Cara-Cara Resign yang Baik

pablo (1)

Hah! Habis membenahi posting soal hal-hal yang bikin nggak jadi resign, plus mem-publish email resign saya, rasanya kok pengen memberikan masukan kepada pekerja yang pengen untuk bisa resign dengan agak baik dan kira-kira benar. Ya, saya memang baru saja resign tanggal 5 Maret kemaren untuk pindah kerja ke tempat yang nggak memungkinkan resign semudah mencuci baju. Jadi setidaknya saya bisa menulis berdasarkan hal yang saya lakukan sendiri, tidak sekadar copy paste blog orang. Heu.

Selain sudah pernah resign, sepanjang karier saya yang hampir 5 tahun itu kira-kira saya bertemu lebih dari 100 teman kantor yang resign. Ada yang resign lalu balik lagi, tapi lebih banyak yang resign dan tidak kembali. Jadi, cara-cara yang saya uraikan berikut ini bukanlah cara-cara yang abstrak dan tidak pernah diimplementasikan. So, mari disimak!

JANGAN EMOSIONAL

Tentu saja, dalam dunia kerja akan ada orang yang menyebalkan, tapi itu tidak berarti kita bisa menjadikan dia sebagai alasan untuk bertindak emosional. Suatu ketika saya bertemu dengan teman yang baru saja nangis-nangis habis ketemu bosnya, sedang ngeprint surat resign. Iya, habis ketemu bos, sebel, emosi, lalu minta resign. Saya cuma bilang, “kamu beneran mau ngasih ini ke bos?”. Tentu saja jawabannya adalah “Tidak.”

resign1

Sebelum memutuskan untuk resign, pikirkan dulu matang-matang. Apalagi kalau mau resign dengan alasan situasi kantor yang kurang kondusif. Lain kasus dengan adanya offering yang lebih baik, emosi yang ada disini justru adalah kesentimentilan. Sudah kadung berteman enak-lah, sudah kadung fasih dengan teh bikinan OB, atau sudah kadung kasbon dengan warteg depan kantor. Kalau terlalu sentimentil, ya jatuhnya juga nggak akan resign.

SPEAK FIRST!

Segera atur pertemuan dengan atasan langsung. Dalam hal ini, karena saya bilang bahwa nyepik didahulukan, jangan serta merta membawa surat resign. Ketemulah dengan atasan sambil menyampaikan maksud dan tujuan kita. Tentu saja, kita harus memperhatikan cuaca si bos. Tentu masing-masing sudah tahu prakiraan cuaca bos masing-masing. Carilah masa cerahnya.

resign2

Kalau saya dulu ceritanya dapat konfirmasi diterima di tempat sekarang itu pada akhir bulan. Nah, kebetulan, keesokan harinya ada mutasi setempat yang menyebabkan atasan saya ganti. Sebagai anak buah yang baik, hal pertama yang saya sampaikan ketika dipanggil atasan baru di hari pertamanya adalah “PAK, SAYA MAU RESIGN!.

Ketika lagi nyepik atasan, usahakan jangan muter-muter. Ini bukan nembak gadis atau sedang menjawab tembakan seorang lelaki. Kan tadi saya sudah bilang kalau ini minta resign. Jadi jangan sampai terjadi dialog begini:

Kroco: Pak, saya mau bicara sebentar.
Bos: Oh, silakan. Ada apa?
Kroco: Anu, Pak. Nggg.. Anu.
Bos: Co, anu kamu kenapa?

Atau yang semacam ini:

Kroco: Pak, saya mau ngomong sebentar.
Bos: Oh, silakan. Ada apa?
Kroco: Wah, hari ini cerah sekali ya, Pak!

Dan jangan sekali-kali yang semacam ini:

Kroco: Bu, saya boleh ngomong sebentar?
Bos: Boleh. Silakan, Co.
Kroco: Sebentar.
Bos: $%$&#%!*$@!!

ALASAN YANG BAIK

Ini selalu jadi bagian paling sulit karena para calon resigner dihadapkan pada pilihan mau damai atau mau jujur. Saya kembalikan kepada para calon resigner yang paham tindak tanduk atasannya. Ada atasan yang kadang terlalu antik bin tidak wise sehingga ketika kita lapor mau resign karena ada masalah personal dengan si Anu, maka yang terjadi bukannya resign kita disetujui, tapi malah segera manggil si Anu untuk duduk bareng membahas apa sih masalah personal diantara kalian.

