Beberapa Cara Menjawab Pertanyaan “Kapan Kawin?”

“BANG, KAPAN KAWIN?”

Siapakah manusia berumur 25 tahun ke atas di dunia ini yang belum pernah mendapatkan pertanyaan di atas? Kalau saja Napoleon belum menikah di umur segitu sudah pasti dia akan dapat pertanyaan serupa, tapi bunyinya begini:

Quand allez-vous vous marier?

Ah, jangankan Napoleon, Masha aja kalau sudah gede, dan nggak nikah-nikah pasti akan mendapat pertanyaan yang sama, cuma tulisannya begini:

Когда вы собираетесь пожениться

gambar-masha-and-the-bear

Yup, pertanyaan “kapan kawin” adalah sebuah terminologi yang menyakitkan bagi banyak kalangan yang sudah berusia cukup untuk menikah, tapi nggak nikah-nikah. Mungkin hanya beberapa orang yang akan tersipu malu dengan pertanyaan ini, itupun hanya seorang pelaku poligami yang mungkin pipinya memerah ketika ditanya, “kapan kawin…

…lagi?”

Selanjutnya, Mbohae!

Jangan Benci Berlebihan

Harga BBM naik, dan tentu saja segala rupa respon terjadi. Mulai dari pemilih Jokowi yang menyesal, pemilih Jokowi yang mendukung, pendukung Prabowo yang mendukung kenaikan harga BBM, sampai pembenci Jokowi yang tampaknya akan terus membenci Pak Presiden sampai kumis Hitlernya itu berubah jadi keriting dan pirang. Ya, semua bisa memberikan respon. Saya sendiri bukannya nggak terpengaruh. Kalau boleh dibilang, dari sisi dompet akan sangat terpengaruh. Beda dengan kenaikan 4500 ke 6500 yang terjadi ketika gaji saya masih melimpah ruah, kenaikan dari 6500 ke 8500 ini terjadi justru ketika finansial saya sedang kembali fitri. Oh, bukan, saya bukan sedang bermain Cinta Fitri. Mereka sudah nikah, saya belum.

Problematika Presiden ini memang terlalu mengemuka. Saya tentu saja ikut serta menyimak. Saya langsung update status begitu melihat bahwa Putri Mahkota ada di jajaran menteri. Saya juga pernah menulis di sebuah forum–dan alhamdulilah nggak banyak yang baca–soal pertanyaan besar dari saya perihal Kartu Indonesia Sehat yang entah mengapa tiba-tiba ada sementara BPJS juga sudah ada. Tapi apapun, saya berusaha untuk tidak membenci keadaan ini secara berlebihan.

Soal benci berlebihan ini tetiba mengemuka begitu saya membaca sebuah pesan dari seorang teman yang ditulis di grup pada aplikasi bikinan dan milik Yahudi. Tulisannya kira-kira begini:

2Rb wat iuran mbah mega plesiran kluar negri n tambahan uang dinaa jokowi klo kluarnegri kan dia bisa ajak anak, bktinya kmren KRRC bawa anak nya. hahha g pernah liat dl SBY DL kluarnegri bawa ibas. Pa agus harimurti. Hahahha. Kampret.

Selanjutnya, Mbohae!

Enam Petang di Palembang

Yah, begitulah. Memang sepertinya isi blog ini bakal sepi. Huiks. Semoga sih tidak, tapi memang apa daya, ada kendala waktu, terlebih ketika saya harus melakoni tugas negara. Ketika tugas negara, waktu saya kurang, jadi ngeblog cuma sekadar mimpi yang bukan basah. At least, saya tetap bikin poin-poin untuk di-blog-kan. Belum 3 post rasanya saya nulis sejak Tujuh Hari di Kendari. Iya, memang begitu. Sesudah bertualang ke Celebes, kali ini saya mendapat tugas di Andalas. Dan bagi seorang sentimentil melankolis semacam saya, penugasan kali ini agak menyingkap sisi hati. Uhuk. Batuk Pak Haji?

Untitled7

Ketika pertama kali mengetahui bahwa saya dapat penugasan di kota itu, saya senang-senang sedih. Senangnya tentu karena kota itu punya memori luar biasa bagi hidup saya. Sedihnya? Justru karena saya pernah tinggal berbilang tahun, kok rasanya sayang kalau jadi tujuan. Soalnya dari list penugasan, ada beberapa kota yang memang belum sempat saya injak. Selanjutnya, Mbohae!

