Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

Dan Satu Lagi Mimpi Jadi Nyata

Saya sedang di kamar, dan tentu saja bukan kamar mandi, karena saya sedang berada di depan Tristan. Di samping saya ada 10 eksemplar buku yang semuanya sama persis. Bukan buku yang biasa-biasa saja bagi saya, karena disitu tertulis nama “Ariesadhar” sebagai penulisnya. Di halaman terakhir bagian dalam juga ada nama dan foto saya.

Judul buku itu adalah “Oom Alfa”, ditulis oleh saya, dan diterbitkan oleh Penerbit Bukune. Satu-satunya penerbit yang ada di otak saya ketika saya menuntaskan naskah “Oom Alfa” itu.

Oom Alfa

Dan saya masih setengah percaya bahwa saya sekarang sudah punya buku sendiri. Makanya, sambil menulis posting ini, saya masih suka lirik-lirik ke tumpukan buku bercover hitam bergaris kuning itu. Masalahnya, di kamar ini memang nggak ada cewek atau bahkan foto cewek sekalipun yang bisa dilirik. Maklum, jomblo.

Ada sekian “kalau” yang kemudian menjadi titik kunci kenapa kemudian mimpi saya untuk menjadi penulis buku akhirnya bisa jadi nyata.

11 Januari 2011, persis ketika saya berganti usia, atasan saya di kantor yang lama memanggil saya ke dalam ruangannya yang mirip akuarium *if you know what i mean*. Sesudah mengucapkan selamat ulang tahun, PakBos bilang macam-macam hal, yang pada intinya kemudian adalah…

…sebuah tawaran untuk promosi.

Saya kerja belum genap 2 tahun, dan sudah ditawari jabatan baru yang lebih tinggi. Hanya orang gila yang akan menolak tawaran semacam itu.

Dan kebetulan, saya termasuk yang gila. Tawaran promosi itu saya tolak. Kenapa? Semata-mata karena hati saya memang menolaknya. Dan ada seseorang yang menjadi tempat curahan hati saya ketika ada tawaran ini, dia selalu bilang, “ikuti kata hatimu”. Perkara tawaran promosi itu yang kemudian menuntun saya mencari-cari, apa sih passion saya yang sebenarnya. Ada kali 1-2 minggu saya bergulat penuh nafsu kegamangan. Sampai akhirnya saya menemukan kembali blog ini, yang pernah saya buat tahun 2008. Ada kok riwayatnya disini, cari aja.

Kalau saja PakBos di kantor lama tidak menawari saya promosi, tidak akan ada blog ini.

Lalu, kemudian, seseorang yang menjadi faktor kunci keputusan saya menolak promosi dengan selalu mengingatkan saya soal hati itu, mengirimi saya link blog-nya. Bahkan saya baru tahu kalau dia itu bisa menulis, bagus pula. Saya kemudian menjadi penikmat setia blognya, bahkan sesudah dia tidak lagi mengirimi saya link postingan barunya.

Sampai suatu saat, dia menulis sebuah cerita pendek. Ahay! Terakhir kali saya menulis cerita pendek adalah ketika perjanjian Renville. Jadi sudah lama sekali saya tidak menulis cerpen. Terpacu oleh blognya, saya kemudian mulai menulis cerita pendek. Sebelumnya, blog saya memang hanya berisi refleksi-refleksi ringan saja, kadang-kadang malah copy paste berita yang ditambahkan sedikit komentar.

Kalau saya tidak membaca sebuah blog yang itu, maka saya tidak akan pernah mulai menulis cerpen.

Cerpen demi cerpen kemudian dihasilkan dari sebuah inspirasi yang datang itu. Hingga kemudian ketika saya buka-buka laptop, saya melihat sebuah foto bersama Alfa. Iseng, saya kemudian membuat posting khusus soal itu. “Cerita Alfa” adalah awal mula dari semuanya. Memang, Alfa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan kehidupan saya.

Sebagai orang yang baru kembali menulis sesudah sekian tahun tidak menulis, naskah tentang Alfa menjadi sebuah PR besar bagi saya, yang pada akhirnya memang selesai juga. Bagi saya, harus ada cara buat saya untuk menjadi penulis di penerbitan mayor, karena itulah yang ada di benak saya ketika saya ogah menapak tangga karier yang lebih tinggi–waktu dapat tawaran dulu.

Nyatanya, ya, jalannya tidak mudah. Tapi tidak perlulah saya berkisah soal ketidakmudahan itu. Mungkin nanti jatahnya ada di kisah benda-benda mati saya yang lain, seperti si LEPI–laptop sebelum Tristan–, atau juga Bang Revo atau Si BG. Akan ada waktunya.

Masih ada sederet kalau yang lain, sampai kemudian “Oom Alfa” bisa mendarat di kamar saya. Sebagai penulis, saya mengalami fase yang lebih baik daripada J.K. Rowling. Naskah pertama saya tidak ditolak. Iya sih, naskah kedua dan ketiga saya yang bergenre Romance malah sudah ditolak. Bahkan kata “Oom Alfa” itu adalah judul asli dari naskah yang saya kirimkan ke Bukune, alias tidak diubah sama sekali.

Melalui posting ini, saya hendak mengucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca setia ariesadhar,com atau yang dulu masih bernama ariesadhar.wordpress.com, karena disitulah sebenarnya embrio dari “Oom Alfa” ada. Kisah-kisahnya masih ada kok di blog ini, tapi saya simpan agar tidak kebanyakan spoiler. Nanti kalian nggak beli. Uhuk.