Pilihlah alasan non konfrontasi, termasuk ketika alasan kita resign sebenarnya adalah karena ada masalah dengan orang lain. Pilihan-pilihan seperti disuruh orangtua, mengikuti suami, atau pengembangan karier adalah hal-hal yang bisa dipilih. Oh, tapi hati-hati dengan pengembangan karier dan income lebih besar, nanti pas ditawari karier yang lebih bagus dan income lebih besar dari calon employer, situ malah bingung sendiri.

IKUTI PERATURAN

Ada sebagian kantor yang mengatur dengan jelas durasi dari minta resign ke resign beneran. Jadi, jangan mengajukan sekarang, besok langsung resign kalau memang peraturan melarang itu, kecuali itu perusahaan nenek moyang kita. Surat resign sendiri adalah bagian dari regulasi. Jadi, sesudah ngomong dengan atasan dan sama-sama sepakat. Buatlah surat resign yang berisi nama, nomor ID karyawan, jabatan terakhir, dan masa kerja (jika perlu). Tambahkan juga alasan kita resign seperti yang sudah dijelaskan di atas. Jangan lupa pula untuk memberikan apresiasi terhadap hal-hal yang sudah diberikan oleh employer. Tapi jangan satir ya, misal begini:

Terima kasih kepada perusahaan yang sudah membiarkan saya bekerja lembur sampai ketemu hantu, tanpa dibayar.

Please, jangan lakukan! Jangan juga minta orangtua menelepon perusahaan guna meminta izin agar kita boleh resign. Ini bukan sekolahan. Kalau ada form-form yang harus diisi serta segala prosedur lain yang ada, segera lakukan. Termasuk juga kalau kita ada utang dengan perusahaan atau koperasi yang ada. Lunasin! Enak aja main tinggal pergi!

STILL STRIVE FOR EXCELLENCE

Bagian yang ini tentu saja sangat penting untuk menjamin nama baik kita ke depannya. Tetap bekerja semaksimal mungkin sepanjang belum resign. Toh, kita kan tetap digaji sesuai pekerjaan. Jangan mentang-mentang mau resign, kita malah asyik main ONET atau buka ariesadhar.com dan membaca artikel tentang Cara-Cara Resign yang Baik. Kalau perlu, buat form transfer yang berisi list pekerjaan rutin yang biasa kita lakukan, lalu hubungannya dengan siapa saja, lalu sudah ditransfer kepada siapa saja, dan bubuhkan tanda tangan sebagai bukti.

BERI KODE SOAL HADIAH RESIGN

Hadiah resign itu hampir pasti kita terima kalau pergi, kecuali kita pergi diam-diam. Saya pernah dapat sandal, singlet, cawet, baju, celana, hingga jaket gegara resign. Nah, anggaran untuk kado resign itu kadang besar, lho. Supaya tepat guna, kita bisa memberikan kode perihal apa sih barang yang kita butuhkan. Cukup dengan update status di FB, “Wah, pengen beli mukena terbaru di Zalora, nih!” atau “Lagi pengen baca Oom Alfa!”.

Kode semacam ini untuk memastikan bahwa kado resign itu benar-benar pas. Benar-benar pas dibeliin, maksudnya. Umumnya, sih, kado resign nggak jauh-jauh dari mug, baju-bajuan, jaket-jaketan, cabe-cabean, dan benda-benda universal. Jadi apa salahnya kalau kita hendak memastikan bahwa benda perpisahan untuk kita itu adalah benda yang pasti akan dipakai dan bukannya kemudian masuk kardus hingga tiga abad ke depan?

FAREWELL

Soal farewell email sudah saya berikan kemaren. Kalau farewell party, ehm, sesuaikan dengan isi kantong dan tingkat kedekatan kita. Ketika saya di Palembang, farewell party saya dihelat di sebuah karaokean dengan bujet besar. Saya sih rela hati mengeluarkan duit segitu untuk perpisahan karena memang saya sedih harus meninggalkan tempat itu karena teman-temannya yang keren abis. Tapi jangan dipaksa juga kalau nggak punya duit. Jika dana yang ada seadanya, sekadar memberi wafer per orang dengan kartu ucapan perpisahan mini, itu agaknya sudah cukup. Sekadar memastikan bahwa kita pergi baik-baik.

