Review: Sabtu Bersama Bapak

SAN MARINO

Begitu mengetahui bahwa Sabtu Bersama Bapak akan difilmkan, sudah barang tentu judul itu segera masuk list film yang harus saya tonton. Bukan apa-apa, sampai saat ini Sabtu Bersama Bapak adalah salah satu novel terbaik versi saya. Namun tentu saja, namanya juga film, walaupun naskahnya ditulis sendiri sama Kang Adhitya Mulya, kita-kita para pemuja novel Sabtu Bersama Bapak harus menjaga ekspektasi. Tidak sedikit orang yang justru ogah nonton karena novelnya terlalu bagus.

Ngomong-ngomong, pada prinsipnya untuk menikmati Sabtu Bersama Bapak adalah lebih asyik jika baca novelnya dulu. Soalnya, jika tidak, lantas akan muncul perdebatan sebenarnya Sabtu Bersama Bapak ini film sedih, lucu, apa malah horor?

Saya sendiri memuja novel Sabtu Bersama Bapak karena novel ini adalah satu dari sedikit novel komedi, sebagai penulis komedi kurang laku tentu saya harus banyak berguru dengan kang adit. Namun lebih utama lagi, Sabtu Bersama Bapak ini adalah novel dengan premis mengagumkan dan membuktikan bahwa premis berat bisa dibawakan dengan metodologi komedi.

Jadi, bagaimana filmnya?

Sesudah balada delay di XXI Setiabudi One, dan dua kali pemutaran trailer Warkop DKI Reborn yang menampilkan Abimana, maka Abimana muncul lagi sebagai sosok “Bapak”, Gunawan Garnida. Sosok Bu Itje yang tangguh sendiri dimainkan secara mantap oleh Ira Wibowo. Secara umum pemilihan cast bisa dikatakan nyaris sempurna. Arifin Putra dari segi muka sangat menggambarkan Satya yang keras. Di bagian awal memang belum atau kurang terasa Satya-nya, tapi begitu berantem baru deh dapat rasa Satya-nya. Deva Mahenra mungkin terlalu tampan untuk sosok Saka, tapi polosnya dapat sekali. Hingga sosok Wati dan Firman juga sip. Oh, dan Risa, itu juga tepat banget dimainkan oleh Acha Septriasa.

Kalaulah ada sosok cast yang bikin kecewa, bagi saya adalah dua dedek, Rian dan Miku. Entahlah, menurut saya keduanya tampak begitu kaku. Nggak tahu apakah itu dampak saya habis main sama Derrel, keponakan saya yang kelas 2 SD, atau tidak. Tapi mestinya, sih, tidak. Soalnya sehabis nonton Sabtu Bersama Bapak, saya nonton Rudy Habibie dan ada aktor cilik di film itu. Pemeran Rudy kecil misalnya dengan super memainkan adegan Papi meninggal saat bersujud.

Dari sisi kisah, jelas sekali ada plot yang ditata ulang dan disesuaikan untuk kebutuhan film. Ini dia kegunaan menata ekspektasi. Bagaimanapun kita harus ingat bahwa buku dan film punya mediumnya masing-masing. Beberapa perbedaan misalnya tempat tinggal Satya, tempat ketemuan Cakra dan Retna, serta beberapa yang lain boleh jadi dirasa merupakan faktor pembeda novel dan filmnya. Sejatinya, saya berharap setting Satya tetap di tempat sesuai novel agar tidak terlalu mainstream. Demikian pula dengan pekerjaan asli Risa yang sebenarnya sangat menarik. Dan, ehm, tentu saja adegan Satya lagi main dengan anak-anak, terus tetiba dikirim foto sama Risa. Ya iyalah, adegan semacam itu nggak film-able. Heu.

Kang Adit dan sutradara terasa membagi jatah serius milik Satya, jatah komedi untuk Saka, dan jatah sendu milik Bu Itje. Di novelnya memang begitu, sih, tapi di film terasa begitu tegas bedanya. Selain sosok Abimana, Deva menurut saja memegang peran penting dalam kesuksesan Sabtu Bersama Bapak ini. Sebagian pemilik porsi lucu-lucuan, dalam sosok Saka dia dengan mantap menyebutkan bahwa ,”kemaluan saya besar”. Heuheu.

Bahwa sulit tentunya membuat film dari buku yang begitu sukses, itu juga terjadi pada Sabtu Bersama Bapak. Saya yang menjadikan Sabtu Bersama Bapak sebagai role model sejatinya puas, namun ada saja yang rasanya kurang pas. Itu tadi, manage expectation adalah penting bagi pembaca novel ini sebelum menyaksikan filmnya.

Soal ending juga agak wagu. Tiba-tiba muncul seolah-olah penutup dengan adanya nama sutradara. Saya hampir saja kecewa, eh, tiba-tiba ending sesuai buku muncul. Baru deh, adem. Tapi ya gitu, tetap saja ada yang kabur duluan dan mengakhiri film dengan permintaan maaf Bapak. Semacam nonton Marvel tapi melepaskan ending pasca credit gitu rasanya.

Buat saya secara umum film ini sukses menerjemahkan novelnya, meski terdapat beberapa penyesuaian yang tentunya membutuhkan persepsi pembaca untuk keberterimaannya. Intinya, film ini adalah film keluarga, meski ada adegan ciumannya. Jika membawa anak, perlu juga dijelaskan tentang Bapak yang meninggal, soalnya kemaren anak di sebelah saya bertanya pada bapaknya buat apa bersusah susah puasa “loh katanya bapaknya sudah mati?” saat adegan Bapak dan Satya. Saya takut film ini disangka film horor, gitu.

Satu hal yang pasti, saya langsung ingat malam terakhir saya sebelum merantau, ketika dipanggil malam-malam dan diberi petuah bijak yang ironisnya sama lupa detailnya, namun satu yang pasti saya ingat adalah “ojo goroh“. Sesuatu yang tetiba menjadi teramat sulit dalam pekerjaan semacam ini. Ah, sudahlah.

Selamat dan sukses buat Kang Adit, Deva, dan Acha. Semoga film ini dapat menjadi lompatan yang luar biasa sehingga nggak usah nunggu sepuluh tahun sejak film Jomblo sebelum kemudian keluar Sabtu Bersama Bapak sebagai film adaptasi novel Kang Adit.

Novelnya lagi kapan, kang?

10 thoughts on “Review: Sabtu Bersama Bapak

  1. iyahh dek Miku sama Rian-nya kaku….dan harusnya bukan mereka deh ya cast-nya secara bapake guanteng tenan gituuuu….duhhh mas Aripin❤

    Like

    • Mboknya juga tampak lebih ca’em dibandingkan film-film laennya. Dengan segala sayang kepada dedek-dedek itu, menurut sayah juga cocoknya bukan mereka. Hehe.

      Tolong, kak, itu mas Aripin juga kan anak site, sama dengan mamas yang itu lho. Heuheuheu.

      Like

  2. Pingback: Daftar Bioskop Murah di Jakarta | ariesadhar.com

  3. Pingback: [Review] Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s