Post ini aslinya dibuat tahun 2017, tapi baru tayang 2020. Sedih bener nasib #KelilingKAJ saya. Hehe. Memang, sejak punya anak, ada sedikit perubahan arah kebijakan blog ini yang membuat #KelilingKAJ agak terpinggirkan. Namun hati nggak enak juga kalau proyek ini nggak selesai, apalagi sudah sepertiga jalan. Jadi, #KelilingKAJ kali ini akan merambah ke sebuah gereja di Dekenat Tangerang. Namanya Paroki Santa Maria Regina, atau lebih terkenal dengan nama Sanmare. Sedikit kisah, di gereja inilah saya pertama kali melakukan kedok religi kepada perempuan yang kemudian jadi ibu dari anak saya~~
Untuk mencapai Gereja Sanmare ini, bisa melalui Stasiun Pondok Ranji, kemudian jalan sedikit melewati tol, lantas naik angkot D09 sampai Hari-Hari. Atau dari Stasiun Jurangmangu ya tinggal naik ojek online. Gereja ini letaknya di samping Hari-Hari dan persis di seberang Bank Permata. Tepat di pojokan sebelum Taman Jajan, pokoknya. Dan jangan harap akan menemukan arsitektur ala Gereja semacam menara menjulang dengan Salib, karena arsitektur Sanmare memang tidak begitu.
Menurut website Paroki Sanmare, gedungnya dirancang menjadi satu masa bangunan tunggal yang kompak dengan bangunan mencakup berbagai fungsi bangunan seperti tempat ibadah itu sendiri, aula, pastoran hingga parkir. Dan bahwa Gereja Sanmare ini tidak seperti gereja kalau dari luar adalah karena bangunan dibuat dengan arsitektur simpel dan modern dengan bangunan utama ditarik ke bagian belakang untuk menyediakan ruang yang lumayan luas di depan sebagai ruang terbuka hijau.
Perjalanan ke luar kota merupakan sebuah hal yang menyenangkan. Namun kadang ya ada juga perjalanan ke luar kota yang jadinya begitu melelahkan. Tentu hal ini sangat dipengaruhi dari jenis kendaraan yang kita pilih untuk menempuh perjalanan jarak jauh dari satu kota ke kota lainnya. Untunglah, kini telah tersedia banyak pilihan untuk kita yang ingin melakukan perjalanan ke luar kota.
Salah satu pilihan tepat bila ingin menempuh perjalanan jauh dari satu kota ke kota lainnya adalah dengan menggunakan jasa shuttle atau travel yang kini sudah banyak tersedia di berbagai kota. Salah satu travel yang banyak menjadi sorotan ialah travel Cititrans yang melayani berbagai rute dalam negeri. Bahkan apabila ngin membeli tiket travel Cititrans Fatmawati, Kita juga akan dengan mudah menemukannya melalui berbagai situs online travel agent. Kira-kira apa saja ya kelebihan dari travel Cititrans dan mengapa kini travel Cititrans banyak menjadi pilihan masyarakat yang akan bepergian ke luar kota?
Kenyamanan yang Ditawarkan
Salah satu penyebab kini Cititrans banyak menjadi pilihan masyarakat ialah kenyamanan yang ditawarkan oleh pengelola travel tersebut. Apabila kita memutuskan untuk naik travel menuju ke kota lain, tentu kitatak perlu capek-capek lagi untuk menyetir ataupun memikirkan jalan mana yang harus dilewati.
Mobil Sangat Nyaman
Berdasarkan pengalaman menggunakan travel Cititrans, salah satu kenyamanan yang paling terasa ialah mobil yang digunakan sangat nyaman dan juga terawat. Poin ini merupakan sebuah nilai tambah yang sangat penting untuk menjadi bahan pertimbangan karena perjalanan ke luar kota yang biasanya memakan waktu berjam-jam tentu membuat kita lelah. Bila kita menggunakan jenis kendaraan di mana kita dapat merasakan kenyamanan, tentu hal ini merupakan sebuah nilai tambah tersendiri.
Kursi Tidak Berdesakkan
Berbeda dengan jenis travel lain yang biasanya membuat penumpang merasa berdesakan, travel Cititrans menawarkan pengalaman yang lain. Apabila menaiki travel Cititrans, kita akan merasakan bahwa travel ini memiliki kursi yang sangat lega dan cocok untuk kita pilih sebagai partner perjalanan. Kita dapat merasakan bahwa kursi satu dan lainnya tidak terlalu berdesakkan dan masih memungkinkan untuk beristirahat selama dalam perjalanan.
