Tentang Bahan Sosialisasi Pak Sekda

Salah satu hal yang menarik dari persiapan Pilkada tentu saja materi sosialisasi dari para calon. Sebagai orang Tangerang Selatan, yang saya lihat sehari-hari tentu tidak jauh-jauh dari beberapa orang yang siap maju. Beberapa diantaranya adalah Azmi Abubakar, Tomi Patria, Ruhamaben, serta tiga orang yang digadang-gadang sebagai calon paling kuat yaitu Pak Wakil Walikota, Pak Sekda, serta anaknya Pak Wakil Presiden.

Nah, salah satu bahan sosialisasi yang menarik dan sempat beredar di dekat Stasiun Jurangmangu pada bulan Desember 2019 adalah punya Pak Sekda ini. Dalam soal ini, saya rasa tim yang memasang alat peraga ini perlu diberi brief yang lebih jelas.

Pertama, tentu saja karena desainnya yang sangat biasa untuk profil setinggi Pak Sekda. Lebih gawat lagi tentu saja font-nya~ Banyak tim media sosial masa kini menggunakan Canva dan pilihan font-nya tentu jauh lebih mendingan.

Belum lagi penulisan nama dan gelar Pak Sekda yang nyaris tanpa tanda baca. Bpk Drs H itu masing-masing harus diakhiri oleh titik. Demikian pula gelar Pak Sekda itu tidak sembarangan nulis M.si. Kuliah S2 itu susah, coy. Nggak sembarangan lah nulis gelar.

Perihal tagline di paling bawah tentu tidak diragukan lagi. Namanya Sekda tentu merupakan orang yang bukan hanya mengerti, tapi paling mengerti kota tempatnya bertugas. Namun, alat peraga ini justru menimbulkan sedikit pertanyaan di kepala saya.

Begini, jikalau memang Pak Sekda adalah orang yang mengerti kotanya, mestinya tahu bahwa di kotanya itu banyak sekali tempat printing poster dan banner, tidak sedikit pula yang 24 jam bukanya. Di masing-masing tempat itu ada jasa desain pula dan untuk profil setinggi Pak Sekda nggak mungkin juga ditolak walaupun buru-buruk, kan?

Alat peraga yang semacam ini malah kontradiktif sekali. Meskipun tentu saja nggak ngaruh banyak. Pak Sekda, misalnya sudah berhasil mendapatkan rekomendasi dari salah satu partai yang dikenal sebagai partai anak muda. Partai anak muda mendukung Sekda. Sungguh sangat Mata Najwa, bukan?

Sementara calon-calon lain dengan desain poster lebih wow justru kalah kondang. Ya memang, sih, ini kan Pilkada yak, bukan lomba desain alat peraga~ Tidak jauh dari lokasi alat peraga ini, Pak Wakil Walikota petahana punya alat peraga yang lebih besar serta lebih rapi desainnya. Kalau kemudian nanti jadi bersua di medan laga, semoga alat peraganya lebih ciamik lagi ya Bapak-Bapak…

Persaingan SPBU di Bintaro Jaya

Keeping on Track.jpg

Bintaro–atau lebih tepatnya Bintaro Jaya–adalah sebuah kawasan yang menarik karena letaknya cukup strategis dan masih sangat terbuka pengembangannya. Nah, salah satu keunikan Bintaro, utamanya Bintaro Jaya, adalah di tempat ini seperti jadi ladang persaingan orang jualan minyak alias SPBU. Ya, bisa dikatakan semua merk BBM yang beredar di Indonesia ada SPBU-nya di Bintaro. Ini dia profilnya.

1. Vivo

Gambar terkait

Dikendalikan oleh PT Vivo Energy Indonesia yang merupakan anak usaha Vitol Grup, Vivo sebelumnya ada di Afrika dengan hampir lima ribu SPBU. Salah satu nilai plus Vivo adalah menjual varian BBM dengan RON sekelas Premium. Sesuatu yang tidak dilakukan oleh pengelola SPBU selain Pertamina.

Di Bintaro, Vivo terletak di Bintaro Jaya Sektor 7, tidak jauh dari Lottemart Bintaro yang berarti juga tidak jauh dari SPBU Shell. Sebuah head to head yang luar biasa.

 

2. Pertamina

Menghadapi serbuan SPBU merk asing, Pertamina tidak sembarangan di Bintaro karena SPBU di lokasi ini langsung COCO alias milik pertamina sendiri. Itu lho, yang katanya kodenya 31, bukan 34. Jadi COCO itu kurang lebih artinya milik sendiri, dioperasikan sendiri juga.

