Category Archives: Soal Sesuatu

Sesuatu kata itu selalu ada tentangnya..

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Jadi gini. Kemarin itu saya lihat-lihat di Youtube soal film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” yang dibintangi oleh sebagian lakon di “5Cm”. Nah, bicara soal judul film itu, tentu nggak lepas dari nama seorang sastrawan besar Indonesia, Buya Hamka. Kebetulan, waktu SMA, saya menjadikan novel itu sebagai bahan tugas Karya Ilmiah di kelas 2. Silakan tanya seluruh anak De Britto perihal Karya Ilmiah ini. Ya, semua anak–tanpa kecuali termasuk anaknya Pak Bambang sama Pak Samino–juga harus buat KI. Kalau luput dari deadline? Dulu ada kelas 2-7. Sebuah kelas khusus anak-anak yang KI-nya belum kelar. Nggak boleh ikut pelajaran kalau KI-nya nggak kelar. Ganas bung!

Nah, judul KI saya adalah “Permasalahan Adat Minangkabau Dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Hamka“. Berbasis novel terbitan Bulan Bintang tahun 1979. Sebenarnya kalau saya ketik semua disini nggak akan panjang-panjang amat. Hanya 20 halaman A4 dengan margin atas bawah kiri kanan yang lebar. Saya taksir bahkan hanya sekitar 1 bab panjang di Oom Alfa. Cuma, dipotong-potonglah. KI sama blog kan beda.

Kita mulai ya.

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara yang terdiri dari banyak suku. Setiap suku memiliki adat istiadat yang berbeda. Perbedaan adat istiadat antar suku seringkali menimbulkan permasalahan dalam proses pergaulan. Kadangkala masalah timbul setelah proses pergaulan terjadi.

Permasalahan adat merupakan bagian yang paling sulit dipisahkan dari interaksi antar suku. Masalah yang timbul seringkali disebabkan perbedaan tata dan pola hidup atau sistem kekerabatan.

Tema mengenai permasalahan adat kerap dijadikan tema dari sebuah karya sastra. Hal itu disebabkan karena permasalahan adat adalah teman yang gampang digali karena sumber-sumber referensi cukup mudah ditemui. Selain itu tema adat adalah hal yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal dengan Hamka, sebagai penulis novel terkenal dengan tema-tema adat Minangkabau sebagai fokus novel-novelnya. Hal dimungkinkan latar belakang dirinya yang dibesarkan dalam tradisi Minangkabau. Dengan demikian pemakaian tema adat dalam novel menjadi lebih fleksibel.

Atas dasar itulah penulis mencoba mengamati permasalahan adat dalam novel yang ditulis oleh Hamka yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Novel tersebut penulis pilih karena suasana yang didominasi oleh latar belakang Minangkabau. Tidak seperti novel Hamka yang lain, seperti Dibawah Lindungan Ka’bah yang berlatar Mekkah dan Dijemput Makaknya yang berlatar Deli.

Berdasarkan judul serta latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah yang dapat diajukan adalah apa sajakah permasalahan adat Minangkabau yang muncul dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka?

Tujuan penulisan karangan ilmiah ini adalah untuk mendeskripsikan berbagai permasalahan adat Minangkabau dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka.

Karangan ilmiah ini diharapkan akan dapat memperkaya khasanah pengetahuan mengenai novel. Terutama novel-novel era Balai Pustaka-Pujangga Baru yang mulai tergusur eksistensinya oleh kehadiran novel-novel kontemporer. Secara lebih spesifik karangan ilmiah ini diharapkan dapat membantu penulis dan pembaca untuk lebih memahami adat Minangkabau.

Karangan ilmiah ini akan membahas permasalahan adat Minangkabau dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka. Permasalahan adat lain dalam novel yang sama dan permasalahan adat Minangkabau dalam novel Hamka yang lain tidak dibahas dalam karangan ilmiah ini.

Karangan ilmiah ini akan menguraikan permasalahan lewat tiga tahap yakni pendahuluan, landasan teori, dan pembahasan. Hasil dari pembahasan akan dirangkum dalam kesimpulan sekaligus menjawab rumusan masalah dalam pendahuluan. Pada bagian akhir akan disebutkan daftar referensi yang digunakan dalam karangan ilmiah ini.

Landasan Teori

Salah satu pakar dalam bidang sastra, Prof. Dr. Andries Teeuw tidak memberikan definisi yang absolut mengenai sastra. Teeuw (1988) hanya memberikan batasan bahwa sastra tidak dapat dibedakan antara bahasa tulis dan lisan. Hal yang penting adalah unsur seni dalam sastra itu. Sehingga Teeuw (1982) menulis bahwa sastra menunjukkan paradoks yang cukup menarik. Kemenarikan itu timbul dari ketidakpastian dan kedinamisan sastra itu sendiri.

Sastra dapat disorot dari segi bahasa dan seni sastra itu sendiri. Segi bahasa merupakan suatu sisi yang timbul dari alur karya sastra. Sedangkan seni merupakan suatu nilai yang terkandung dari sebuah karya sastra.

Sastra merupakan suatu sistem yang memiliki sub sistem seperti tokoh, alur, tema, dan amanat. Berbagai sub sistem tersebut bergungsi membangun keutuhan cerita.

Tokoh ialah individu rekaan yang berlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Dalam cerita rekaan tokoh juga merupakan rekaan semata.

Berdasarkan fungsinya di dalam cerita, tokoh dapat dibedakan menjadi dua yakni: tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh yang memegang peranan pokok dalam cerita disebut tokoh sentral. Sedangkan tokoh bawahan berperan menunjang dan melengkapi kedudukan tokoh utama dalam alur cerita.

Kedudukan tokoh didukung oleh latar atau setting. Latar mencakup keadaan, masyarakat, kelompok-kelompok sosial, adat, cara hidup, bangunan, dan sebagainya. Latar berfungsi untuk media proyeksi batin tokoh.

Tema merupakan gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari penulisan suatu karya sastra. Tema juga membuat suatu karya sastra menjadi berharga. Dalam cerita rekaan ada berbagai macam penyampaian tema. Ada yang disampaikan secara eksplisit, terlihat dari judul, simbolik, dan implisit.

Dalam penyampaiannya ada berbagai macam cara. Ada yang secara universal, ada pula yang secara mendalam dan spesifik. Pada akhirnya tema menjadi suatu jalan untuk memperoleh amanat. Pada prinsipnya, amanat adalah kunci sebuah karya sastra.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989) adat adalah wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma hukum, dan aturan-aturan yang satu dan lainnya berkaitan menjadi suatu sistem.

Sedangkan adat istiadat merupakan tata kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari generasi ke generasi lain sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola kehidupan masyarakat.

Salah satu ciri masyarakat Minangkabay yang telah menimbulkan perhatian besar adalah sistem kekerabatannya yang bersifat matrilineal, yang keturunan dan harga benda diperhitungkan melalui garis ibu dan bukan garis bapak, sehingga yang berkuasa atas seluruh kelompok keluarga adalah saudara laki-laki seorang wanita dan bukan suaminya (Geertz, 1981: 73). Kepentingan suatu keluarga diurus oleh seorang laki-laki dewasa dari keluarga itu yang bertindak sebagai ninik mamak bagi keluarga itu (Junus, 1982: 248).

Sistem matrilineal secara sederhana dapat diartikan sebagai masyarakat yang anggotanya menarik garis keturunan melalui ibu. Sehingga yang diakui dan mendapat hak adalah yang memiliki hubungan darah dengan kaum perempuan atau ibu.

Secara adat, sistem pemerintahan di Minangkabau dibedakan dalam dua sistem yang disebut kelarasan yaitu:

1. Kelarasan Bodi Chaniago
2. Kelarasan Koto Piliang.

Daerah darat terbagi dalam tiga luhak, yaitu Tanah Datar, Agam, dan Lima Puluah Koto (Junus, 1982: 241). Daerah darat sendiri berarti daerah yang masih asli alam Minangkabau.

Permasalahan Adat Dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Sinopsis

Zainuddin adalah seorang anak keturunan Minangkabau yang tinggal dan beribu orang Mengkasar. Ia sudah yatim piatu karena kedua orang tuanya meninggal sewaktu ia masih kecil. Sebagai seorang keturunan Minangkabau, ia sangat ingin pergi ke kampung halamannya. Tempat ayahnya lahir dan besar.

Keinginan Zainuddin untuk melihat kampung halamannya, desa Batipuh di Minangkabau tercapaia setelah orang tua angkatnya di Mengkasar yakni Mak Base mengabulkan permintaan Zainuddin.

Dahulu di desa Batipuh yang terletak di dekat kota Padang Panjang itu, ayah Zainuddin yaitu Pandekar Sutan terpaksa membunuh mamaknya sendiri yaitu Datuak Mantari Labih yang berusaha menguasai harta warisan milik kaum. Akibatnya Pandekar Sutan dibuang ke Mengkasar sebagai hukuman adat. Di tempat pembuangannya itu, Pandekar Sutan menikah dengan perempuan asli Mengkasar bernama Daeng Habibah. Perkawinan ini membuahkan seorang anak yaitu Zainuddin. Setelah kedua orang tua Zainuddin meninggal di usia muda karena sakit, Mak Base mengasuh dan menjadi ibu angkatnya sampai ia besar.

Akan tetapi, di desa Batipuh ia malah dianggap orang asing karena lahir dari seorang ibu yang bukan keturunan ninik mamaknya. Ketidakadilan makin terasa ketika hubungannya dengan gadis Batipuh yang dikenalnya sewaktu hujan deras yakni Hayati, harus putus dan ia sendiri diusir dari tanah leluhurnya. Saat Zainuddin akan meninggalkan Batipuh, Hayati masih sempat memberikan kenang-kenangan berupa elai rambutnya. Zainuddin lalu hijrah ke Padang Panjang dan tetap berkirim surat dengan Hayati. Relasi ini berjalan karena ada ikatan batin antara Zainuddin dan Hayati sejak mereka mengikat janji pada suatu sore di dekat sawah di desa Batipuh.

Pada suatu saat, Hayati datang ke Padang Panjang untuk melihat pasar malam yang diadakan setahun sekali. Ia menginap di rumah Khadijah, sahabatnya. Zainuddin yang juga diberitahu seakan mendapat peluang untuk melepas rindu setelah lama tidak bertemu. Namun maksud itu tidak kesampaian akibat ulah Khadijah dan Aziz, kakanya.

Setelah masa itu, timbul ketertarikan Aziz pada Hayati yang juga dipengaruhi oleh provokasi Khadijah. Pada akhirnya Aziz sepakat melamar Hayati ke Batipuh. Di lain pihak Zainuddin juga melakukan lamaran meski dengan cara yang tidak lazim yaitu berkirim surat. Padahal Zainuddin baru saja mendapat warisan yang cukup besar setelah Mak Base meninggal. Para ninik mamak Hayati kemudian memutuskan untuk menerima pinangan Aziz. Zainuddin yang ditolak lalu dikirimi surat penolakan.