AC Dingin
Kenyamanan perjalanan kita biasanya juga ditentukan oleh pendingin ruangan yang terdapat pada mobil yang ditumpangi. Menggunakan travel Cititrans merupakan sebuah keuntungan tersendiri karena kita akan merasakan kenyamanan karena pendingin ruangan yang sangat dingin dan membuat kita tak merasa begitu lelah selama dalam perjalanan.
Beberapa kenyamanan tersebut ditulis berdasarkan pengalaman menggunakan travel Cititrans untuk rute antar kota. Bila kita merasa lelah untuk menyetir mobil sendiri ataupun malas untuk memilih kendaraan umum lain yang biasanya kurang nyaman untuk para penumpang, maka travel Cititrans dapat dijadikan sebagai salah satu pilihan cerdas untuk kita yang ingin bepergian ke luar kota.
Berbeda dengan travel lain yang hanya memiliki fasilitas yang terbatas, Cititrans selalu berusaha untuk menjadi selangkah lebih maju dengan memberikan berbagai fasilitas lengkap untuk para penumpang. Tentu fasilitas ini diberikan semata-mata untuk menjamin kenyamanan penumpang selama dalam perjalanan ke luar kota bersama dengan Cititrans.
Charger Untuk Setiap Seat
Charger kini telah menjadi seperti kebutuhan pokok untuk sebagian besar kalangan. Katanya kebutuhan pokok manusia zaman now ada 4 yakni sandang, pangan, papan, dan colokan. Demi menjamin kebutuhan dan kenyamanan para penumpang, Cititrans telah membekali seluruh seat pada armadanya dengan charger USB yang dapat digunakan oleh penumpang. Cara ini juga sangat diapresiasi oleh para penumpang yang merasa sangat terbantu dengan fasilitas ini.
Jadwal Sangat Fleksibel
Kenyamanan lain yang akan diperoleh oleh para penumpang ialah jadwal travel Cititrans yang sangat fleksibel sehingga sangat memungkinkan bagi para penumpang untuk memilih jadwal sesuai kebutuhan tanpa takut membuang waktu sekedar untuk menunggu travel datang.
Seluruh kenyamanan dan fasilitas tersebut juga diimbangi dengan harga terjangkau yang ditawarkan oleh pihak penyedia travel Cititrans. Untuk rute perjalanan ke luar kota, dijamin seluruh penumpang akan mendapatkan harga terbaik dan tingkat pelayanan terbaik yang akan dirasakan oleh seluruh penumpang. Agar kita tak lelah ketika bepergian keluar kota, pastikan bahwa kita memilih travel Cititrans sebagai partner perjalanan kita.
Jadi ceritanya, sepulang dari dinas di Surabaya, mamanya Isto mengajak main. Mainnya lengkap sama Eyang-eyangnya Isto plus Om-nya juga. Supaya ngehits, kami main ke Jakarta Aquarium. Alasannya, tentu saja ingin mengedukasi bayi yang (kala itu) belum setahun terhadap laut. Siapa tahu jadi lebih mencintai laut. Mengingat laut adalah bagian dari tanah air. Tsah.
Nah, sudah cukup banyak review tentang Jakarta Aquarium, baik di blog maupun di Instagram. Untuk itu, saya nggak mau ngereview yang biasa saja. Jadi, saya mau menyimpulkan kunjungan ke Jakarta Aquarium tersebut dalam TUJUH FAKTA MENGEJUTKAN DAN MENCENGANGKAN TENTANG JAKARTA AQUARIUM. Jangan lupa, NOMOR ENAM BIKIN MELONGO!1!11!
1. Memindahkan Laut ke Mal
Pertama-tama, Jakarta Aquarium ini bukan tipu-tipu. Benar-benar berupa akuarium dan benar-benar letaknya di tengah kota Jakarta, tepatnya di Mal Neo Soho dengan akses masuk di Lower Ground. Artinya, itu ikan-ikan hidup di dalam mal. Sepanjang waktu! Ikan-ikan (dan hewan-hewan lainnya) sungguh lebih milenial daripada para milenial yang nge-mall.
