Cerita Farmasi: Kelasnya Para Ahli

Edisi luntang lantung gaje masih berlanjut. Sesudah berbagi kesesatan tentang kerja kelompok ala anak farmasi. Sekarang saya mau ngasih tahu kalau di kuliahnya anak farmasi itu ada banyak sekali ahli. Iya, ahli beneran ini. Kalau menurut KBBI dalam jaringan (daring alias online), ahli artinya mahir benar dalam melakukan sesuatu.

Jadi orang-orang yang saya sebutkan di bawah ini benar-benar mahir dalam melakukan kegiatan yang adalah spesialisasinya. Sampai-sampai dalam beberapa kasus, kalau orang itu kebetulan tidak dapat hadir di kelas atau di praktikum, kelas akan bersedih karena kehilangan mereka. Galaunya kehilangan ahli ini di kelas kadang melebihi galaunya ditinggal kawin sama gebetan pas playgroup.

Ahli apa sajakah itu? Ini dia.

Ahli Mencatat

Kalau dibandingkan sama anak SD, mungkin jabatan ahli mencatat ini paralel dengan jabatan sekretaris kelas. Kalau dipikir-pikir, sekretaris kelas waktu SD itu kurang kerjaan banget ya. Habis dia mencatat di 4 papan penuh, dia lalu balik ke mejanya dan menyalin 4 papan penuh itu ke bukunya sendiri. Jadi jangan heran kalau rata-rata sekretaris kelas itu pinter. Tapi dalam beberapa kasus malah jadi nggak baik. Sekretaris kelas waktu saya SD dulu kemudian menderita asma karena dari kecil kebanyakan terpapar kapur. Iya, saya SD waktu zaman batu, masih pakai kapur sama batu sabak.

Sumber: blog.biguniverse.com

Sumber: blog.biguniverse.com

Di era perkuliahan, ahli mencatat ini akan menyalin di buku catatannya sendiri. Semua yang dikuliahkan dosen, disalin lengkap habis sehabis-habisnya. Disini juga mencakup nama dan nomor handphone dosen, dicatat khusus pertemuan pertama, nama buku yang direkomendasikan, juga nama anaknya dosen yang seumuran dan bisa digebet.

Sesudah si ahli mencatat ini melakukan tugas untuk dirinya sendiri, maka para fakir fotokopi segera beraksi. Eh, tidak segera juga sih, nunggu kalau mau ujian. Kalau di kelas saya dulu sepanjang kuliah, si ahli mencatat ini namanya Lidia. Kalau menjelang ujian–baik tengah maupun akhir semester–dia akan dikerubungi oleh lelaki dan perempuan untuk satu maksud: meminjam buku catatannya. Saking legendarisnya catatan si Lidia ini, kadang dapat ditemukan sudah menjadi master di sebuah fokopian. Master ini maksudnya mahasiswa nggak perlu bawa apapun untuk difotokopi, karena di tempat fotokopian sudah tersedia catatannya Lidia yang sudah difotokopi dan ditinggal disana untuk bisa difotokopi lagi sama yang membutuhkan.

Bahkan mungkin dapat dicatat sebagai rekor bahwa catatan si Lidia ini juga digunakan sampai 1-2 angkatan berikutnya. Kayak saya waktu mengulang kuliah Biologi Molekuler, bukannya pakai bahan waktu saya mengulang, tapi saya tetap memfotokopi catatannya Lidia.

Ahli mencatat ini sangat diperlukan oleh para lelaki farmasi yang tentu saja tidak doyan mencatat. Lha mereka ini kuliah saja nggak doyan, apalagi nyatet? Tanpa ahli-ahli mencatat ini, dipastikan bahwa lelaki farmasi malas mencatat macam saya ini bakalan masih kuliah sampai saat ini.

Ahli Mengolah Data

Ada sekian data hasil praktikum yang menunggu untuk diolah. Mereka harus digarap dalam 1 pekan ke depan. Masalahnya, datanya banyak tapi pekerja sedikit. Miriplah sama kata kitab suci, “tuaian banyak, tapi pekerjanya sedikit”.

Tebak-tebakan deh, siapa disini anak farmasi yang bisa menghitung Standar Deviasi pakai kalkulator? Siapa disini anak farmasi yang jago menghitung kadar? Siapa disini anak farmasi yang bisa bikin kurva baku pakai spreadsheet? Untuk pertanyaan nomor dua mungkin masih banyak, tapi waktu saya kuliah beberapa abad yang lalu, sedikit anak farmasi yang bisa bikin kurva baku dari data-data praktikum menggunakan spreadsheet semacam MS Excel atau OpenOffice Calc.

