Ketika Mimpi Itu Jadi Nyata

9 Oktober 2010, nyaris tiga tahun yang lalu, saya menghadiri konser pamit rombongan PSM Cantus Firmus yang hendak berangkat ke Palangkaraya. Waktu itu saya sudah bekerja di Palembang, dan rada dipaksa oleh adek saya untuk nonton. Satu pertanyaan muncul di benak saya ketika itu: kapan saya akan ada lagi di panggung itu?

Dua tahun sebelumnya, akhir November 2008, saya baru pulang PKL dari ibukota ketika lantas menjadi tukang parkir untuk konser Reoeni Senandoeng Waktoe di Taman Budaya. Sedikit iri hati–tentu saja–karena saya ‘hanya’ sempat ikut konser dua kali, dan keduanya di lingkungan USD: Melody of Memory di Hall Lt. 4 Paingan dan Konser Pamit KPS Unpar IV di Kapel Mrican. Saya nggak pernah tampil di pentas sekaliber Taman Budaya Yogyakarta. Dan sembari menyalami para penyanyi, terselip pula tanya di benak saya: kapan saya akan ada di panggung itu?

Kedua tanya itu hampir menjelma menjadi tambahan daftar harapan hidup yang akan terus menjadi harapan, sampai kemudian hampir 1 tahun silam muncul sebuah posting di grup PSM CF. Posting yang tidak biasa karena ditulis oleh Mas Mbong dan berupa ide gila yang sungguh-sungguh menantang. Ya, jelas saja demikian karena isinya semacam menantang seluruh alumni PSM CF yang sudah berada di belahan bumi manapun untuk berkumpul dan konser bersama.

Tantangan semacam itu, rupanya semacam pengusik rindu yang sedang terlelap di sudut hati yang tersembunyi. Posting tantangan itu lantas dihiasi oleh berbagai tanggapan yang mayoritas bilang “berani!”, “setuju!”, sampai “hajar!”

Semuanya lantas bergulir bagaikan bola salju yang menggelinding ke bawah. Sebuah tantangan yang tadinya kecil itu menggelinding mengumpulkan sisa-sisa mimpi para alumni Cantus Firmus di seluruh belahan bumi hingga kemudian lewat proses yang sangat panjang dan berliku, tadi malam saya bisa berdiri di panggung Taman Budaya Yogyakarta, bisa bernyanyi lagi di panggung, dan akhirnya bisa konser dengan dirigen Mas Mbong sendiri.

Bahkan saya sendiri nyaris tidak percaya bahwa pertanyaan berbasis iri hati saya bertahun-tahun silam, akhirnya bisa terjawab tadi malam.

Melihat isi panggung tadi malam, saya bisa bilang butuh lebih dari sekadar mimpi dan tantangan untuk bisa mewujudnyatakan komposisi yang ada itu. Sekarang bagaimana kisahnya, saya bisa satu panggung dengan Mas dan Mbak dari generasi 90-an? Bagaimana pula saya bisa bertemu kembali dengan teman-teman yang sudah tidak saya temui bertahun-tahun lamanya? Bagaimana ceritanya sampai orang-orang yang sudah bekerja di berbagai kota di Indonesia itu bisa memberikan tanggal 22 Juni untuk bisa bertemu bersama?

Tapi nyatanya ya bisa!

Gila! Edan! Luar Biasa!

Melalui posting ini, saya ingin memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua orang bercap CF di hati dan otaknya, yang telah memberikan dirinya sepenuhnya untuk mewujudkan mimpi ini. Seperti yang Mas Mbong bilang tadi malam, konser ini mempersatukan banyak orang-orang yang keras, dan nyatanya yang keras-keras itu bisa lumer juga. Hehehehe. Terima kasih banyak ya teman-teman 🙂

Setahu saya, belum ada konser semacam ini. Belum pernah saya lihat ada konser paduan suara yang penyanyinya baru datang dan berkumpul bersama ya di H-1 dan hari H, karena memang semua berasal dari berbagai kota. Perkara ini, saya sendiri punya cerita unik bersama CFX (Cantus Firmus Extraordinary)–perkumpulan manusia CF di belantara Jabodetabek, yang entah bagaimana ceritanya bisa meraih juara 1 Mix Choir Competition dalam pembukaan sebuah Mall. Saya menyebutnya perpaduan kualitas dan kehendak Tuhan, karena bisa jadi juara 1 dengan anggota paduan suara yang selama latihannya nggak pernah lengkap dan baru tampil komplet pertama kali ya di panggung pas lomba, dan menang.

Dalam pikiran saya yang egois, saya mungkin akan selalu bilang, “hanya CF yang bisa begini.”

Begitulah. Terlepas dari perjalanan Cikarang-Jogja yang 18 jam, saya sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk menjadi bagian dari sebuah peristiwa yang luar biasa ini. Sebuah pelajaran besar, bahwa mimpi yang besarpun pada akhirnya kalau diperjuangkan, pasti akan bisa jadi nyata.

Beberapa jam yang lalu saya ada di atas panggung dan beberapa jam lagi saya akan berada di atas gerbong kereta yang akan mengembalikan saya ke realita–ketemu lagi sama cacing dan kayu manis -_____-“. Yah, apapun, sebuah kehormatan besar bisa menjalani ini semua.

Terima kasih teman-teman! Kita semua memang makhluk biasa, tapi dengan mimpi dan karya yang luar biasa!

CF

*tidak banyak tulisan yang ditulis dengan mata berkaca-kaca, dan posting ini salah satunya*

🙂

Advertisements

9 thoughts on “Ketika Mimpi Itu Jadi Nyata

  1. Pingback: Cikarang-Jogja 18 Jam | Sebuah Perspektif Sederhana

  2. Pingback: “Aku dan Cantus Firmus” | Sebuah Perspektif Sederhana

  3. Pingback: Catatan Umat Biasa: Tren Koor Katolik | Sebuah Perspektif Sederhana

  4. Pingback: Catatan Umat Biasa: Tren Koor Katolik | Catatan Umat Biasa

  5. Pingback: 2013 | Sebuah Perspektif Sederhana

  6. Pingback: Pak Anton | ariesadhar.com

  7. Pingback: Secuil Cerita Dari Citraland | ariesadhar.com

  8. Pingback: 11 Fakta Tentang Anak Paduan Suara Mahasiswa | ariesadhar.com

  9. Pingback: [Interv123] I’m Tough. I’m Struggler. I’m Happy. | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s