Lost in Bangka (8): Pantai Pasir Padi

Perjalanan panjang di Lost in Bangka hari Minggu bikin kami–ehm, tepatnya saya–terlelap dan kemudian menyebabkan saya harus jalan keliling pasar dekat Hotel Menumbing pada pukul 12 malam. Maklum, istri lagi hamil. Kalau nggak diturutin, nanti anaknya mirip saya. Lha.

Nah, pagi hari Senin adalah hari kepulangan. Namun kepulangan tentu harus diawali dengan yang seru-seru. Daftar perjalanan kami masih panjang karena hari terakhir ini direncanakan jalan-jalan ke dua destinasi utama, yakni Pantai Pasir Padi dan Danau Kaolin. Wow!

Kami sarapan dengan bahagia di pinggir kolam hotel dengan sebelumnya telah bersiap-siap untuk check out. Lantas, menggunakan mobil sewaan, kami bergegas ke rumah Tintus untuk menjemput sang driver sekaligus penyandang dana yang ogah disauri sekaligus juga guide lokal–walaupun dia aslinya Lampung.

Selfie dahulu, kak.

So, berangkat!

Pantai Pasir Padi memang diletakkan di tempat terakhir untuk dikunjungi karena dekat sekali dengan kota. Kurang lebih hanya 8 kilometer dari pusat kota. Dari rumah Tintus lebih dekat lagi. Selain itu, pagi-pagi ke pantai mestinya sih sehat, beb.

Pantai Pasir Padi sendiri terletak di Desa Air Itam dan merupakan tempat tujuan wisata paling utama di Kota Pangkal Pinang. Untungnya kami kesana Senin, pagi pula. Maka, pantai yang biasanya ramai itu masih sepi jali, sehingga kami bisa foto-foto sebebas ini:

Pasir Padi!

Saya harus mengakui bahwa Pasir Padi ini pasirnya bagus beneran. Mulus. Dipadukan dengan keterampilan fotografi Tintus, makanya cover dari serial Lost in Bangka menggunakan latar Pantai Pasir Padi. Katanya, sih, di bawah pasir pantai ini terdapat pasir timah. Itu juga kali yang menyebabkan walaupun putih manis gitu, pasir di Pasir Padi tidak se-mendelep di Senggigi, misalnya.

Satu lagi yang istimewa dari pantai yang akan dikembangkan jadi Pasir Padi Waterfront City ini adalah kita bisa jauh-jauh ke tengah tanpa takut kelelep. Paling takut handphone kecebur saja. Maka jangan heran kami berpose begitu jauh, puluhan meter dari pinggir pantai. Tintus sendiri lebih asyik di pinggiran, katanya nggak selera sama pantai. Beuh.

Ngomong-ngomong soal Pasir Padi Waterfront City, saya juga melihat ada semacam pembangunan waterboom di sekitar sana. Agak lucu, di laut kok waterboom, mending kan main di water beneran. Terus saya baca di detik.com, katanya Pantai Pasir Padi akan jadi Kuta-nya Pangkal Pinang. Yha, walaupun kalau dibandingkan tentu akan sangat berbeda. Perbedaan awal adalah di Kuta banyak ojek online, di Pangkal Pinang nggak ada. Yah, semoga jadi Kuta-nya, tapi nggak usah ikutin beton-beton yang memenuhi seberang pantai Kuta yang ada di Bali itu.

Awalnya saya keder juga melihat laut yang tenang begini, jangan-jangan menghanyutkan kayak gadis pendiam. Tapi begitu saya melangkah, landasan yang enak untuk diinjak dan bukannya bikin pijat refleksi juga jadi alasan saya terus melangkah semakin jauh ke arah Laut Natuna Utara. Sungguh, kalau nggak ada Rian Chocho Chiko, istrinya, dan istri saya maka saya akan bengok-bengok stress. Tapi untuk apa saya stress, kan sudah punya istri. Ehm, sungguhpun keduanya tiada sekaitan, saudara-saudara.

Semakin jauh dari pinggir, angin juga semakin kencang, dan pada pukul 10 pagi panas juga begitu mantap. Tapi, nuansa laut sungguh tiada duanya. Saya cukup betah berada dalam jarak aman untuk menikmati desir angin, pantai sepi, dan kaki yang terendam air asin. Oh, jangan lupa pakai kacamata hitam dan topi, jika ingin proteksi manis dalam jarak aman itu.

Saya tidak berpromosi yang lebih karena ini pantai utama, jadi siapa tahu pas pembaca datang malah pas di Pasir Padi lagi ramai-ramainya. Sebagaimana saya membaca bahwa Pasir Putih di Anyer itu indah tapi kemudian harganya sangat mengejutkan. Yang selow-selow saja. Untungnya, di Pasir Padi saya tidak mengalami jadi wisatawan kena todong tarif, mungkin karena bawa guide rasa lokal.

Satu hal yang mungkin sulit adalah toilet. Sulit maksudnya kurang sesuai dengan selera orang kota. Untuk yang standar gembel kayak saya, sih, bisa-bisa saja menggunakan toiletnya.

Cukup singkat namun cukup puas kami menikmati Pantai Pasir Padi. Jadwal menanti karena sang guide lokal menambahkan destinasi baru bernama Kelenteng Dewi Laut. Maka dengan berbalur pasir Pasir Padi, kami naik ke mobil sewaan untuk melanjutkan liburan asyik bersama teman lama ini.

Mau tahu lanjutannya? Tentu saja yang sabar. yha. Namanya juga ariesadhar.com. Heuheu.

Advertisements

4 thoughts on “Lost in Bangka (8): Pantai Pasir Padi

  1. Pingback: Lost in Bangka (9): Kelenteng Dewi Laut | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s