Petualangan #10daysforASEAN

Terima kasih kepada nasib yang sudah membantu saya bertemu dengan acara sosialisasi komunitas ASEAN untuk para @aseanblogger. Untung juga saya mendaftar lewat Kompasiana, padahal ya saya itu sudah follow @aseanblogger beberapa waktu. Dan untung juga saya menahan diri untuk tidak pulang sebelum acara berakhir, seperti banyak pemirsa lainnya. Karena di saat terakhir inilah saya dapat info ketika Mbak Indah bilang bahwa akan ada lomba blog #10daysforASEAN.

YEAH!

Oke. Niat awal saya menunggu sampai malam adalah kali-kali menang lomba livetweet. Tapi saya juga sadar sih, dengan si Young yang ngedrop 4 kali selama acara, nggak mungkin juga saya menang lomba itu.

Menulis cepat itu adalah keahlian saya, tapi soal isi ya nanti dulu. Saya bisa saja disuruh menulis 1 postingan atau 1 cerpen dalam waktu cepat, tapi dengan kualitas yang diragukan. Itu kenapa banyak posting di blog ini yang pendek-pendek, termasuk mungkin posting yang ini. Nah, karena menulis cepat itu saya bisa, akhirnya saya email ke Mbak Ani Berta untuk menjadi peserta #10daysforASEAN.

Begitu hari pertama nongol temanya, saya langsung bingung. Seperti yang bisa dibaca di posting saya berjudul Salon Thailand? Siapa Takut? ini. Saya tulis disitu bahwa seumur-umur ke salon itu ya cuma dua kali. Sisanya saya ke barber shop alias tempat potong rambut khusus lelaki. Bagaimana ceritanya saya mau menulis soal salon kalau latar belakang saya seperti itu? Apalagi pakai embel-embel Thailand pula. Maka, setelah garuk-garuk aspal, saya kemudian memberanikan diri menulis posting itu, dan hari pertama selesai.

Topik kedua nongol dengan indahnya, dan bikin ingat mantan.

#sigh

Ya, persis seperti yang ditulis di posting #10daysforASEAN saya yang kedua ini. Saya sendiri juga kurang paham soal percandi-candian. Saya lebih paham pergalauan soalnya. Jadi, topik hari kedua ini benar-benar memaksa saya untuk browsing. Eh, kok ya kebetulan kalau browsing pakai bahasa Indonesia yang nongol adalah kabar bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman alias Salomo. Daripada saya ngakak ngehek, jadi saya cari pakai bahasa Inggris saja. Pas benar dengan hasil diskusi di ruang Caraka Loka bahwa bahasa Inggris itu penting. Nah gara-gara Angkor Wat ini, saya jadi belajar bahasa Inggris lagi.

Hari ketiga dimulai dengan tantangan yang sungguh oye. Menciptakan usulan nation brand dalam waktu singkat. Apalagi saya kemudian pulang malam karena besoknya akan cuti. Jadi harus pandai-pandai memilah dan memilih istilah yang bagus. Hingga kemudian saya menemukan istilah Indonesia, A Tropical Paradise. Orang marketing saja susah payah berhari-hari mikir merk yang oke, lha ini saya mikir dalam waktu 1 hari, disambi-sambi meeting sana sini. Untung nggak berubah jadi Indonesia, Meeting Sana Sini. Kan berabe.

Masuk hari keempat mulai susah. Di hari Kamis saya ada perjalanan ke Montong dalam urusan penerbitan buku. Malamnya dilanjutkan perjalanan kereta api ke Jogja. Sudah begitu, saya dikasih tahu teman yang ikutan #10daysforASEAN juga soal topiknya via Whatsapp. Topiknya soal Visa Myanmar pula. Pusing saya. Sambil menikmati perjalanan via Kopaja AC Ragunan Monas, lalu kemudian menatap galau busway yang nggak lewat-lewat di Sarinah, akhirnya saya menulis juga dengan gamang di ruang tunggu Stasiun Senen, dan nge-tweet laporannya ketika saya sudah di dalam kereta api Senja Utama Solo. Dan di ruang tunggu itu, cuma saya yang lagi ngetik pakai laptop. Ini stasiun pula, bukan bandara.

Saya lantas sampai Jogja dan nangkring di kos-kosan adek saya yang bungsu. Begitu ngulet habis bangun sesudah terkapar saya melihat kopi dan merknya sama dengan kontes blog kopi yang sedang saya ikuti. Jadi urutannya, lihat kopi, ingat kontes blog kopi, lalu ingat blog, kemudian ingat kewajiban posting untuk #10daysASEAN di blog. Urutannya panjang sekali, sedikit lebih panjang daripada jalan kenangan. Nah, begitu saya buka topiknya, eh, soal kopi.

Saya sedikit mengutuk diri karena saya punya banyak bahan menulis tentang kopi tapi itu di laptop saya yang lama, yang sudah rusak. Itu dulu saya pengen nulis soal kopi, dan sudah seperenambelas jalan. Bahannya lumayan banyak. Yah, tapi ya sudah, saya menulis saja soal Kopi ASEAN.

Hari Sabtu, saya sudah mikir bahwa bakal sulit. Hari itu adek saya sumpahan apoteker. Dan pastinya akan rempong sedunia. Kapan saya mau ngeblognya, dan kapan saya mau nyari bahan juga kalau topiknya susah. Pas topik keluar, tentang Laos pula. Nggak ada bayangan di kepala selain fakta bahwa Laos itu termasuk herbal, teman-temannya kayu manis, dan daun bungur yang saya kelola sehari-hari.

Untungnya saya punya adek anak IPS. Begitu saya bilang Laos, eh dia menyebut soal negara tanpa pantai, sungai Mekong, dan bla…bla…bla.. lainnya. Akhirnya saya tulislah posting itu. Dan sesungguhnya, posting soal Laos ini adalah satu-satunya posting yang digarap di banyak tempat. Mulai dari Ruang Multimedia Kampus III USD Paingan, ruang tunggu Kencana Photography, meja makan restoran Jejamuran, sampai kamar kos adek saya. Cukup heroik untuk sebuah lomba blog yang pernah saya ikuti.

Minggunya dapat topik yang susah juga, soal perbatasan Singapura-Malaysia. Dan hari Minggu itu bahkan saya tidak sempat ke gereja. Karena sepagian saya sudah berangkat ke Sendangsono untuk ziarah rohani, dan kemudian diteruskan dengan perjalanan pulang ke Cikarang. Saya nggak mungkin buka laptop di terminal Jombor, pun di atas bis Rosalia Indah. Untungnya bisnya sampai lumayan subuh, jadi saya segera bisa menulis soal Peta ASEAN. Begitu kelar nulis, eh sudah jam 6 dan saya sudah harus berangkat kerja karena ada pengiriman bahan baku jam 7.

KAPAN SAYA TIDURNYA???