Terima kasih kepada seseorang yang sudah memberikan petunjuk soal hati pada saya, berikut juga ilham untuk turun tangan menulis cerita pendek, yang lantas malah jadi novel ini. Saya berharap bisa mengucapkan terima kasih secara langsung sama kamu.

Terima kasih juga kepada Bukune, Mbak Windy, Fial, dan Elly, serta tim lain yang ikut serta dalam perdamaian dunia…

…eh, salah, ikut serta dalam proses meluncurnya “Oom Alfa” ke pasaran. Saya ingat betul bahwa Bukune adalah satu-satunya penerbit yang ada di bayangan saya ketika “Oom Alfa” ditulis. Bahkan file-nya, sudah menyesuaikan standar pengiriman naskah ke Bukune. Entahlah, tapi dari hati saya keukeuh bahwa “Oom Alfa” hanya untuk Bukune.

Seperti biasa, mimpi saya akhirnya tercapai dengan tidak mudah. Ada usaha dan rangkaian doa disana. Tentu saja, saya akan berbuat yang terbaik pada buku pertama saya ini. Kalau bisa ya best seller, atau apapun yang lebih baik dari itu.

Thanks all!

🙂

Sudut Pandang Lain Yang Tetap Luar Biasa

Oke. Ini judul asli kurang kreatif. Soalnya saya memang hanya menelurkan masterpiece judul tulisan sesekali saja, dan salah satu judul yang pernah diapresiasi oleh orang adalah 30 Menit Yang Luar Biasa. Judul itu saya berikan pada sebuah posting tentang kisah saya ketika menjadi relawan pengajar dalam Kelas Inspirasi 2, 20 Februari 2013 silam di SDN 03 Palmerah.

Nah, dikarenakan saya sudah pernah menjadi relawan pengajar, maka di event Kelas Inspirasi Bekasi yang dihelat pada 11 September 2013, saya mau coba alih profesi sebagai fotografer. Baiklah, saya seorang APOTEKER, yang merangkap BLOGGER, dan sekarang saya jadi FOTOGRAFER. Uhuk. Saya jadi FOTOGRAFER tanpa tahu banyak soal konsep-konsep fotografi. Terima kasih kepada panitia yang atas dasar foto-foto di halaman ini, mau memilih saya sebagai fotografer.

Kenapa saya pengen jadi fotografer? Alasan pertama adalah karena saya sudah pernah merasakan nikmatnya mengajar, jadi pengen sudut pandang lain dalam konteks turun tangan dengan memberi inspirasi. Kedua, karena dulu saya belum punya si Eos, dan sekarang saya sudah punya si Eos yang kemarin saya bayar cicilan ketiganya.

Ya, walaupun kredit, yang penting tidak menimbulkan konspirasi kemiskinan. Tenang saja.

Jadi, bagaimana cerita saya hari ini?

Saya bangun pagi buta dari gua hantu. Eh, itu si buta. Maaf, salah. Sekitar jam 5 pagi saya sudah bangun dan harus mandi serta menggosok gigi mengingat di kos-kosan saya ada banyak anak pabrik yang berangkat jam 6. Untungnya saja, saya sudah berhasil menularkan virus inspirasi pada salah seorang anak kos yang juga adek kelas saya waktu kuliah, si Bayu. Jadi, kita sama-sama bangun lebih pagi. Bayu sendiri bertugas memberikan inspirasi soal pekerjaannya sebagai apoteker si pembuat obat di sebuah SD di Jatibening.

Jam 05.45, saya dan Bayu meninggalkan kos, dan tentu saja tidak meninggalkan kenangan. Kami berpisah di POM bensin Pintu Jababeka 2 karena dia akan naik bis, dan saya akan melajukan si BG ke Bekasi via jalur heroik bernama Kalimalang. Percayalah, 2 tahun lebih saya jadi penghuni Kabupaten Bekasi, si BG baru kali ketiga ini menginjak Kota Bekasi. Namun mengingat SD tempat saya hendak foto-foto letaknya dekat dengan jalur Kalimalang, jadi sekalian saja. Seandainya saya dapat di Bekasi Barat, mungkin akan beda kisahnya.

Perjalanan saya bisa dibilang melawan arus karena kebanyakan di jalur itu adalah orang yang tinggal di Bekasi dan hendak kerja di Cikarang. Jadi, perjalanan saya semacam santai kayak di pantai saja. Tapi sesantai-santainya, tetap saya butuh waktu 30 menitan. Saya masuk ke sebuah gang di depan BTC pada pukul 06.15, dan tugas DIMULAI.

Oya, tim saya kali ini tentu saja beda dengan yang dulu. Sekarang timnya lebih kecil dengan hanya 4 relawan pengajar dan 1 fotografer. Maksud saya daftar fotografer itu mungkin kayak Nanda dan Oka, ada dua, jadi bisa gantian. Eh, malah dapat sendirian deh. Hiyuh.

Ini dia timnya.

Kelompok 2
Kelompok 2

Kebetulan sekali bahwa di KI 2 saya kelompok 2, dan di KI Bekasi ini, kelompok 2 juga.

Ada Mbak Wulan, seorang dosen dengan basic teknik sipil. Dan kalau melihat penampilannya, saya asli nggak nyangka kalau dia punya gelar akademik yang aduhai. Paling senior di kelompok 2, tapi pasti banyak orang yang salah menerka jarak angkatannya dengan saya dan Alvan.

Ada Alvan, seorang engineer di provider telekomunikasi paling terkemuka di Indonesia.Kenapa paling terkemuka, karena saya pakai provider itu. Yah, ini sungguh alasan yang mencuatkan kontroversi hati. Latar belakang Alvan adalah Teknik Elektro.