32 Fakta Tentang Ada Apa Dengan Cinta LINE

Lagi marak iklan yang pasti mahal dari LINE bertajuk Ada Apa Dengan Cinta yang disambungkan dengan kejadian 12 tahun yang lalu. Boleh cek YouTube-nya nih:

 Keren sekali konsepnya, dengan menyasar manusia-manusia yang 12 tahun lalu masih kinyis-kinyis dan belum alay. Nah, sesudah saya lihat-lihat ada beberapa fakta unik terkait iklan video dari LINE ini. Berikut faktanya:

1. Rangga masih suka berpuisi.

2. Puisi Rangga yang membuka video bunyinya begini:
Adalah cinta yang mengubah jalannya waktu
    Karena cinta, waktu terbagi dua
    Denganmu dan rindu untuk kembali ke masa

3. Rangga minum minuman keras barenga kawan-kawannya

4. Canon adalah merk kameranya Rangga

5. Bosnya Rangga–atau tukang ngatur perjalanan dinasnya kali ya–namanya Emily

6. Rangga punya kipas angin di rumahnya di New York

7. Rangga bisa buka LINE padahal nggak ada paket data dan WIFI

8. Di HP Rangga cuma ada indikator sinyal sama baterai

9. Ada teman SMA Rangga yang namanya Khairul

10. Komputernya Cinta Apple cuy!

11. Cinta mungkin kurang gaul karena hanya kenal 1 orang yang namanya Rangga

12. Ladya Cheryl, si Alya, tetap jadi yang paling manis!

13. Dan tetap jadi yang satu-satunya ada di kala galau

14. Cinta adalah cewek pada umumnya, yang sudah baca pesan tapi lama beudh balasnya

15. Rangga adalah tipe cowok yang nggak suka meneror perempuan, sungguh kawinable

16. Kemungkinan besar sekali, Rangga nggak mendarat di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta

17. Rangga, Cinta, dan Pak Jokowi sama-sama pakai baju putih

18. “Semua orang bisa mulai dari awal,” kata Alya. Uwuwuwuw~~~

19. Terjadi hujan di Jakarta pada tanggal 18 malam

20. Rangga dan Cinta masih sama-sama punya buku AKU, bukan OOM ALFA

21. Rangga akan duduk di seat nomor 10B

22. Boarding Pass Rangga nggak ada merk pesawatnya

23. Kemungkinan besar Rangga tidak terbang melalui terminal 2 Bandara Soekarno Hatta

24. Soalnya nggak ada orang boboan manis yang makan 3-4 kursi panjang di sebelah-sebelah Rangga

25. Rangga sudah boarding, tapi duduknya bukan di ruang tunggu pintu tertentu

26. Soalnya Cinta masih bisa masuk, tuh!

27. Terus bagasinya Rangga juga masih dibawa.

28. Bagasi belum masuk kok sudah punya boarding pass, sih, Ga?

29. Perhatikan pesawat di adegan Rangga ketemu Cinta, jalannya sepelan langkah kaki

30. Rangga nggak menjawab pertanyaan Cinta soal purnama

31. Puisi di akhir cerita berbunyi begini:
Detik tidak pernah melangkah mundur
      tapi kertas putih itu selalu ada
      Waktu tidak pernah berjalan mundur
      dan hari tidak pernah terulang
      Tetapi imaji selalu menawarkan cerita yang baru
      untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab.

32. Pasangan LDR beda benua itu memang enaknya pakai Free Call Line!

LOVE, LIVE, LINE.

Salah Kaprah Tentang PNS

Seperti biasa, begitu ada Presiden baru dan kabinet baru, yang pertama kali disasar adalah PNS. Entah mengapa selalu jadi demikian. Bahwasanya PNS yang main judi di kantor memang masih ada, bahwasanya PNS yang jomlo juga masih banyak, tapi tentu kita tidak bisa menutup mata pada PNS-PNS yang baik hati dan tidak sombong serta rela lembur tanpa dibayar. Bagi saya, menjadi PNS yang lurus dan tidak merepotkan negara itu sudah jauh lebih mulia daripada ngomyang melulu tentang negara di Twitter tapi kemudian diajak masuk ke dalam lingkup birokrasi nggak mau, dengan alasan nanti terkontaminasi. Ini lebih ke arah lucu bin ironis. Kita mengeluh bahwa para pelaku birokrasi alias PNS itu bobrok, tapi kemudian kita merelakan jalannya negara ini pada mereka yang sudah kita anggap bobrok itu. Aneh kan ya?