Nah, yang sedikit ini kemudian menjadi incaran. Bahkan nih, saking percayanya teman-teman dengan keahilan si pengolah data, pernah terjadi 1 kelompok praktikum yang terbagi menjadi 3 kelompok kecil, sebut saja A1, A2, dan A3 mengumpulkan laporan dengan kurva baku yang sama. Iya, sama. Soalnya yang ngolah datanya ya 1 orang doang di satu kelompok itu.

Jadi ya nggak aneh ketika ada anak baru masuk ke pabrik, disuruh garap grafik pakai MS Excel gitu, ngakunya nggak bisa. Itu pasti termasuk golongan pasrah kepada sang ahli dalam hal mengolah data praktikum.

Ahli Memecahkan….

..alat Gelas

Di setiap kali praktikum, hampir pasti ada ahli yang satu ini. Entah mungkin stok sialnya banyak, atau emang pada dasarnya teledor, yang jelas output dari kelakuan sang ahli ini sudah jelas.

“Prangg…”

Atau yang agak mulus sedikit..

“Krekkk..”

Bunyi pertama kalau pecahnya dahysat, tapi biasanya murah. Paling juga beker glass jatuh dari atas meja. Kalau yang kedua itu, bunyinya sih pelan, tapi di hati jauh lebih perih, karena terjadi misalnya di leher piknometer yang harganya aduhai.

Sumber: alatalatlaboratorium.com

Sumber: alatalatlaboratorium.com

Ahli ini akan mendapatkan justifikasi apabila telah sukses memecahkan alat-alat gelas di beberapa lab berbeda. Misalnya di lab Kimia Dasar sukses mematahkan buret, di lab Famakognosi berhasil memecahkan beker glass, serta di lab Farmasetika sukses memecahkan jendela kaca.

Sebenarnya kasihan juga sih sama ahli yang ini, karena selain harus lulus ujian, dia harus melakoni tradisi rutin mengganti dan melunasi benda-benda yang dipecahkannya selama 1 semester sebelum bisa menerima nilainya. Mana harga sebuah alat kadang lebih mahal daripada royalti OOM ALFA. Heuh!

Ahli Probandus

Farmasi, tidak seperti kedokteran, yang konteks bergaul dengan tubuh sendirinya intensif. Kalau di kedokteran ada praktikum Parasitologi yang memaksa calon dokter membawa fecesnya sendiri, di farmasi nggak segitunya.

Hal yang rutin digunakan di farmasi cuma dua, darah dan urine. Dan praktikum semacam ini juga nggak banyak. Paling-paling di praktikum sejenis Biokimia atau Patologi Klinik. Ya hal-hal yang berbau pemeriksaan parameter-parameter kesehatan pada manusia. Parameter kesehatan hati disini tidak menggunakan kadar galau sih, cuma pakai SGPT dan SGOT. Begitu.

Nah, soal yang begini ini, pasti ada 1 orang–biasanya laki-laki–yang harus turun tangan. Saya juga kurang paham kok kebanyakan cewek farmasi ogah ditusuk ujung jarinya cuma buat diambil sampel darahnya. Mungkin mereka sudah terlalu sering dilukai hatinya. Jadilah si ahli probandus ini harus merelakan ujung dari jari-jarinya untuk ditusuk dan darah yang keluar diperiksa. Pernah ada kasus, saking nggak adanya yang mau jadi probandus alias orang yang diambil sampelnya, si ahli merelakan 5 jari tangan kirinya untuk ditusuk.

Sesudah itu dia puasa boker tiga bulan.

Untuk urine, ya terpaksa lagi laki-laki turun tangan. Persoalannya adalah aspek kemudahan. Beker glass yang ada di lab itu tinggal dibawa ke WC dan dalam posisi tetap berdiri, sampel urine sudah bisa diperoleh.

Sumber: terkonyol.blogspot.com

Sumber: terkonyol.blogspot.com

Lha kalau cewek?

Enggg, itu sih alibinya para cewek saja untuk menyuruh lelaki farmasi kayak saya ini jadi probandus urine. Dan yang bikin ngelu-nya lagi, begitu pengecekan eh ketahuan kalau saya mengalami proteinuria alias ada kandungan protein di dalam urine saya. Sementara 2 sampel teman saya yang lain bebas. Maka saya kemudian jadi pembahasan di laporan setiap anak sebagai orang yang penyakitan. Yak bagus.