Ada Bimo, staf di KPU. KI memang keren, sampai-sampai saya punya kenalan orang yang mengurus Pemilihan Umum gara-gara KI ini. Didapuk sebagai ketua kelompok, Bimo menjadi orang yang bertugas membawakan ID KI pada manusia-yang-tidak-datang-briefing seperti saya. Pak Ketua ini berbasis pendidikan Hukum.

Dan terakhir ada Petra. Gadis Batak dengan marga yang sama dengan guru kelas VI d SD Margahayu 22 dan tentu saja marga yang sama dengan bos saya. Marga apa itu? ADA DEH. Di KI ini, Petra akan lebih memberikan inspirasi sebagai petualang. Soal basis pendidikan, Petra adalah yang mengospek Alvan. Dunia memang sempit kayak celah sumpit.

Saya sendiri, walaupun menulis APOTEKER di ID, tapi tidak usah dihitung ya.

Empat kawan baru saya ini membawakan materi masing-masing di 3 kelas. Jadi kelas 1-2 digabung, 3-4 juga, dan demikian pula dengan 5-6. Ini tentu beda dengan yang saya alami waktu 6 kali 30 menit langsung bablas mengajar waktu di Palmerah. Dan modal mereka untuk mengajar sungguh mantap. BEDA BANGET SAMA SAYA DULU YANG CUMA BAWA KOTAK OBAT DAN SULAP PENUH DILEMA.

Oke, santai.

Manisnyaaa
Manisnyaaa

Alvan membawakan soal telekomunikasi, dan memperkenalkan anak-anak SD pada teknologi Skype. Di 3 kelas, dia melakukan komunikasi via Skype dengan teman-temannya di luar negeri. Jadilah anak-anak SD bisa dadah-dadah sama om dan tante yang ada di luar negeri sana.

Bimo sendiri, sesuai per-KPU-annya, membawakan topik pemilihan umum di kelas, mulai dari memilih buah, sampai memilih ketua kelas. Ah, tentu saja runyam. Plus, Bimo membawakan alat peraga berupa gambar-gambar tokoh, dan…

…ternyata pengetahuan anak-anak tentang Iqbal CJR lebih baik daripada pengetahuan mereka tentang Ibu Megawati. Itu fakta.

Petra membawa topi pantai, dan aneka perkakas petualangan lainnya. Dan yang jadi rebutan anak-anak itu adalah foto-foto yang cantik-cantik dari luar negeri. Saya paling terkesan sama anak ini:

Pokoknya Eiffel
Pokoknya Eiffel

karena dengan teguh kukuh berlapis stainless SS 316 mempertahankan foto Eiffel, dan dengan quote:

“Biar udah sobek juga nggak apa-apa, gue suka banget sama Eiffel…”

Iya, itu foto sudah sobek, efek dari rebutan. Hati juga kalau dipakai rebutan juga bisa sobek kok.

Dan Mbak Wulan yang paling modal dengan segala alat peraganya. Mulai dari jembatan kayu, sampai aneka gambar gedung-gedung dan bangunan ternama. Namanya anak-anak, begitu lihat barang baru, ya dirubung kayak playboy ketemu cewek caem.

Penasaran...
Penasaran…

 

Sebuah konsep bagus juga yang saya dapat dari sini adalah:

“Melewati jembatan mungkin cuma butuh 2 menit, tapi membangunnya bisa jadi butuh 2 tahun.”

Ah, mungkin demikian juga dengan membangun hubungan…

…eh, kebablasan galau.

Sebuah sudut pandang lain saya peroleh dengan menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mengabadikan momen di Kelas Inspirasi kali ini. Kalau dulu saya punya konsep memperkenalkan profesi apoteker sebagai poin utama, sekarang justru saya menangkap senyum, tangis, dan teriakan dari anak-anak itu sebagai inti kerja saya.

Ya, senyum-senyum itu berseliweran di depan si Eos dan sampai saya lumayan sebel sama satu anak yang nongol dimanapun Eos berada. Perhatian mereka pada kamera ternyata lumayan juga, dan lumayan bisa mendistraksi perhatian yang seharusnya diperoleh oleh relawan pengajar. Yup, menjadi orang yang merekampun ternyata tidak sesederhana yang tampak.

Terimakasih Tripod
Terimakasih Tripod

Dan saya tidak akan paham kalau saya tidak menjalaninya.

Saya juga menyempatkan diri jajan di belakang sekolah dan mendapati masih ada nasi goreng harga 1000, tentu saja dengan porsi anak-anak. Dan tentu saja, nggak di PokWe, nggak di burjo, minuman saya tetap yang warna warni.

Monggo Mas
Monggo Mas

Yah, saya mencoba mencari sudut pandang lain dan saya memperolehnya. Saya juga belajar banyak soal menangkap momen pada hari ini. Sebuah pembelajaran luar biasa bagi fotografer dengan kamera masih tiga kali angsur lagi. Dan kesimpulan saya tetap sama bahwa mengajar itu sulit.

Poin utama saya juga tetap sama, bahwa tidak ada salahnya membangun mimpi anak-anak itu, yang datang dari latar belakang anak ABK, pemulung, sampai bakul tisu di bis. Memberikan inspirasi ini hanya sebuah langkah kecil dari sebuah mimpi yang besar.

Anggi Mau Jadi Guru

Satu lagi yang menjadi poin saya sejak menjadi anak KI–dibuktikan dengan 2 ID tergantung di kamar–bahwa bergaul dengan orang yang penuh semangat positif sejatinya memberikan dampak yang positif juga dalam diri kita. Ketika ada orang yang rela cuti untuk berbagi inspirasi, padahal hak cuti itu setahun hanya ada 12, apa tidak positif itu namanya?