Jadi kalau lagi pertemuan piranha, maka piranha dari Jakarta Aquarium bisa sombong sama piranha dari Sungai Amazon. “Gue sih tinggalnya di mal. Kawasan premium. Emang situ, tinggal di hutan?”
Yiha!
Suasana laut, termasuk juga penataan cahayanya sangat dipikirkan. Jadi, kira-kira ya serupa dengan di bawah laut. Makanya Jakarta Aquarium ini bukan berupa ruangan terang benderang belaka, tapi remang-remang sebagaimana di bawah laut situ. Sudah jelas juga suhunya diatur sedemikian rupa. AC-nya juga. Dan dengan demikian, seluruh kegiatan itu menyebabkan fakta kedua! Continue reading 7 Fakta Tentang Jakarta Aquarium, Nomor 6 Bikin Kayang!→
Menjelang arus mudik dimulai, PT. Kereta Api Indonesia (KAI) meluncurkan sebuah gerbong mewah yang dikenal dengan kereta sleeper. Banyak rakyat jelata yang sekadar kagum pada liputan televisi maupun media mainstream, soalnya harganya memang tinggi, sebagaimana biaya hidup keluarga kalau anak di daycare.
Sebelumnya, sejak Maret 2018, PT. KAI telah menelurkan varian baru dalam layanannya. Sebuah gerbong dengan kapasitas hanya 30 orang, seat yang lega—tidak seperti hati oposisi yang kalahan, hiburan yang, enggg, yang penting ada hiburan. Seluruh layanan itu berada di kelas Priority, dengan harga dua kali lipat kelas eksekutif.
Sebagai rakyat jelata yang mendapat Tunjangan Hari Raya (THR), sudah tentu saya ingin mengembalikan uang yang saya terima untuk memperkuat negara. Salah satu bentuk kontribusi yang bisa saya lakukan adalah dengan menggunakan produk BUMN. Supaya fix masuk ke negara, maka saya gunakan layanan satu-satunya BUMN yang memonopoli jalur rel di Indonesia, PT. KAI. Supaya sumbangannya banyak, ya saya pilih harga yang paling mahal dong. Nah, karena kereta sleeper yang hits itu belum tersedia untuk rute mudik ke rumah Eyangnya Isto, jadi saya ambil kelas Priority.
Soal kelas-kelas di kancah perkeretaapian itu sebenarnya nisbi belaka kok. Nyatanya, untuk KA Argo Parahyangan, rangkaian ekonomi, eksekutif, hingga Priority jadi satu rangkaian. Semuanya berangkat pada waktu yang sama dan sampai pada waktu yang sama. Pemandangan ciamik sepanjang Cimahi-Purwakarta dan sebaliknya juga sama. Hanya pegal kaki yang berbeda. Jadi ini bukan soal waktu yang diutamakan, tetapi pelayanan.
Gerbong Priority ini hanya ada 1 dalam rangkaian KA Argo Parahyangan. Letaknya di ujung pula. Secara prinsip benar, sih, bahwa gerbong Priority ini privat. Nggak boleh ada orang lewat kecuali penumpang yang punya tiket. Hanya saja, menjadi masalah ketika naiknya dari Stasiun Cimahi karena peron beratapnya tidak panjang. Masak sudah beli tiket mahal-mahal harus kepanasan di peron? Saya, misalnya, naik dari tengah rangkaian, tepatnya gerbong ekonomi terakhir, melewati restorasi, lanjut lewat 4 gerbong eksekutif, barulah sampai ke Priority. Dalam penghayatan, ini ibarat kehidupan: bersusah-susah dahulu, Priority kemudian.
Suasana luks di gerbong Priority sudah tampak dari bordes. Sudah berkarpet dan dindingnya penuh ornamen kayu. Mungkin karpetnya juga berperedam sehingga kebisingan khas bordes juga kurang. Makanya, kalau ada yang berisik-berisik—baik cangkem maupun tweetnya—Itu mbok ya diberi peredam biar tenang.
Begitu masuk, saya langsung merasakan tatapan heran dan takjub penumpang lain. Mungkin merasa kagum ada orang bermuka susah, pakai kaos ‘I Hate Mojok’, bisa beli tiket kelas Priority. Beuh, mereka mana tahu kalau tiket itu saya cicil melalui skema 0% selama 12 bulan melalui Tokopedia. Artinya, saya bayar 600 ribu, cicil 50 ribu sebulan, itu juga sudah dapat cashback 60 ribu yang sudah dipakai untuk membeli popok. Terima kasih, promo!