Senin ke Senin, sudah seminggu saya mengikuti #10daysforASEAN dan hitung-hitung tentu saja topiknya nggak akan jauh-jauh dari Filipina. Eh, bener juga. Hari Senin 2 September topiknya tentang kebebasan berekspresi dan mengambil latar Filipina, sebuah negara yang sudah kenal People Power bahkan sebelum saya lahir. Dan karena riwayatnya nggak jauh-jauh dari yang saya ingat semasa SD, jadi menulis soal People Power ini jadi lumayan tidak menyiksa.

Nah, hari kesembilan. Tinggal kurang Brunei sama Indonesia. Sudah pasti Brunei. Saya sudah kepikiran saya soal minyak. Eh, nongolnya kok malah KTT ASEAN dan tiga pilar. Lalu saya mau nulis apa? Ya, pada akhirnya dengan segala sesat pikir, saya tulislah tulisan yang menggelegar ini.

Sampai di hari ke-10, hari terakhir, saya kira sudah tinggal evaluasi, kesimpulan, dan saran. Dan ternyata saya salah lagi, saudara-saudara. Pantas saya jomblo, menebak topik saja saya salah, apalagi menebak isi hati perempuan.

#EAACURHAT

Di hari terakhir ini pembahasannya soal Jakarta. Kebetulan saya pengikut berita Jokowi Ahok, jadi cukup paham kemajuan Jakarta sejak duet maut itu menjabat dan tentunya kaitan dengan keberadaan Jakarta sebagai ibukota ASEAN.

Dan selesailah sudah.

ZZZZZZZZ…

Mengingat track record saya yang baru sekali dapat hadiah dari lomba blog, itu juga voucher 100 ribu yang merupakan hadiah hiburan dan jumlah hadiah hiburannya ada 45, plus nyaris menang di lomba blog Batik karena masuk nominasi saja, jadi saya cukup pasrah untuk tidak menang di #10daysforASEAN ini.

Setidaknya, karena #10daysforASEAN ini blogpost saya nambah 10 (HAHAHAHAHA), dan saya bisa menulis topik berat dengan bahasa gelo. Saya paling suka posting sepele saya yang “Aku Nggak Punya Visa”. Entah kalau yang lain ya. Kebetulan pula, ketika saya ikut lomba ini, kok pageview saya nggak nambah banyak ya? Hiks. Setiap hari saya memantau pageview saya dan angka segitu-segitu saja, maksudnya rata-rata sama dengan hari-hari lainnya. Bukan apa-apa sih, kalau pageview masih segitu-segitu aja, gimana saya bisa mempromosikan Komunitas ASEAN 2015? Sebagai seorang yang pas di Caraka Loka disapa blogger, saya merasa gagal.

Sedikit masukan saya ke panitia adalah lebih kepada hal teknis. Soal pendaftaran lebih dahulu ini saya suka banget. Ini sekaligus menguji komitmen seseorang. Masukan saya sepele saja kok. Semisal updatenya dibentuk dalam model spreadsheet di Google Docs, itu bakal lebih enak. Jadi kolom 1 adalah list peserta plus nama blognya, lalu kolom ke-2 sampai 11 adalah link blogpost mereka. Jadi kita bisa tahu nih, sudah masuk atau belum dan nggak repot scroll atas bawah.

Saya tahu mengelola kontes macam ini susah, jadi usul saya nggak repot-repot kok.

Salam #10daysforASEAN!

Seminggu yang Lalu

Baiklah. Saya gagal move on dari semua ini. Bahkan lebih gagal move on daripada Melody of Memory, yang mana kurang dari 10 jam sesudah turun panggung saya harus presentasi Kimia Medisinal tentang Furosemide. Juga lebih gagal move on daripada Konser Pamit KPS IV Unpar yang euforianya harus bertabrakan dengan Titrasi 2007 (colek Uut ^_^).

Gagal move on ini disponsori oleh kemajuan teknologi sih.

Iya. Seminggu semenjak turun dari panggung di TBY itu, media sosial buatan Mas Zuckerberg menjadi sarana foto-foto berseliweran. Belum lagi video yang beredar di Youtube, plus beberapa kicauan di burung biru. Belum lagi kalau baca blognya Mbak Linda dan blognya Bona. Apalagi ditunjang oleh pekan yang “mulus” dimana akhir bulan ini diwarnai oleh transaksi yang sudah pada kelar dan minim masalah. Jadilah, pikiran ini nggak bisa lepas dari Poelang Kampoeng.

Bentuk gagal move on yang paling jelas adalah ketika di kantor, sambil memandangi kotak dan angka itu, salah satu lubang telinga saya akan terhubung dengan speaker yang kontennya membunyikan lagu Hallelujah hasil unduhan dari Youtube 🙂 Gimana nggak mulyo itu seminggu full yang didengar cuma Hallelujah doang?

Saya hanya membayangkan, kalau tulisan di bawah ini nggak nongol di FB pada 13 Agustus 2012, apakah seminggu yang lalu itu akan terwujud?

:)

Tentu salut untuk ide dasarnya dari Mas-Mbak yang sudah nge-PSM di saat saya masih belum ngeh bunyiin Do itu gimana (sampai sekarang juga sih..). Karena tulisan inilah yang kemudian bergulir panjang, termasuk dengan sensus penduduk PSM CF yang membuat saya terkaget-kaget waktu mengkompilasinya. Keluarga ini adalah keluarga yang besar sekali.

Sebenarnya pengen banget ngabsen siapa aja sih yang ada di panggung dengan balutan ungu kemarin itu. Pengen banget semua detail dari sejarah ini terdokumentasi. Hmmm… Ini kepengenan karena gagal move on sepertinya.

Ya sudah. Mari kita melanjutkan hidup! 😀

Feel Their Happiness

Baru sadar, sudah lebih dari 6 bulan nggak mengupdate cerita soal Dolanz-Dolanz. Uhuk. Rencana saya sih, tulisan ini akan jadi kompilasi yang menarik jika sebelumnya saya sudah jadi penulis yang terkenal. Dan pada akhirnya teman-teman saya yang gokil-gokil itu akan jadi terkenal juga. Sayangnya, sampai hari ini pageview saya ya masuk 100-an aja per hari.

Kapan terkenalnya?

Ya sudah. Populer tentu saja bukan tujuan. Tapi berkarya adalah keharusan. Bukan begitu?

Jadi, mari kita teruskan.

* * *

Hidup itu kadang runyam ya. Makin runyam lagi urusan perlelakian di sesama dolaners. Selain Bona yang terus bertahan menerjang badai lautan bersama kekasihnya sejak SMA, dolaners lelaki yang lain adalah peserta penggalauan massal yang digelar secara rutin oleh yang lainnya.

Dan tentu saja termasuk aku.

Tapi penggalauan itu bisa jadi nggak runyam, ketika satu persatu kabar gembira muncul. Yah, kabar gembira buat anak kuliahan selain jam kosong adalah…

teman punya pacar.