Saya masih mendapati teman-teman yang merasa pekerjaannya bukan sebuah inspirasi, atau merasa hal semacam ini nggak penting. Masih ada, dan mungkin akan tetap ada. Tapi saya hanya hendak bilang, cobalah masuk ke wadah semacam ini, bertemu dengan orang-orang bersemangat positif, lalu perhatikan apa yang akan terjadi kemudian.

SUPER SEKALI BUKAN?

484 foto saya dapatkan dari jepretan si Eos, dan itu juga penyebab posting ini tidak sepanjang kisah saya di Kelas Inspirasi sebelumnya. Tapi percayalah, meskipun sudut pandangnya berbeda, rasanya tetap LUAR BIASA!

IMG_2422

WHOOOSHHHHH!!!!

Petualangan #10daysforASEAN

Terima kasih kepada nasib yang sudah membantu saya bertemu dengan acara sosialisasi komunitas ASEAN untuk para @aseanblogger. Untung juga saya mendaftar lewat Kompasiana, padahal ya saya itu sudah follow @aseanblogger beberapa waktu. Dan untung juga saya menahan diri untuk tidak pulang sebelum acara berakhir, seperti banyak pemirsa lainnya. Karena di saat terakhir inilah saya dapat info ketika Mbak Indah bilang bahwa akan ada lomba blog #10daysforASEAN.

YEAH!

Oke. Niat awal saya menunggu sampai malam adalah kali-kali menang lomba livetweet. Tapi saya juga sadar sih, dengan si Young yang ngedrop 4 kali selama acara, nggak mungkin juga saya menang lomba itu.

Menulis cepat itu adalah keahlian saya, tapi soal isi ya nanti dulu. Saya bisa saja disuruh menulis 1 postingan atau 1 cerpen dalam waktu cepat, tapi dengan kualitas yang diragukan. Itu kenapa banyak posting di blog ini yang pendek-pendek, termasuk mungkin posting yang ini. Nah, karena menulis cepat itu saya bisa, akhirnya saya email ke Mbak Ani Berta untuk menjadi peserta #10daysforASEAN.

Begitu hari pertama nongol temanya, saya langsung bingung. Seperti yang bisa dibaca di posting saya berjudul Salon Thailand? Siapa Takut? ini. Saya tulis disitu bahwa seumur-umur ke salon itu ya cuma dua kali. Sisanya saya ke barber shop alias tempat potong rambut khusus lelaki. Bagaimana ceritanya saya mau menulis soal salon kalau latar belakang saya seperti itu? Apalagi pakai embel-embel Thailand pula. Maka, setelah garuk-garuk aspal, saya kemudian memberanikan diri menulis posting itu, dan hari pertama selesai.

Topik kedua nongol dengan indahnya, dan bikin ingat mantan.

#sigh

Ya, persis seperti yang ditulis di posting #10daysforASEAN saya yang kedua ini. Saya sendiri juga kurang paham soal percandi-candian. Saya lebih paham pergalauan soalnya. Jadi, topik hari kedua ini benar-benar memaksa saya untuk browsing. Eh, kok ya kebetulan kalau browsing pakai bahasa Indonesia yang nongol adalah kabar bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman alias Salomo. Daripada saya ngakak ngehek, jadi saya cari pakai bahasa Inggris saja. Pas benar dengan hasil diskusi di ruang Caraka Loka bahwa bahasa Inggris itu penting. Nah gara-gara Angkor Wat ini, saya jadi belajar bahasa Inggris lagi.

Hari ketiga dimulai dengan tantangan yang sungguh oye. Menciptakan usulan nation brand dalam waktu singkat. Apalagi saya kemudian pulang malam karena besoknya akan cuti. Jadi harus pandai-pandai memilah dan memilih istilah yang bagus. Hingga kemudian saya menemukan istilah Indonesia, A Tropical Paradise. Orang marketing saja susah payah berhari-hari mikir merk yang oke, lha ini saya mikir dalam waktu 1 hari, disambi-sambi meeting sana sini. Untung nggak berubah jadi Indonesia, Meeting Sana Sini. Kan berabe.

Masuk hari keempat mulai susah. Di hari Kamis saya ada perjalanan ke Montong dalam urusan penerbitan buku. Malamnya dilanjutkan perjalanan kereta api ke Jogja. Sudah begitu, saya dikasih tahu teman yang ikutan #10daysforASEAN juga soal topiknya via Whatsapp. Topiknya soal Visa Myanmar pula. Pusing saya. Sambil menikmati perjalanan via Kopaja AC Ragunan Monas, lalu kemudian menatap galau busway yang nggak lewat-lewat di Sarinah, akhirnya saya menulis juga dengan gamang di ruang tunggu Stasiun Senen, dan nge-tweet laporannya ketika saya sudah di dalam kereta api Senja Utama Solo. Dan di ruang tunggu itu, cuma saya yang lagi ngetik pakai laptop. Ini stasiun pula, bukan bandara.

Saya lantas sampai Jogja dan nangkring di kos-kosan adek saya yang bungsu. Begitu ngulet habis bangun sesudah terkapar saya melihat kopi dan merknya sama dengan kontes blog kopi yang sedang saya ikuti. Jadi urutannya, lihat kopi, ingat kontes blog kopi, lalu ingat blog, kemudian ingat kewajiban posting untuk #10daysASEAN di blog. Urutannya panjang sekali, sedikit lebih panjang daripada jalan kenangan. Nah, begitu saya buka topiknya, eh, soal kopi.

