Tag Archives: rosalia indah

Pengalaman Pertama Bersama Batik Air

NAIKNYA KAPAN, DITULISNYA KAPAN.

Ya, namanya juga penulis nggerus. Saya akan lebih mementingkan nggerus daripada nulis tentang perjalanan. Jadi ketika sekarang sempat, yuk, ditulis! Berhubung kemaren saya berhasil mengompori mbak-mbak ini untuk memposting cerita yang throwback, jadi sekarang bikin sendiri. Ini masih untung saya nggak nulis cerita throwback dengan maskapai berikut:

1387810544372_Edit

Alkisah bulan Desember silam saya dapat titah dari bos di rumah untuk menerima raport adek yang dulu kecilnya saya cebokin. Bukan hal mudah, soalnya terima raportnya di Jogja. Wali kelas AKAP. Saya ternyata sebelas dua belas sama Rosalia Indah. Saya sendiri mengiyakan, tapi nggak beli tiket. Biasanya ke Jogja itu cukup 2-3 hari sebelumnya saja ke agen Kramat Djati atau Lorena. Sampai kemudian saya sadar bahwa di hari Jumat saya harus memimpin closing meeting karena kapasitas saya sebagai koordinator tim internal audit. Artinya? Nggak bisa izin pulang cepat untuk naik bis.

Dan saya juga lupa, kalau tanggal itu adalah awal mula liburan panjang menjelang natal. Mana arah saya ke Jogja, pula. Walhasil, begitu sadar, seluruh moda transportasi penuh. Kecuali satu: Batik Air, Business Class. Dengan kondisi mau tidak mau, ya sudahlah, beli! Ini memang bukan tarif perjalanan termahal saya. Paling mahal tetap Garuda Business Class Jakarta-Medan, 2 jutaan, bonus sekabin dengan Ivan Gunawan dan Eko Patrio. Masalahnya adalah uang segitu ditanggung PMPK UGM. Kali ini saya harus menanggung 1,6 juta untuk sebuah perjalanan yang biasanya cuma habis 165 ribu. Untunglah ada THR! Kalau tidak, mungkin harga itu harus dibayar dengan ngelap dinding pesawat selagi terbang.

Nah, jadi gimana perjalanan saya bersama Batik Air? Ini dia.

Flight saya adalah 05.50, dan saya sudah tiba di bandara sekitar jam 4. Kisah kehadiran saya di bandara ini juga ada sendiri, setengah memalukan pula. Jadi disimpan saja. Ketika saya check in sebagai penumpang kelas bisnis, petugas counter langsung memanggil seorang petugas dengan posisi “ambassador”. Ah, ini dia enaknya kelas bisnis! Satu hal yang saya sayangkan, ambassadornya lelaki, padahal saya juga lelaki. #IFYOUKNOWWHATIMEAN

Ambassador ini kemudian mengantar saya ke atas. Sebagai pecinta penerbangan murah, saya sih nggak usah ditemani kalau main-main di T3 sini, sudah beberapa kali juga terbang dari tempat penuh cahaya ini. Tapi ya sudahlah, namanya juga fasilitas. Mas-mas ambassador membawa saya ke lounge di pojokan lantai 2 T3. OKE! SIKAT SEMUA MAKANAN YANG ADA! #NGGAKMAURUGI. Plus, dia juga mengurus boarding pass saya. Dan karena saya pelit, jadi nggak ada tips. Sekian dan silakan beli buku saya, Oom Alfa.

Sesudah menghabisi aneka makanan yang ada di lounge dan gagal mendapatkan plastik untuk membungkus nasi gorengnya, saya bergegas ke ruang tunggu. Dan tidak lama kemudian segera masuk ke pesawat. Kebetulan, saya punya teman blogger yang bekerja di maskapai ini, dan sebuah postingnya langsung membuat saya segera mencari kostum pramugari bermodel seperti apa. Sekadar untuk membenarkan sebuah posting yang pernah dia tulis.

Saya duduk di 1F. Ini pertama kali duduk di pesawat tanpa kursi di depan mata. Begitu saya duduk itu, penumpang-penumpang kelas ekonomi melihat saya dengan tatap tidak percaya, setenganya mencubit diri sendiri, separuhnya menampar-nampar pipi sendiri, seolah berkata, “mana mungkin ada gembel duduk di kursi bisnis?”