Hasil gambar untuk SPBU COCO BINTARO sektor 9

Letaknya di dekat Total Buah dan dalam periode tertentu lumayan bikin macet karena antrean kendaraan yang akan masuk ke SPBU Pertamina ini bersisian dengan yang mau beli buah.

 

3. Total

Masih di Bintaro Jaya Sektor 7, negeri Prancis juga turut bersaing dengan Total. Saya sendiri adalah pelanggan tetap di Total karena memang jalurnya pas. Mengandalkan produknya ‘Performance’, SPBU ini dilengkapi minimarket Bonjour serta toilet yang cukup bersih.

Hasil gambar untuk total SPBU bintaro

Posisinya sendiri di sebelah Kebayoran Arcade 3 alias di seberang Hotel Aviary. Jadi, SPBU ini laris bagi orang yang mau pulang ke arah Emerald, Discovery, hingga sektor 9 tapi lewat Arcade 3.

 

4. Shell

Hasil gambar untuk shell bintaro

SPBU kesayangan saya ketika di Cikarang, namun jarang saya kunjungi di Bintaro karena memang tidak dilewati. Posisinya cukup strategis karena di tikungan alias seberang Hari-Hari dengan sedang ada pembangunan pusat keramaian baru di sebelahnya. Yang agak unik dari SPBU ini adalah akses masuknya yang agak membingungkan.

 

5. BP

Hasil gambar untuk BP Bintaro

Pemain baru ini mendirikan SPBU di dekat Emerald, tidak jauh dari McD Emerald alias di seberang calon Pasar Modern Emerald. Lokasi ini cukup premium karena akan jadi SPBU pertama sesudah exit tol yang akan segera dioperasikan. Ada Alfamart dan ada Kopi Tuku. Kopi Tuku-nya sendiri punya tempat yang ciamik, minim kursi tapi enak buat sekadar ngopi ringan habis ngisi bensin.

Nah, sudah jelas kan, kenapa Bintaro Jaya laku keras? Wong, POM Bensin saja ada lima merk. Heuheu~

 

Badan POM dan Bebiluck: Simpati yang (Seharusnya) Sama

simpati

Sedang duduk pasca mengarungi lautan polusi di ibukota, tetiba saya mendapat broadcast di grup WhatsApp. Pesan panjang yang biasanya malas saya baca. Kalau saja broadcast itu muncul di grup FPL Ngalor Ngidul, saya tinggal komentar, “Tulung disimpulke (tolong disimpulkan)”. Masalahnya, ini muncul di grup yang berbeda dan kala membacanya saya kok jadi trenyuh sendiri. Ya, kebetulan saya hobinya memang mengenang.

Broadcast itu berjudul “Sejarah Kami adalah Sejarah Cinta Ibu Kepada Anaknya” ditulis oleh Lutfiel Hakim kalau menurut tulisan pada pesan yang saya terima. Intinya, broadcast ini adalah suara dari pemilik makanan bayi Bebiluck yang belum lama ini didatangi oleh Balai Pengawas Obat dan Makanan di Serang dalam sebuah inspeksi mendadak (sidak) karena produknya tidak memiliki Nomo Izin Edar (NIE).

Saya membaca kisah Pak Lutfiel ini berulang kali karena nggak ada kerjaan, termasuk perihal awal mula makanan bayi, dan perspektif saya adalah broadcast ini merupakan kebenaran, alias bukan hoax layaknya banyak pesan broadcast lain yang menuh-menuhin gawai saya.

Seketika saya bersimpati dengan Bebiluck dan saya yakin banyak pembaca juga berlaku sama. Bagaimana tidak? Dalam usaha menangani makanan bayi yang tergolong risiko tinggi, aneka usaha telah dilakukan. Mulai dari membuka CV untuk penerbitan SIUP, konsultasi dengan Dinas Kesehatan hingga mendapatkan izin PIRT, hingga uji laboratorium Dinas Kesehatan.

Masih dalam tulisan yang sama, ada ahli pangan yang direkrut, badan usaha diganti menjadi PT, melakukan uji laboratorium di TUV Nord, hingga mendapatkan sertifikat halal LPPOM MUI. Sebagai mantan auditor halal internal, saya sedikit-sedikit paham sih dengan soal halal ini, makanya saya langsung cek ke Daftar Produk Halal terkini, dan memang ada nama Bebi Luck atas nama CV. Hasanah Bebifood Sejahtera, pada laman ke-314 file bertipe pdf dalam tabel LPPOM MUI Banten.

Selengkapnya!