Ketika akhirnya teman sepergalauan itu punya pacar, rasanya sudah ikut senang. Walaupun aku masih juga tidak punya pacar. Walaupun itu berarti aku akan kehilangan teman menggalau ria sambil nonton bokep yang di-fast forward. Nah, berikut beberapa kisahnya, dan mohon maaf kalau akan terlalu banyak melibatkan Chiko. Iya, dia yang paling playboy soalnya.

Playboy kok galauan?

Chiko – Eka

Ini berita yang sifatnya syahdan. Apalagi Eka itu kakak kelas, dan aku sudah mengenalnya sejak aku masih SMA. Kabar kabur sudah muncul sesudah perhelatan Pharmacy Performance yang merupakan embrio terbentuknya UKF Dolanz-Dolanz.

Dan sebagai anak yang masih polos, aku tidak terlalu paham bahwa Chiko dan orang yang aku panggil Mbak Eka itu sudah dekat. Lah manggil Mbak soalnya kakak kelas. Iya to?

Begitu mendengar kabar kalau Chiko jadian sama Eka, perasaannya sih, “ohhh…”

Dan berhubung UKF Dolanz-Dolanz belum terbentuk, perasaan ikut bahagianya masih sedikit. Belum kelihatan, kayak mukaku.

Chiko (lagi) – Tina

Baiklah, untuk sebuah sebab musabab yang akupun tidak mengerti apa, Chiko putus sama Eka. Dan seiring dengan rencana perhelatan besar dolaners, maka tertiup kabar yang oye, Chiko sepertinya sedang dekat sama Tina.

Perhelatan besar ini adalah silaturahmi ke Pantai Ngobaran, season 2. Setelah season 1 yang agak kurang sukses, namun kemudian sukses menjadi momen berdirinya UKF Dolanz-Dolanz. Disebut besar karena direncanakan dengan lebih matang, dan dengan peserta yang jauh lebih banyak. Dua kali lipat rasanya.

“Kowe karo sopo, Ko?”

Pertanyaan mendasar ini, karena di petualangan sebelumnya Chiko memboncengkan Mami Aya, sekaligus sebagai korlap, koordinator ngelap. Perlu ditanyakan karena Tina juga termasuk angkatan kita, jadi siapa tahu hendak turut.

“Bonceng Tina, lah.”

“Lah uwis jadian po?”

Dan playboy itu diam seribu bahasa. Oke, baiklah. Nanti juga ketahuan.

Chiko pada akhirnya membawa Tina di perjalanan 70 kilometer ke selatan, yang bukan dilakukan untuk mencari kitab suci. Di perjalanan menggunakan sepeda motor yang kalau nggak salah namanya Gita itu, dolaners silih berganti menguntit kebersamaan dua sejoli itu.

“Eh, lah uwis jadian po?”

Bisik-bisik terjadi di pasukan sepeda motor di belakang Chiko-Tina.

“Lha mboh.”

“Nek uwis, kok ora dipeluk?”

Kala itu harga bensin masih di bawah 4.500, jadi wajar kalau anak mudanya beda kayak sekarang. Sekarang mah pacar juga bukan, tetap aja main peluk-pelukan.

“Ngko wae takon.”

Informasi sudah jadian itu ternyata dimiliki beberapa orang di dalam rombongan, namun memang belum tersebar luas. Dan pemandangan 70 kilometer pp tadi, plus adegan di pantai akhirnya membongkar fakta tersebut.

Cihuy, turut bergembira. Bahkan turut nggarapi di pantai. Fotonya? Ada. :p

Bayu – Putri

Sejujurnya hubungan Bayu dan Putri ini termasuk absurd tingkat kotamadya. Bayu temanku SMA, Putri temanku waktu ospek fakultas. Dan sebagai rangkaian dari proyek gagalku mencari pacar yang adalah temannya Putri, maka ditemukan efek samping yang lebih poten. Putri ternyata suka sama Bayu.

Ini juga cihuy. Proyek yang menarik. Apalagi melihat bahwa Bayu ini tampaknya belum suka wanita. Waduh. Padahal, kurang apa dia? Tampang lumayan, nyaingi si Chiko deh. Otak? Jelas ada. Saking adanya, Bayu bisa tidur sepanjang kuliah namun kemudian ketika bangun bisa melontarkan pertanyaan yang relevan dengan kuliah yang disampaikan sepanjang dia tidur tadi. Bahkan beberapa kali pertanyannya dapat pujian dari dosen.

Entah bagaimana ihwalnya, sampai kemudian Bayu yang nggak suka sama Putri, terus kemudian bisa dekat, teruusss, teruuuusss, dan teruussss sampai terdengar kabar bahwa mereka sudah jadian.

Sebagai salah satu pelopor-ingat, dia efek samping proyekku yang gagal-tentu saja aku ikut senang!

Roman – Adel

Nah ini, termasuk yang menjadi catatan turut senang milikku. Adel adalah korban yang berhasil aku gaet untuk kuliah di Farmasi. Dia teman agak lama, ketemunya waktu sama-sama ikut sanggar menulis yang sukses untuk gagal menelurkan buku. Ealah.

Roman sendiri adalah salah satu tempat peraduan untuk berteduh, selain kosannya Toni. Kebetulan nih, Adel sering SMS-an sama aku dan sebenarnya bilang kalau dia nge-fans sama Toni dengan rambut gondrongnya yang penuh dilema.

Tapi mungkin peletnya Roman lebih kuat, mereka kemudian bisa janjian. Sebuah janjian yang monumental, di tempat gorengan. Sepuluh meter dari kamar Roman.

Aku dan Bayu sempat membuka-buka HP Roman sesudah itu, maklum jaman itu belum ada smartphone, jadi semuanya phone masih bisa dibodohi, termasuk untuk dibuka-buka SMS-nya. Jadi deh kami tahu bahwa Roman dan Adel janjian di gorengan.

Dan persis ketika Dolaners plus-plus melakukan perjalanan ke Sri Ningsih, Roman dan Adel ikutan berangkat. Tanpa perlu disimpulkan, itu namanya sudah jadian.

Lah, kok bisa-bisanya Adel pindah kiblat dari Toni ke Roman? Mboh. Sebagai teman main dan teman lama, ikut senang juga pastinya.

Riono alias Richard – Riana

Sesungguhnya ya, kata orang Jerman, witing tresno jalaran soko kulino dan sesekali dapat diterjemahkan menjadi witing tresno jalaran soko ora ono sik lio, dan sekali-kali juga dapat menjadi witing tresno jalaran soko telo (emang e getuk?). Dan pepatah warga Jerman tadi dipakai banget oleh Richard untuk mendapatkan Riana.

Pendekatannya sih sudah dari awal. Ibarat kata sudah ditakdirkan oleh yang berkuasa di Biro Akademik. Riana punya nomor mahasiswa 87 dan Richard 88. Namanya juga mahasiswa, jadilah mereka selalu bersama, dalam suka dan duka, dalam kelompok apapun yang dibagi berdasarkan nomor absen. Hore!