Zainuddin jatuh sakit setelah mendapat kabar bahwa Hayati dan Aziz benar-benar menikah. Ia bahkan sudah tidak punya semangat hidup lagi meski sudah melakukan perjalanan keliling Minangkabau. Dan yang paling parah, Zainuddin sempat tidak sadarkan diri hingga beberapa lama. Namun karena peran Muluk, seorang parewa yang merupakan anak dari empunya rumah tempat Zainuddin tinggal di Padang Panjang. Semangat hidup Zainuddin perlahan-lahan bangkit. Kemudian mereka berdua merantau ke Jakarta lalu pindah ke Surabaya. Di perantauannya Zainuddin menjadi pengarang terkemuka dengan inisial Z.

Di lain pihak suami istri Aziz dan Hayati pindah ke Surabaya seiring dengan penugasan Aziz ke kota itu. Namun tak lama kemudian Aziz dipecat karena sering melakukan perbuatan zinah di tempat-tempat pelacuran. Setelah itu pasangan Aziz dan Hayati diusir dari rumah kontrakannya. Mereka terpaksa menumpang tinggal di rumah Zainuddin hingga beberapa lama.

Aziz semakin tidak tahan pada malu yang harus ia tanggung karena lama menganggur. Ia lalu pergi ke Banyuwangi. Tak lama setelah itu ia mengirim surat yang mengabarkan bahwa ia menjatuhkan talak satu pada Hayati dan surat lain yang berisi keinginannya untuk bunuh diri yang pada akhirnya dilaksanakan.

Keadaan ini seolah membuat posisi Zainuddin berada di atas angin. Namun ia mengeluarkan keputusan kontroversial dengan menyuruh Hayati pulang. Esoknya Hayati pulang ke Padang dengan menggunakan kapal Van Der Wijck.

Setelah Hayati pergi, Zainuddin malah menjadi gelisah. Ia memutuskan akan menyusul Hayati ke Jakarta. Namun belum lagi mereka berdua berangkat datang berita bahwa kapal Van Der Wijck tenggelam. Tujuan Zainuddin dialihkan ke Tuban.

Zainuddin dan Hayati masih sempat bertemu di rumah sakit Lamongan. Dan itu adalah yang terakhir karena setelah itu Hayati meninggal dalam pangkuan Zainuddin.

Setelah peristiwa itu kesehatan Zainuddin menurun dan tak lama kemudian meninggal. Muluk lalu menguburkan Zainuddin bersebelahan dengan pusara Hayati.

Pembahasan

Ada merupakan wujud gagasan kebudayaan yang terdiri dari atas nilai-nilai budaya, norma hukum dan aturan-aturan yang satu dan lainnya berkaitan menjadi suatu sistem. Para ninik mamak Hayati memegang teguh prinsip-prinsip yang terkandung dalam suatu sistem adat tersebut. Mereka memperhitungkan hal-hal kekerabatan yang akan terjadi bila Hayati menikah dengan Zainuddin. Aturan-aturan yang sudah diturunkan sejak beberapa generasi tetap dipakai.

Datuk ….. selaku mamak kandung Hayati adalah orang yang tegas memegang prinsip ini. Hal ini tampak dari kata-katanya sewaktu meminta Zainuddin meninggalkan Batipuh.

“Zainuddin,” ujarnya, “telah banyak nian pembicaraan orang yang kurang enak kudengar terhadap dirimu dan diri kemenakanku. Kata orang tua-tua telah melakukan perbuata yang buruk rupa, salah canda, yang pantang benar di dalam negeri yang beradat ini. Diri saya percaya bahwa engkau tiada melakukan perbuatan yang tiada senonoh dengan kemenakanku, yang dapat merusakkan nama Hayati selama hidupnya. Tetapi, sekarang saya temui engkau untuk memberi engkau nasehat, lebih baik sebelum perbuatan berkelanjutan, sebelum merusakkan nama kami dalam negeri suku sako turun-temurun, yang belum lekang di pana dan belum lapuk di hujan, supaya engkau surut” (Hal. 57-58).

Dalam ucapannya yang panjang lebar tersebut, Dt ….. mengusir Zainuddin secara halus dengan membawa nama adat dan turunan. Pada masalah ini faktor generasi mendatang ikut diperhitungkan. Ini adalah cermin dari adat Minangkabau yang keras dan ketat.

Pada pembicaraan yang lain kepada Hayati, Dt ….. mempermasalahkan soal bako anak Hayati kelak jika menikah dengan Zanuddin. Pemikiran ini muncul karena Zainuddin tidak memiliki saudara kandung, apalagi ia adalah anak dari perempuan Bugis.

“Hai Upik, baru kemaren kau memakan garam dunia, kau belum tahu belit-belitnya. Bukanlah kau sembarang orang, bukan tampan Zainuddin itu jodohmu. Orang yang begitu tak dapat menggantungkan hidupmu, pemenung, pehiba hati, dan kadang-kadang panjang angan-angan. Di zaman sekarang haruslah suami penumpangkan hidup itu seorang yang tentu pencaharian, tentu asal-usul. Jika perkawinan dengan orang yang demikian langsung dan engkau beroleh anak, kemanakah anak itu akan berbako? Tidakkah engkau tahu bahwa Gunung Merapi masih tegak dengan teguhnya? Adat masih berdiri dengan kuat, tak lapuk oleh hujan, tak boleh lekang oleh panas.” (Hal. 61)

Bako adalah saudara dari ayah dalam pengertian adat di Minangkabau. Sebenarnya status bako tidaklah terlalu penting layaknya mamak atau kemenakan. Namun adanya bako berarti memiliki kelengkapan keluarga. Zainuddin sendiri memiliki bako di Batipuh. Selama di Batipuh ia pun tinggal di rumah bakonya. Namun Zainuddin tidak diterima oleh petinggi adat setempat. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa status bako jauh kalah dari mamak dan status lain.

Masalah mengenai bako juga masih diangkat dalam perdebatan antara Sutan Mudo dengan Dt. Garang, pada pertemuan sekaligus musyawarah yang dilakukan oleh ninik mamak Hayati untuk membicarakan masalah lamaran kepada Hayati yaitu dari Aziz dan Zainuddin. Dt. Garang marah kepada Sutan Mudo yang mencoba memberikan argumen tentang status Zainuddin. Bagi Sutan Mudo, status Zainuddin tidaklah jelek karena ia punya ayah orang Minangkabau. Akan tetapi Dt. Garang bersama ninik mamak golongan tua lainnya amat memegang teguh tradisi. Sulit untuk melakukan perubahan regulsi adat yang telah ada karena akan berpengaruh langsung pada kharisma dan wibawa ninik mamak di mata anggota kaum.

Dari uraian di atas dapat ditarik konklusi bahwa salah satu permasalahan adat yang timbul adalah sikap ninik mamak Hayati yang terlalu memperhitungkan masalah bako meski sebenarnya kedudukan bako sendiri lemah karena ia hanya saudara dari ayah. Padahal di Minangkabau ada istilah populer untuk suami yaitu “Abu diateh tunggua” (Abu diatas tunggul). Maksudnya adalah suami hanya memiliki kedudukan tipis dalam kaum istrinya. Hal ini terjadi karena suami harus tinggal di tempat istri bila sudah menikah. Hal ini berlaku umum. Kecuali ia bekerja jauh dari rumah kaum istrinya, seperti Aziz dan Hayati.

Terlepas dari segala kebijakan mamak Hayati, status Zainuddin memang memberatkan dirinya sendiri. Zainuddin adalah orang yang tidak memiliki suku karena ibunya orang Mengkasar. Padahal di Minangkabau persukuan diambil dan menurut garis keturunan ibu.

Pengaruh ibu dalam kehidupan Zainuddin di Minangkabau amatlah besar. Karena ibunya orang Mengkasar ia tidak bersuku. Karena ia tidak bersuku ia tidak memiliki pendam pekuburan. Ujung-ujungnya ia tidak memiliki kekuatan dan prasyarat untuk meminang Hayati.

Walaupun Zainuddin memiliki uang lumayan banyak hasil warisan Mak Base, ia tidak dapat mempergunakannya untuk melawan adat dan memperbaiki statusnya. Ini adalah penyebab ia tidak memberitahukan soal kekayaannya dalam surat lamaran.

Lain masalahnya dengan Aziz. Aziz memiliki kedudukan kuat. Asli Minangkabau, orang tuanya terkenal, asal usulnya jelas dan memiliki kondisi finansial baik. Status itulah yang membuat Aziz dapat meminang Hayati dan pinangannya itu diterima.

Dengan demikian faktor kedua yang merupakan permasalahan adat adalah status Zainuddin dalam adat Minangkabau terutama di wilayah Batipuh. Status yang menyusahkan ini semakin dipersulit dengan cara Zainuddin untuk meminang Hayati. Ia menggunakan surat. Padahal lamaran adalah hal penting dalam adat Minangkabau. Ada tata cara dan aturannya sendiri dan tidak boleh lepas dari rangkaian perkawinan Minangkabau.

Desa Batipuh yang menjadi latar cerita berada di wilayah Batipuh X Koto. Sedangkan Batipuh X Koto merupakan salah satu daerah luhak Tanah Datar.

“Kita harus kembali kepada suatu kejadian di suatu negeri kecil dalam wilayah Batipuh X Koto (Padang Panjang) kira-kira 30 tahun yang lalu.” (Hal. 11)

Seperti diketahui, luhak Tanah Datar menganut kelarasan Koto Piliang. Kelarasan Koto Piliang sendiri merupakan penganut cara kepemimpinan otokrasi. Otokrasi dalam pengertian ini bukanlah otokrasi murni melainkan mengambil cara musyawarah yang demokratis. Cara pengambilan keputusan adalah dengan musyawarah namun hasil musyawarah membuahkan keputusan mutlak.

“Dia hanya kelak akan diberi kata yang telah masak saja.” (Hal. 110)

Cara ini kemudian memunculkan permasalahan dalam pelaksanaan. Hal ini disebabkan oleh keterpaksaan menjalankan keputusan. Sehingga kadang-kadang menimbulkan pembangkangan atau minimal pelaksanaan keputusan dengan setengah hati.

Faktor otokrasi menjadi permasalahan adat lain yang muncul dalam cerita. Pemaksaan keputusan membuat Hayati terpaksa melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan. Pemaksaan itu juga menyebabkan Zainuddin terpaksa membiarkan pernikahan Aziz-Hayati terjadi.

Adat Minangkabau menganut kekerabatan menurut garis keturunan ibu atau lebih dikenal dengan nama matrilineal. Sistem ini berbeda dengan Mengkasar yang patrilineal.