Saya sedikit mengutuk diri karena saya punya banyak bahan menulis tentang kopi tapi itu di laptop saya yang lama, yang sudah rusak. Itu dulu saya pengen nulis soal kopi, dan sudah seperenambelas jalan. Bahannya lumayan banyak. Yah, tapi ya sudah, saya menulis saja soal Kopi ASEAN.

Hari Sabtu, saya sudah mikir bahwa bakal sulit. Hari itu adek saya sumpahan apoteker. Dan pastinya akan rempong sedunia. Kapan saya mau ngeblognya, dan kapan saya mau nyari bahan juga kalau topiknya susah. Pas topik keluar, tentang Laos pula. Nggak ada bayangan di kepala selain fakta bahwa Laos itu termasuk herbal, teman-temannya kayu manis, dan daun bungur yang saya kelola sehari-hari.

Untungnya saya punya adek anak IPS. Begitu saya bilang Laos, eh dia menyebut soal negara tanpa pantai, sungai Mekong, dan bla…bla…bla.. lainnya. Akhirnya saya tulislah posting itu. Dan sesungguhnya, posting soal Laos ini adalah satu-satunya posting yang digarap di banyak tempat. Mulai dari Ruang Multimedia Kampus III USD Paingan, ruang tunggu Kencana Photography, meja makan restoran Jejamuran, sampai kamar kos adek saya. Cukup heroik untuk sebuah lomba blog yang pernah saya ikuti.

Minggunya dapat topik yang susah juga, soal perbatasan Singapura-Malaysia. Dan hari Minggu itu bahkan saya tidak sempat ke gereja. Karena sepagian saya sudah berangkat ke Sendangsono untuk ziarah rohani, dan kemudian diteruskan dengan perjalanan pulang ke Cikarang. Saya nggak mungkin buka laptop di terminal Jombor, pun di atas bis Rosalia Indah. Untungnya bisnya sampai lumayan subuh, jadi saya segera bisa menulis soal Peta ASEAN. Begitu kelar nulis, eh sudah jam 6 dan saya sudah harus berangkat kerja karena ada pengiriman bahan baku jam 7.

KAPAN SAYA TIDURNYA???

Senin ke Senin, sudah seminggu saya mengikuti #10daysforASEAN dan hitung-hitung tentu saja topiknya nggak akan jauh-jauh dari Filipina. Eh, bener juga. Hari Senin 2 September topiknya tentang kebebasan berekspresi dan mengambil latar Filipina, sebuah negara yang sudah kenal People Power bahkan sebelum saya lahir. Dan karena riwayatnya nggak jauh-jauh dari yang saya ingat semasa SD, jadi menulis soal People Power ini jadi lumayan tidak menyiksa.

Nah, hari kesembilan. Tinggal kurang Brunei sama Indonesia. Sudah pasti Brunei. Saya sudah kepikiran saya soal minyak. Eh, nongolnya kok malah KTT ASEAN dan tiga pilar. Lalu saya mau nulis apa? Ya, pada akhirnya dengan segala sesat pikir, saya tulislah tulisan yang menggelegar ini.

Sampai di hari ke-10, hari terakhir, saya kira sudah tinggal evaluasi, kesimpulan, dan saran. Dan ternyata saya salah lagi, saudara-saudara. Pantas saya jomblo, menebak topik saja saya salah, apalagi menebak isi hati perempuan.

#EAACURHAT

Di hari terakhir ini pembahasannya soal Jakarta. Kebetulan saya pengikut berita Jokowi Ahok, jadi cukup paham kemajuan Jakarta sejak duet maut itu menjabat dan tentunya kaitan dengan keberadaan Jakarta sebagai ibukota ASEAN.

Dan selesailah sudah.

ZZZZZZZZ…

Mengingat track record saya yang baru sekali dapat hadiah dari lomba blog, itu juga voucher 100 ribu yang merupakan hadiah hiburan dan jumlah hadiah hiburannya ada 45, plus nyaris menang di lomba blog Batik karena masuk nominasi saja, jadi saya cukup pasrah untuk tidak menang di #10daysforASEAN ini.

Setidaknya, karena #10daysforASEAN ini blogpost saya nambah 10 (HAHAHAHAHA), dan saya bisa menulis topik berat dengan bahasa gelo. Saya paling suka posting sepele saya yang “Aku Nggak Punya Visa”. Entah kalau yang lain ya. Kebetulan pula, ketika saya ikut lomba ini, kok pageview saya nggak nambah banyak ya? Hiks. Setiap hari saya memantau pageview saya dan angka segitu-segitu saja, maksudnya rata-rata sama dengan hari-hari lainnya. Bukan apa-apa sih, kalau pageview masih segitu-segitu aja, gimana saya bisa mempromosikan Komunitas ASEAN 2015? Sebagai seorang yang pas di Caraka Loka disapa blogger, saya merasa gagal.

Sedikit masukan saya ke panitia adalah lebih kepada hal teknis. Soal pendaftaran lebih dahulu ini saya suka banget. Ini sekaligus menguji komitmen seseorang. Masukan saya sepele saja kok. Semisal updatenya dibentuk dalam model spreadsheet di Google Docs, itu bakal lebih enak. Jadi kolom 1 adalah list peserta plus nama blognya, lalu kolom ke-2 sampai 11 adalah link blogpost mereka. Jadi kita bisa tahu nih, sudah masuk atau belum dan nggak repot scroll atas bawah.

Saya tahu mengelola kontes macam ini susah, jadi usul saya nggak repot-repot kok.

Salam #10daysforASEAN!

Tentang USB Flashdisk

Kemaren habis ikut acara ASEAN Blogger dan rada kaget waktu registrasi ulang. Kenapa kaget? Karena selain dapat kaos, saya juga dapat sebuah USB Flash Drive JetFlash 16 GB. Wew. Ini USB Flashdisk dengan kapasitas terbesar yang saya punya. Lumayan untuk back up foto-fotonya si EOS. Mungkin juga bisa sekalian back up foto-foto mantan gebetan.

