4 Alasan Cowok Farmasi Adalah Calon Suami Ideal

Sudah lama ya saya tidak menulis sesuatu yang berguna untuk perkembangan dunia kefarmasian. Di sela-sela polemik SKP yang lumayan meruncing dengan terjadi polarisasi, maka ada baiknya sebagai pemilik ijazah apoteker yang tidak mengurus SKP karena tidak melakukan praktek kefarmasian, saya mencoba menengahi dengan tulisan yang visioner dan membangun. Dari judul ini, kira-kira tampak visioner nggak ya?

TENTU TIDAK!

58199935

Ya, memang. Kontribusi saya bagi dunia kefarmasian paling mentok adalah membuat para apoteker tertawa dan mengenang masa silam, semisal lewat tulisan 97 Fakta Unik Anak Farmasi. Begitu saja, kok. Makanya sekarang saya mau melakukan tinjauan tentang posisi cowok farmasi–yang langka itu–dalam perspektif calon suami karena setelah saya renungkan di taksi dari Salemba ke Palmerah, ternyata ada alasan sahih yang membuat anak farmasi dapat dikategorikan sebagai calon suami yang ideal. Apa saja itu? Ini dia~~!

Cowok Farmasi Sangat Menghargai Cewek

Dalam tren dunia kefarmasian, keberadaan cowok itu selalu minoritas. Apalagi cowok yang merokok, lebih minoritas lagi. Cowok beristri? Tambah minoritas kalau diukur pada saat kuliah. Perbandingannya mulai dari 1 cowok berbanding 3 cewek, itu sudah yang agak moderat. Bahkan pernah dari 1 kelas 40 orang, cowoknya dua biji, itu juga jelas ada. Makanya kemudian nggak heran ketika di sebuah lembaga negara bernama Badan POM–yang notabene isinya kebanyakan Apoteker–didominasi oleh ibu-ibu, ya karena memang dari perkuliahannya cewek memang sudah dominan.

Keberadaan cowok farmasi sebagai minoritas membuat mereka jadi menghargai cewek. Soalnya kalau tidak menghargai cewek, nggak mungkin survive juga. Bagaimana mungkin seorang cowok farmasi bisa eksis tanpa contekan laporan dari cewek-cewek farmasi? Bagaimana bisa juga cowok-cowok farmasi bisa mengerjakan pre-test tanpa lirik-lirik ke para cewek? Dan yang pasti, memangnya adakah cowok farmasi yang rajin mencatat? Sekenal saya dengan banyak cowok farmasi, mereka memang mencatat, tapi catatan itu nggak berguna karena nanti mereka juga akan fotokopi catatan para cewek. Saya juga kenal cowok farmasi yang slide presentasi ujian skripsinya dibuatkan oleh temannya yang cewek.

Dengan latar belakang kehidupan semacam itu, dijamin cowok farmasi adalah kalangan yang sangat menghargai cewek dan tidak akan mendominasi dalam kehidupan, karena ya itu tadi, cowok farmasi itu butuh cewek farmasi untuk eksis di dunia perkuliahan sampai selesainya kuliah dengan baik dan benar.

Cowok Farmasi Biasa Begadang

Bang Rhoma dengan bijak selalu melarang cowok farmasi untuk begadang, tapi itu kan kalau tiada gunanya. Nah, bagi cowok-cowok farmasi, begadang itu adalah aktivitas sehari-hari. Bagi cowok-cowok farmasi, sore hari sesudah kuliah bukanlah waktu yang tepat untuk mengerjakan tugas atau laporan karena lebih baik untuk main futsal atau main PES atau main FIFA. Sesudah jam di kos-kosan kira-kira sudah menunjukkan angka 22, barulah laporan dibuka, padahal laporan itu belum dikerjakan sama sekali dan akan dikumpulkan besokannya jam 8 pagi. Itu adalah sebab cowok farmasi terbiasa begadang.