Problem soal kekerabatan sebenarnya sudah diperkirakan oleh Mak Base beberapa waktu sebelum Zainuddin meninggalkan Mengkasar.

Akan tetapi saat itu Zainuddin kurang mempercayai kata-kata Mak Base tentang adat di Minangkabau. Ia menganggap adat Mengkasar dan Minangkabau sama saja.

Setelah sampai dan tinggal beberapa lama di Minangkabau, akhirnya Zainuddin menghadapi kenyataan seperti yang pernah dikatakan Mak Base.

“Sehingga lama-lama insaflah dia perkataan Mak Base seketika dia akan berlayar, bahwa adat di Minangkabau lain sekali. Bangsa diambil daripada ibu. Sebab itu walaupun seorang anak berayah orang Minangkabau, sebab di negeri lain bangsa diambil dari ayah, jika ibunya orang lain, walaupun orang Tapanuli atau Bengkulu yang sedekat-dekatnya, dia dipandang orang lain juga. Malang nasib anak yang demikian, sebab dalam negeri ibunya dia dipandang orang asing, dan dalam negeri ayahnya dia dipandang orang asing pula.” (Hal. 27)

Pada waktu itu Minangkabau adalah satu-satunya wilayah yang menganut kekerabatan matrilineal. Sebab di Minangkabau peran ibu sebagai pusat regenerasi menjadi pusat perhatian. Sehingga status ibu sangat dihormati.

Dengan demikian faktor kekerabatan matrilineal yang dianut Minangkabay menjadi permasalahan adat lain yang muncul dalam cerita novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka ini.

Penutup

Berdasarkan pembahasan dalam Bab III, maka dapat dirumuskan empat macam permasalahan adat yang muncul dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka.

Pertama, sikap ninik mamak Hayati yang terlalu memperhitungkan masalah bako meski sebenarnya kedudukan bako sendiri lemah karena ia hanya saudara dari ayah, padahal kekerabatan di Minangkabau adalah menurut garis keturunan ibu.

Kedua, status Zainuddin dalam adat Minangkabay terutama di wilayah Batipuh. Hal itu dipersulit dengan cara meminang yang salah.

Ketiga, faktor otokrasi sebagai dasar politik di wilayah Batipuh. Faktor ini sesuai sifat kelarasan Koto Piliang yang dianut oleh Batipuh sebagai bagian wilayah Luhak Tanah Datar. Pemaksaan, sebagai inti dari otokrasi, membuat Hayati terpaksa melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan yakni menikah dengan Aziz. Padahal Hayati menginginkan menikah dengan Zainuddin.

Keempat, faktor sistem kekerabatan matrilineal di Minangkabau yang menyebabkan Zainuddin dipandang sebagai orang asing di kampung halaman tempat ayahnya lahir dan dibesarkan.

Dalam karangan ilmiah ini hanya dibahas tentang permasalahan adat dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka. Maka disarankan kepada peneliti lain untuk meneliti matra lain dari novel tersebut seperti tema, tokoh, atau latar. Selain itu peneliti lain juga dapat mengangkat tema adat lain dalam novel Hamka yang lain.

* * *

KI saya diterima sama Pak Kartono pada 19 Desember 2002. Jadi tulisan di atas ini adalah asli tulisan saya lebih dari 10 tahun yang lalu. Jadi wajar kalau masih banyak labilnya. Lah sekarang saja tetap banyak labilnya.

Kalau sekarang saya malah menelisik pada pertentangan dua aliran konservatif dan modern di adat Minang, plus galaunya Zainuddin, sama apa kira-kira alasan Hamka memberi nama tokoh dengan “Dt …..”.

Semoga tulisan di atas dapat membantu teman-teman yang belum pernah baca novel ini. Okelah mungkin akan spoiler, tapi toh ini novel dari zaman yang sudah lama, nggak mungkin juga disembunyikan kan?

😀

Bagaimana Cara Curhat yang Aman di Blog

Satu hal yang menjadi ketololan masa muda saya adalah menumpahkan segala sesuatu yang saya lakukan di blog. Berhubung saya lahir pada masa kuda gigit besi, dan tetap eksis sampai zaman kuda makan teman, maka saya menumpahkannya di blog yang ada di Friendster.

OKE. NAMA FRIENDSTER ITU SUDAH MEMPERLIHATKAN BETAPA TUANYA SAYA.

Santai.

Nah, tololnya dimana? Apa sih salahnya ngeblog?

Apa???

PPIC Itu Ngapain Aja Sih?

PPIC Ngapain Aja

Tidak terasa sudah empat tahun saya berkecimpung kemplang kemplung di dunia per-PPIC-an. Oke, ini dusta. Sebenarnya ya terasa sekali, terutama karena saya itu sama sekali nggak bisa memaksa orang untuk berbuat sesuai kehendak saya. Kalau saya bisa, mending juga saya ikut MLM yang itu tuh, dalam 4 tahun katanya sih sudah dapat kapal pesiar atau liburan ke Paris.

Melalui posting ini saya hanya hendak membagi pengalaman yang saya punya, utamanya untuk anak-anak muda yang hidupnya sedang labil karena sudah lulus dan belum bekerja dan lihat lowongan PPIC di koran.

Sebenarnya PPIC itu apa sih?

Lebih lanjut disini

Petualangan Ke Montong

Karyawan baik hati yang dicintai oleh bos adalah karyawan yang masuk kerja di hari dia cuti. Dan kebetulan hari itu saya cuti tapi justru nongol di kantor 1 jam lebih cepat dari jam kantor dimulai. Benar-benar layak dicintai kan?

Saya mengambil cuti dalam rangka hendak berangkat ke Jogja. Tapi…

…mumpung dapatnya kereta malam banget, jadi saya berkesempatan untuk mampir sejenak ke penerbit yang akan menerbitkan buku saya.

HORE.

LANJUT!

Pentingnya Nama Bagi Orang Batak

Kalau William Shakespeare itu orang Batak, pasti dia nggak akan mengeluarkan pernyataan “apalah arti sebuah nama”. Ya, untungnya pujangga ternama itu bukan orang Batak. Coba kalau dia orang Batak, nggak mungkin cerita Romeo dan Juliet akan begitu kan?

Mungkin cerita Romeo dan Juliet akan jadi semacam yang dilakukan Opung saya yang mengejar anaknya yang kawin lari dengan naik kendaraan roda dua. Ya pada akhirnya yang kawin lari itu juga nggak terus bunuh diri biar romantis kok. Keduanya langgeng sampai kakek-nenek.

Jadi apa ini maksudnya?

Maksudnya adalah…

Intuisi: Apaan Sih?

Beberapa minggu yang lalu, saya ke McD Jababeka. Sekilas terlintas dalam pikiran, “pasti nanti bakal ketemu si X”. Dua puluh menit sesudah saya menikmati dada-nya ayam yang tidak empuk tapi panas itu, saya melihat si X duduk di salah satu kursi disana.

Juga soal nama anaknya Pangeran William. Ketika orang ramai mempertaruhkan soal nama George atau Charles, saya kok tiba-tiba kepikiran nama saya: Alexander. Dan tidak lama kemudian, namanya muncul George Alexander Louis.

Tidak sedikit aspek soal intuisi yang kemudian bikin saya bingung. Kok bisa? Hal paling simpel dan sering terjadi adalah kalau di adu penalti PES. Tanpa mengintip, ada kalanya saya bisa menebak tendangan dengan benar. Yang nggak benar sih lebih sering.

Nah, pernah nggak sih kalian mengalami bisikan semacam saya tadi? Pasti pernah. Informasi langsung yang muncul dari dalam hati untuk sesuatu yang kadang sepele. Sekarang, apa coba pasalnya saya bisa mengira si X itu ada di McD, sementara tidak ada alasan khusus saya “memegang” nama X itu.

Saya lalu mencoba mencari kesini, dan menemukan sedikit hal.

Satu hal yang utama, intuisi dan wawasan adalah napas kehidupan. Pada dasarnya tidak banyak orang yang percaya, tapi diam-diam mempraktekkannya.

Katanya Sun Tzu begini, “setiap pertempuran dimenangkan sebelum berjuang”.

Nah loh. Jadi sebenarnya semua sudah dibisikkan sama intuisi. Apapun itu, termasu kemungkinan kita kalah. itu makanya yang lebih benar adalah berlaku yang terbaik 🙂

Manusia hidup di aktivitas yang sebenarnya konstan. Dan keberhasilan dalam melakukan itu tidak hanya datang dari yang kita lakukan, namun kesiapan dan kemampuan kita mengumpulkan informasi yang diperlukan. Informasi itu yang menopang intuisi, dan sebagai kemampuan bawaan, intuisi layak digunakan semua orang.

Kadang kita bercakap-cakap sendiri dalam diri kita. Argumen sana sini bikin rempong. Makanya kita perlu pendekatan baru yakni dengan benar-benar mendengarkan hal yang benar-benar menjadi respon dari diri kita.

Detailnya sila dibaca sendiri di link tadi. Saya juga pernah baca buku soal ini. Sebenarnya intuisi itu adalah kekayaan pribadi semua orang. Masalahnya, kadang nggak banyak orang menggunakan itu.

Salah satu contoh yang buat saya tertarik adalah adu penalti Italia-Spanyol di Euro 2008. Saya merekam semua tendangan penalti dan Iker Cassilas melakukan hal yang cukup mengagumkan. Dia bergerak sepersekian detik lebih dulu daripada kaki eksekutor sampai ke bola, dan semuanya tepat. Faktor intuisi ketika bisikan dari dalam hati, bercampur dengan informasi yang ada, menjadi poin disini.

Kita semua punya, saya juga. Tinggal gimana melatihnya. Nanti coba cari bukunya deh. 😀

Loser Trip: Full Story of Journey

Apaan Sih?
Apaan Sih?

Pertama-tama saya ucapkan selamat datang di posting ini. Intinya sih, posting ini akan panjang sekali. Jadi kalau kuota anda bermasalah lebih baik segera klik tanda silang yang ada di kanan atas, lalu beli kuota baru, terus buka lagi posting ini. Kalau nggak mau ya nggak apa-apa juga sih. Yang penting jangan minta pulsa atau kuota sama saya. Itu saja.

Kita mulai dari judul? Kenapa judulnya begini? William Shakespeare saja bilang “apalah arti sebuah nama?”. Itu sudah penulis legendaris lho. Makanya, saya yang penulis cupuistis juga hendak menyitir Pak William dengan menyebut “apalah arti sebuah judul?” Hanya orang-orang tertentu yang tahu makna kata pertama dari judul posting ini.

Sudah ini? Mulai? Yakin? Baiklah! INI DIA!