pns-eselon-jabatan130516b

Satu hal yang pasti, PNS dimanapun berada adalah penggerak dan pekerja. Menteri secakap apapun, kalau PNS-nya loyo, kerja mereka nggak akan paripurna. Saya kemaren menghadiri sebuah seminar yang pembicaranya adalah PNS eselon I-nya Bu Susi. Dan pembicara itu memberikan apresiasi awal kepada Bu Susi, alih-alih resisten. Yang begini tentu saja bagus. Lalu kemudian ada pembicara lain–di seminar yang lain–yang bilang, “mana kita dapatnya menteri partai pula!”. Hal sejenis ini boleh jadi preseden buruk bahwa ada perbedaan perspektif yang menjadi bahaya laten. Latentofive. *nyanyik i will fly into your armmm….*

Nah, supaya agar lurus, mari kita sibak beberapa salah kaprah yang beredar di muka umum tentang PNS sejak kabinet baru ini dilantik.

Selanjutnya, Mbohae!

Tujuh Hari di Kendari

*ngusir gembel yang lagi nginep di blog ini*

*bersihin sarang laba-laba*

Tugas atau dinas luar adalah hal yang biasa dalam 2 tahun pertama karier saya, bahkan sempat sampai pada tataran bilang, “Udah, Pak. Yang lain aja yang berangkat”. Tapi itu dulu. Tiga tahun berikutnya? Boro-boro. Disuruh berangkat training aja kagak. Ngendon belajar sendiri di dalam kantor dan hanya pergi sekali. Itu juga ke Bandung, balik hari, bertemu supplier tua bangka dengan istri remaja. Kabar terakhir, supplier itu habis bangkit dari koma, untuk kedua kalinya. Luar biasa survive.

Untitled3

Maka, ketika masuk ke pekerjaan yang memang perlu dinas ke luar kota macam sekarang ini tentu nggak terlalu kagok. Koper siap, mental juga biasa. Koleksi botol shampo hotel saya cukup memperlihatkan jatidiri saya yang sudah menginap di berbagai hotel. *ngutil kok ngaku*

Masalahnya kemudian adalah surat tugas untuk pergi dinas itu datang tanggal 16 Oktober, untuk berangkat tanggal 19 Oktober. Bukan mepetnya yang jadi masalah, tapi tanggal 19 Oktober itu sudah saya book untuk menghadiri pernikahan Coco, si mantan playboy. Coco ini muncul beberapa kali di dalam buku saya OOM ALFA, terutama di bagian Gempa Jogja.

Di sisi lain, saya cukup excited dengan tugas perdana ini. Memang semua yang perdana itu bikin excited, semacam malam pertama (kecuali untuk yang sudah malam pertama duluan sebelum nikah, sih). Apalagi tujuannya adalah sebuah kota yang ada di kaki K dari pulau yang belum pernah saya injak sebelumnya. Celebes. Tebak, kota apa? Yup. Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara. Provinsi yang lagi butuh banyak anggota DPRD karena lagi hobi pemekaran. Entah pemekaran itu berguna atau tidak.

Lanjutkan membaca, Mbohae!

Curcolinggerus

Judul apa ini? Nggak tahu, tadinya mau bikin curcolicious tapi kok sudah ada yang bikin. Ya, sebenarnya judul ini juga menguji apakah pembaca ariesadhar.com ini ngeres atau nggak. Intinya sih pengen curcol. Curhat sambil colek-colek.

Beberapa pekan terakhir saya beneran menghabiskan waktu dengan ngeblog sebanyak mungkin. Tidak disini pastinya, karena saya sangat menjaga kemurnian blog ini. Seperti diketahui bersama bahwa sebagian isi blog ini yang saya anggap kotor (aha!) sudah saya pindahkan ke alfarevo.blogspot.com, jadi intinya kalau yang ada disini adalah yang sudah terpilih dan sesuai dengan visi misi ariesadhar.com yang sedang dirumuskan dalam rapat Renstra yang digelar di Timbuktu, biar uang dinasnya banyak.