Tapi momen mereka jadian sedikit lenyap karena Dolaners sibuk bekerja di berbagai tempat karena gempa. Aku di Bethesda, lanjut ke JRS. Roman dan Adel banyak di Bantul, demikian juga Bayu plus Putri. Oya, pada periode ini Bayu dan Putri sudah menjadi mantan kekasih, dengan realita yang miris. Kalau dulu Putri ngebet sama Bayu sekarang kebalikannya. Seandainya mereka saling ngebet pada saat yang sama.

Kabar kabur mulai terasa sesudah masuk lagi demi menyelesaikan ujian. Dan memang Riono dan Riana sudah menjadi sejoli pada periode menjadi relawan gempa.

Somebody said, “berkah gempa.”

Meski aku kurang setuju dengan istilah itu, ya sudahlah. Ikut senang! Senang melulu, aku kok nggak jadian-jadian ya?

Nasib.

Toni – Tini

Aku dan Toni kebetulan sekelas, dan di kelas anak Klinis, lelaki adalah manusia yang sama langkanya dengan Panda di dunia. Plus, entah darimana pula ada ide terkutuk untuk lomba Pom-Pom Boys se-farmasi. Huaaaa…

Mau nggak mau, aku, Toni, dan beberapa lelaki yang ada terpaksa terjun payung, termasuk menerjunkan tingkat kemaluan ke level terbawah untuk mewakili kelas Klinis ini.

Persiapan.. Persiapan.. Akuakuakuakua.. Mijonmijonmijon..

“Aku isin cah.”

“Aku yo iyo.”

“Lha aku ora po?”

Begitulah. Lelaki pun bisa malu, apalagi disuruh Pom-Pom Boys.

“Nek aku jomblo selamanya, kowe-kowe kudu tanggung jawab,” ujar Toni.

“Matamu,” timpal yang lain.

Pergelaran itu akhirnya berlalu juga, tentunya dengan sedikit meninggalkan kemaluan yang tersisa. Ya sudahlah, semoga adek-adek yang saya asisteni tidak melihat aib yang terjadi tersebut. Maluk euy.

Itu hari Kamis.

Seninnya, aku datang ke kosnya Toni. Dan karena sudah menganggap kos Toni adalah milik sendiri–sama halnya dengan Dolaners yang lain–maka aku langsung melihat di depan pintu yang terbuka itu ada…

sandal wanita.

Tercekatlah aku di depan pintu, begitu melihat Tini ada disana lagi ngobrol sam Toni. Sambil mengeluarkan flashdisk, aku melangkah mundur, lalu pura-pura menyapa Bambang di kamar sebelah.

Yah, teman yang nomor mahasiswanya denganku ibarat Riono-Riana itu sudah punya pacar juga. Ikut senang. Hore. Hore.

*menangis pilu dalam hati*

Bayu – Putri (season 2)

Hari terakhir ngampus. Akhirnya! Dan keesokan harinya aku hendak pulang kampung ke kampung yang sudah tidak pernah aku injak sejak aku jadi mahasiswa. Gile ya, toyib sekali aku ini.

Di hari terakhir ini, aku masih bertemu Chica dan Bayu di kampus. Maka ngobrollah kami di tangga depan hall kampus.

Dan si Chica yang polos habis, dan cenderung oon, tapi kalau kuliah pinter ini tanpa tedeng aling-aling bertanya ke Bayu, “Wis jadian urung karo Putri?”

Memang, beberapa pekan belakangan, mereka tampak akrab kembali. Sebuah petualangan 1 tahun yang keren sekali. Ya meskipun aku sudah menangkap perubahan pesat dalam diri Putri, yang kemudian sedikit menjauhkanku darinya. Selain tentunya karena nggak ada proyekan lagi gitu.

“Uwis,” jawab Bayu sambil cengegesan.

Haiyah! Ada pula pacaran season 2 selang setahun? Cinta memang gila, segila cinta fitri yang berseason-season itu. Meski sudah nggak setuju. Turut senang deh.

Yama – Lia

Boleh baca kisah Dolaners yang lain untuk tahu seberapa strategis posisi Yama di UKF Dolanz-Dolanz. Dan ketika dia kemudian termasuk jomblo, maka itu juga jadi isu. Apalagi umurnya waktu itu sudah mau 22 tahun.

Tapi ya, walaupun tampangnya begitu, yang ngefans yang tetap saja ada. Heran saya. Pesonanya sungguh luar biasa.

Semuanya baik-baik saja sampai kemudian Chiko memberi kabar padaku di akhir bulan Januari itu, bahwa Yama sudah jadian sama Lia! Oya, Lia ini teman satu kosnya Adel.

Weitz!

“Percoyo ora kowe?” tanya Chiko

“Sakjane ora sih.”

“Aku yo ora. Tapi kuwi tenan.”

Dan bagian terbaik dari semua itu adalah ketika Chiko mendeskripsikan semua detail penembakan yang kemudian membawa kita sampai pada kesimpulan:

ORA YAMA BANGET! TAPI KUWI TENAN!

Well, muka dan keseharian tidak mencerminkan keromantisan rupanya.

Dan beberapa hari kemudian, Chiko datang ke kosan Roman, melingkari sebuah tanggal di kalender, dan bilang:

“Aku wis nembak. Tapi njawab e tak kon sebulan meneh. Ben mikir.”

Chiko (lagi-lagi dia) – Irin

Bahwa kisah pahit ternyata tidak mengendurkan apapun, kalau sudah cinta. Mau tahu pahitnya semacam apa? Klik aja disini.

Ya, dengan kepahitan yang macam itu, Chiko kemudian tetap dekat-mendekat-lebih dekat, dan akhirnya menembak (dor!) Irin. Waktu ditembak ini, si Irin sudah jomblo sih, jadi ya wajar saja.

Fiuh.

Mau jadi apa kowe, Ko?

Ya gitu deh, kalau sudah sama-sama dewasa. Your own risk. 🙂

Dan persis 1 bulan sesudah Yama dan Lia diproklamirkan, due date yang dipasang Chiko tadi terlewati. Jawaban diterima, dan mereka jadian.

Ikut senang! Ikut senang! Meski dalam hati tetap bertanya-tanya. Kok ya bisa sih?

*catatan: di sela-sela Yama – Lia dan Chiko – Irin, aku jadian, sebentar sih.. tapi lumayan sempat nyari kado bareng Yama di Mirota Kampus plus ketahuan Roman-Adel di perempatan Concat*

Chiko (masih ini anak! edan!) – Cintia

Nyatanya Chiko juga nggak awer sama si Irin. Maka kembalilah dia menjadi petualang cinta. Dan edannya, sesudah dia putus di Lotek, langsung pamer ke aku sekaligus meminta nomor HP target selanjutnya.

Dasar lelaki! Untuk aku tidak suka lelaki!

Aku memberikan 2 nomor kala itu. Cintia dan Marin. Yang Marin tidak direkomendasikan karena toh dia pacarnya temanku. Gile ape?

Dan melalui proses silent operations tahu-tahu 1 September alias hanya beberapa bulan sesudah permintaan nomor HP itu, Chiko sudah jadian sama Cintia.