Ahli Mencuci

Sebenarnya bagian yang ini bukan karena keahlian. Pada mulanya dia sudah disuruh buka tutup kran titrasi, tapi titik akhir titrasinya lewat terus karena orang yang ini tidak ngerti kapan titrasi dihentikan. Lalu dia disuruh menghangatkan piknometer, eh kemudian dia panasi di atas waterbath. Terakhir dia disuruh melakukan pemberian per oral kepada mencit, tapi gagal karena ketahuan sedang merayu mencit mangap sambil bilang, “aaaaa… ayo dong makan.. anak pinter..”

Karena disuruh ngapa-ngapain juga salah, teman-teman sekelompok sampai bilang, “kamu bernapas aja udah salah…”

Nah, daripada bikin rusuh suasana dan siapa tahu dapat memperburuk data, ya sudah, selama praktikum tugasnya dia ada di depan wastafel menunggu alat-alat gelas yang sudah bersentuhan dengan aneka zat kimia semacam asam sulfat hingga asam asetat. Mungkin karena efek zat-zat kimia, seperti halnya Spiderman, orang semacam ini mendapatkan kekuatan superhero, dalam hal…

mencuci alat gelas.

Orang tipe ini biasanya jago benar dalam mencuci, termasuk tahap-tahap membuang cairan kimia berbahaya pada tempatnya, mencuci dengan air kran, hingga membilas dengan aquades, berikut sampai ke pengeringannya. Sesudah lulus, biasanya ahli semacam ini akan mudah diterima di warung makan Padang.

*amit-amit ya, ada ahli macam begini di kelas*

Ahli Memegang Binatang

Sebenarnya hewan yang dihadapi di Farmasi itu nggak aneh-aneh. Seumur-umur saya cuma pernah menghadapi 3 yakni mencit, tikus, dan kelinci. Semuanya berwarna putih imut-imut. Lantas apa yang perlu ditakutkan?

Nah itu dia. Saya juga mau tanya sama cewek-cewek farmasi yang sedikitpun tidak pernah mau menyentuh hewan ini. Ada nggak yang begitu? Kasihan bener. Karena kadang ada yang ogah, maka dalam satu kelompok praktikum harus ada orang yang dipasrahkan menjadi ahli dalam urusan memegang dan menggarap binatang. Untunglah ada koridor ilmiah dalam memperlakukan hewan ini. Lagipula ini kan masih taraf kuliah alias pendidikan, jadi mahasiswa-mahasiswa yang memperlakukan hewan uji dengan tidak sejahtera tidak akan dilaporkan ke komite etik IACUC. Ya, jangan salah ya teman-teman mahasiswa, dalam memperlakukan hewan uji secara sejahtera itu ada etikanya tersendiri, yang memang tidak dipelajari di perkuliahan farmasi.

Biasanya yang diserahi tugas memegang hewan ini–lagi-lagi–adalah lelaki. Maka terpujilah lelaki yang jumlahnya sedikit di farmasi itu. Sudahlah disuruh mengorbankan jari untuk diambil darahnya, mengorbankan urine-nya, sekarang mengorbankan diri memegang hewan. Ah, tapi hewan-hewan ini kebanyakan lucunya daripada serem.

Memegang hewan uji sendiri butuh teknik. Memegang mencit yang imut-imut tentu beda dengan tikus. Sama halnya memacari cewek baik-baik dengan playgirl, beda penanganannya. Kalau memegang mencit, saya cenderung ogah pakai sarung tangan, tapi kalau pegang tikus, amit-amit kalau sampai nggak pakai sarung tangan. Seperti itu kira-kira.

Sumber: dinasudiyono.blogspot.com

Sumber: dinasudiyono.blogspot.com

Memasukkan obat lewat mulut mencit dan tikus juga bukan soal sepele. Jadi ada semacam jarum suntik dengan ujung seperti bola yang harus dimasukkan dengan sukses ke saluran makannya si tikus atau mencit. Kalau meleset, akan masuk ke saluran pernapasan, dan hasilnya…

mati.

Demikian juga dengan metode lainnya. Saya sendiri punya rekor membunuh mencit akibat menyuntik secara sub kutan. Suntikan ini dilakukan di tengkuknya si mencit. Saya juga heran kok bisa. Jangan-jangan suntikan saya masuk ke otaknya, atau justru ke hatinya yang sedang luka.

Ahli Memegang Barang Mahal

Farmasi ini sangat identik dengan barang-barang mahal. Selain piknometer yang saya kasih gambarnya di atas, ada juga benda yang namanya polarimeter yang bentuknya semacam seruling tanpa lubang tapi dari kaca. Selain itu masih ada juga benda kecil yang mahalnya amit-amit bernama kuvet. Si kuvet ini digunakan dalam pemeriksaan sampel di alat spektrofotometer.