Ini kompilasi keren sebenarnya. Keren karena sebenarnya duit saya lagi mendekati tandas, tapi niat saya malah menyerbu kuat. Akhirnya kantong ngalah. Untung pula ada pengumuman penyesuaian gaji karena kenaikan BBM, jadi urusan kantong bisa dipikirkan belakangan. *buru-buru beli mie instan yang banyak*

Trip ini dirancang dalam rangka membuat diri saya tidak menjadi loser sejati. Sebagai perencana produksi yang ulung dengan angka order fulfillment selalu 100% sejak 2011–silakan cari Supply Chain lain sedunia yang dalam dua tahun berturut-turut bisa segitu angka order fulfillmentnya–maka saya nggak perlu perencana trip. Saya tinggal mengandalkan Mbah Google dalam merencanakan trip ini.

Dan tujuan dari trip kali ini adalah….

Selamat Datang di Semarang
Selamat Datang di Semarang

SEMARANG!

Saya ambil cuti dua hari, Kamis dan Jumat untuk perjalanan ini. Agak aneh ya? Intinya sih saya mau sebelum lebaran. Saya juga nggak menggunakan jalur darat Pantura alias bis. Ada dua pertimbangan utama. Pertama karena saya membawa Tristan dan Eos, yang total nilai keduanya melebihi harga diri saya, soalnya masih utang. Kedua, karena saya masih tobat soal Cikarang-Jogja 18 jam. CAPEK!

Lalu naik apa? Karena tujuan lain dari trip ini adalah untuk memberdayakan si Eos, maka saya memutuskan untuk naik pesawat.

Biasanya Kramat Djati, sekarang beralih sedikit ke Garuda. Sekali-kali nggak apa-apa. Harganya “cuma” selisih 100 ribu dengan si Merah. Dan Garuda kan nggak pakai pajak bandara lagi, jadi total hanya selisih 50-60 ribu saja. Anggaplah selisih itu sebagai harga roti dan segelas susu ultra, plus buat nambah-nambah kilometer terbang saya sebagai Frequent Flyer Garuda. Iya. Setahun dua kali naik Garuda aja nggaya punya Frequent Flyer. Penumpang macam apa saya ini? Memalukan.

Semua urusan pertiketan saya bereskan 24 jam sebelum berangkat. Tiket Garuda saya beli online menggunakan website Garuda. Dan sebagai Frequent Flyer, saya login, lalu beli. Kemudian bayar pakai e-commerce BCA. Dunia makin gila ya. Saya bahkan nggak perlu mengucap sepatah katapun untuk membeli tiket ini. 512.500 terdebet dari rekening payroll saya untuk sebuah tiket Garuda Indonesia dari CGK ke SRG. Karena sebelumnya saya hanya pernah ke Semarang naik sepeda motor dan bis, maka artinya ini adalah penerbangan pertama saya ke Semarang. Artinya lagi, ini menambah koleksi bandara yang saya darati. Tercatat sebagai penerbangan ke-76 saya seumur hidup. *melankolis kampret yang menghitung dan mencatat jumlah penerbangan yang dilakoni*

Sedangkan untuk pulangnya, lagi-lagi untuk memberdayakan si Eos, saya order online via layanan 121-nya Kereta Api. Dan ini juga pertama kalinya saya akan naik kereta dari Stasiun Semarang Tawang (SMT). Dan biar lebih seru–sekaligus lebih murah–saya ordernya bukan kereta api jurusan Jakarta, apalagi Cikarang. Saya beli tiket Semarang – Bandung, lalu lanjut Bandung – Jakarta. 😀

Dan karena saya sudah akrab dengan 121, maka bukan merupakan issue utama soal order ini. Cuma kok ya yang ngeladenin cowok, biasanya kan cewek. -____-” Transaksi saya tuntaskan via ATM Mandiri, seperti biasanya.

Dan sampailah hari Kamis, harinya perjalanan. Saya cabut dari kos-kosan jam 6 kurang 15. Pikir saya, jam 6 gitu kan, jalanan masih sepi. Tapi saya lupa kalau ini Cikarang. Bahkan ayam saja kalah agresif daripada Cikarang. Jam 6 itu segala macam bis, mobil, dan sepeda motor sudah berkeliaran di jalanan, dan nggak kalah macet dari jam 7, 8, dan seterusnya. Ini Cikarang, Bung!

Saya kemudian parkir si BG di tempat penitipan langganan, yang ada CCTV dan tempatnya terlokalisasi. Beda sama tetangganya, yang sekali-kalinya saya parkir, si BG pindah sejauh 100 meter. Kampret bener. Saya lalu menunggu Damri Jababeka – Bandara di depan penitipan motor itu. Tentunya berharap tidak ada orang kantor yang lewat. Dikiranya saya mau interview, jam 6 udah nangkring aja di tol. Selalu saja ada orang yang berprasangka buruk dengan mudah. Bahkan waktu saya Kelas Inspirasi aja dikira interview! Sinting.

30 menit saya menunggu, persis selama Jamrud menunggu tanpa suara dan resah harus menunggu lama kata darimu. Sesudah 30 menit itu, Damri yang dimaksud lewat. Saya naik, dan bertemu dengan…

Oma Cwi Mie.

Penting ya? Nggak juga sih.

Dua jam lebih saya digoyang di atas Damri ini. Ya namanya juga jam berangkat kerja. Tol Halim itu macetnya minta ampun. Saya bayangin Pak Anang yang SETIAP HARI menempuh kemacetan itu. Kuat-kuat saja dia. Kalau saya? Mungkin sudah resign dengan sukses. Sukses resign itu prestasi bukan ya?

Kira-kira jam 8 lewat 20 saya sampai di terminal 2F. Saya termasuk rombongan terakhir yang turun dari bis. Oma Cwi Mie bilang, “sukses ya”, waktu dia mau turun. Saya anggap itu adalah doa agar Loser Trip saya sukses menjadikan saya tidak loser.

Hasilnya? *ting tung ting tung*

Saya lalu kabur ke AW. Sudah lama saya tidak mencicipi makanan favorit dulu kalau di bandara, jaman masih LDR: Fish Sandwich. Di AW saya ketemu dengan dua karyawati berhijab, dan meladeni makanan. Ada tirai memang di depan AW. Ehm, ini semacam menghormati ya mestinya. Tapi saya kok tetap makan sambil ngelirik supaya mbak-mbak-nya nggak ngelihat. Kebiasaan di Bukittinggi masih kebawa banget.

Tapi saya nggak minum rootbeer, air putih saja. Sakit gigi ini begitu perih, sehingga saya harus berganti selera. Kalau lagi begini, saya baru menyadari bahwa sakit hati itu lebih mendingan. Ya nanti kalau lagi sakit hati, maka sakit gigi akan menjadi tampak lebih indah. Apa-apaan ini?

Terminal 2F lama-lama nggak asing memang dalam hidup saya, sejak saya mencoba menaikkan derajat dengan berprinsip, kalau bisa Garuda, ya Garuda. Kalau pulang misalnya, saya akan cari salah satu penerbangan Garuda. Dengan kompensasi penerbangan sisanya yang murah. Mudik terakhir saya “hanya” habis 1,2 juta pp, separo dari lebaran tahun lalu. Kenapa? Karena berangkatnya pakai Tiger Mandala, pulangnya Garuda. Bersakit-sakit dahulu, nggaya kemudian.

Penerbangan 11.50, dan saya sudah cek in jam setengah 10. Alangkah kurang kerjaannya saya ini. -____-

Lalu saya sudah mau masuk ke ruang tunggu. Nggaya naik conveyor. Begitu nyampe, ternyata antriannya sudah sepanjang seperempat akhir benda yang bikin malas itu. Walhasil belok kiri, jalan lagi seperempat conveyor, lalu antre. Eh buset. Sempat ditolak (hiks) masuk ruang tunggu karena kepagian, saya kemudian ngemper sambil online di luar ruang tunggu. Syukurlah saya sudah punya Tristan. Kalau nggak? Saya hanya akan repot nyari colokan si Lappy karena dia hanya mau hidup dengan colokan. Prinsip hidup yang cukup menyusahkan kalau lagi di bandara.

Begitu saya masuk ruang tunggu. Rada kaget juga. Iya kaget karena memang terakhir kali saya berangkat naik Garuda dari 2F memang sudah agak lama, kalau mendarat lebih sering sih. Kalau nggak salah pas nikahannya Boris. Eh pas ngurus SKCK ding. Kagetnya karena di ruang tunggu sekarang ada yang namanya pojok baca, disponsori sebuah asuransi. Ada sofa, ada majalah, ada buku, dan NYAMAN ABIS. That’s why i love Garuda 😀

Dan ruang tunggu menjadi semakin ramai. Saya selalu mengamati bahwa rupa-rupa penumpang Garuda itu banyakan songong-nya. Kalau penumpang Lion Air atau Sriwijaya itu banyakan katro-nya. Maaf ini kesimpulan sepihak. Memang saya ini sudah songong, katro pula. Lagipula dari 76 penerbangan saya, yang pakai Garuda baru belasan kok. Jadi memang saya ini banyak katro-nya. *bahkan saya sendiri kurang paham makna tulisan barusan*

Oke. Siap. Berangkat.

Sesudah panggilan boarding, saya segera naik bis. Ealah. Mahal-mahal beli tiket, jadinya ya bis juga. Dan tahu bukti songong-nya? Kursi ada, tapi semua pada mau berdiri. Songong karena mikirnya deket. Ternyata? Jauh abis! Soalnya pesawatnya parkir di keberangkatan luar negeri. Nyempil di dekat-dekat pesawat-pesawat besar. Mungkin nggak dapat tempat mendarat saking padatnya bandara terbesar di Indonesia Raya Merdeka Merdeka itu.

Saya sengaja milih tempat di jendela, jadi bisa dengan lebih mudah beraksi galau dan tidak terselamatkan. Cukup menatap jendela, bertemankan awan, setel playlist galau. Beres deh.

Tempat yang saya ambil adalah 21F. Yang mana daripada itu sedikit di belakang sayap. Maka tidak heran kalau separo hasil karya si Eos akan selalu berhiaskan sayap menekup ke atasnya si Garuda GA 236 ini. Okelah. Yang jelas mimpi saya bisa motret pakai DSLR lewat langit terlaksana. Terakhir kali saya motret dari langit itu ya pakai Brica Ambon. Sebelumnya malah pakai kamera pocket yang blitz-nya dimatiin. Mimpi itu bisa terwujud ya kalau diusahakan. Usaha ngutang buat beli si Eos, usaha cuti, usaha buat beli tiket pesawat. Simpel kan?

Hasil Karya Eos
Hasil Karya Eos

Sayangnya saya dapat 737-800 yang bukan NG. Jadi tidak dapat LCD pribadi kayak biasanya. Hanya ada layar nekuk di atas, dan kebetulan tepat di atas saya.

