojek online. Semuanya dengan risiko masing-masing. Belum lagi, pekerjaan saya kadang juga mensyaratkan untuk berpindah dari kota ke kota, dari bandara ke bandara.

Maka, kalau lagi kena goncangan di udara, yang terbayang sekarang adalah senyum polos Istoyama di rumah. Jika sedang senggol-senggolan di Jalan Sudirman, yang sekelebat muncul di kepala adalah ocehan nggak jelas Istoyama. Kalau sedang stres di kantor, yang dirindukan adalah polah si bocah. Yeah, sekarang terminologi happy life alias hidup bahagia nggak jauh-jauh dari anak dan masa depannya. Begitulah takdir bapak millennial–yang sebagaimana kata Business Wire mikir-mikir kalau mau kasih adik untuk Istoyama.

Sumber: Business Wire

Continue reading