Bangku di kelas ini sungguh lapang, jelas berbeda dengan kelas ekonomi yang terbilang sempit seperti himpitan ekonomi. Bangku itu juga ditunjang dengan on-board entertainment berupa layar monitor di masing-masing seat. Hiburannya memang baru sekadar film dan audio. Ada Wi-Fi, tapi begitu dicoba kurang memuaskan juga.
Pada bagian belakang gerbong—kalau dari Bandung—ada minibar yang menyediakan free kopi, teh, dan makanan ringan. Free? Wong mbayar dua kali lipat kok free. Minibar ini sekaligus bisa menjadi tempat PDKT, lobi politik, hingga pembahasan makar kalau memang bernyali. Minibar ini juga menjadi penanda penumpang memang rakyat yang kaya atau sok kaya. Yang sok kaya, melihat kopi dan gula sachet bertebaran bisa dipastikan akan ngembat beberapa buah untuk bekal di rumah nanti. Yang kaya beneran, bahkan ke minibar saja tidak. Yang jelata kayak saya, cukup minum 3 gelas kopi selama 3 jam perjalanan. Lumayan, gratis dan tetap jujur.
Penumpang juga berhak atas sekotak makanan ringan yang terdiri dari roti basah dan sebotol air mineral. Rotinya juga nggak sembarangan: merk terkemuka, bukan pendukung penista agama, dan jumlahnya tiga biji pula. Rakyat jelata pasti senang mendapatkan jatah seperti ini.
Untuk barang, bisa ditaruh di bagasi atas, sebagaimana naik kereta api pada umumnya, hanya saja desainnya pakai pintu sehingga cenderung lebih aman, tapi lebih sempit. Akan sulit untuk membawa benda-benda seperti kulkas, ayam jago, brankas, hingga tanah lima karung jika menggunakan layanan di Priority.
Satu hal yang pasti, dengan adanya gerbong Priority ini, PT. KAI sukses mengambil ceruk lain penumpang. Salah satunya adalah penumpang kepepet. Dulu, saya pernah harus ke Jogja secara dadakan. Tiket pesawat sudah habis semua, kecuali kelas bisnis. Karena memang kudu ke Jogja, terpaksa tiket yang harganya sekali gaji itu saya ambil. Ceruk rakyat kepepet semacam ini pasti selalu ada, selain ceruk rakyat yang kebetulan tajir dan selalu suka kemevvahan.
Untuk hal ini, PT. KAI telah sukses menjadi perusahaan yang cerdas dalam memberikan faedah untuk rakyat dan negeri. Jelas lebih berfaedah daripada orang-orang yang dibayar pakai uang negara tapi kerjanya nyinyir belaka.
Ada banyak hal yang tidak mudah di dunia ini. Melupakan cinta pertama mungkin salah satunya. Salah lainnya adalah topik tulisan ini: membawa bayi naik pesawat. Walau tidak mudah, jika menggunakan pendekatan yang tepat, keberhasilan akan kita raih kok, wahai bapak-ibu millennial.
Dalam 4 trip itu, syukurlah belum ada masalah berarti. Itu pula sebabnya saya berani bikin tulisan ini, sekadar untuk mengisi blog dan menambah pencitraan sebagai bapak jarang pulang yang sayang anak. Heu. Yok, kita simak 5 tipsnya!
1. Beda Banget Dengan Perjalanan Dinas
Pertama-tama, saya tekankan bahwa bepergian bersama bayi sangat berbeda dengan pergi bersama pejabat Eselon I sekalipun. Kalau sama pejabat Eselon II atau III paling mentok kan membawakan tas. Bayi? Tas, minum, sekaligus badan bayi juga kita bawa. Maka, jangan samakan perjalanan bersama bayi dengan perjalanan dinas. Dijamin beda.
Beda yang pertama adalah JANGAN DATANG MEPET! Isto sudah 3 kali naik Garuda dan kok ya bayi tidak bisa web check in, sehingga kita harus datang lebih awal agar bisa check in. Sesuatu yang nyaris tidak mungkin terjadi jika melakukan perjalanan dinas. Pasti mepet, kan sok sibuk.
