Tarif Ojek Paling Sinting

“Mana hujan, nggak ada ojek, becek…”

Terima kasih kepada Cinta Laura yang sudah mempopulerkan ucapan ini. Setidaknya tukang ojek jadi dapat promosi gratis. Tapi kalau bicara kata-kata di atas, yang saya ingat adalah ketika saya memasukkan handphone saya yang mendadak berbunyi dan lupa saya silent ke dalam tumpukan sampah kemasan sebuah produk suplemen makanan ternama, hanya gegara 3 meter dari saya sedang duduk seorang manajer Quality Assurance paling galak se-Jalan Raya Bogor. Untungnya beliau lagi fokus pada pekerjaannya sehingga nggak dengar Motorola L6 saya dengan alaynya memperdengarkan lagu Cinta Laura tersebut. Meskipun saya agak kurang yakin itu beneran Cinta Laura pernah bilang begitu, sih.

Baiklah, kita lupakan sejenak Cinta Laura dan beralih pada inti dari postingan ini: ojek. Sebuah fenomena dalam dunia transportasi. Soalnya dibilang tergolong moda kok nggak juga. Dibilang kendaran umum, lah platnya hitam. Jadilah saya bingung. Satu hal yang pasti, kalau OOM ALFA digunakan untuk ojek, bisa dipastikan penumpang tidak akan sampai ke tujuan.

Satu hal yang pasti dialami oleh para pengguna ojek sedunia akhirat adalah soal tarif, terutama pada rute yang memang tidak biasa digunakan. Iya kan? Nah, di postingan ini saya hendak berbagi beberapa tarif dan rute berikut tingkat kelogisan tarifnya. Ada satu alasan utama saya terpaksa membuat posting ini, dan kira-kira itu karena sakit hati sama ucapan seorang tukang ojek.

Sinting kan!