Dan karena benda yang satu ini, saya jadi ingat USB Flashdisk pertama saya. Jujur saya lupa merk-nya apa, kalau tidak salah sih My Flash. Benda itu dua tahun yang lalu saya hibahkan ke si Dani, katanya untuk pelajaran TIK. Itu pelajaran apa sih? Tidak Ingin Kehilangan? Tetap Ingin Kembali?

Selanjutnya

Saya Orang Indonesia

“Kamu orang mana?”

“Orang Indonesia.”

Itu jawaban saya untuk setiap pertanyaan yang muncul kepada saya soal asal muasal saya. Yup, identitas ‘kamu orang mana’ sebenarnya sangat identik pada kesukuan sih. Tapi, sebagai keturunan Jawa Batak yang lahir di Minang, saya harus jawab apa kalau begitu?

Selengkapnya

Menjadi Author Di Goodreads

Sesudah menjadi auditor (internal) sejak 2009, saya mulai mlipir ke cita-cita saya sebenarnya. Iya, sebenarnya saya itu pengen menjadi author alias penulis. Auditor sih semacam kesenangan belaka. Dan kita tahu bahwa kesenangan itu fana, saudara-saudara!

*apa coba?*

Nah, sesudah turut serta di buku “Kebelet Kawin, Mak!” (Gradien, 2012) dan “Radio Galau FM Fans Stories” (Wahyumedia, 2012), saya join juga di buku “Curhat LDR” (Gradien, 2013). Dan karena buku KKM merupakan atas nama Blogfam, serta yang kedua atas nama Radio Galau, jadi nggak bisa diklaim.

Uraian lengkapnya

“Aku dan Cantus Firmus”

Pagi tadi, bangun tidur saya terus tidur lagi. Namanya juga buruh di hari Sabtu. Mumpung bisa bangun siang kenapa tidak? Nah, sesudah bangun yang kedua kalinya, saya lalu iseng buka Youtube dan tiba-tiba jari-jari mengarahkan ke video penampilan saya bersama Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini. Itu adalah penampilan resmi terakhir saya bersama PSM CF (singkatannya), dengan status sebagai mahasiswa. Terjadi pada suatu hari di bulan Desember 2007.

Long time ago.

Mendadak saya mengingat-ingat, kok bisa saya bergabung dengan PSM CF ini. Sebenarnya kisahnya sih agak unik juga. Jadi–buat ngisi postingan aja–saya mau flashback perihal masuknya saya sebagai anggota PSM CF ini.

Sesudah menggalau karena nggak keterima UM UGM, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar (lagi) ke USD. Sebagai manusia dengan nama yang sama persis dengan nama universitas, saya setengah terpaksa mendaftar kesini. Tapi saya nggak kebayang saja kalau saya masuk universitas lain di Jogja dengan nama saya ini. Mau jadi apa saya ketika Ospek nanti?

Ya sudah, USD saja.

Saya lalu membuka-buka buku promosi USD yang saya dapat waktu di sekolah. Saya lalu memilih Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang hendak saya masuki. Ada 3 yang saya tunjuk ketika itu, radio, penerbitan, dan paduan suara. Kalau radio, mungkin itu efek karena beberapa bulan sebelumnya saya sempat siaran di acara “High School Jam” Radio Swaragama. Untuk penerbitan, tentunya semacam retorika. Sebagai mantan anggota Cas Cis Cus di JB, saya memang identik dengan jurnalisme. Waktu itu belum kenal jurnalisme galau sih. Dan paduan suara? Entahlah. Saya pengen aja. Padahal di sekolah, saya juga nggak ikut paduan suara.

Sampai kemudian Expo di Insadha 2004 itu, saya “melewatkan” PSM CF yang adalah UKM paduan suara yang sempat hendak saya masuki. Saya justru fokus di UKM penerbitan, termasuk mendaftar dengan legal dan resmi. Adapun hal yang membuat saya keder masuk PSM CF adalah begitu mengetahui kalau tesnya pakai acara baca not segala.

Ya udah. Lewat.

Saya lantas join ke UKM majalah kampus. Tapi nggak lama. Sesudah satu pekan penuh pembekalan dan satu kali kunjungan ke sebuah kampus yang tidak jauh dari SMA saya, akhirnya saya memilih lari dari kenyataan. Ada kalanya keyakinan itu muncul belakangan, dan kala itu saya yakin kalau penerbitan kampus ini bukan jalannya saya.

*kemudian lari tunggang langgang*

Sampai kemudian saya tidak tergabung di UKM mana-mana. Saya resmi menjadi mahasiswa biasa yang tidak berniat aktif, sampai suatu saat sesudah praktikum, saya lewat di Lorong Cinta dan menemui latihan PSF. Ini adalah Paduan Suara di tingkat Fakultas. Fakultas Farmasi tentu saja. Saya ditarik untuk bergabung ketika itu, dan kok ya mau saja.

Lagu waktu itu adalah “For The Beauty of This Earth”. Dan saya kemudian terjebak dalam kengawuran hidup saya dalam 1 tahun penuh. Iya, asli ngawur, karena saya masuk ke suara TENOR. Enggg, waktu itu saya masih kurang paham soal bernyanyi sih. Jadi, mohon dimaklumi. Plis, sekali ini saja. Plis.

Nah gitu kan oke.