Beda yang kedua adalah soal kursi. Kalau sebagai remah-remah roti diinjak sepatu biasanya para pelaku perjalanan dinas memilih duduk di aisle, maka dalam hal membawa bayi sebaiknya duduk di tengah, dengan bayi plus emaknya duduk di sisi jendela. Ingat, pejabat yang kita bawa bahkan belum punya seat. Wong masih bayi. Continue reading 5 Tips Sukses Naik Pesawat Bersama Bayi→
Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan pada posisi tidak bisa menolak, juga pada posisi tiba-tiba bersua tempat-tempat baru. Ya begitulah kisah saya bisa nyasar sampai Danau Linow ini.
Perjalanan ke Danau Linow sebenarnya beberapa jam lebih awal daripada kisah Tunan. Hanya karena Tunan terlalu sayang untuk ditunda kisah dan keindahannya, makanya Linow harus rela ditaruh agak ke belakang.
Danau Linow terletak di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Tomohon diapit oleh dua gunung yaitu Gunung Lokon dan Gunung Mahawu. Jelas, seperti Bukittinggi, namanya diapit gunung pasti ujungnya adalah sejuk. Kesejukannya begitu terasa karena jendela mobil dibuka, mengingat jalanannya yang naik turun bak hubungan Dilan dan Milea. Sesekali, sebelum tiba di Kota Tomohon dari Manado, kita akan melihat kebun bunga. Wajar, Tomohon punya julukan Kota Seribu Bunga.
Jarak Danau Linow dari Kota Manado kurang lebih 30 km atau sekitar 1 jam perjalanan versi teori. Di Manado yang macetnya lumayan, bisa menjelma jadi 1,5 jam. Danau Linow sendiri berada 3 km arah barat dari Kota Tomohon.
Demikian salah satu rayuan gombal yang saya terima dalam kaitannya dengan pantai-pantai di sisi selatan Pulau Timor. Pria-pria zaman now memang suka terjebak urusan menggombali dan digombali. Akan tetapi, saya tentu tidak meragukannya, karena Indonesia adalah surganya pantai. Terlebih ini laut selatan, yang memang dikenal ganas. Ganas indahnya tapi juga ganas ombaknya.
Apalagi, pembangunan di NTT sudah cukup lumayan. Bahkan jika dibandingkan dengan kali pertama saya menginjakkan kaki ke NTT, tepatnya di Kota Kupang. Maka, ketika ada kesempatan untuk melihat pantai di selatan Pulau Timor, tentu saya tidak akan mengabaikannya.
Ada beberapa pantai cakep di selatan Pulau Timor. Akan tetapi, saya hanya sempat menginjakkan kaki di dua pantai saja. Dua pantai yang karakteristiknya benar-benar berbeda: Oetune dan Kolbano.
Pantai pertama yang saya kunjungi adalah Pantai Ouetune. Pantai ini terletak di Oebelo, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Pantai Oetune menawarkan kombinasi hamparan pasir putih yang lembut, gelombang ombak yang pecahnya agak berbeda–mungkin karena pantai selatan–, Pohon Lontar yang berdiri dalam rentang 6 hingga 8 meter, plus padang pasir yang cukup luas untuk sekadar ambil foto Instagram. Dalam sudut pandang foto tertentu, apalagi kalau bisa menghadirkan unta kita sudah bisa berpose seolah berada di Timur Tengah. Semuanya dilindungi oleh langit yang birunya menenangkan.
Tidak perlu khawatir akan hujan karena NTT sendiri adalah provinsi dengan curah hujan yang rendah. Tapi khawatirlah bisa pipis dengan higienis atau tidak di pantai ini. Ah, nanti di bawah saya kisahkan. Continue reading Mengenang Mantan di Pantai Oetune→
Menyebut Rinjani adalah membincang kemewahan, sebuah profil gunung yang bisa mempengaruhi apapun. Belum lekang dari ingatan tentang abu vulkanik Rinjani yang sampai bikin jalur penerbangan ditutup. Rinjani yang seolah paku yang memantek Pulau Lombok agar tidak kemana-mana itu memang punya pesona yang tiada tandingnya.
Maka, pada suatu siang, saya melangkahkan kaki ke kaki Rinjani. Cukup kakinya dulu, Rinjaninya yang benar mungkin nanti saja. Kurang lebih 1 jam perjalanana dari Senggigi, saya dan teman-teman tiba di GeoPark Rinjani.