Njuk piye le nonton? *asem*

Dan ternyata penerbangan ini sebentar sekali, plus mlipir pantura. Jadi pemandangannya nggak jauh-jauh dari laut. Hiks lagi. Beda sama penerbangan dari Padang yang full of green, atau dari Palembang yang berhiaskan sungai plus Kepulauan Seribu. Cenderung lebih asyik untuk difoto.

Mlipir Pantura
Mlipir Pantura

Plus, ternyata penerbangan ini sebentar sekali. Cenderung nggak kerasa. Hedew.

Duduk Pas Sayap
Duduk Pas Sayap

Harapan saya untuk motret Kota Semarang dari langit kandas karena ternyata bandara Ahmad Yani ini langsung mlipir laut. Beda banget sama Jogja yang memperlihatkan profil kota sebelum mendarat. Ini laut, laut, sawah, lalu landasan. Rasanya bandara ini lebih besar dari Jogja, karena ngerem-nya nggak sekeras di Jogja, kalau menurut saya.

Sebelum Mendarat
Sebelum Mendarat Apa Sesudah Mengudara ya? *lupa*

Sampai di landasan, turunnya tanpa belalai. Benda yang hanya ada di bandara nggak minjem kayak Minangkabau atau SMB II. Kalau minjem kayak Jogja atau Semarang atau Medan yang Polonia, ya nggak ada. Tanda minjem? Lihat aja kalau ada menaranya tentara, itu tandanya bandara masih minjem. Minjem sejarah setidaknya.

Setelah mimpi motret dari langit terlaksana, sekarang mimpi motret pesawat dari landasan juga terlaksana. Kalau pakai HP, biasanya kan nunggu HP on dulu baru bisa motret. Sedangkan saya itu orangnya tertib, menyalakan HP yang kalau sudah sampai gedung terminal. Keburu nggak kelihatan pesawatnya.

GA 236
GA 236

Ada juga bapak-bapak yang motret pakai tablet-nya. Next target adalah tablet. Meski saya meragukan untuk apa juga saya punya tablet kalau semua aktivitas online masih bisa dicover sama si Young, ya meskipun dia harus tersambung selalu ke powerbank.

Sampai Semarang dan kesimpulannya adalah bandara ini kecil sekali. Lha kecil kalau begitu keluar LANGSUNG kelihatan parkiran mobil, dan ujungnya parkiran mobil juga kelihatan. Ealah. Plus akses keluar satu-satunya, selain dijemput dan ngesot, adalah taksi bandara. Dan layaknya taksi bandara manapun, tarifnya sungguh tiada masuk akal. Buat saya taksi bandara paling fair itu tetap Palembang. Bayar beberapa ribu di tempat, sisanya argo. Di Jogja? Tahun 2008, bandara ke Paingan yang cuma sakcrit itu bayarnya 35 ribu. Edan!

Mana yang ngelayanin karcis taksi itu udah tua pula. Kalau lambat kan logis. Tapi kalau lambat gitu kan saya emosi jiwa. Tapi ini kan perjalanan, masak saya emosi. Tak patut, kata Upin atau Ipin.

Hasil googling, saya memutuskan untuk naik taksi ke Katedral. Sebagai mantan warga Keuskupan Agung Semarang, saya kan pengen lihat juga Keuskupan Semarang dan katedralnya kayak apa. Sekaligus koleksi tambahan sesudah melihat Katedral Padang, Palembang, dan Jakarta.

Letak Katedral itu dekat Tugu Muda. Supir taksinya malah nanya, “Katedral mana ya Mas?”

Untung sudah googling. Hahahaha. Tinggal jawab, “dekat Tugu Muda.”

Dan ya memang Katedral itu seputar-putar Tugu Muda. Dan malah sebrang-sebrangan sama Lawang Sewu yang legendaris itu. Sayangnya nih, saya nggak bisa masuk Katedral itu. Agak miris juga ya, umat Katolik, nggak bisa masuk Katedral. Padahal di saat yang sama orang lain bisa masuk Watugong dan Gereja Blenduk, walaupun bayar. *tanya kenapa*

Di Katedral, tujuan saya yang utama sebenarnya cari halte Bus Rapid Trans-nya Semarang koridor 2. Cara irit kan? Sesudah tarif kampet 40 ribu bandara ke Katedral, maka perlu penetralisir dompet. Tentu saja 🙂

Di sebelah Katedral ternyata ada sekolah Dom Savio. Satu hal yang selalu saya ingat dari nama sekolah ini adalah dulu waktu di JB kelas I-5, ada anak nomor absen 5, namanya Alexander Ivan berasal dari sekolah ini, dan tidak pernah nongol sebagai siswa JB. Ini kan sebuah misteri, yang harus diungkap setajam silet. Silet pitik.

Sebenarnya pengen mampir dulu ke Lawang Sewu, wong cuma nyeberang. Tapi kok tiba-tiba mendung menggantung dan hujan melanda. Ya sudah, memandang Lawang Sewu-nya dari kejauhan saja deh. Saya akhirnya umpek-umpekan sama anak-anak sekolahan di dalam BRT warna merah jurusan Terminal Sisemut itu. Ini jam padat.

Agak unik BRT ini menurut saya. Mekanismenya lebih mirip Trans Musi mungkin. Ya secara saya belum pernah naik Trans Musi sih. Soalnya Halte-nya kosongan. Halte kosong ini tentu beda dengan Trans Jogja, apalagi Trans Jakarta. Jadi begitu umpek-umpekan, si penarik bayaran niscaya akan bingung, mana yang sudah dan mana yang belum. Untung bisnya kecil. Oya, bis-nya keren. Mungkin karena masih baru. Setahun yang lalu waktu saya ke Semarang demi naik Bejeu, belum ada BRT koridor 2 ini.

Intermezo sedikit, saya ketemu anak SMP cantik namanya Sabrina Taleetha, turun di Pasar Jatingaleh. *Iklan Layanan Masyarakat*

Satu hal lagi yang membedakan BRT ini dengan Trans Jogja, apalagi Trans Jakarta, adalah berhenti-nya. Selalu ditanya dulu. “Pasar Jatingaleh?”, kalau ada yang bilang ada, baru berhenti. Lah kan aneh. Jadi nggak selalu mandek di setiap halte. Dan yang unik berikutnya adalah di hujan yang deras itu ada Honda Tiger yang parkir PERSIS di tempat BRT harusnya mandek. Dan begitu BRT datang ke halte itu, yang punya motor diam saja, berasa halte ini punya Mbah Kakung-nya.

Itu kalau di Jakarta mungkin sudah dihajar massa.

Plus, ada satu halte yang saya lupa, yang di depannya persis terparkir mobil Carry jadul warna hijau. Dan khusus disini penumpang akan turun lewat pintu depan. Mungkinkah pemilik Carry itu adalah penunggu halte, sehingga BRT nggak berani menggusur. Suasana semakin mistis karena ada taburan bunga di atas Carry hijau itu. Hiiii… wagu.

Saya turun sejurus sesudah patung Pangeran Diponegoro. Masih hujan, tapi sudah tidak sederas waktu di Katedral. Mengulang kejadian yang sama setahun silam. Ya sudah, wong tas saya sudah punya pelindung parasut dua biji, jadi perjalanan diteruskan saja. Entah kenapa, sejak Heavy 13, saya memang cenderung takut hujan, Takut yang aneh.

Hari hujan ini justru bikin galau. Halah, nggak hujan juga galau. Sambil hujan-hujan ini, saya mengirim sebuah pesan singkat, yang kemudian sampai kepada nomor yang dituju. Iya, udah gitu doang sih.

TERUS KENAPA?

Nggak ada apa-apa sih. Sejak masuk penginapan sekitar jam 3, sampai kemudian Romelu Lukaku menorehkan luka ke gawang Kurnia Meiga, saya nggak keluar-keluar kamar lagi. Dengan kata lain, molor sampai pagi.

Bangun-bangun kok sudah Jumat. Coba kalau bangun-bangun masih Kamis, kan saya nggak harus nambah biaya penginapan. Di hari Jumat ini, tujuan saya adalah sebuah tempat yang katanya namanya Pagoda, beberapa kilometer dari tempat saya menginap. Ini aksesnya jauh lebih mudah daripada saya harus ke Sam Poo Kong. Dan katanya, yang akan saya tuju ini lebih gede. Ya benar atau tidaknya kan harus dibuktikan.

Pohon dan Angsa (Kelihatan Nggak?)
Pohon dan Angsa Di Depan Penginapan (Kelihatan Nggak?)

Hasil blogwalking bilang kalau saya cukup naik BRT arah Sisemut untuk bisa sampai ke tempat yang hendak saya tuju ini. Jadilah saya kembali ke Halte Srondol. Mikirnya kan logis ya, ada halte, ada BRT, ada penumpang, maka bis berhenti. Iya kan?

Iya apanya. Nggak! Saya nangkring di Halte Srondol dan cuma dilewatin doang sama bis nomor 39 dan 40. Setelah saya analisis, ternyata halte ini ketutup pohon, jadi nggak kelihatan kalau ada orang. Selain itu, saya-nya memang pada dasarnya juga sudah untuk dilihat. Maka lengkap sudah.

Jadi, saya turun dari Halte Srondol dan menuju Halte Tembalang. Dari tadi, dua BRT mampir di halte ini. Dan benar saja, bis nomor 41 mampir dan saya segera naik. Begitu ketemu kondektur-nya, saya berpesan kepada kondektur, layaknya orang tua pada anaknya.

*uopoooo*

“Mas, Watugong medun ngendi?”

“Mega.”

“Sip.”

Halte demi halte dilewati, dan akhirnya saya sampai juga di halte yang disebut Mega itu. Pas turun saya juga kurang paham Mbak-Mbak yang namanya Mega itu nunggu dimana. Pas pulang baru tahu kalau itu nama perumahan.

Pas turun dari Mega, pucuknya pagoda sudah kelihatan. Jadi saya berjalan terus ke selatan guna mencari kitab suci. Yang unik, dari Mega sampai ke Pagoda itu, berjejer penjual ubi cilembu rasa madu. Lah, ini Semarang apa Bandung?

Untung bulan puasa, jadi saya nggak beli. Ya meskipun kata-kata sebelum dan sesudah koma itu sama sekali tidak berhubungan sih.

Terus berjalan ke selatan sambil disabet udara kencang tronton yang lewat ke arah Ungaran, saya akhirnya sampai juga di Pagoda yang dimaksud. Izin dulu sama satpam, nulis di buku tamu, dan memberikan duit seikhlasnya. Paling suka kalau sudah seikhlasnya gini. Kalau saya nggak ikhlas, nggak apa-apa dong?