Suguhan pertama sebagai penumpang kelas bisnis adalah minuman mungil. Gelasnya bagus, pula. Dan tentu saja lap tangan hangat yang disajikan bersama senyuman hangat. Jadi ingat betapa ndeso-nya saya di penerbangan Jakarta-Medan yang mengira bau setengah hangus itu adalah pertanda petaka, eh…ternyata hanya aroma handuk panas.

Kayaknya sih apel..
Kayaknya sih apel..

Duduk di depan sini ternyata lega banget! Maklum, 70-an penerbangan saya lainnya memang menggunakan kelas ekonomi, sesuai muka.

Begitu pesawat mengangkasa diiringi bunyi sangkakala, saya segera mencoba servis lainnya. Mulai dari layar sentuh, sampai makanan sepanjang jalan. Dasar nasib, layar sentuh saya kayaknya agak rusak, jadi saya tidak bisa buka film, atau apapun. Sementara bapak-bapak di sebelah saya ketawa ketiwi melihat layar sentuhnya. Atau, apakah di layar sentuh itu ada blog ariesadhar.com sampai di ketawa begitu? Semoga.

Soal makanan juga juara. Kece badai, pokoknya. Dan tentu saja nggak semua bisa dihabiskan, apalagi perut saya masih penuh sesudah menjarah isi lounge tadi.

Full service...
Full service…

Satu hal yang agak disayangkan lagi adalah perjalanan ini penuh cuaca buruk. Jadi saya nggak bisa mengoptimalkan si Eos. Belum lagi, untuk pertama kalinya telinga saya bermasalah, suatu hal yang hanya terjadi pada penerbangan Batavia Padang-Jakarta, 2004. Mungkin karena efek duduk di depan ya? Atau karena saya ingat harga tiketnya yang akan menyebabkan saya bakal makan mie instan sewindu ke depan?

Untunglah begitu sampai Jogja, saya masih diberikan kesempatan memotret kota Jogja. Saya kan sering mabur ke Jogja dulu pas LDR, jadi paham bahwa akan ada view cakep di sisi kanan. Jepret, deh!

Mandala Krida
Mandala Krida

Saya lalu mendarat dengan tampan di bandara Adisucipto sekitar jam 7. Penerbangan yang singkat, tapi sukses bikin saya budeg sepanjang jalan. Tapi kalau soal servis yang diterima, bagi saya cukup sepadan dengan harga yang dibayar. Ya, meskipun kalau buat saya, naik kelas bisnis lebih direkomendasikan pada penerbangan yang lebih jauh dari sekadar Jakarta ke Jogja atau Palembang.

Nah, saya boleh kasih masukan sedikit ke Batik Air nggak ya?

Kalau boleh, saya mau kasih masukan soal lounge. Ini mending saya terbang pagi, jadi isu antre ruang tunggu nggak terlalu mengemuka. Soalnya, ini agak beda dengan pengalaman saya sebelumnya ketika lounge ada di dalam ruang tunggu. Jadi, ya santai-santai kayak di pantai sampai ada panggilan boarding. Lah kalau di T3, harus antre lagi. Saya pengen memanfaatkan keunggulan kelas bisnis saya, tapi nggak tahu harus lewat mana. Jadi ya sudah ngantre saja. Jadi, saran aja, kalau memang hendak mengoptimalkan lounge opsinya dua. Satu, pasang lounge di dalam ruang tunggu. Dua, pasang ambassador menunggu di dalam lounge.

Sama satu lagi sih, kalau bisa layar sentuhnya yang bagus dong, kayak punya kursi sebelah. Kan saya iri hati, gitu. Sisanya, boleh deh dipertahankan.

Posting ini sama sekali tidak berbayar, hanya semata-mata nggak pengen THR saya musnah tanpa ada sisa cerita untuk dikisahkan saja, kok. Cuma kalau ada yang pengen dibikinin posting berbayar, ya boleh aja, sih. HAHAHAHAHA. Oya, sebagai penutup, saya hendak menginformasikan bahwa untuk kompensasi kantong, saya kembali ke Cikarang dengan naik…

…Pahala Kencana. #okesip

Bus Cikarang Jogja

Tadi iseng-iseng ngetik keyword bus cikarang jogja, nggak nyangka ternyata blog saya dapat halaman 1 Google.. Hahahaha..