Mau apa di kaki Rinjani? Ah, percayalah sobat, bahwa kakinya saja sudah luar biasa. Satu set perjalanan singkat telah diatur agar kami bisa merasakan hawa segar kaki Rinjani plus rasa segar air yang mengalir di sekitar Rinjani.
Dari pintu masuk GeoPark Rinjani, kami diarahkan ke sebuah rumah. Rupanya ara harga yang harus dibayar untuk menikmati kesegaran mewah Rinjani. Kurang lebih 10 ribu per orang, pastinya saya lupa. Selepas kena todong tarif mengejutkan di Anyer pekan sebelumnya, angka-angka di tempat wisata lain sungguh menjelma jadi receh belaka.
Apa yang paling bikin bete dalam urusan penerbangan? Pertama-tama adalah ketika sudah ada di lobi hotel, driver sudah tiba, eh dapat SMS kalau penerbangan GA607 dari Manado ke Jakarta ditunda. Kedua, ketika kejadian nomor 1 terjadi pada tanggal merah alias hari libur. Wong penerbangan pagi itu dipilih supaya bisa menghabiskan waktu bersama Istoyama, je. Ini malah habis di jalan.
Akan tetapi, masalah sebaiknya jangan dikutuk, nanti jadi tambah masalah. Alih-alih kembali tidur dengan galau, saya kemudian memilih untuk bergerak. Kebetulan di Kota Manado ada Gereja Katedral dan ada juga ojek online. Maka, sembari googling keliru, saya memilih untuk order Gojek menuju Katedral dengan tarif hanya 6000 rupiah saja.
Saya kemudian tiba di Katedral Manado pada pukul 5.50 dan sudah bacaan pertama. Ini yang saya sebut googling keliru karena ternyata misa dimulai pada 5.40 alih-alih 6.00 sesuai hasil pencarian. Lumayan, kerja kayak gini telah bikin saya dapat merasakan misa di beberapa Katedral di Indonesia, mulai dari Surabaya, Banjarmasin, hingga Atambua. Soal Atambua ini kapan-kapan saya ceritakan.
Nah, kadung sudah di Manado, ada baiknya kita mencari-cari sesuatu yang ada di alam, tapi nggak jauh-jauh dari bandara agar tidak terburu-buru nantinya pada saat jam penerbangan. Tadinya hasil pencarian menyebut Air Terjun Kima Atas. Akan tetapi, Pak Martin, driver kami, justru mengarahkan ke tempat lain sembari bilang, “Kayaknya di dekat sini ada….” Continue reading Bersua Air Terjun Tunan Karena Penundaan Penerbangan→
Pasca mengunjungi Pantai Pasir Padi dan Kelenteng Dewi Laut, akhirnya rombongan pengelana tiada tara beranjak ke selatan. Bagian ini penting karena dari kemarin-kemarin kami main ke utara tepatnya ke Sungai Liat. Satu-satunya perjalanan ke selatan ini adalah destinasi pamungkas yang juga merupakan salah satu alasan perjalanan ke Bangka ini digagas.
Danau Kaolin saat kami berkunjung, baru terkenal kurang lebih setahun. Kalau sekarang, berarti sudah 2 tahun. Kalau tahun depan, tiga tahun. Gitu. Angkat nama di akhir 2015, grup FPL Ngalor Ngidul kemudian ramai kala Tintus dalam perjalannya nganvas ke Koba, memposting foto di lokasi yang katanya mirip dengan danau di Islandia. Dengan air nan biru jernih serta hijau jernih begitu, memang menjadi hal paling beda dan jelas menarik siapapun untuk berkunjung. Sejak saat itu, kunjungan ke Bangka yang wajib menyertakan Danau Kaolin sebagai destinasi mulai digagas hingga pada akhirnya terpenuhi pada Oktober 2016 itu.
Rian Chocho Chiko dan istri
Hey? Oktober 2016? Sekarang November 2017? Ini nulis apa merenung, kok lama bener?
BERISIK! Namanya pegawengeri itu sibuk, kak.
Danau Kaolin ini dikenal sebagai Camoi Aek Biru dan berada di Desa Air Bara, Kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Pangkal Pinang. Menggunakan mobil dan driver lokal yang terkenal sejak kuliah suka lupa jalan, pada akhirnya kami hanya butuh 1 jam lebih sedikit untuk tiba di lokasi. Dari Pangkal Pinang hingga menuju tikungan terakhir ke lokasi sih mulus-lus-lus.