Beberapa pekan terakhir, saya masuk ke banyak blog dalam rangka mencari referensi. Saya kemudian lihat beberapa blog yang lumayan kece dari sisi konten, dan juga sudah dilirik oleh beberapa vendor untuk melakukan review. Tetiba saya bingung, kok blog ini belum ada yang ngorder buat review? Kalau dibilang dari sisi performa, ada yang pageview-nya belum lagi 100.000 tapi sudah ngereview. Ada yang Alexa-nya dibawah 4 juta, sudah ada yang order. Ada yang pageview per bulannya masih lebih rendah dari blog ini, juga dikasih job. Ada yang baru pacaran, tapi sudah nikah aja. Saya kapan? #loh #kokjadikawin

Kadang–karena sirik–saya jadi merasa bahwa perjalanan saya di tulis menulis ini semacam mentok. Blog ini pageview-nya mentok di 500-600 per hari, masih jauh dari standar dilirik iklan. Tulisan yang saya kirim ke media massa juga masih ditolak-tolak aja. Novel? Saya masih susah payah menyelesaikannya, sementara para penulis lain yang segenerasi dengan saya di penerbit, sudah proses buku kedua bahkan ketiga. Ikut lomba? Nggak pernah menang. Yang ada malah tulisan saya dicopas di blog orang, atau di meme yang beredar tanpa sedikitpun mencantumkan sumbernya, lalu cuma dibilang “hehehe… aku kan cuma repath”.

Iya, saya merasa mentok dan lantas bertanya, apakah hobi ini cukup berguna untuk dilanjutkan? Apakah cukup mampu untuk dipakai nyicil rumah? Apakah bisa dipakai untuk nabung buat tiket ke London? Apakah Rhoma Irama masih mencintai Ani?

Nah, sambil nggerus itu saya kemudian mencoba melakukan hal yang berbeda. Saya pergi ke sebuah kafe, sendirian kayak jomlo, dengan membawa notebook milik pacar yang untuk setahun ke depan jadi hak milik saya. Di kafe itu sambil ambil tempat di pojokan sambil keramas dan kemudian membuka laptop untuk menulis. Saya menulis dari 10.45 sampai sekitar 15.15, cukup lama dan diselingi nasi goreng kampung yang belinya di kota plus dua gelas minuman. Hasilnya cukup memuaskan diri sendiri, hampir sepertiga dari naskah yang sedang saya tulis bisa berubah bentuk dari sekadar ide yang lari-lari di kepala menjadi sebuah file yang bisa dibuka. Sekarang naskah itu boleh dibilang sudah jadi, sedang saya tes pembaca. Nanti 1-2 minggu lagi siap dikirim ke penerbit.

Sambil mengenang di KRL–yang kebetulan jalurnya adalah jalur saya pulang pacaran dulu–saya kemudian menyadari bahwa saya menulis karena saya suka, bukan karena saya ingin blog ini menghasilkan uang. Saya menulis karena saya ingin, dan toh pencapaian saya nggak jelek-jelek banget. Saya punya blog yang punya pembaca tetap, saya punya buku–yang masih diusahakan terus biar laku, dan yang terpenting saya punya kemampuan ini, yang baru saya sadari kalau eksis sesudah saya diberi tawaran menjadi DSP Section Head, dan lantas saya tolak.

Saya kemudian sadar bahwa menulis seharusnya bukan semata-mata soal uang. Well, monetisasi blog itu tentu masih menjadi PR saya, tapi saya sekarang tidak menjadi stress soal itu. Setidaknya saya punya karya yang bisa saya banggakan walaupun modelnya masih rintisan begini. Daripada orang yang lantas terkenal hanya karena nge-path soal kota tertentu, atau karena mempermalukan guru adiknya di FB, padahal guru adiknya ya nggak salah. Yup, saya mengutip pernyataan seorang penulis, mari menulis saja terus, dan kemudian perhatikan apa yang terjadi.

Salam nggerus!