Sumpah, dalam hal mencari pacar, makhluk ini memang perlu disembah, terus dibanting. Begitu.

*Catatan: sebulan sesudah Chiko jadian, lewat proses yang juga silent operations, aku bisa jadian juga. Fiuh.*

Bayu – Clara

Beberapa bulan sebelum aku lulus dan Dolaners menjadi semakin seret untuk ketemu, Bayu mulai menebar tanya soal seorang wanita. Nggak jauh-jauh sih. Adek kelas, yang sengit-nya minta ampun sama dia. Terbukti waktu jadi panitia, dan tahu sendiri pemikirannya Bayu itu antah berantah, banyak dilawan oleh adek kelas, termasuk Clara.

Sambil sesekali rapat SC, Bayu bilang kalau Clara itu lumayan.

Ehm.

Padahalnya di SC itu juga ada Dita yang sohibnya Clara banget. Kok ya nggak bilang sama Dita aja? Malah sama aku? Nanti kan repot. *apa coba?*

Iseng deh, waktu ketemu Clara, aku menitipkan salam. Dan tentu saja responnya sengit. Iya, mereka sempat debat terbuka waktu rapat panitia yang mana Bayu SC-nya dan Clara salah satu OC.

Tapi siapa sangka?

Sengit itu lama-lama juga bisa nyerempet jadi cinta loh.

Isu beredar ketika salah seorang OC, adek kelas, laporan mendapati Bayu dan Clara pergi berdua di suatu hari Minggu dalam rangka bertemu Tuhan. Kedok religi adalah mekanisme paling mendasar dalam PDKT terhadap wanita, khususnya anak Dolaners. Percayalah!

Isu itu berkembang seminggu lamanya sampai kemudian aku dan pacar pergi bertemu Tuhan dan tidak sengaja melihat sebuah objek menarik hanya 4 meter di depan kami. Iyah, Bayu dan Clara duduk berduaan, sebelahan.

Nah.. Nah.. Nah..

Aku yang sudah resmi tentu nggak masalah dengan itu, nah mereka? Pasti ini ada apa-apanya.

Keesokan harinya terkuaklah fakta itu. Bayu akhirnya jadian sama Clara, persis sesudah momen aku nge-gap mereka. Dan ironisnya, bahkan jadian saja pakai bawa-bawa namaku. Kira-kira begini:

“Eh, kata si Goz kita digosipin loh.”

“Iya ya?”

“Iya. Lha gimana?”

“Gimana apanya?”

“Apa dijadiin beneran aja, biar nggak jadi gosip?”

PLAKKKK!!!!

Lu kate gue bigos?

Ah, ya sudahlah, turut bangga saja namaku dibawa dalam proses penembakan.

* * *

Begitulah beberapa kisah mendapati teman jadian. Sejatinya, aku merindukan saat-saat itu. Tapi sekarang adanya mereka sudah pada nikah. Jadi nggak mungkin kan ada kabar macam itu lagi? Yang ada kabar bahwa Clara melahirkan, lah itu baru masuk akal. Hehehehehehehe….

Kisah Kedua

Aku sedang asyik dengan ponselku ketika kudengar bunyi pintu dibuka. Kulihat seorang gadis masuk dan berdiri dua meter dari pintu. Aku bergegas menutup semua aplikasi yang kubuka dengan ponsel Android-ku dan kemudian bergegas memegang kertas order.

Gadis itu menuju sebuah meja di pinggir jendela. Aku melihat itu dari kejauhan dan bergegas menyusulnya. Bagaimanapun pelayanan kepada pelanggan itu sangat penting. Bagiku, kalau perlu pelanggan tidak perlu memanggil pelayan jika hendak melakukan pemesanan, biarlah pelayan yang mengerti maunya pelanggan.

“Selamat sore, Mbak,” sapaku ramah pada seorang gadis yang baru saja duduk. Aku segera menghampiri tempat dengan nomor 7 itu untuk menyambut pelanggan yang datang sendirian ini.

“Sore,” balasnya tak kalah ramah.

“Mau pesan apa?”

“Caffee Latte. Satu.”

Dengan sigap aku menuliskan pesanannya di kertas order yang kupegang. Sesudah selesai menulis ‘Caffe Latte’ aku bertanya kembali, “Ada lagi?”

“Itu dulu.”

“Baik, ditunggu ya Mbak.”

Aku segera berlalu dari meja nomor 7 itu dengan memegang sehelai kertas order. Aku melangkah pasti ke dapur untuk meletakkan kertas order. Sementara itu, aku kembali berdiri tegak di pos jagaku.

Aku seorang pemilik Café yang memposisikan diriku sebagai pelayan di tempat yang sudah dua tahun aku kelola ini. Tidak semua orang tahu kalau aku adalah pemilik, karena kalau briefing aku selalu memposisikan diri sebagai supervisor yang seolah-olah punya atasan lagi. Aku memang terbiasa melakoni itu sejak masih bekerja sebagai supervisor di perusahaan farmasi. Lima tahun melakoni aktivitas yang sama membuat pola itu terpatri dalam benakku sebelum kemudian aku keluar dan mendirikan Café ini.

Café yang aku kelola ini kunamai Cafi Café. Syukurlah, tempat ini cukup laris. Setidaknya aku selalu terkapar kelelahan setiap malam setelah Café tutup. Itu berarti aku memang banyak bergerak untuk melayani pembeli.

“Kringggg.”

Petugas di dapur membunyikan lonceng yang terpasang di tempat serah terima pesanan. Aku menoleh sedikit dan melihat sebuah gelas putih dengan asap yang mengepul tipis ada di tempat itu. Itu tanda pesanan sudah tersedia. Aku segera berjalan ke tempat pesanan diletakkan dan mengambil nampan serta kelengkapan lain untuk melayani pelanggan di meja nomor 7.

Sembari menyiapkan nampan dan kelengkapan lainnya aku melihat ke pelanggan di meja nomor 7. Sekilas kulihat ia adalah sesosok gadis muda yang lumayan cantik. Rambutnya lurus tergerai sampai ke pundaknya. Sebuah bando warna biru menempel dengan cocok di kepalanya. Kulitnya putih bersih membalut tubuhnya yang agak kurus. Dari tadi ia sendirian di meja nomor 7.

Perihal pengunjung yang sendirian, buatku bukan hal yang aneh. Itu pula sebabnya aku menyediakan lebih banyak meja yang hanya memiliki dua kursi daripada empat atau enam kursi. Aku mencoba memahami pelanggan. Sekarang begini, kalau kita naik bus formasi 2-2 pun, pasti kecenderungannya kita akan mencari tempat yang kosong terlebih dahulu agar bisa sendirian, meskipun itu letaknya jauh di belakang. Aku mencoba mengerti itu dan nyatanya memang tidak sedikit pengunjung yang datang ke Café ini hanya untuk duduk sendirian, minum kopi, merokok, asyik dengan laptopnya, dan kemudian membayar lalu pulang. Aku tidak dalam kapasitas hendak mencari tahu segala kegiatan pengunjung. Aku hanya mengamati segala sesuatu yang terjadi di Café ini.

