Di Balik Tulisan “Yang Harus Dipahami Dalam Kasus Penarikan Albothyl”

Di Balik Tulisan _Yang Harus Dipahami Dalam Kasus Penarikan Albothyl_

Hari Jumat, pas Imlek, Prima Sulistya, cicik-cicik KW embuh yang tidak merayakan Imlek merupakan pemimpin redaksi salah satu media kafir, Mojok, mengirim pesan WhatsApp kepada saya berkaitan dengan penulisan sebuah topik, yang mungkin dikirimkannya mengingat kayaknya hanya saya apoteker di antara deretan penulis Mojok.

Ini merupakan pesan istimewa karena inilah kali pertama Cik Prima request artikel ke saya sejak bliyo naik pangkat jadi pimred. Sebelumnya, Cik Prim hanya redaktur biasa nan jelata. Beberapa tulisan yang saya kirimkan kepadanya pun memang dimuat tapi view-nya mengenaskan.

Bagi saya, apapun tawaran dari Cik Prim yang berkaitan dengan nulis di Mojok adalah keharusan untuk diiyakan, terlebih dalam kondisi finansial saya yang gundah gulana begini. WA-nya kepada saya mungkin kombinasi dari masukan koreksi untuk sebuah topik yang lalu ditambah dengan unggahan saya berupa Istoyama yang sedang makan kerupuk saja, saking kerenya bapaknya.

Maka, saya mengiyakan pesan tersebut, sembari berpikir untuk tidak mengulang kegagalan view yang payah pada postingan soal Samyang. Bahkan sudah di-promote oleh Kepala Suku saja, postingan tentang Samyang hanya menjadi sampah masyarakat belaka.

Saya berpikir sambil menemani Istoyama pijet. Ngomong-ngomong, Istoyama pijet, berarti bapaknya kudu ikutan guling-guling karena begitu dipijet, dia pergi kesana-kemari sesuai lagu Iwa K, “bebas…lepas….”. Pegel boyok awak, berpikir pun tiada sempat.

Sesudahnya, saya dan mboknya Istoyama kembali keluar rumah untuk membeli diffuser. Istoyama memang sedang batuk pilek dan batuknya anak bayi itu bikin trenyuh. Lebih sedih melihat anak batuk daripada diputusin sesudah pacaran 4 tahun. Serius. Tenan iki. Dan itu saya keluar ke Living World sudah pukul 19.00. Jadi, sejak Cik Prim kirim pesan WA sampai dengan pukul 19.00 itu saya belum mengetik apapun. Lha, pegang laptop aja boro-boro.

Saya mulai mengetik di ponsel, sembari keliling Ace Hardware guna membeli diffuser yang harganya mahal itu. Ditambah dengan kesempatan sejenak pacaran sama istri dengan belanja 70 ribu, bisa dapat 2 minum dan 1 pancake, menggunakan OVO. Sembari makan pancake gratis pemberian Lippo (melalui OVO) saya mengetik poin-poin untuk digarap. Terima kasih, wahai taipan!

Belum ketemu benang merahnya, sampai saya tiba kembali di rumah pukul 21.00. Itu Istoyama belum tidur, jadi ikut menemani proses tidurnya dulu hingga kemudian pukul 22.00, saya baru bisa membuka laptop.

Buka laptop adalah keharusan karena tulisannya akan berangkat dari rilis BPOM tentang Albothyl, bukan dari sumber-sumber lainnya. Tinggal, bagaimana membuat sebuah press release itu menjadi Mojok banget. Kita tahu, terminologi “Mojok banget” itu sangat pelik. Saya punya puluhan tulisan yang ditolak karena tidak Mojok banget. Modar.

omg-funny

Soal Mojok banget ini, dari belasan tulisan saya di Mojok, menurut saya yang Mojok banget itu hanya beberapa, antara lain yang membahas Anwar, pembunuh dan pemeroksa yang dibantu kabur sama istrinya, plus menghubungkan kenaikan nilai tukar dollar dengan LDR. Maka, saya harus mencari pengadaian yang serupa. Dan itu sulit. Kalau itu gampang, saya sudah kaya dari dulu.