59 Fakta Tentang Wisuda Universitas Sanata Dharma

Hari ketika tulisan ini dibuat adalah harinya wisuda di Universitas Sanata Dharma. Sebagai alumni dari Universitas yang namanya diabadikan oleh Bapak saya sebagai nama anak pertamanya ini, tentu saya punya segudang memori tentang almamater tercinta. Sebagian memori itu sudah saya tuangkan di postingan berjudul 77 Fakta Unik Mahasiswa Sanata Dharma, dan kali ini yang saya bawakan adalah 59 Fakta Tentang Wisuda Universitas Sanata Dharma. Yuk, disimak!

wisuda-usd_1204

1. Mahasiswa Universitas Sanata Dharma yang mengikuti wisuda adalah yang sudah yudisium (lah cetho!).

2. Tidak semua mahasiswa yang yudisium pada periode tertentu akan mengikuti wisuda. Sebagian tidak wisuda karena alasan biaya.

3. Wisuda di Universitas Sanata Dharma umumnya diselenggarakan di Kampus Mrican. Pernah juga di Paingan, sih.

4. Cuma kayaknya kalau di Kota Baru belum pernah. Kayaknya lho ya.

5. Jika dihelat di Mrican, maka wisuda diselenggarakan di area Realino dengan titik fokus wisuda ada di panggung Realino.

6. Wisudawan/wati duduk di kursi lipat yang diletakkan di atas jalan konblok.

7. Orangtua dan pengantar duduk di kursi lipat yang diletakkan di lapangan bola.

8. Iya, sudah dandan pakai sanggul sasak dan kebaya duduknya tetap di lapangan bola.

9. Diperlukan tenda yang cukup banyak untuk menutup area wisuda yang sebagian merupakan lapangan bola.

10. Berdebu dong? Wong julukan’e wae Santiago Berdebu!

11. Oya, penulis buku OOM ALFA, diwisuda di Realino, lho! #infopenting2014

12. Tenang, sebentar lagi semuanya akan tinggal kenangan karena bakal ada auditorium!

13. Toga yang dipakai untuk wisuda adalah toga minjem punya kampus.

14. Proses ngepas dilakukan sekitar sepekan sebelum wisuda.

15. Sehabis wisuda, toga harus dikembalikan. Kalau samir-nya boleh dimiliki.

16. Sebagian besar program studi menggelar acara pelepasan wisudawan/wati dalam rentang 1-3 hari sebelum wisuda.

1381569_10200283850573616_905168050_n

17. Kecuali: Farmasi. Pernah menggelar pelepasan wisuda beberapa minggu sesudah acara wisuda.

18. Sebagian mahasiswa sudah pernah mengikuti acara pelepasan sebelumnya, mendampingi mantan pacar.

19. Maklum, dapatnya kakak kelas.

20. Selalu ada alumni yang sudah pernah pakai toga yang datang pada saat acara wisuda.

21. Ya itu tadi, pacarnya kan adek kelas.

22. Selalu terjadi, sudah dibela-belain datang pas wisuda, ujungnya nggak jadi kawin juga.

23. Pada saat masuk area Realino, calon wisudawan/wati sudah disambut fotografer yang walau nggak kenal udah main foto aja.

24. Wisudawati umumnya sudah bangun sejak jam 3 pagi untuk antre salon.

25. Wisudawan ada yang baru bangun jam 7 pagi.

26. Prosesi wisuda dimulai dengan arak-arakan senat dan wisudawan yang durasinya bisa lebih dari 30 menit, diiringi musik nan keren dari UKM Karawitan.

27. Panggung Realino akan dihuni oleh rektor dan seluruh senat, UKM Karawitan, dan UKM PSM Cantus Firmus

28. Lulusan terbaik masing-masing fakultas punya tempatnya sendiri di bagian depan. Mereka dipindahkan talinya oleh Rektor. Bersama orangtua masing-masing pula! Namanya juga ‘dengan pujian’!

29. Sementara lulusan ‘dengan kasihan’ sedang sibuk kipas-kipas pakai buku wisuda.

30. Prosesi wisuda dilakukan oleh Dekan Fakultas dan Kepala Program Studi.

31. Dekan memindahkan tali, salaman. Kaprodi memberikan map, salaman. Kelar.

32. Dekan yang paling pegel banyak memindahkan tali dalam acara wisuda Universitas Sanata Dharma adalah dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

33. Ada dua jalur yang digunakan untuk pemanggilan wisudawan/wati, kiri dan kanan panggung. Dua jalur ini dipanggil bergantian.