Kuletakkan gelas putih dengan asap tipis penanda pesanan ini masih panas ke atas nampan. Kusiapkan sedotan kecil, sendok, dan dua bungkus kecil gula. Tidak lupa kuletakkan tisu berwarna putih dan bertuliskan Cafi Café di atas nampan. Pesanan ini sudah siap untuk diantarkan.

Aku melangkah perlahan di sela-sela meja-meja lainnya yang ada di Café ini dan segera sampai di meja nomor 7.

“Selamat sore, Mbak. Caffee Latte?” tanyaku ramah. Meskipun ini terkesan retorika karena aku juga yang menuliskan pesanan itu di kertas order, bagiku proses konfirmasi keinginan pelanggan adalah hal yang tidak kalah penting.

“Iya, betul.”

Kuletakkan nampan di atas meja dan mulai menyajikan segelas Caffee Latte di depan gadis itu. Sekilas kulihat sebuah bungkusan kecil terletak di kursi yang tidak ia duduki. Kulihat juga dua buah ponsel tergeletak di meja tempat aku menyajikan pesanan. Salah satu ponsel tampak masih menyala karena baru saja diletakkan oleh gadis itu ketika aku datang. Aku melihat home screen ala anak muda. Sebuah foto pasangan ada disana.

Masih dengan sekilas pandang aku menerjemahkan bahwa gadis itulah yang ada di home screen ponsel itu. Parasnya jelas mirip meski objek yang ada di home screen tidak mengenakan bando biru. Aku bisa melihat kesamaannya dari mata, hidung, dan bibir.

Foto home screen itu juga memuat sesosok lelaki yang menurutku tidak tampan. Kulitnya hitam, berbeda bermakna apabila kubandingkan dengan gadis manis di sebelahnya. Tangan si lelaki memeluk bahu si gadis. Latar belakang foto itu perlahan kukenali sebagai Sungai Musi karena aku melihat dengan jelas tulisan Ampera di antara dua kepala yang ada di foto itu.

Aku tidak asing dengan pemandangan itu karena aku pernah dua tahun bermukim di daerah yang terkenal dengan hidangan pempek itu. Berfoto dengan latar belakang Sungai Musi dan Jembatan Ampera adalah keasyikan tersendiri. Aku sendiri hendak bertanya latar belakang ke-Palembang-an gadis ini, tapi tentu tidak layak karena itu berarti aku sudah melihat home screen dari ponsel pengunjung. Aku menganggap ini sebenarnya tindakan kurang ajar. Jadi daripada aku harus bermasalah dengan pelangganku sendiri, biarlah aku melakukan penyimpulan atas sesuatu yang sejatinya tidak penting-penting amat ini.

Demikian yang tertangkap oleh mataku sebelum kemudian layar ponsel itu padam dengan sendirinya dan memasuki fungsi lock. Aku mengecek kembali layanan yang telah kuberikan kepada pelanggan di meja nomor 7 ini. Sepertinya tidak ada yang tertinggal.

“Sudah, Mbak. Ada lagi yang bisa dibantu?”

“Belum, Mas. Terima kasih.”

“Mari, Mbak. Selamat menikmati.”

Gadis itu tersenyum. Manis juga senyumnya. Setelah ia tersenyum padaku, belum pula aku berlalu, tangannya sudah kembali meraih ponsel yang sempat aku intip home screen-nya itu. Aku mencoba berdiri diam sebentar sambil mundur dua langkah menjauh dan melihat senyum yang lebih manis merekah dari bibir gadis itu sembari asyik dengan ponselnya.

Aku geleng-geleng kepala saja melihat ekspresinya. Sungguh riang dan sulit dijelaskan dengan kata-kata. Senyum tidak lupa menyertai gelengan kepalaku menyikapi kejadian sederhana yang baru saja aku lihat.

Badanku kembali berdiri di tempat aku seharusnya menunggu. Aku melihat pelanggan keluar dan masuk dari pintu koboi yang kupasang di Café yang aku kelola ini. Tempat ini memang mampu membuatku melihat banyak hal. Aku sering menemukan pasangan yang tentu saja berlainan jenis kelamin datang dan kemudian duduk berhadap-hadapan. Kadangkala keduanya bisa diam selama berjam-jam sampai beberapa kali melakukan pemesanan ulang minuman. Ada pula yang sampai berteriak lepas karena tampaknya terlalu gembira. Kutaksir itu sebuah proses penembakan atau bahkan lamaran. Sesekali juga kulihat tangis dari beberapa pelanggan sesudah obrolan panjang berjam-jam yang menghabiskan beberapa gelas kopi. Sungguh, berbagai macam suasana.

Suasana itulah yang menghidupiku di Café ini. Perlahan aku sadar kalau Café ini menjadi penanda penting bagi beberapa orang. Ya, ada beberapa pengunjung belia yang bilang kalau mereka baru saja jadian di Café ini. Aku juga sering mendengar kata “putus” ketika berjalan melewati sepasang kekasih yang sedang tegang. Ekspresi sejatinya memang tidak bisa menipu.

Aku juga pernah melihat proses lamaran informal di depan mataku sendiri. Waktu itu Café sudah hendak tutup sebelum kemudian seorang lelaki berlutut di depan pasangannya yang sedang berdiri kaku di dekat pintu Café. Ah, ada-ada saja dunia ini.

Itulah hal-hal manusiawi yang membuatku tetap menjadi manusia. Melihat hal-hal yang manusiawi sungguh mampu mempertahankan jadi diri kemanusiaaan kita. Aku sadari benar hal itu dan aku mencoba mempertahankannya dengan melihat kejadian-kejadian di Café ini. Hal-hal yang mungkin buat orang lain tidak penting, tapi menjadi sangat penting bagi yang melakoninya. Bukankah hidup memang seperti itu adanya?

Tampaknya Café sedang agak sepi, sehingga aku bisa berdiri agak lebih lama disini. Pandangku ternyata belum puas menyikapi objek di meja 7. Aku melempar pandangan ke sekeliling dan kenyataannya memang tidak ada objek lain yang bisa diperhatikan kecuali gadis yang memesan segelas Caffee Latte tadi. Tentu saja, aku memandangi lingkungan Café ini setiap hari selama lebih dari 8 jam. Setiap sudut dari Café ini sudah kuhafal. Jadilah aku butuh pemandangan baru untuk menyegarkan pandangku.

Ia cantik, aku sangat mengakui itu, setelah melihat wajahnya pada jarak yang lebih dekat dan sekaligus melihat fotonya. Hawa ceria jelas tampak begitu aku mendekatinya. Entahlah, tapi yang pasti pipinya menjadi merah merona, pandangannya menjadi terang benderang, sedangkan bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah ekspresi yang bernama senyum. Satu hal yang menjadi pertanyaan bagiku adalah ‘mengapa ia sendirian?’.