PSF ini kemudian yang membuka mata saya soal menyanyi. Di PSF inilah saya belajar soal bunyi Do Re Mi Fa Sol La Si Do, termasuk Do Di Re Ri Mi Fa Fi Sol Sel La Sa Si Do. Juga tentang modulasi dan nada dasar. Di bawah asuhan Mbak Ina yang teriakannya legendaris dari ujung lorong satu ke ujung lainnya, saya bertumbuh kembang sampai akhirnya ikut semua tugas PSF dalam periode 2004/2005, kecuali pada misa perpisahan Romo Andalas, yang waktu itu hendak studi ke luar negeri.

Di sela-sela itu, sekitar bulan Desember 2004, ada event bernama Golden Night. Sepertinya sih rangkaian dari 50 tahun USD. Saya sempat melihat beberapa teman saya berdandan rapi karena hendak tampil menyanyi disana. Iya, mereka adalah anggota PSM CF.

Dan entah kenapa, saya jadi pengen seperti mereka.

Anak muda emang kebanyakan keinginan.

Saya lalu join Insadha 2005 sebagai pendamping kelompok, kejatahan kelompok 24. Banyak dinamika yang saya alami di posisi ini, termasuk juga meninggalnya Mbah Kakung. Dan dinamika yang jelas justru ketika saya mengantarkan anak-anak kelompok 24 ke stand PSM CF waktu Expo UKM di Insadha 2005. Sambutan teman-teman saya sesama Farmasi, yang juga anggota PSF (oya, namanya PSF Veronica), membuat saya mengingat kembali keinginan menjadi seperti mereka.

Saya lalu mikir dan mikir, juga menimbang faktor perkuliahan yang tambah padat, dan IP saya semester 2 yang lumayan cakep dibandingkan semester 1. Hasil mikir dan mikir, saya kemudian memutuskan untuk mendaftar PSM.

Terlambat 1 tahun, itu pasti. Teman sekelas saya sudah 1 tahun bergabung disana. Saya juga akan bergabung dengan anak-anak yang menjadi dampingan saya selama Insadha. Dan terlambat 1 tahun sebenarnya bermakna semakin pendek waktu saya kalau nanti join PSM CF.

Ya udah, daftar aja dulu. Belum tentu juga diterima kan?

Saya mendaftar di hari terakhir. Juga tes di hari terakhir. Semua serba terakhir, karena pada saat yang sama lagi ada event Pekan Ilmiah Mahasiswa Farmasi Indonesia (PIMFI) yang mana saya menjabat sebagai bendahara. Pertama kali dan terakhir kali saya jadi bendahara. Hehehe.

Tesnya ternyata dimulai dengan wawancara. Sebagai orang yang dalam 1 tahun sudah berkali-kali diwawancarai ketika mau gabung kepanitiaan, tentunya semua bisa saya lewati. Cuma wawancara ini, asal mbacot juga bisa.

Yang nggak bisa mbacot itu, tes berikutnya.

Namanya: Tes Intelegensi. Tes yang bikin saya keder untuk gabung PSM CF setahun silam.

Kalau tadi saya ketemu Mbak Lia dan Budi. Sekarang saya ketemu Mbak Citra dan Mas Dede. Di depan saya ada sekumpulan angka untuk dibaca. Iya kalau angkanya benar. Lha ini angkanya salah-salah. Maksudnya, notnya pakai acara coret sana sini, jadinya kan Di Ri Fi Sel Sa itu muncul semua.

Sontak saja saya keringat dingin.

Apalagi lanjutannya adalah tes ketukan. Mbohlah apa saja yang saya ketuk dengan bunyi Pam Pam Pam sebagai pengganti X yang tertulis di soal. Soal ketukan ini, saya sebagai Tenor penganut Gandulisme di PSF, tentu gandul tetangga sebelah. Lah kalau sendirian begini, saya gandul siapa?

Hingga tes terakhir, pemetaan suara. Saya disuruh baca not sampai ke bawah. Sampai kemudian Mbak Citra bilang, “Kamu itu bass asli.”

TERUS KENAPA SELAMA INI SAYA JADI TENOR? SALAH KOK SUWI BANGET?

Hampir jam 10 malam saya menyelesaikan tes masuk PSM CF itu. Sebagai manusia yang selalu ingin pulang malam–karena suatu hal yang bisa dicari tahu disini–maka jam 10 itu menjadi sangat biasa. Saya pulang dengan anggapan nggak akan lolos. Apalagi soal tes intelegensi tadi.

Saya pun menjalani hari-hari seperti biasa. Sampai akhirnya Finza bertanya pada saya waktu praktikum.

“Kamu tuh niat nggak daftar PSM?”

“Kalau nggak niat ya saya nggak daftar.”

Tidak lama sesudah saya menjawab begitu ke Finza, saya mendapati pengumuman yang menyertakan nama saya di deretan anggota baru PSM CF yang diterima. Tentu saja dalam kategori suara Bass.

Ya. Saya jadi anggota PSM CF juga pada tahun 2005 itu.

Buat saya, ini kadang menjadi aneh. Tapi justru menjadi kebanggaan besar. Kalau waktu itu saya nggak mendaftar CF, maka nggak akan ada penampilan yang bisa dilihat di bar yang ada di atas, pada tab “My Performance”. Sebagian besar itu bersama CF lho. Kalau nggak ikut CF, mana ada kisahnya saya mewakili kampus untuk sebuah lomba.

Bahkan semuanya berlanjut hingga saya lulus, termasuk juga bisa tampil di Taman Budaya Yogyakarta dalam Konser Reuni PSM CF. Coba, kasih tahu saya PSM mana yang sudah membuat konser yang mengumpulkan alumninya?

Dan kalau nggak gabung CF juga, nggak mungkin saya “menelurkan” buku dengan judul yang sama dengan tulisan ini, bersama beberapa teman lain.