34. Kalau kamu pas cum laude, saat dipanggil ada tambahan, “predikat kelulusan Dengan Pujian”.

35. Selalu ada anggota senat yang terkantuk-kantuk ketika sesi memindahkan tali ini.

36. Kadang ada wisudawan/wati yang diberi tepuk tangan ketika namanya dipanggil.

37. Biasanya langsung diikuti ucapan, “huuuu…..” dari pemirsa lain. #pengalamannyata

38. Begitu selesai, wisudawan/wisudawati kipas-kipas lagi sambil mainan HP dan update status.

39. Kantong kemeja para wisudawan umumnya jadi penitipan HP milik wisudawati.

40. Sesudah prosesi wisuda ada lagu ‘Bagimu Negeri’ yang diikuti dengan sambutan dari rektor, wakil alumni, wakil orangtua, hingga wakil wisudawan.

41. Pernah terjadi: orangtua maju sambutan sebagai wakil orangtua, anaknya maju sebagai wakil wisudawan.

42. Pernah terjadi: 1 orang maju sambutan sebagai wakil wisudawan, bertahun-tahun kemudian maju sambutan sebagai wakil alumni.

43. Sambutan-sambutan akan diselingi oleh lagu dari PSM Cantus Firmus

44. Biasanya, setiap lagu didahului oleh narasi ciamik yang sejak tahun 2008-an sampai 2013 dibuat oleh seseorang bernama Cicilia.

45. Pernah ada yang pakai toga, terus habis wisuda naik ke panggung, main keyboard, mengiringi lagu dari PSM Cantus Firmus. Namanya Danang, lagunya ‘Your Love’.

46. Atau jadi solis, nyanyi Lagu Rindu dari Kerispatih. Namanya Danang juga.

47. Atau jadi dirigennya sekalian. Kalau ini namanya Lani.

48. Menjelang acara berakhir ada sesi menyanyikan lagu Hymne Sanata Dharma.

49. Sesudah wisuda biasanya langsung riweuh mencari teman-teman untuk foto-foto dan perpisahan.

50. Momen perpisahan ketika wisuda tidak terlalu dirasakan oleh anak farmasi, karena sebagian besar (sekali) dari mereka akan bertemu lagi Senin depan di kelas dalam kuliah profesi apoteker.

51. Salah satu wisuda paling terkenal sepanjang hikayat Universitas Sanata Dharma adalah November 2010.

52. Jumat pagi terjadi erupsi besar Merapi, Jumat siang sempat digosipkan batal, Sabtu pagi wisuda tetap berjalan di bawah naungan abu vulkanik. Dan syukurlah berjalan lancar.

53. Selalu ada stand foto di belakang area orangtua sebagai opsi untuk foto-foto.

54. Selalu ada mahasiswa dari seksi DDU atau Danus yang dagang bunga ketika wisuda.

55. Bagi sebagian besar wisudawan (kecuali mayoritas Farmasi), wisuda adalah kali terakhir mereka datang ke kampus.

56. Selalu ada pengumuman macam di Ragunan sesudah acara wisuda selesai: “kepada Tukirin dari Magelang, ditunggu keluarganya di panggung!”. Padahal yang dipanggil lagi asyik foto-foto.

57. Selalu ada wisudawan/wati dan keluarga yang bertemu kembali di studio foto elit yang tersebar di seantero Jogja.

58. Selalu ada wisudawan/wati dari keluarga yang bertemu lagi di rumah makan mahal yang berada di berbagai tempat di Jogja.

59. Walau berdebu, seluruh alumni yang pernah wisuda dalam panji-panji Universitas Sanata Dharma pasti mengenangnya dengan bahagia karena sejatinya wisuda hanyalah sebuah langkah dalam kehidupan.

Selamat kepada para wisudawan/wati yang dipindah talinya hari ini! Percayalah, rasanya biasa saja kok. Heu.

Tiesa’s Thought: Musuh Dalam Selimut Itu Berjudul Koneksi Internet

LDR_Banner

Selamat sore waktu London, pemirsa ariesadhar.com sekalian. Salam kenal dari saya! Well, maybe perkenalan ini sangat terlambat, tapi just in case anda sekalian penasaran sama saya, boleh ditengok lagi postingan author blog ini tentang Braga Culinary Night. Yah, kira-kira saya ada di bagian dimana ongol-ongol disebutkan. Haha.

Jadi ceritanya saya sama bapak-bapak author ini sedang LDR. Ya ampun, mainstream banget ya! Gimana nggak mainstream, lagu buat kaum LDR ini sudah banyak sekali, mulai dari Mbak Raisa sampe Avenged Sevenfold aja mendedikasikan lagu mereka buat kami. Sayangnya, belum ada lagu yang didedikasikan untuk membahas salah satu poin krusial dalam LDR: koneksi internet.