Sumber: logku.blogspot.com

Sumber: logku.blogspot.com

Jadi si kuvet ini diisi dengan sampel yang hendak diperiksa, lalu dimasukkan ke slot yang ada di spektro. Udah. Kita tinggal tunggu display bilang berapa. Yang jadi masalah adalah dalam proses mengisi sampel ke dalam kuvet. Berhubung sejak awal asisten praktikum sudah bilang harga kuvet ini lebih mahal dari harga diri yang praktikum, langsung keder para praktikan itu.

Ada dua tipe orang yang bisa menjadi ahli untuk memegang alat-alat mahal ini. Pertama, dia anaknya Paman Gober yang nggak masalah dengan uang. Yang tipe begini kalau hasil pembacaan nggak sesuai kemauan bakal ngebanting kuvet lalu beli lagi sesukanya. Sedangkan tipe kedua, yang benar-benar rapi dan teliti. Melihat syarat ini, susah sekali menerima kenyataan kalau ada lelaki yang diberi tugas memegang kuvet. Biasanya sih anak farmasi yang cewek. Tapi ada satu kemungkinan cowok farmasi menjadi ahli beginian. Yakni ketika satu kelompok isinya batangan semua.

Ahli Soal-Soal Tahun Lalu

Sudah jadi rahasia umum bahwa soal-soal tahun lalu adalah materi yang layak diburu beberapa hari sebelum ujian. Selain untuk melihat tipe soal yang akan keluar di ujian, ada beberapa dosen yang memiliki kebijakan bikin soal sama dari tahun-tahun. Untuk kasus ini, ada anak bertanya pada bapaknya, dan bapaknya memberikan hasil ujiannya yang masih pakai batu sabak kepada anaknya, lalu anaknya membawa batu sabak itu ke kampus untuk difotokopi. Dan kebetulan soalnya masih sama.

Tidak cukup mudah untuk memperoleh soal-soal tahun lalu, utamanya bagi anak-anak semester 1-2. Ada yang mudah kalau kebetulan satu kos dengan anak angkatan atas. Tapi ada yang jauh lebih mudah, yakni anak semester 1-2 yang punya pacar angkatan atas. Kalau ini kan gampang banget.

“Kak, punya soal Farmakognosi tahun lalu nggak?”

“Nggak. Kenapa?”

“Cariin dong.”

“Males ah.”

“Putus nih?”

“Iya deh. Iya deh. Kakak cariin.”

Ya, semacam itu kira-kira.

Ahli Memasang LCD

Sebelum panjang lebar menulis, saya bilang dulu kalau ini spesialisasi saya jaman kuliah dulu. Ya, namanya juga kuliah pada era pujangga baru, masih transisi penggunaan LCD proyektor dengan OHP. Kampus juga baru punya kalau nggak salah 3 biji LCD proyektor yang digilir di berbagai kelas. Beda banget sama sekarang, ruang kelas SMP saja sudah lengkap dengan LCD proyektor ini.

Jadi tugas saya adalah datang ke sekretariat fakultas, lalu mengambil LCD ini kemudian memasangnya di kelas. Ada satu unit LCD proyektor, 1 kabel data, dan 1 kabel power. Bukan hal yang sulit sebenarnya, tapi tidak semua orang mau melakukannya. Tentu saja karena sesudah kelar kuliah, si ahli ini masih harus membongkar kembali LCD proyektor itu lalu mengembalikannya ke sekretariat.

Sekarang mungkin udah nggak ada yang beginian. Paling juga butuhnya ahli yang bisa utak utik keystone, atau membenahi jika kabel data nggak terkoneksi dengan komputer. Ya, tentu saja, saya kuliah di jaman kuda gigit besi, sekarang sudah zaman kuda makan teman.

Tapi keahlian masang LCD ini berguna banget ketika mau presentasi pas kerja. Berkali-kali saya harus pasang LCD sendiri karena OB juga kurang paham soal pasang memasang alat ini. Jadi, nggak rugi sebenarnya jadi ahli beginian.

Ahli Jualan

Masih ada lagi loh ahli yang beredar di kelas mahasiswa farmasi. Ahli yang ini akan bergerilya ketika praktikum di lantai 40, yang jaraknya kira-kira 20 tahun cahaya dengan kantin terdekat. Si ahli ini sudah mempersiapkan makanan untuk dijual. Sudah semacam penerbangan low cost gitu.