43740607

Dan hal semacam ini tentu sangat dibutuhkan dalam hidup berumah tangga kelak ketika dedek bayi hasil perbuatan bersama itu terbangun tengah malam. Jelas sudah menjadi alasan yang mantap dan menarik, bukan?

Cowok Farmasi Itu Sabar

Satu hal langka di masa kini adalah menemukan lelaki sabar sebagai partner untuk mengarungi kehidupan sehari-hari hingga akhir hayat. Nah, stok cowok sabar itu sebenarnya tersedia dari cowok farmasi. Loh, bagaimana bisa?

Dalam hal menyikapi keadaan di praktikum Farmakologi misalnya, cowok farmasi itu sabar minta ampun. Melakukan pemberian per oral kepada mencit yang lagi susah makan itu butuh kesabaran loh, kalau nggak sabar dan memaksa, nanti mencitnya mati. Sementara pada saat yang sama, cewek-cewek farmasi nan pintar pada ogah memegang mencit. Mau tahu bagian mana yang paling bikin sabar disini? Tentu saja ketika nilai akhir keluar. Cewek farmasi yang ogah memegang mencit berhasil mendapatkan nilai A untuk praktikum Farmakologi, cowok farmasi yang memegang mencit pada setiap praktikum dengan sukses mendapatkan nilai C pada praktikum yang sama. Kurang sabar apa coba?

Kesabaran juga diketahui dari praktikum Farmakognosi dan Kimia Organik. Melakukan reaksi kimia organik ataupun ekstraksi itu bukan hal yang sebentar, kadang butuh lebih dari 3 jam untuk bisa mendapatkan rendemen hasil reaksi atau pasta hasil ekstraksi. Belum lagi kalau sudah ditunggu lama-lama, hasilnya sedikit. Atau kadang yang sudah sedikit itu, ketika dibawa sama sesama teman cowok, eh, botol pembawanya dipecahkan dengan sia-sia belaka. Kurang sabar apa kalau begitu?

Cowok Farmasi Itu Multitasking

Ini krusial! Menjadi suami di era modern tentu saja diperlukan kemampuan untuk multitasking. Dalam hal ini, cowok farmasi bolehlah memiliki bekal hidup nan mumpuni. Semisal urusan praktikum Farmakologi itu tadi, cowok farmasi mampu memberi makan mencit yang sedang nggak pengen makan. Sesudah memberi makan si mencit, cowok farmasi juga akan dengan setia menunggu mencit itu eek, dan kemudian menimbang eek mencit untuk diserahkan pengolahan datanya pada golongan cewek farmasi.

Cowok farmasi juga jago dalam hal mencuci alat-alat gelas, bahkan ada yang karena hasil pengolahan datanya selalu mengecewakan dari praktikum ke praktikum kemudian dengan rendah hati mau ditempatkan di bagian cuci alat gelas. Eh, mencuci alat gelas ini nggak sembarangan lho. Ada alat gelas yang harganya melebihi harga diri yang mencuci. Itu butuh ketegaran untuk melakukannya.

slider 4

Nah, perihal barang-barang mahal ini juga krusial banget. Jangan takut bahwa cowok farmasi nggak akan menghargai coffee maker nan mahal atau setrika yang mihil karena cowok farmasi biasa mencuci kuvet dengan embel-embel bisikan asisten, “HATI-HATI! ITU MAHAL! MAHAL BANGET! KAMU NGGAK AKAN MAMPU MENGGANTI ITU!”

Oh, iya, saking multitaskingnya, ada juga cowok farmasi yang jadi penulis buku, itu loh bukunya judulnya OOM ALFA, ada kok di Playstore kalau mau beli.

Jadi, kurang apa cowok farmasi untuk jadi suami yang ideal? Mungkin kurang satu, sih, kurang ganteng. Ah, kalau itu mah saya, makanya sampai sekarang belum jadi suami. Heuheuheu. Sudah, segitu saja. Semoga tulisan ini dapat sedikit mengguratkan senyum di dunia kefarmasian. Sudah pada tua jangan berantem, atuh. Ya? Ya? Ya?

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s