KEMBALIKAN SEMUA MILIK KANTOR

Mulai dari kartu asuransi, ID card, laptop, BB, handphone, mobil, motor, dan lainnya harus dikembalikan. Kalau nggak, itu namanya kita maling. Biasanya kantor punya form serah terima untuk hal semacam ini. Pastikan semuanya beres di hari terakhir kita bekerja.

Nah, soal pengembalian ini kadang menjadi cara orang resign diam-diam. Jadi, cukup dengan tinggalkan semua fasilitas kantor itu plus email malam hari atau bahkan sekadar selembar kertas, lalu tidak kembali dan bahkan ganti nomor handphone, selesailah prosedur resign kabur. Ini sih bisa-bisa saja, suka-suka kita. Tapi sudah pasti nggak akan dapat surat keterangan pernah bekerja. Anak Dirjen mungkin nggak perlu hal sejenis ini. Hanya saja, pikirkan dampaknya pada adik-adik kelas dari almamater. Seringkali perilaku buruk kita dengan kabur ini berimbas pada tertutupnya peluang adik kelas masuk ke perusahaan yang saya karena almamater sudah kena blacklist. Itu juga salah satu bagian pentingnya resign yang baik.

EXIT INTERVIEW

Akhirnya, ini adalah saat bagi kita untuk mengungkapkan segala hal ihwal perihal kita resign–terutama jika terkait dengan masalah personal. Kalau disebutkan di awal, akan ada intervensi yang justru dapat memperburuk keadaan jika bos tidak bijak menyikapinya. Kalau disebutkan di akhir, kepada HRD pula, maka keluarnya kita itu akan menjadi evaluasi bersama bagi kelangsungan perusahaan. Bilang saja semuanya. Setidaknya, agar perusahaan belajar bagaimana sebaiknya mengelola karyawan dengan baik sehingga tidak mengorbankan karyawan lama yang setia demi seorang karyawan baru yang dibajak dari perusahaan kompetitor. Misalnya semacam itu. Utarakan dengan senyum agar kita juga bisa keluar dengan senyum.

KADANG ADA HAL YANG PERLU DISEMBUNYIKAN, YA SIMPAN SAJA

Di atas tadi saya minta untuk terbuka, tapi kita harus lihat konteksnya juga. Kita tahu bahwa dunia kerja itu kadang kejam minta ampun. Pernah ada manajer yang resign terbuka bilang akan pindah ke X. Karena dia manajer, owner langsung tahu dan melakukan hal yang bikin geleng-geleng. Owner langsung meminta pemilik X untuk membatalkan rekrutmen si manajer. Jadilah si manajer bukannya pindah, eh resign malah jadi pengangguran.

Lihat-lihat dulu situasi sebelum kemudian minta diri untuk resign, tapi saya sih yakin cerita di atas tidak berlaku umum. Cari tahu dulu saja keadaan sekitar sebelum memutuskan pindah. Ada beberapa kasus teman saya yang pindah dari A ke B dan nggak bilang-bilang soal B karena hubungan sesama owner cukup baik dan memungkinkan intervensi.

resign3

Demikian sedikit pemaparan soal resign yang baik dan benar. Pada dasarnya kalau resign baik-baik itu rasanya lebih enak, daripada buruk-buruk. Toh, resign adalah satu bagian dari keputusan hidup, dan kita tahu bahwa hidup tidak bisa di-rewind. Apapun yang terjadi sesudahnya, semua adalah konsekuensi dari pilihan kita. Jadi, selamat memilih!

Advertisements

30 thoughts on “Cara-Cara Resign yang Baik

  1. Resign yg baik adlh ketika kantor kita mau dipindahkan dari timur-nya jakarta ke barat-nya jakarta. Emangnye gw mau nyari kitab suci 🙂

    Like

  2. Pingback: Loser Trip: Full Story of Journey | ariesadhar.com

  3. Pingback: Celana Onet - Tips Celana Wanita

  4. Pingback: God, What Do You Want Me To Do? | ariesadhar.com

  5. Pingback: Seandainya Para Relawan Menjadi Anggota DPR | ariesadhar.com

  6. Kalo resign, trs kita udh kluar tp masih berminat kerja d pt itu dan sudah tanggung tsnda tangan suratnya, apakah bisa balik lagi ke perusahaan tsb?