Sebagai pasangan antar benua antar negara antar propinsi antar kota, komunikasi via dunia maya adalah satu-satunya cara buat kami tetap catch up satu sama lain. Terimakasih kepada semua penemu aplikasi messenger dengan fitur video call! Saya jadi bisa saling memandang sama bapak ini. Seperti sudah saya utarakan dalam surat pertama saya, saya bisa gila deh kalau cuma liat muka dia setahun sekali. Dan koneksi internet tentu saja salah satu faktor yang membuat semua komunikasi ini bisa berjalan lancar.

Sore ini saya cukup kesal karena si koneksi internet ini. Lagi kangen berat sama pacar, pengen ngobrol banyak (apalagi tadi baru dapat pengalaman kerja di hospital sini, so many things to be told to him!), pengen liat mukanya yang kaya kentang (kentang cakep), tapi hampir sejam kerjaan kami cuma mencari cara gimana bisa terkoneksi dengan baik. Pertama coba messenger S (like we always do), terus coba F, terus coba H. Semuanya nggak ada yang kece. Duuuh!

Nggak tahu juga mau nyalahin siapa. Should I put the blame to lambatnya koneksi internet di negeri tercinta (karena katanya kan ‘internet cepat, buat apa?’. Okay, I’m being sarcastic here, pardon me)? Tapi bisa juga koneksi saya yang lambat dan nggak stabil. Mungkin angin kencang (kencang!) di kota ini membuat koneksi jadi amburadul, kan bisa aja. Pada akhirnya, kami memutuskan ini bukanlah waktu yang tepat buat video call-an, and we should try it again another time (yang mana suka susah dicari karena perbedaan waktu adalah masalah kedua di LDR antar benua).

Tapi anak hebat nggak boleh menyerah sama keadaan dong! Maksudnya, gimanapun koneksi internetnya, yang penting relationship-nya. Harus tetap dijaga, di-maintain juga. Kalau katanya cinta pasti pake telepati hati juga bisa. Haha. Seburuk-buruknya, masih ada merpati pos yang siap mengantar surat saya ke Jalan Percetakan Negara Jakarta kok.

Be strong, LDR-ers dimanapun Anda berada. Salam manis dari angin-angin gelebug di kota ini!

[Review] Tetangga Masa Gitu?

Satu nama ini memang selalu mampu ‘mengubah’ pertelevisian Indonesia. Ya, namanya Wishnutama. Sesudah menggebrak dengan Trans TV–kemudian menyusul Trans 7–dia kemudian hengkang dan tahu-tahu tiba di sebuah stasiun TV baru yang tampak aneh karena mencoba merebut ceruk iklan di kompetisi pertelevisian yang padat. Namun ,belum apa-apa, stasiun TV itu sudah bikin launching yang LUAR BIASA MEWAH. Saya mencoba menonton televisi itu beberapa kali, tapi mungkin hanya Sarah Sechan yang bisa mencuri perhatian. Ya, stasiun TV itu adalah NET.

Tunggu punya tunggu, akhirnya NET punya juga sebuah masterpiece. Diusung M. Ikhsan di Production Head, Yenni Pujiastuti di Produser, Nunung Kusuma Wardhani di bagian Creative, dan Fatur Rachman di Production Assistant, muncullah sebuah tayangan andalan setiap jam 7 malam. Sebuah jam yang sangat berani untuk melawan stasiun TV lain ketika kemudian ada hewan ganteng. Yup, liat NET jam 7 malam, setiap Senin sampai Jumat, maka kita akan berkenalan dengan Angel, Adi, Bintang, dan Bastian di Tetangga Masa Gitu?

dOUi2zFn_400x400

Garis besar ceritanya ada pada empat orang dan dua rumah tangga. Angelica Schweinsteiger (diperankan oleh Sophia Muller), seorang pengacara kaya, yang sudah menikah selama 10 tahun dengan pria bernama Adi Putranto (diperankan oleh Adi Dwi Sasono), seorang pelukis yang cenderung pengangguran. Lihat saja, dua nama kondang ini ada di skenario, bagaimana tidak menarik?

Selanjutnya, Mbohae!

Bapak Millennial