Nah, biar kumplit, dan nggak nyesel masih blog ini, saya share sedikit pengalaman saya tentang naik bus dari Cikarang ke Jogja.

Sejak bergabung jadi warga Cikarang, Mei 2011 silam, saya sudah beberapa kali naik bus. Dan menurut saya, jadwal bus dari dan ke Cikarang ini emang paling oke untuk orang yang hendak PJKA alias Pergi Jumat Kembali Ahad. Kenapa?

Rerata bus dari Jakarta itu berangkat jam 3-an, itu masih jam kerja. Estimasi sampai di tol Cikarang adalah jam 4-5 sore. Dan memang jam segitulah bus-bus jurusan Jogja dan sekitarnya mematok waktu keberangkatan. Jam segitu sudah cocok banget, sudah jam pulang kerja.

Ketika kembali, kalau lancar bus yang berangkat sore dari Jombor akan sampai di Cikarang jam 4-5 pagi. Masih ada waktu beberapa jam untuk tidur sebelum kemudian berangkat kerja. Asli, tidak perlu izin, apalagi cuti.

*salah satu nilai plus kerja di Cikarang*

Ada beberapa tempat untuk mencari bus dari Cikarang ini. Saya biasanya ambil di daerah sekitar pintu tol Cikarang Barat. Ada banyak agen di sini, berserakan lah pokoknya. Mau yang jenis apa aja ada.

Daripada nggak jelas, saya coba cerita yang pernah saya lalui saja ya.

Salah satu yang sering saya gunakan adalah Rosalia Indah. Untuk kelas Exe, kalau nggak salah sekitar jam setengah 5 berangkatnya. Cocok juga buat jam kerja saya. Lokasinya di daerah Tegalgede, dekat dengan tulisan ‘Welcome Kota Jababeka’. Masalah harga, ya, terjangkau lah.. Daripada pesawat. Hahaha..

Lalu saya juga sering pakai Kramat Djati. Ini juga yang jamnya asyik. Terjadwal adalah jam 5 sore berangkat. Jadi, saya bahkan masih bisa pulang molor dari kantor, atau malah bisa mampir ke Carrefour dulu juga. Posisinya di arah putar balik hendak keluar tol Cikarang Barat, di sisi kiri jalan (ya iyalah…), dekat jualan gorengan. Ini juga yang harganya paling oke (menurut saya). Terakhir naik Oktober 2012, saya masih dapat 115.000 sudah include tempat duduk yang ‘lumayan’ jembar, selimut, dan makan malam di Restoran Kramat Djati.

Saya juga pernah beberapa kali pakai Ramayana. Kalau ini saya ambil di loket yang berlokasi di SPBU dekat pintu tol Cikarang Barat. Harganya bersaing dengan Rosalia Indah kalau yang ini.

Di loket yang sama juga ada berbagai jenis bus lainnya. Saya juga pernah pakai Muncul. Ehm, ya dari sisi eksterior, bus yang saya naiki itu agak bikin dahi berkerut, tapi interior dan pelayanan, lumayan kok. Harga juga cukup oke.

Dan ada juga nama besar lain di seberang loket ini (dan jejeran dengan loket Kramat Djati), yakni Lorena. Ini kemarin semacam terpaksa naik karena kebanyakan sudah nggak jualan. Hehehe.. Tapi tentu saja, dengan harga 180 ribu, fasilitas oke punya. Cuma, ya memang menuju Jogja-nya macet, jadi sampai Jogja jam 12 siang (dari Cikarang jam 9 malam teng pas nyos).

Kalau mau yang banyak pilihan, begitu masuk daerah bawah jembatan layang, segera mlipir kiri, nanti dekat Alfamart akan ketemu sebuah tempat yang isinya agen bus semua. Menjelang long weekend pasti tempat ini ramai minta ampun.

Saran sih, kalau mau nyaman, carilah tiket setidaknya seminggu sebelum, jangan dadakan. Ya, meskipun kalau dadakan juga hampir pasti dapat, tapi terkadang jatuhnya kurang nyaman di perjalanan. Oh iya, selama ini saya belum pernah naik yang Ekonomi, karena menurut saya, pengalaman dulu (waktu kecil) naik Ekonomi sudah cukup untuk membuat saya memaksa diri untuk mencari duit lebih supaya bisa naik kelas minimal VIP. *edisi tobat naik ekonomi*

Oke, begitu dulu. 🙂