Hanya karena saya kasihan kepada Pak Satpam yang menonton sinetron, buat saya sih nggak sesuai sama profesi, jadi saya tetap ikhlas ngasih.

Sesudah izin untuk mengambil gambar, akhirnya saya jeprat-jepret sana-sini di Pagoda ini. Asyik! 😀

Pagoda
Pagoda

Sempat ngobrol dengan Bapak-Bapak yang menunggui tempat beribadah ini. Juga cerita kalau hari Sabtu Minggu biasanya ramai, dan dikunjungi umat dari berbagai agama. Dia juga cerita kalau istrinya satu agama dengan saya. Dia juga cerita soal rombongan-rombongan yang datang kesana. Hingga bagian paling mengenaskan adalah ketika dia bertanya pada saya, “punya pacar nggak Mas?”

Mengheningkan cipta, mulai!

Semut Aja Nggak Sendirian
Semut Aja Nggak Sendirian

Kebetulan masih pagi dan masih sepi, jadi saya menyempatkan diri untuk keliling-keliling, dan ketemu dengan tukang sapu yang juga bertanya kenapa saya sendirian.

Emangnya salah ya ke Pagoda sendirian? Nggak apa-apa, tinggal diberikan senyum termanis saja deh. Perjalanan ini juga saya lakukan dalam rangka membersihkan pikiran dari keinginan punya pacar, tapi nggak cinta. Ya to? Mending juga nggak punya pacar, daripada punya tapi kayak memaksa perasaan. Sudah pernah, dan sudah nggak mau mengulanginya lagi. Begitu sih.

Patung Budha dan Pagoda
Patung Budha dan Pagoda

Disini saya ketemu sama 1 keluarga dari Belanda. Ngobrolnya pas lagi foto-foto. Ternyata si Eos ada kembaran punya bule Belanda. Hore.

*senang yang tidak fundamental*

Menjulang Tenang
Menjulang Tenang

Sesudah capek dan sesudah minum teh kotak, saya akhirnya cabut dari Pagoda Watugong ini, untuk kembali ke utara. Kalau ke selatan lagi, saya takut kebablasan ke Jogja. Padahal cawet saya masih ada di penginapan. Masak saya mau ke Jogja tanpa cadangan cawet?

Angkot kuning menjadi pilihan. Ini hasil tanya-tanya sama teman Twitter soal akses ke Watugong, sehari sebelumnya. Nggak jauh saya naik angkot ini, dan tarifnya juga nggak se-kurang ajar angkot masuk ke kawasan Jababeka 2. Saya turun di Terminal Banyumanik, untuk lanjut BRT. Niat awalnya sih pulang ke penginapan, tapi karena kemarin belum sempat lewat Lawang Sewu, akhirnya saya memutuskan untuk bablas lagi ke Tugu Muda, sekadar mau lewat Lawang Sewu. Ogah masuk, soalnya hasil blogwalking perlu 30 ribu rupiah untuk biaya guide. Kalau guide-nya cewek nggak apa-apa, kalau guide-nya cowok? Bisa-bisa saya kayak homo nanti jalan berduaan sama cowok.

Ternyata BRT itu mandeg-nya agak jauh dari Lawang Sewu, di depan SMA 5 yang depan-depanan sama Balai Kota. Ehm, bagian Semarang yang ini asli keren. Area pedestriannya sungguh lapang, selapang dada Mbak Julia. Berharap ini ada di Cikarang, tapi–ah–yang penting kan industri yang dibangun, jalanan nggak usah, apalagi buat pedestrian. Buat apa?

*iri hati dot com*

Jalan ke Lawang Sewu sudah, lalu nyeberang lagi ke Katedral. Kayak kemarin sih. Tapi saya coba berhenti dulu beli Leker. Biar ada cerita kuliner Semarang. Padahal ya ini cuma Leker di depan Dom Savio. Dan anehnya, yang beli Leker bareng saya malah anak Don Bosco.

*tuing tuing*

Singkat cerita, Leker-nya habis. Ya karena emang cuma tipis gitu. Sama saya mah cepet banget habisnya. Plus saya beli juga Kopiko 78 derajat buat minumnya. Intinya sih biar ngepas belanja 20 ribu rupiah, mengingat tujuan utama jajan sebenarnya adalah mecah duit biru bung WR Supratman.

Saya kembali ke penginapan sekitar jam 12. Tidak ketemu Sabrina Taleetha yang pasti. Mungkin dia masih menuntut ilmu demi masa depan Semarang. Masih ada 1 jam sebelum cek out, saya manfaatkan untuk ngecas laptop dan leyeh-leyeh.

Jam 1 kemudian segera cek out dari penginapan, daripada disuruh bayar ekstra kalau molor. Padahal sih di hotel besar aja selisih 10-20 menit telat cek out ya nggak masalah. Ini memang semata karena saya tertib.

Untungnya Semarang lagi nggak hujan kayak pas saya datang sehari sebelumnya. Jadi saya bisa jalan sedikit ke Halte BRT Tembalang, tapi yang arah utara. Iya, sedikit. Sedikit jauh.

Pengen juga mencicipi jembatan penyeberangan yang ada persis dekat Halte Srondol. Soalnya Jalan Setiabudi ini agak ramai. Ah, tapi sebagai lulusan penyeberangan Gang Mesjid Jalan Raya Bogor, malu sih kalau nggak bisa nyeberang jalanan manapun di dunia. Tempat yang saya sebut barusan adalah tempat penyeberangan tersulit sedunia versi On G Spot.

Jadi, saya pakai jembatan penyeberangan itu sebatas pengen nyoba.

Dan…

ngeri. -___-

Bukan apa-apa, itu jembatan penyeberangan menggunakan kayu sebagai alasnya. Kayu yang di beberapa bagian goyang, dan di beberapa bagian lain bolong. Pantes nggak ada yang berminat naik jembatan ini. Juga nggak ada yang berminat nongkrong jualan sprei layaknya jembatan penyeberangan di ibukota negara sana.

BRT yang dinanti tiba tidak lama sesudah saya turun dari jembatan penyeberangan. Artinya? Iya, saya ketinggalan BRT itu. Soalnya halte Tembalang masih rada jauh dari jembatan maut ini. Nggak apa-apa, 10 menit lagi juga lewat. Mobil merah itu benar-benar membantu saya dalam perjalanan ke Semarang kali ini. Dan di BRT menuju Terboyo ini saya duduk dekat Bapak-Bapak yang mengeluh kok BRT ini lama.

“Keokehan mandek.”

-____-

Namanya juga BRT, ya pasti akan berhenti dari halte ke halte. Dia lalu membandingkan dengan bis Solo. Saya cuma membatin, “Kok yo tadi nggak naik bis Solo aja. Sekarang muring-muring begini.”

Dasar manusia.

Saya lewat lagi Katedral dan Lawang Sewu, tapi ya cuma lewat, karena saya memutuskan untuk langsung turun di Stasiun Tawang.

Ini jam 2, dan kereta saya jam setengah 9. Orang gila.

Kota lama segera dimasuki, ditandai dengan bangunannya yang tua-tua dan tampak penuh beban hidup. Saya turun di Halte Tawang, sedikit berjalan kaki dari pintu masuk Stasiun Tawang. Kesan pertama, halaman parkirnya luas. Dan kesan berikutnya adalah betapa besarnya polder Tawang yang ada di depan stasiun yang katanya tertua di Indonesia itu.

Saya masuk hendak menukarkan struk ATM dengan tiket. Dan ternyata online KAI benar-benar sudah canggih. Termasuk tiket Bandung-Jakarta bisa saya cetak di Semarang. Hmmm, berarti besok-besok kalau beliin tiket buat orang tua, sekalian aja saya cetak di Bekasi atau di Senen kali ya. Daripada ngirim struk doang.

Sebuah perubahan signifikan di bawah asuhan Pak Jonan dan Pak Dahlan. Ini signifikan banget lho, dibandingkan tahun 2010. Nggak sampai 5 tahun, dan perubahan menjadi amat sangat jelas.

Angkat jempol deh.

Tawang
Tawang

Saya kemudian cari makan, guna persiapan minum Amoxicillin terakhir yang saya konsumsi gegara sakit gigi. Cari makannya ini rada males, karena bau polder rada amis, kalau mau makan di dekat polder kok bikin nggak nafsu.

Akhirnya saya asal jalan aja. Dari stasiun ke kiri, sampai nemu mesjid, dan sebuah hamparan air yang cukup luas. Mungkin ini laut? Ah, apa iya?

Sesudah ke Katedral, lalu ke Watugong, saya kemudian ngemper 15 menit di mesjid dekat hamparan air itu 😀 Nggak aneh, karena yang numpang terkapar ada banyak. Kalau yang sholat beneran sih hanya dua orang. Mesjidnya bagus, terbuka, dan mulus.

Nah, di depan mesjid itu ada tukang becak. Saya segera mendekat, dalam rangka hendak ke Gereja Blenduk. Sudah sampai Tawang kok ya nggak ke Blenduk kan rugi. Jadi saya mendekat, dengan estimasi budget 10 ribu rupiah. Karena saya tahu itu dekat.

“Blenduk piro, Pak?”

“Delapan ribu.”

Berhubung di bawah budget, langsung naik. Dan namanya becak, hedeh, ini transportasi paling tidak fair. Penumpang akan disodok truk lebih dulu dalam posisi adu kambing. Dan mendekati polder, becak yang saya tumpangi hanya selisih 30 cm dengan BRT dari arah Tawang.

Ealah.

Menjulang Teguh
Menjulang Teguh

Sampai di Blenduk, saya kasih 10 ribu, dan bonus 2 ribu tentu saja karena saya nggak minta kembalian. Langsung kabur saja. Mengingat untuk jarak ini, ojek-ojek di kawasan industri sudah pasang tarif 7 ribu, maka tarif 10 ribu untuk becak, bagi saya sangat masuk akal.

Akhirnya melihat juga Blenduk ini, sesudah sering lihat di blog orang. Ketemu satpamnya, katanya kalau masuk 10 ribu per orang. Ada yang unik sih, waktu saya masuk, di tempat duitnya itu ada menggantung duit 20 ribu, si satpam nggak mendorong masuk uang itu, tapi menariknya keluar pelan-pelan dengan tangan kanan, lalu masuk ke kantong.

Hehehe. Sebagai mantan anak gereja yang ngerti sela-nya kotak sumbangan, apa yang dilakukan oleh satpam tadi begitu kasar, seharusnya dia bisa berlaku lebih mulus lagi kalau mau memiliki duit 20 ribu itu.

Ya sudahlah. Urusan dia sama Tuhan 🙂

Blenduk di Langit Biru
Blenduk di Langit Biru

Ada organ yang menetap di gereja itu. Mirip Katedral Jakarta, tapi lebih kecil. Dan Blenduk sendiri ternyata gereja kecil. Bayangan saya aja yang berlebihan, ternyata.