Saya lalu mengetik perlahan, mencari pengandaian yang tepat, sebelum kemudian menemukan analogi pernikahan. Maka, judul asli tulisan tersebut adalah “Urusan Policresulen Itu Seperti Urusan Pernikahan”.

Kemudian soal nama tokohnya, sejujurnya saya terinspirasi dengan status Puthut EA yang berkisah hasil balik dari Basabasi Cafe. Dari situlah saya mengambil bulat-bulat identitas Mulyadi dan Mardiasih berikut M&M-nya. Anggapannya, jika memang isinya tidak viral, kisah M&M lumayan bisa menuai google search.

Screenshot_1228

Lantas, soal pengandaian jago masak dan membenarkan pipa bocor…hmmm…begini… Saya mendapat komplain dari orang yang bilang, “Masak hanya karena pipa bocor boleh nikah?”.

Tadinya, saya mau memasukkan analogi “bisa membaca Al-Quran” tapi takut dibilang penista Agama. Ini era sulit, gan. Jadi ya sudah, siapa tahu analogi semacam ini bisa menjadi Mojok banget.

Tulisannya kemudian selesai jelang tengah malam. Lolos dari janji saya pada Cik Prima untuk kirim sore, tapi masih masuk tenggat yang diberikan: tengah malam. Soal begini, kepada editor dari website manapun, saya selalu tepat waktu. Bagaimanapun, keunggulan saya baru itu. Bisa nulis cepat. Nulis bagus, nah, entah.

Siang bolong keesokan harinya, Cik Prima mengirimkan link tulisan saya di Mojok dengan judul yang sudah disesuaikan. Yeah, Istoyama bisa beli diapers! Percayalah, gaji saya itu hanya 3,2 juta. Sementara itu, tiap hari Istoyama dari rumah ke penitipannya naik Go-Car 30 ribu sehari. Kalikan saja dua angka itu, dan hitung berapa sisa gaji saya. Heu.

Oke. Baiklah. Tulisan tayang, dan kemudian….

JENG! JENG! JENG!

Tulisan itu kemudian terpaksa saya labeli ‘sialan’ dalam 24 jam kehadirannya. Tulisan ini menyebar begitu dahsyat hingga sampai ke orang-orang yang tidak saya duga akan membaca Mojok. Percayalah, pada hari itu, puluhan pejabat baik Eselon I maupun Eselon II akhirnya membaca Mojok. #MojokGoesToPejabatEselon.

Screenshot_1230

Dari kalangan kefarmasian, saya menerima banyak apresiasi. Ada yang bilang ‘bagus’, ‘mudah dimengerti masyarakat’, ‘cerdas’, dll.

Screenshot_1231

Akan tetapi, dari kalangan masyarakat, komentar yang saya terima tidak jauh-jauh dari ‘kepanjangan’, ‘bikin pusing’, ‘bertele-tele’, hingga yang paling epik:

Screenshot_1234

Lebih lanjut lagi, pada hari Senin sesudah tulisan tayang, saya mendapat informasi yang mengejutkan. Ya, cukup mengejutkan pokoknya. Sesuatu yang bisa membuat perubahan besar dalam kehidupan saya nantinya. Dan sejujurnya, sesuatu itu cukup bikin saya stress hingga urusan ginjal kembali kambuh. Deuh. Yoweslah.

Pada hari Sabtu 24 Februari 2018, saya mendapati bahwa tulisan sialan itu nangkring di Terpopuler Sepekan Mojok. Tiga tahun lebih saya jadi kontributor Mojok, baru kali ini saya meraih posisi itu, maka mohon izinkanlah saya jadi alay sedikit untuk prestasi itu.

Screenshot_1227

Begitulah, sedikit kisah di balik cukup viralnya tulisan sialan itu–setidaknya di kalangan kefarmasian. Saya perlu merekam riwayatnya di blog ini, semata-mata karena sudah tanggal 24 Februari, dan postingannya baru sebiji. Yeah, menjamurnya platform User Generated Content memang bikin urusan mengisi blog sendiri jadi prahara yang pelik.

Ya, sudah. Begitu saja. Mohon bantuannya kalau besok-besok saya ngutang ya.

Advertisements

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.