Gadis itu kini masih tersenyum, tapi dengan posisi yang berbeda. Ponsel yang dari tadi melekat di tangannya kini ada di atas meja. Tangan kirinya ada di atas meja sedangkan tangan kanannya menopang dagunya. Kepalanya beredar ke kiri dan ke kanan ditopang oleh tangan kanannya. Senyum masih tidak lepas dari bibir itu. Matanya seperti sedang mengamati satu demi satu objek di Café ini.

Kepalanya bergerak kecil tanpa tergelak begitu mengamati karikatur yang ada di atas pintu masuk. Itu karyaku sendiri yang kukerjakan selama semalam suntuk. Oh iya, semua pajangan yang melekat di dinding Café ini adalah karyaku sendiri. Aku betul-betul ingin Café ini penuh dengan sentuhan yang asli dari pemiliknya.

Kepalanya kiri semakin ke kiri. Lagi-lagi gadis itu tergelak melihat patung badut berdasi yang kuletakkan di sudut Café. Patung itu kubuat dengan posisi memegang sebuah papan. Disitulah aku biasa menulis promo-promo yang aku buat di Café ini.

Sudut kepalanya tampak sudah mentok ke kiri. Kini kepala itu beralih ke sebelah kanan. Gadis itu duduk di tepi jendela sehingga begitu ia melempar pandang ke kanan, maka yang terlihat adalah halaman Café. Satu hal yang kulihat tidak lepas dari kepala itu adalah senyum yang mengembang di bibirnya.

Tiba-tiba pintu masuk Café bergerak, seorang lelaki dan seorang perempuan masuk. Aku segera bersiap untuk melayani pesanan. Dua orang pengunjung itu masuk sambil bergandengan tangan. Ketika dua meter dari pintu, pengunjung perempuan berhenti dan memandang mesra pada pengunjung yang kutaksir adalah pasangannya itu.

Benar saja, begitu pengunjung yang laki-laki mendekat, pengunjung perempuan segera menggelayutkan tangannya ke leher pengunjung laki-laki sambil bertanya, “duduk mana, honey?”

Tidak bisa diragukan lagi, kalaulah bukan sepasang suami istri, keduanya adalah sepasang kekasih. Sapaannya sudah memperlihatkan kemesraan yang terjadi.

“Di situ aja, honey?” ujar pengunjung yang laki-laki sambil menunjuk meja nomor 6. Persis di sebelah gadis yang memesan Caffee Latte tadi.

“Boleh,” jawab pengunjung perempuan sambil menggandeng pasangannya menuju meja yang ditunjuk.

Pengunjung laki-laki itu segera menuju meja nomor 6 dan menarik kursi sambil mempersilahkan pasangannya duduk. Wah, romantis sekali, pikirku.

Thanks, honey,” kata pengunjung perempuan dengan suara yang terdengar manis.

Pengunjung laki-laki itu tidak menjawab, hanya langsung memegang dagu pengunjung perempuan itu selama sedetik. Ia kemudian menarik kursinya sendiri dan lantas duduk. Aku bergegas mendekati pasangan itu.

Sembari berjalan menuju meja nomor 6, aku melihat ke gadis di meja nomor 7. Paras ayunya menyiratkan sesuatu melihat pasangan yang sedang duduk di meja nomor 6. Senyum masih ada disana, tapi aku melihat hal yang lain. Semacam perasaan iri atau sejenisnya. Aku sedang berupaya mendefinisikan itu.

Aku pun sampai di meja nomor 6 dan segera melayani pelanggan yang tampaknya sedang dimabuk asmara itu.

“Selamat sore,” sapaku dengan ramah, “Mau pesan apa?”

“Kamu pesan apa, honey?” tanya pengunjung perempuan.

“Aku coklat panas aja. Kamu apa?”

“Apa ya? Aku bingung.”

Aku diam. Hal ini sangat biasa dalam pelayanan terhadap pengunjung perempuan. Seringkali mereka sulit memutuskan minuman yang hendak dipesan. Aku pun melirik sekilas ke gadis di meja nomor 7. Kulihat lirikan kecil di matanya. Ia melirik pengunjung di meja nomor 6. Bibirnya komat kamit menyebutkan sesuatu.

Mataku mencoba fokus pada gerak bibir manis itu. Kucerna sedikit demi sedikit. Ah! Akhirnya aku bisa menyimpulkan sesuatu. Dalam penafsiranku, komat kamitnya berbunyi, “mau pesan aja repot.”

Senyum simpulku keluar ketika berhasil mencerna ucapan gadis di meja nomor 7. Sungguhpun sejak keduanya masih di pintu, aku sudah merasa bahwa gadis di meja nomor 7 ini berpikir kurang baik. Bisa jadi kemesraan berlebihan ini menimbulkan iri hati, atau perasaan lain yang sejenis. Dan kini aku menemukan kalimat ketus yang sedikit banyak nyambung dengan konteks yang aku pikirkan.

“Apa?” tanya pengunjung laki-laki itu kepada pasangannya.

“Apa ya?”

“Sama aja ya?” tawar pengunjung laki-laki itu. Aku merasa ia sudah tidak nyaman membuatku berdiri diam selama lima menit sejak ia menyebut pesanannya.

“Iya deh,” ujar pengunjung perempuan dengan mata masih melihat ke menu. Aku—sedikit banyak—tahu perihal ini dan langsung melirik ke pengunjung laki-laki. Kudengar ia bergumam, “dari tadi kenapa?”

Aku kembali tersenyum dengan kejadian yang aku lihat. Yah, hal-hal semacam ini memang mampu menyunggingkan senyum. Untunglah pengunjung Café belum terlalu ramai sehingga aku masih bisa mengamati fenomena yang terjadi.

“Coklat panas dua ya Mas,” ujar pengunjung laki-laki.

“Ada lagi?”

“Itu dulu deh.”

“Baik, ditunggu ya Mas.”

Aku berlalu dengan membawa kertas order bertuliskan dua Hot Chocolate. Pesanan yang simpel tapi mampu membuat senyumku tersungging beberapa kali. Kertas order itu kuletakkan di meja serah terima. Aku—seperti biasa—kembali tegak di tempat semula dan kembali memandangi gadis cantik di pinggir jendela yang duduk manis di meja nomor 7 itu.

Kulihat ponselnya kini kembali ke tangannya. Jemarinya dengan lincah menekan keypad di ponselnya tersebut dan lantas memindahkannya segera ke telinganya. Oh, ia sedang melakukan panggilan telepon.

Satu kali, kulihat ponsel itu kembali ke tangan. Dua kali, jemari itu kembali menekan keypad yang ada di ponsel dan ponsel itu kembali berada di dekat telinga. Tidak lama, gadis itu kembali meletakkan ponselnya.

“Paling nggak diangkat,” gumamku. Lama-lama aku menjadi pengamat beneran dalam kondisi yang seperti ini.