Hanya 5 menit dan beberapa foto dengan Eos, saya cabut. Kalau tadi 10 ribu buat becak berguna, 10 ribu yang ini kok semacam wagu. Jadi, saya menuju penghabisan 10 ribu berikutnya di warung dekat Blenduk situ.

Saya pesan indomie goreng, plus es teh manis. Lumayan untuk persiapan ngantibiotik.

Sambil menanti, saya melirik ke taman di dekat Blenduk. Taman yang asri dan bagus, tapi sayangnya, di sudut-sudutnya ada orang kumuh, dengan tatapan mengerikan. Sebagai orang yang punya trauma mendalam pada orang gila, yang menyebabkan saya ogah jadi orang gila, maka saya buru-buru makan dan buru-buru kabur.

Saya ditendang orang gila itu tahun 2000, sampai 2013 masih aja takut sama orang gila.

*melankolis yang trauma mendalam*

Kabur dengan berjalan kaki ternyata membuat saya mendapati beberapa objek menarik diantara Blenduk dengan polder Tawang. Semisal, pemukiman tentara, atau semacam asrama. Mirip dengan yang ada di Bukittinggi dulu.

Sampai di polder Tawang, saya sempat takut begitu hendak mengeluarkan Eos. Ya secara ini tempat terbuka, dan tentu saja ada kemungkinan kriminalitas. Bukan apa-apa, masalahnya ya belum lunas itu tadi.

Lihat Blenduk Disana?
Lihat Blenduk Disana?

Hingga akhirnya saya nekat saya potrat-potret di sekitar polder Tawang. Syukurlah tidak ada masalah yang berarti. Ada beberapa gambar yang saya suka. Sebagai orang cupu di dunia fotografi, suka ini sangat relatif 😀

Biru
Biru

Menjelang gelap, saya masuk kembali ke Tawang, dan bertemu dengan seorang lelaki dengan tas besar lagi foto-foto di depan tulisan Stasiun Tawang. Dia minta tolong saya mengambil fotonya, pakai camdig kecil, lebih bagus dari Brica Ambon yang pasti.

Ternyata dia adalah Rio, orang Medan yang baru pulang dari mendaki gunung-gunung di Jawa. Ketika saya menyebut Slamet–ini nama ex calon mertua–dia lalu menyambung dengan Sumbing dan Sindoro. Keren juga ini orang. Sejak bulan Mei dia datang ke Jawa untuk mendaki, dan sekarang hendak balik Jakarta, lalu terus ke Medan.

Merah Putih Berkibar
Merah Putih Berkibar

Manusia yang mengikuti passion-nya, bagi saya adalah manusia yang seutuhnya.

*nggak kayak saya*

Sudah gelap, saya kemudian mampir ke Dunkin Donuts yang ada di dalam stasiun. Karena saya pesan teh panas, saya dapat kopi panas. Itu artinya, dalam sehari saya minum 2 gelas kopi hitam, di penginapan pas sarapan dan di Dunkin ini. Belum lagi dua botol 78 degree yang saya hajar di jalanan.

Dijamin nggak ngantuk ini mah.

Sebagian dari tulisan ini saya garap sambil menyantap donat di Dunkin Donuts Stasiun Tawang Semarang. 🙂

Kereta Harina yang akan mengantar saya ke Bandung, terlambat 15 menit. Saya dapat posisi 4A, dekat jendela, tapi nggak bisa foto-foto soalnya sudah gelap. Dan efek kopi begitu terasa karena sampai jam 2 saya nggak tidur-tidur. Biasanya sih kopi nggak ngaruh ke saya, tapi mungkin ini kebanyakan kopi kali ya.

Tidak ada perbedaan signifikan kalau naik kereta api. Merk apapun ya sama saja. Kereta ya gitu-gitu aja kan? Beda sama pesawat yang interior berbeda, dan beberapa perlakuan juga berbeda. Jadi, nggak banyak cerita di dalam Harina ini.

Paling 1 doang, yakni kereta ini jalan sampai (mungkin) Purwakarta dengan arah ke depan. Dari (mungkin) Purwakarta itu, kereta jalannya mundur. Kayaknya sih semacam jalur segitiga. Dengan orientasi yang berbeda.

*iki ngomong opo sih*

Dan… sampailah di BANDUNG. St. Hall tercinta. Saya akrab dengan stasiun ini sekitar 2008-2009. Dimulai dari liburan ke Bandung medio 2008, lalu interview Medion awal 2009, diakhiri panggilan wawancara Sanbe beberapa pekan kemudian. Hanya 3 kali kalau nggak salah, tapi saya serasa paham banget tempat ini.

Entah kenapa.

Bandung :)
Bandung 🙂

Sembari menunggu kereta berikutnya, saya melanjutkan tulisan ini di Hoka Hoka Bento. Jadi ini tulisan bakal keren habis karena dikerjakan di berbagai kota yang berbeda. Hehehe.

Jam 06.45, kereta Argo Parahyangan sudah stand by di jalur 5. Padahal berangkat jam 07.15. Saya masuk saja, supaya bisa menikmati fasilitas berupa bantal. Sambil persiapan nge-charge si Young yang mendadak gundah dalam perjalanan musafiriah saya ini.

07.15, kereta melaju, dan tidak lama kemudian, saya mendapati sesuatu yang saya cari khusus di perjalanan ini.

Ijo Royo-Royo
Ijo Royo-Royo

Pemandangan yang indah.

Tsakep Abis
Tsakep Abis

Jakarta-Bandung, bahkan via Tol Cipularang saja sudah memberikan pemandangan yang keren. Kalau naik kereta, si Tol Cipularang itu saja bisa saja foto. Hanya saja, saran nih, kalau mau naik Argo Parahyangan Bandung-Jakarta, pilih bangku A atau B. Jangan C dan D kayak saya. Ketemunya cuma tebing doang. Untungnya bangku A kosong, jadi saya bisa pindah-pindah jeprat-jepret sana-sini. Well, sampai kemudian kehabisan memori.

Tol Cipularang :)
Tol Cipularang 🙂

Mendapatkan yang dicari dari sebuah perjalanan, adalah sebuah kepuasan batin yang tidak tertinggi. Bukan begitu?

*padahal ini perjalanan cari pacar*

*dan nggak dapat*

*sigh*

Masih tsakep abis
Masih tsakep abis

Hanya setengah jalan yang indah. Sisanya? Ya namanya sudah Cikampek-Karawang-Cikarang-Bekasi-Jakarta. Mau lihat apa lagi di kota-kota itu? Saya malah ngerasain lewat Lemah Abang, dan berhasil mengambil foto disana. Iya, jalanan yang bikin saya membatalkan niat punya rumah di Cikarang, meskipun sebenarnya saya sudah punya.

Ulah Orang Gila
Ulah Orang Gila

Hingga akhirnya…

JAKARTA.

Stasiun Gambir ya masih begini saja. Saya foto sedikit si Mbah Monas sebagai oleh-oleh terakhir Loser Trip ini. Lanjut ke Trans Jakarta arah Harmoni, kemudian turun di Gelora Bung Karno. Dan keberuntungan petualang adalah, begitu turun jembatan, ada bis Lippo Cikarang lewat. Kosong pula. Saya bisa tidur dengan nyenyak.

Dan memang nyenyak. Hanya saja, entah kenapa, saya sudah tiga kali ini, tidur di bis Lippo, dan bangun PAS di pintu tol Cikarang Barat. Kebiasaan petualang? Mungkin. 😀

Si BG saya tebus sesudah saya tinggal dari Kamis. Jalanan Cikarang ya begini ini. Macet. Untungnya sudah biasa. Saya kemudian melengkapi hari penuh junkfood dengan mampir ke McD Jababeka. Dunkin, Hokben, McD. Betapa kapitalisnya hidup saya.

Siang hari yang terik. Saya sampai kembali di kos. Perjalanan berakhir dengan kantong bolong meski nggak overbudget.

Pertanyaan besarnya adalah:

Apakah saya masih loser sesudah perjalanan ini?

Jawaban besarnya adalah:

Iya. Tapi setidaknya saya adalah loser yang berusaha untuk tidak menjadi loser lagi. Meskipun memang belum mendapat kesempatan menghilangkan predikat yang saya buat sendiri itu.

Mungkin memang perlu cara lain. Ya sudah. Yang penting, saya sudah mencatat bandara baru dan stasiun baru untuk dikunjungi. Saya sudah berhasil mengambil foto pakai DSLR dari langit, juga dari kereta api. Saya juga sudah mengabadikan berbagai gambar bagus dengan si Eos.

Tapi yang paling menarik dari perjalanan ini adalah obrolan saya dengan seorang Bapak di Watugong, juga percakapan saya dengan Rio si anak Medan. Sebagai seorang introvert, bisa bercakap-cakap dengan orang baru sepanjang perjalanan adalah sebuah kemajuan yang luar biasa. Untuk konten, tentu ada yang bisa ditarik 🙂

Demikian laporan perjalanan saya. Ada sekitar 5000 kata, alias 12,5% dari sebuah naskah novel. Delapan kali cerita perjalanan macam ini, sudah bisa bikin novel lho.

Saya masih seorang loser, dan mungkin anggap saja saya gila. Tapi sejatinya saya adalah orang gila yang berusaha untuk menjadi waras dan tidak loser. Itu saja sih poinnya.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Semoga memberi kesan yang baik ya. Karena tiada kesan tanpa kehadiranmu.

*iki blog opo pesta ulang tahun?*

😀

Wisma Hasanah, Semarang 250713
Stasiun Tawang, Semarang 260713
Stasiun Hall, Bandung 270713
Kedasih, Cikarang 28290713

@ariesadhar

Cikarang-Jogja 18 Jam

Ini kisahnya sebagian besar sudah ditulis dalam Ada Yang Tertinggal di Jogja dan Ketika Mimpi Itu Jadi Nyata. Tapi rasanya ada yang kurang kalau saya nggak menceritakan detail khusus dari perjalanan ini.

Saya mengambil merk bis yang terkenal, Lorena. Satu-satunya alasan saya menggunakan armada itu adalah karena itu adalah jadwal termalam untuk eksekutif yang saya tahu. Bagaimanapun besoknya saya harus Gladi Bersih, dan itu pasti sangat melelahkan, maka saya perlu istirahat yang cukup di jalan.

Lagipula, dua trip terakhir saya ke Jogja yakni  Desember dan April juga menggunakan Lorena paling malam, dan hasilnya baik-baik saja. Okelah, yang Desember sebenarnya kurang baik, tapi itu karena macetnya Semarang-Magelang-Jogja gegara plat B pada mau liburan *sigh*

Perjalanan nyatanya dimulai jam 9 lewat, telat 1 jam dari jadwal. Saya masuk bis dan segera duduk di bangku nomor 1A, persis dekat pintu. Yah, saya belum pernah ambil seat 1A lagi semenjak kaki ketekuk sepanjang Bukittinggi-Palembang dengan armada Yoanda Prima.