    Like

  7. saya bingung harus resign atau tidak? saya baru 5 bulan kerja dikantor saya. Keadaannya kurang kondusif, yang mana hal tersebut terjadi karna ulah saya sendiri, dan saya menyesalinya. tapi setiap saya berusaha memperbaiki diri pasti selalu gagal, selalu salah. orang-orang kantor tetap bersikap baik pada saya, meskipun saya tau mereka tidak suka saya. saya merasa bersalah atas kelemahan saya untuk bisa cepat memperbaiki diri, haruskah saya sadar diri untuk resign?apa alasan yang tepat untuk resign pada kasus saya ini?

    Like

    • Jadi kalau menurut saya, nih. Namanya kerja, salah itu normal. Memperbaiki diri itu wajib. Saya aja pernah salah planning sampai 1 batch ratusan juta dibuat padahal ordernya nggak ada. Hehe. Cuma kalau memang nggak kondusif, yang pada akhirnya bikin kita nggak enak tiap hari, resign jelas boleh banget jadi pilihan. Cuma harus dipertimbangkan dulu:
      1) Sehabis resign, “dapur” kita gimana? Sudah ada pekerjaan buat bikin dapur kita ngebul atau nggak?
      2) Ada syarat-syarat di kontrak yang bikin berat kita kalau resign? Misal ikatan hingga sekian tahun, kalau dilanggar denda sekian kali gaji.
      Kalau memang sudah, bolehlah mengajukan ke atasan. Kalau buat saya, setelah mempertimbangkan dua hal di atas, boleh-boleh aja bilang alasan keadaan dan kesalahan tadi jadi sebab resign. Nggak usah ngarang-ngarang alasan lain. Itu nggak salah kok. Tinggal atasan nih ngebolehin apa tidak. Hehe.

      Tetap semangat mbak anita! 😀

      Like

  8. Pak tolong kasih saya saran, saya kerja di bidang ekspor dan hampir setiap pekerjaan melakukan kesalahan, dan saya belum berpengalaman sebelumnya karena masih fresh graduate, menurut anda apakah resign bisa jadi jalan keluarnya? jika ada mohon minta alasan yg baik untuk di sampaikan ke atasan. terimakasih

    Like

    • Ini rata-rata anak fresh graduate. Saya ketika masih fresh graduate juga ada-ada saja kelirunya. Tapi asal kita jujur, ngaku ke bos, berjanji memperbaiki, dan kemudian benar-benar memperbaiki, biasanya itu malah titik balik kita untuk jadi karyawan yang mantap. Awal-awal memang gitu, salah melulu, pengen resign aja, dst, dst.
      Tapi kalau memang bos nggak support, kawan-kawan nggak support ya monggo resignlah. Boleh liat komentar saya atas pertanyaan mbak anita (di atas). Alasan yang baik adalah alasan yang jujur, kayak mutusin cewek. Hehe.

      Like

      • tapi saya akhir” ini merasa stress dan jika melakukan pekerjaanpun kurang fokus karena “TAKUT SALAH” masih mendominasi di pikiran yg membuat kerjaan terkadang jadi kacau. Tolong berikan alasan yg baik untuk disampaikan ke atasan, terus apakah baik jika kita resign kerja setelah mendapatkan gaji?. misalnya saya akan megajuka resign pd tgl 18 nanti, terus di surat resign saya kerja hanya sampai tgl 4? apakah atasan akan memberikan hasil positif? atau akan gmn gtu….