Ahli jualan banyak diperdaya oleh kepanitiaan menjadi bagian Dana dan Usaha, alias Danus atau DDU. Jadi mereka dipaksa untuk memaksa teman-teman mereka sehingga terpaksa menelan donat secara paksa. Padahal itu duit nggak masuk kantong mereka, tapi jadi pendapatan kepanitiaan. Yang senang ya ketuanya, begitu dapat laporan dana kurang bisa tertutupi dengan Dana dan Usaha. Begitulah. Sebenarnya enak jadi ketua, cuma kok jarang yang mau ya?

Ahli Nujum

Satu ahli lagi yang terkadang beredar di kelas mahasiswa farmasi adalah ahli nujum. Tapi mereka tidak paham soal ilmu falak atau perbintangan sih. Ya beberapa mungkin memang main valas dan perjudian. Paling mentok judi bola. Tapi bukan itu maksudnya.

Sumber: twitter.com

Sumber: twitter.com

Pernah nggak lihat teman yang sepanjang kuliah kerjaannya cuma dua: ngantuk dan tidur?

Pasti pernah.

Tapi pernah nggak lihat teman yang kerjaannya dua itu tadi, tapi kalau ujian nilainya bagus? Pasti ada, walaupun jarang. Golongan ini biasanya absurd. Kadang sepanjang kuliah terlelap, tapi begitu dosen bertanya, “Ada pertanyaan?”, si ahli ini sontak bangun lalu kemudian bertanya, dan pertanyaannya berbobot.

Yang mendengarkan sambil ngelamun jorok dari tadi saja nggak kepikiran bakal bertanya begitu. Lha yang tidur lelap sepanjang kuliah malah bisa nanya keren begitu. Saya tidak mendapatkan logikanya, jadi saya bilang saja kalau golongan yang semacam ini adalah ahli nujum.

Ahli ‘Taichi’ (tambahan dari Pak Dosen Gila)

Oya, masih ada juga ahli lain yang beredar di kelas mahasiswa farmasi. Mereka sangat jago membela diri, terutama membela diri sendiri dari tugas-tugas yang menghadang. Dan dengan kemampuan yang luar biasa, mereka mampu memindahkan pekerjaan yang seharusnya tugasnya ke orang lain. Lebih sangar daripada dukun yang memindahkan jarum ke dalam telor dan copet yang memindahkan dompet dari kantong orang ke kantongnya sendiri.

Umumnya orang-orang dengan keahlian ini dengan gesit bisa mengalihkan jatah mengerjakan slide presentasi ke teman di sebelahnya, sedangkan dia sendiri kemudian berhasil mendapatkan jatah fotokopi handout. Beberapa teknik yang sering digunakan adalah soal kesibukan, semisal, “Sorry, cucu gue datang dari Tanzania” atau “Wah, gue ada meeting di Pantai Gading”. Orang-orang yang menjadi korban pemindahan umumnya pasrah karena tahu kalau dipaksakan dikasih ke ahli yang ini pilihannya cuma 2: sampai detik terakhir dia nggak ngumpulin atau kalaupun dikerjakan ya bakalan asal-asalan. Semisal kalau disuruh cari jurnal tentang diabetes melitus, maka orang ini akan mengumpulkan jurnal tentang panu menahun.

Begitulah, kelas kuliah farmasi itu selalu penuh dengan ahli-ahli seperti yang saya sebut di atas. Kalau nggak ada mereka, kuliah atau praktikum pasti rasanya bakal hampa sehingga mahasiswa akan bernyanyi, “pernahkah kau merasa, hatimu hampa? pernahkah kamu merasa, hatimu kosong?”

Tulisan ini untuk senang-senang saja kok. Jadi buat yang merasa pernah menciptakan rekor memecahkan beker glass atau yang  pernah memberikan urine sebanyak 2 galon untuk pemeriksaan, jangan tersinggung ya.

🙂

Advertisements

6 thoughts on “Cerita Farmasi: Kelasnya Para Ahli

  1. Ada lagi ahli positioning. Kl di FM nilainya 19 (skala 20). Semacam inzhagi. 🙂
    Keahlian muncul ketika hari H ujian. Seksi sibuk nentuin posisi orang 🙂

    Like

  2. Pingback: Cerita Farmasi: Jenis Bolos Anak Farmasi | Sebuah Perspektif Sederhana

  3. Pingback: Cerita Farmasi: Balada Mengerjakan Tugas | Sebuah Perspektif Sederhana

  4. Pingback: God, What Do You Want Me To Do? | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s