Keluar Tol Cikarang Barat masih seperti biasanya, lanjut sampai ke Cikampek juga biasa saja. Ya, biasanya kan juga macet. Masih masuk akal. Tentunya selepas Cikampek saya nggak melepaskan pandangan dari sisi kiri (sisi utara). Terutama ketika melewati Indramayu.

Intinya sih, banyak yang mulus-mulus di sepanjang jalan itu.

Sekitar jam 11-an, bis akhirnya sampai di Pamanukan. Waktunya makan. Walaupun sebelumnya saya sudah makan mie, tapi bolehlah kalau diisi lagi. Sedikit keluhan sempat muncul di jalan karena bis itu kok rasanya panas sekali. Tapi namanya orang Indonesia, apa iya mau komplain?

Hampir jam 12 ketika kemudian Pak Supir dapat kabar bahwa HARUS menunggu 2 penumpang lagi, yang sedang dibawa sama Bis Purwokerto-an. Ini nih yang paling saya nggak suka dari Lorena, sistem oper-opernya. Di satu sisi itu keunggulan mereka, karena armada yang banyak. Dulu pernah dari Jogja ke Cikarang isi bisnya cuma 3, iya TIGA! Satu Cikarang, satu Cikampek, satunya Lampung. Si Lampung ini ya oper-operan dong. Hehehe.

Selama menunggu, servis AC dilakukan, dan saya malah berkenalan dengan Andreas, si bule dari Salzburg yang sampai sekarang masih nggak masuk akal buat saya kalau dia naik bis.

Sesudah AC beres, Pak Supir dapat kabar bahwa daerah Patrol macet 5-6 Km. Mak! Kilometer macetnya, panjang amat. Awalnya Pak Supir ngikut ke jalur macet itu, tapi kemudian belum 1 Km, udah mandek.

“Ngene tok iki?”

“Mbalek wae.”

Dan pada akhirnya bis besar itu berputar arah, kemudian menuju Subang dan seterusnya sampai saya bangun, sudah di Tol Kanci-Pejagan.

Bis akhirnya sampai di sekitar Brebes, dan ini berarti akan menuju Selatan. Niat awal saya, kalau dia turun di utara, saya kan turun di Jombor, jadi saya bisa langsung beli tiket pulang baru deh capcus ke Taman Budaya.

Tapi kalau lihat jalanan begini, kudu nyari alternatif solusi.

Dan percayalah, saya malah bersyukur bisa naik di bis yang supirnya enak begini. Punya inisiatif, nggak tampak ngantuk, dan ngajak ngomong penumpang. Keren.

Begitu mau ke arah Purwokerto, tahu-tahu ada aroma tidak menyenangkan. Dan nggak lama diikuti asap mengepul dari kotak yang berada PERSIS DI DEPAN SAYA. HUAAAAA!!!

“Mas.. Mas.. Iki kok ketoke kemebul yo..,” kata saya rada gemetar.

Bis lalu berhenti, copot aki, dan ternyata kotak itu isinya panel pengendali sistem elektrik. Syukurlah nggak kenapa-kenapa.

Saya belum pernah ngebis di masa jelang puasa. Kalau jelang lebaran, pernah. Dan jelang lebaran itu jalanannya mulus habis.

Ternyata… yang mulus itu dikerjakan jelang puasa.. -___-

Kena deh saya.

Banyak jalanan yang sedang digarap, dan itulah sumber kemacetannya. Jelas sekali, dan di beberapa tempat panjang sekali. Karena memang sudah kadung jalan, ya mau gimana lagi?

Sampailah kemudian di Karanganyar, dan saya melihat ATM BRI. Segera saya colok HP yang nyaris mati ke Powerbank, lalu telepon 021-121. Yah, jam 11 siang menelepon ke nomor itu jelas banget butuh perjuangan. Dan pada akhirnya ya memang butuh, ada kali 14 kesempatan panggilan sebelum kemudian sampai ke Mbak Sukma.

Transaksi terjadi. Jalanan ini terlalu kejam untuk saya pulang besok Minggu sesuai rencana awal, jadi keberangkatan dari Jogja digeser ke pagi saja.

Dan perjalanan dilanjutkan, disertai obrolan hangat Pak Supir dengan Andreas, yang saya terjemahkan.

Seperti waktu lihat poster “Piye Kabare Le? Penak Jamanku To?”

“Mister, do you know that?”

“Oh yeah. Soeharto.”

Atau ketika Andreas memuji Pak Supir.

“He is a good driver.”

“Mas, jarene kowe supir sik apik.”

“Tenane?”

“Tenan!”

“Weh. Thank you mister.”

Saya ngakak aja di jalanan ini, menemui Pak Supir yang lucu, dan bule Austria yang membumi.

“Ketoke umur e podo aku, Mas,” kata Pak Supir pada saya.

Saya lalu nanya umurnya Andreas.

“Almost fifty.”

“Arep seket, Mas.”

“Actually, fourty eight.”

“Papat wolu, Mas.”

Saya jadi kayak penerjemah presiden di kancah per-PBB-an.

Syukurlah, akhirnya sampai juga di Jogja, tepatnya di Giwangan, nyaris jam 3, dan itu berarti ada sekitar 18 jam saya ada di atas bis Lorena ini.

Saya turun, lalu mengucap terima kasih kepada Pak Supir, dan kerennya, kepada setiap penumpang dia selalu pesan untuk hati-hati. Asli, ini supir keren abis.

Sayangnya saya lupa namanya 😦

Andreas saya ajak ngojek, setelah sebelumnya saya nawar ojek. Mentang-mentang saya bawa bule, mau dimahalin.

“Jalane macet lho Mas.”

“Mas.. Mas.. Aku ki wong kene.. Aku ki yo ngerti dalan e..”

Mungkin dia belum tahu definisi macet versi anak Cikarang.

Akhirnya dengan 20 ribu, saya bisa berangkat ke TBY. Ehm, di Cikarang, ojek 20 ribu itu nggak ada apa-apanya, dan di Jogja saya bisa dapat Terminal Giwangan ke Taman Budaya Yogyakarta. Sebagai konsumen, saya iri. Titik.

Begitulah sekilas perjalanan saya. Meski bukan durasi terlama saya naik bis, karena ke Sumatera saya satuannya bukan jam tapi hari, tapi ini adalah paling lama yang saya tempuh untuk rute Cikarang-Jogja, atau sebaliknya. Cukup layak untuk jadi kisah tambahan di blog ini.

Setidaknya saya jadi tahu, bahwa perjalanan darat menjelang bulan puasa, ada perjalanan yang sebaiknya dihindari. Hehehe..

🙂

Etika Mengirim Email (Lagi)

Kenapa judulnya pakai ‘(lagi)’? Soalnya dulu udah saya tulis disini dan disini juga.

Kenapa saya tulis lagi, soalnya barusan dapat inspirasi tambahan *halah*.

Jadi saya dapat email, isinya sih CV. Seperti biasa, buat tak teruskan ke orang HR.

UntitledJadi emailnya ya begitu doang. Gampangannya konten doang. Tentu posting ini bukan bermaksud bilang yang ngirim beginian salah, soalnya kadang, saya juga email macam itu kok. Dan untuk perkara CV begini, maksudnya dikirim konten doang, juga sudah sering saya alami. Dulu bahkan pernah lihat isi emailnya mantan karena disuruh ngecek, eh dia ngirim email ke HRD sebuah perusahaan dengan cara konten doang gitu.

*tepok jidat*

Ya gini deh, mendapat email konten doang, apalagi dari orang nggak dikenal itu rada runyam. Jangan2 ini SPAM. Ya to?

Nah, SPAM saja kalau ngirim sesuatu kan pakai kata pengantar bla..bla..bla.. Masak kita ngirim surat beneran, lantas kosongan gitu.

Apa sih susahnya nulis:

Dear blablabla,

Terlampir blablabla.

Terima kasih

Best Regards,
Ablublublu

Yah begitulah, saya juga lupa dulu gimana kalau ngirim email. Tapi sehubungan dengan pengalaman yang terus bertambah, perlahan ya akhirnya tahu juga hal-hal etis soal per-email-an. Jadi, sebisa mungkin jangan berikan email kosong, alias konten (attach) doang.

Begitu ya. 🙂

Poelang Kampoeng

Ada suatu masa yang telah berlalu, yang kemudian memberi warna, makna, dan rasa pada kehidupan kita. Itu sudah pasti. Dan pernahkah kita merindukan masa-masa itu?

Saya yakin, pernah.

Dan mungkinkah kita kembali ke masa itu?

Tentu kita nggak akan menjadi muda kembali. Tapi itu bukan berarti kita tidak bisa sejenak pulang dan merasakan kembali masa yang telah berlalu itu.

Yup. Sejenak pulang. Sebuah terminologi yang kurang lebih bermakna ‘kembali’. Sebuah diksi yang sejatinya tidak akan bermakna lebih tanpa kehadiran manusia di dalamnya.

Ya anggaplah dulu kita pernah tinggal di suatu tempat, lalu bertahun-tahun kemudian kita kembali ke tempat itu, tapi kita tidak menemukan orang-orang yang dulu ada di tempat itu bersama kita. Makna pulang jadi kurang terasa.

Maka, apa jadinya ketika orang-orang dengan kerinduan yang sama, memutuskan untuk pulang dalam satu waktu yang sama?

Pastinya sangat monumental.

Dan disinilah itu akan terjadi.

poelang kampoeng

Bermula dari sebuah tantangan sang pelatih yang langsung disambut antusias, maka terjadilah event ini:

Konser Reuni Alumni Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Namanya juga konser reuni, maka yang akan ada di panggung adalah orang-orang yang dulu pernah berjuang bersama di PSM Cantus Firmus, dan kini sudah tersebar di berbagai tempat, yang khusus pulang untuk konser ini.

Mereka datang dari tempat-tempat yang berjauhan, dari barat Indonesia, juga dari timur Indonesia, pun dari sekitar ibukota, hingga dari belahan dunia yang berbeda.

Mereka datang, untuk pulang.

Pernah melihat yang seperti ini sebelumnya?

Untuk itu, jangan lewatkan Konser Reuni Alumni Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini. Digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pada hari Sabtu tanggal 22 Juni 2013.

Untuk reservasi tiket bisa melalui Mbak Niken (08985554109). Sistem pemesanannya juga sudah canggih, jadi bisa memilih bangku yang hendak direservasi hanya dengan klik disini 🙂

Tunggu apalagi? Masih hendak melewatkan peristiwa istimewa ini?

🙂