        Like

      • Aduh, kalau saya mah masih itu tadi, salah itu biasa. Tapi ya monggo kalau memang mau resign. Masalah tanggal2 itu ya tergantung aturan perusahaan, termasuk juga misal menggaji pro rata sesuai hari kerja sebelum resign. Monggo dicek dulu klausul-klausul di kontrak dengan teliti sebelum mau resign, karena biasanya malah nggak jadi resign karena baca syarat2nya. Tetap semangat 🙂

        Like

  9. Pingback: Cara Paling Sederhana Memahami Material Requirement Planning (MRP) | ariesadhar.com

  10. pak minta sarannya. saya kerja admin lion parcel Sudah mau 2 Bulan. q mau resign tpi klau kerja 2 bulan resign itu warar kan, tpi q mnta sarannya bisa ijin keluar. tpi atasan q bilang kalau kmu keluar q tahan kmu 1 bulan…
    jdinya saya harus bilang gimana sama atasan q klau q mau resign.?
    tolong beli sarannya dan bantuannya trimakasih

    Like

  11. Pak saya kan baru kerja 5 bulan,trus saya punya rencana kuliah tahun ini. Karyawannya cuman saya saja,kalau mau resign harus cari pengganti satu bulan sebelum resign. Nah,kondisinya untuk kuliah saya nanti nggak bisa dibarengi sama kerja jadi cuman fokus ke kuliahna aja. Kira” saya harus bilang gimana ke bos saya dan enaknya kapan saya bilang resign? Terima kasih

    Like

  12. pak saya baru kerja 5 bulan sebagai pegawai kontrak di instansi pemerintah dan rencana mau resign karena sudah hamil tua, karena saya sering kelelahan dikarenakan kehamilan. menurut bapak apakah tepat alasan saya resign karena hamil? terima kasih.

    Like

  13. Halo om

    Saya bekerja sebagai admin di salah satu perusahaan kontraktor swasta, baru 2 bulan tp rasanya udah pengen resign alasan karna gaji saya yg bisa dibilang sangat kecil bahkan di bawah umr memang pas wawancara kerja bos saya tidak menyinggung masalah gaji dan berhubung saya fresh graduate saya pikir tidak masalah kalau dpt gaji sesuai standar perusahaan paling ngak umr lah eh taunya pas gajian malah dpt gaji yg jauh dr umr kalau saya berkerja di kota/dekat dgn rmh sih ya saya maklumi gaji segitu lah ini hr pertama kerja langsung di kirim ke hutan tempat lokasi proyek yg jaraknya sekitar 10 jam dr kota tempat saya tinggal bukankah dgn gaji di bawah umr dan harus tinggal di hutan dgn fasilitas serba kekurangan sedikit gak masuk akal

    Jd mungkin om bisa bantu kasih saran apakah saya harus resign atau mungkin bertahan dan kalau memang harus resign apakah nanti bos saya akan mengabulkan permintaan saya itu berhubung saya br kerja 2 bulan dan juga satu2nya admin di lokasi proyek itu

    Like

    • Lah kontraknya bagaimana? Boleh resign nggak? Atau malah ada celah di kontrak yang bisa bikin ‘kabur’ begitu saja? Dari situ dulu, biar kita aman. Hehe. Lagipula, sebaiknya kalau mau kerja kita harus pastikan dulu tempat dan gajinya baru teken perjanjian. Gitu.

      Like

      • Masalahnya gak ada kontrak2an cuma wawancara ditanya udah siap kerja besoknya langsung disuruh kelapangan, tempat kejanya kayak gimana gak tau, gajinya brp jg gak tau

        Karna itu saya bingung sendiri kalo mau keluar nanti gimana apa langsung ngomong ke boss abis itu keluar, apa langsung keluar2 aja, bingungkan!

        Yah mungkin ini bisa saya jadian pengalaman buat kedepannya nnt, makasih om nasihatnya ntar saya cari cara gimana mau keluar

        Like

      • Wkwk main kabur aja, gak enak sama bosnya soalnya ada keluarga bos yg kenalan ortu saya

        Like

      • Ya, tapi kalau mau kabur sih nggak ada masalah dengan hukum. Terus kalau ada kenalan ya malahane tinggal bilang, toh, kalau nggak adil, gaji kurang, dll 😀

        Like

      • Wah, makasih bgt om saran2nya
        Akhirnya setelah lebih kurang 3 bln, saya pun mau mutusin untuk keluar bukan karna masalah perkerjaan atau gaji kurang tp ada salah satu orang di lokasi proyek yg ngebuat kesel bgt sampe saya gak tahan lagi.
        Insyaallah bulan depan mau ngomong dengan bos buat berhenti, doain aja om semoga bisa keluar dgn lancar

        Sekali lagi makasih om

        Like

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s