“Itu Pasti Dibuangin, Soalnya Kalau Sama Saya Makannya Nggak Pernah Habis”

_Itu Pasti Dibuangin, Soalnya Kalau Sama Saya Makannya Nggak Pernah Habis_

Monmap kalau judulnya sangat tidak SEO-able, semata-mata karena itu adalah kutipan asli dari sebuah grup WhatsApp yang berisi mamak-mamak penuh kesibukan. Oh, tentu saja, saya rapikan sedikit supaya asyik dijadikan judul. Kalimat ini adalah pemicu saya menuliskan sesuatu di blog yang tadinya mau ganti tagar jadi #BlogBapakMillennial, tetapi kesibukan menjadi bapak sekaligus urgensi untuk mencari uang dari platform yang user generated content menjadi lebih tinggi. Heuheu.

working business money coins

Photo by Negative Space on Pexels.com

Kalimat yang menjadi judul tulisan ini tentu sangat akrab bagi para millennial, terutama yang menjadi orangtua. Bukan apa-apa, data menyebutkan bahwa ada setidaknya 2 juta angkatan kerja perempuan di DKI Jakarta pada tahun 2015. Tahun 2018 tentunya nambah. Saya tadinya mau unduh data BPS, kok suruh bayar. Bapak millennial macam saya mending beli popok daripada bayar data BPS. Wong tulisan ini belum tentu viral juga.

X05Pwk0.gif

Dari data itu ketahuan bahwa sangat banyak para orangtua millennial yang tidak mengasuh anaknya sehari-hari. Ya, termasuk saya dan istri. Artinya, anak akan diasuh oleh orang lain dan judul tulisan ini menjadi salah satu isi hati para orangtua, kepada siapapun anaknya dititipkan. FYI, BPS membagi pilihan pengasuhan anak jadi 10 yakni dititipkan ke ayah, kakak, kakek atau nenek, famili seperti bibi atau sepupu, baby sitter, Asisten Rumah Tangga, Tempat Penitipan Anak, tetangga, lainnya (misal: dititipkan ke teman atau ke orang lewat), serta pilihan terakhir yang tampak tidak manusiawi: ditinggal sendiri. Ngerik. Continue reading

Advertisements

Selamat Ulang Tahun Pernikahan Ke-30

kaveredit

Seorang anak adalah produk dari suksesnya pertemuan seorang pria bernama Spermanto dengan gadis manis semlohe bernama Ovumwati. Itu takdir alam dan sudah dipercaya sahih secara saintifik. Sama halnya dengan anak manusia yang memiliki blog ariesadhar.com ini. Saya tentu saja tidak tiba-tiba dipungut dari bawah batu maupun dari dalam amplop honor narasumber. Saya adalah produk dari dua manusia nan berkasih-kasihan. Dua manusia yang mengikrarkan janji sehidup semati tepat 30 tahun yang lalu.

Yes, 30 tahun yang lalu itu berarti tepat pada 4 Mei 1986, Bapak dan Mamak saya melangsungkan pernikahan di Gereja Santo Petrus Claver Bukittinggi. Bangunan tua yang jika sekarangpun kita lewat Jalan Sudirman Bukittinggi, bentuknya ya sama saja dengan 30 tahun silam. Dan hari ini, tepat 30 tahun keduanya memadu kasih dengan legal ke negara pun legal ke Tuhan.

Bahwasanya peristiwa 30 tahun silam itu adalah sesungguhnya misteri ilahi. Bagaimana mungkin Bapak saya yang asli kelahiran Sleman itu bertemu dengan Mamak saya yang lahir pun besar di Padangsidimpuan? Dua kota yang sama-sama berakhiran -an, dua kota yang sama-sama ternama dengan salaknya, dua kota yang sangat berjauhan. Dan keduanya bertemu di tempat yang sama sekali berbeda, bukan di salah satu kota. Bapak dan Mamak bertemu di Bukittinggi. Kondisi inilah yang selalu membuat saya berasa absurd ketika ada orang bertanya, “kamu orang mana?”

Lha, saya harus jawab apa? Orang Jawa? Bisa banget, jika dirunut secara patrilineal saya dapat membawa garis Jawa milik Bapak. Orang Batak? Bisa juga. Demi mengesahkan cinta dengan Mamak, Bapak sudah memiliki marga Simamora. Orang Bukittinggi alias orang Padang? Kalau mengacu bahwa asal itu adalah tempat kelahiran cum tempat dibesarkan, jelas saya sahih menjadi orang Bukittinggi. Kalau tidak ada misteri ilahi 30 tahun silam, sosok absurd semacam saya dipastikan tidak ada.

Selanjutnya!