Tampaknya gadis itu tidak lelah berjuang dan berusaha. Diambilnya ponsel yang satu lagi, dilakukannya hal yang sama, dan ponsel itu kembali berada di dekat telinganya, kali ini di dekat telinga kiri. Tidak lama kulihat secercah senyum muncul.

“Nyambung kalau begini,” bisikku ringan.

“Dimana lu?” Suaranya ternyata cukup besar untuk bisa kudengar di tempatku berdiri. Kulirik sedikit ke meja nomor 6, kali ini pengunjung perempuan yang merasa terganggu dengan suara panggilan telepon yang cukup besar itu.

“Oh, gitu. Iya nih, gue udah bawa hadiahnya kok. Sesuai yang lu bilang waktu itu.”

Aku masih mencoba mendengarkan dengan saksama. Badanku bersandar ke meja yang ada di depanku guna menunjang badanku yang agak condong ke depan.

“Kringggg.”

Bel di meja serah terima berbunyi. Dua gelas coklat panas sudah tersedia disana. Aku bergegas menyiapkan nampan dan berbagai kelengkapan lainnya. Di sela-sela itu aku masih mencoba mendengarkan percakapan gadis di meja nomor 7.

“Ya iyalah. Tiga tahun. Itu kalau umur anak udah masuk TK kali,” kata gadis di meja nomor 7 itu sambil lantas tergelak besar sekali. Aku yakin pengunjung di meja nomor 6 sudah semakin terganggu dengan percakapan telepon ini.

Apapun, itu hak setiap pelanggan.

Kubawa dua gelas coklat panas dengan nampan, berikut kelengkapan lainnya. Sedotan, tisu, sendok, hingga gula sudah ada di atas nampan itu.

“Nggak tahu tuh. Katanya sih sudah berangkat tapi ini gue BBM belum dibaca,” cerocos gadis di pinggir jendela dengan volume suara yang masih besar.

“Coklat panas?” tanyaku begitu sampai di meja nomor 6.

“Iya.”

Kuletakkan nampan di atas meja dan segera kupindahkan dua gelas berisi coklat panas ke depan masing-masing pengunjung Café itu. Tidak lupa sedotan, sendok, tisu, dan gula segera menyertai. Kulihat sekilas, dan aku merasa seluruhnya sudah terlayani, lalu aku bertanya, “Ada yang lagi bisa dibantu?”

“Sudah, Mas.”

“Baik, selamat menikmati,” tutupku sambil meninggalkan pasangan yang sedang asyik berbincang sendiri, namun volume suaranya kalah dengan meja sebelahnya itu.

Aku berjalan perlahan memutari meja nomor 6 dan menuju meja nomor 9 karena pelanggan yang sebelumnya ada disana sudah pulang. Aku perlu memberesi meja itu. Letak meja ini masih cukup dekat dengan percakapan telepon yang terang benderang terdengar dari meja nomor 7.

“Iya. Doakan saja. Siapa tahu aja gue langsung dapat cincin. Jadi gue bisa nyusul lu deh.”

Aku masih asyik dengan aktivitas mengelap meja nomor 9 dan mulai mencerna makna dari beberapa hal yang kulihat dan kudengar dari tadi. Senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, sebuah home screen ponsel, dan beberapa konteks percakapan membuatku kembali berusaha meyimpulkan sesuatu.

“Iya deh. Iya. Tenang aja. Eh, baby lu apa kabar? Nggak mau nambah?”

Percakapan telepon masih berlanjut, kali ini soal bayi. Ah, makin bingung aku. Lebih baik aku memang tidak menyimpulkan apapun dari percakapan ini. Daripada aku berpikir terlalu keras untuk hal yang sepertinya kurang penting.

Meja 9 sudah selesai kubereskan. Aku segera kembali ke meja tempatku menanti. Entah bagaimana ceritanya, percakapan telepon dari pengunjung di meja nomor 7 itu masih saja membuat kepalaku berputar. Yah, aku memang sering memikirkan hal-hal yang tidaklah perlu aku pikirkan.

“Oh begitu. Ya udah kalau begitu. Makasih ya. Bye.”

Gadis itu akhirnya menutup percakapan teleponnya. Ponsel hitamnya kembali mendarat di meja, bersebelahan dengan gelas putih yang kini tidak lagi mengepulkan asap tipis. Sudah ada durasi waktu yang cukup untuk membuat hidangan itu dingin dan bisa dinikmati. Kopi panas memang mempunyai pesona tersendiri, termasuk ketika kopi itu dicampur dengan berbagai varian yang menciptakan berbagai variasi rasa. Itulah yang aku jual di Café ini.

Aku melempar pandang lagi ke sekeliling. Sesekali berada di tempat ini hanya untuk mengedarkan mata ke kiri dan kanan bisa membuatku bosan. Tapi tidak kali ini. Setidaknya aku mendapatkan suatu puzzle sederhana yang bisa membuatku kehilangan rasa bosan.

Pandanganku sedang asyik menatap karikatur yang kubuat persis di atas pintu koboi ketika pintu itu terbuka. Seorang laki-laki mendorong pintu itu dengan keras dan masuk ke dalam Café. Hampir sama seperti pengunjung lainnya, ketika masuk ke dalam Café, yang pertama kali dilakukan adalah berdiri dua meter dari pintu dan memandang ke sekeliling. Laki-laki yang baru masuk ini pun melakukan hal yang serupa.

Aku mulai bersiap-siap untuk melayani pengunjung yang satu ini. Seperti aku bilang tadi, aku terbiasa dengan pelanggan perorangan. Mereka inilah yang biasanya menghabiskan lebih banyak waktu di Café alih-alih orang yang datang berdua atau lebih. Mereka ini biasanya mencoba menikmati hidupnya dengan kesendirian. Setidaknya itu kesimpulanku hingga saat ini.

Pengunjung lelaki itu kemudian menatap terpaku ke meja nomor 7. Edar pandangnya berakhir di titik itu, persis di tepi jendela. Badannya terdiam selama beberapa detik sebelum kemudian kulihat senyum terbentuk di wajahnya.

Aku mulai merasa aneh. Perasaanku bilang kalau aku pernah melihat orang ini. Tapi perasaanku juga gagal menjawab pertanyaan perihal tempat aku pernah melihat orang ini. Aku malah jadi bingung sendiri.

Lelaki itu kemudian berjalan bergegas menuju meja nomor 7. Pengunjung di meja nomor 6 melirik sedikit, tapi sepertinya mereka sedang asyik dengan dunianya sendiri. Gadis di meja nomor 7 mendongak dari keasyikannya dengan ponsel yang sedari tadi melekat di tangan. Mulutnya sedikit membuka, pandangannya kosong. Perlahan mulut itu melengkung membentuk senyum yang sama manisnya dengan yang kulihat sedari tadi.

Hal yang kulihat memang sederhana. Pandangan mata itu menjadi ceria. Pipi gadis itu menjadi merah merona. Senyumnya menjadi merekah indah. Aku masih berusaha menyimpulkan semuanya.

* * *

Bahkan saya sendiri nggak paham apa inti cerita sepanjang ini -___-“