Serta berderet “kalau nggak” lainnya.

Ya, tentunya ada yang dikorbankan. Tapi menjadi mahasiswa S1 tanpa harus terbebani tanggungan hanya bisa dilakoni sekali seumur hidup. Maka, tidak pernah ada penyesalan dengan IP jongkok saya di S1, karena dibalik itu saya punya banyak pengalaman, yang sebagian diantara terjadi karena saya bisa bergabung dengan PSM CF.

Golden Voice Member
Golden Voice Member

Ini cerita saya. Hendak berbagi cerita yang lain? Silakan 🙂

030813 @ariesadhar

Revisi ariesadhar.com

Saya sadar sepenuhnya bahwa secara konten blog ini kacau sekali. Tapi dulu itu kan maunya blog ini untuk menampung keinginan saya menulis. Jadi apapun saya tuliskan.

Nah, kalau mau jadi blogger yang benar, dan mengingat sudah saatnya saya memonetisasi blog ini, dengan tidak menghilangkan kandungan ‘just a script’ yang menjadi roh blog ini, maka saya harus merevisi.

Jadi, gimana enaknya?

Akhirnya sih saya putuskan untuk mengaktifkan eks blog bermerk ariesadhar.blogspot.com yang saya buat sewaktu blog ini kena blokir. Agar tidak rancu, nama itu saya off, dan saya pakai nama alfarevo.blogspot.com.

Nah, beberapa tulisan yang sepi pembaca dan NOL komentar akan saya pindahkan kesana. Iya, benar-benar hanya copy dan paste. Nah, tulisan aslinya dengan berat hati akan masuk ke Trash.

Mau nggak mau ya begitu.

Jadi ke depannya, isi blog ini nggak akan terlalu sering tapi pendek-pendek (seperti posting ini). Sesudah menulis Loser Trip, saya jadi paham gunanya menulis draft dan mengecek berulang kali sebelum ditampilkan.

Hehehe.

Penulis yang baik harus selalu memperbaharui diri kan?

Begitu saja. Selamat menikmati perubahan minor di blog ini 🙂

Kumpul Bocah

Kemarin habis kumpul bocah, di rumahnya Robert. Yak! Betapa indahnya dunia ketika orang yang tahun 2008 silam masih sama-sama dengan saya garap makalah Ekonomi Farmasi tentang PT. Ferron, sekarang sudah punya rumah dan punya istri. Waktu itu saya garapnya sama Yoyo. Yang ini malah sudah punya rumah, punya istri, dan punya anak.

Saya? Pacar aja belum.

Banyak hal yang bisa diperbincangkan memang. Apalagi saya juga ketemu Rosa, teman yang bekerja di posisi dan perusahaan yang bulan Maret 2011 silam saya tolak karena berbagai pertimbangan. Setengah menyesal juga sih. Tapi hidup kan harus terus berjalan kan?

Di kumpul bocah ini juga ketemu Sisil, yang sudah hamil 6 bulan. Sukses sekali programnya karena dia nikah juga baru akhir Desember lho. Dan segera akan ada keponakan dolan-dolan #2 sesudah dedek Karin.

Juga ketemu dengan Blangkon yang akan segera memasuki usia 29.. (wkwkwkwkwk…), kali ini bersama pacarnya, Mbak Dinta.

Kumpul bocah juga menghadirkan Ayu dalam teleconference alias sepik-sepik pakai telepon.

Lengkap sekali, menurut saya.

Teman-teman saya sudah sukses. Tapi tidak banyak perubahan yang terjadi dalam cara ngomong, dari cara menghina, dan dalam segala keakraban.

Dalam konteks ini, kami masih orang yang sama dengan tujuh hingga delapan tahun yang lalu 🙂

Sumber: tintusfar.wordpress.com
Sumber: tintusfar.wordpress.com

Juga dibahas soal tahun depan yang bakal menjadi tahun kondangan massal untuk anak Dolanz-Dolanz.. -_____-”

Yah, semoga berkat melimpah ada pada kita semua. Amin. 😀

Habis Curhat

Saya habis curhat. Ini sebuah kemalangan besar sebenarnya bagi saya yang selama ini lebih sering menerima curhat daripada melakukan curhat. Saya ini orangnya penuh rahasia, dan hanya bisa ditangkap oleh orang-orang yang bisa menganalisa keadaan, utamanya di blog ini. Sebenarnya pasti banget ketahuan.

Dan kenapa saya curhat?

Karena saya sudah benar-benar nggak punya jalan. Gimana sih rasanya hidup tapi nggak hidup? Gimana sih rasanya mau bernapas tapi napas itu nggak punya value, nggak punya isi, hanya sekadar mengisi oksigen ke jantung? Gimana sih rasanya hidup tapi (kasarannya) nggak guna?

Apa yang saya pikirkan ini sudah panjang, dan memang demikian. Ada poin utama yang kemudian saya curhatkan. Dan balasannya pun sungguh mengejutkan saya.

Iya. Mengejutkan. Karena sebenarnya, apa yang dibilang ke saya, ya sama persis dengan isi hati dan kemauan saya yang sebenarnya. Jadi sebenarnya saya nggak perlu curhat dong?

Nggak. Ini curhat yang benar. Saya hanya akan curhat pada tempat yang tepat, dan ini juga tepat. Sesungguhnya, tempat curhat yang ini memang belum pernah keliru. Maka, karena saya sudah mendapatkan pembenaran, yang kita perlukan berikutnya adalahhhhh… EKSEKUSI.

Yuk. Mari kita persiapkan 🙂

Thanks a lot Mas atas advice-nya 😀