Jika Teman Menjadi Seorang Penulis

Minggu lalu saya mudik ke Bukittinggi. Walaupun tidak ada darah Minang dalam pembuluh saya, tapi tetap saja kota kiri kanan gunung itu adalah tempat kelahiran saya. Pas di rumah, saya iseng menanyakan nasib OOM ALFA yang dulu pernah saya kirim ke rumah. Jawabannya setengah manis, separuh ngenes.

“Ini sudah dipinjam orang Garegeh sebulan.”

*hening sambil nggerus*

Dipinjam. Baiklah, ini memang baik atas nama awareness atas penulis bernama ArieSadhar. Cuma akan lebih baik kalau orang-orang yang minjem dari Bapak saya itu, beli OOM ALFA. Harapan sederhana seorang penulis.

Di era sekarang ini bermunculan banyak penulis baru, termasuk saya. Masuk ke dalam belantara kreativitas itu sejatinya bukan hal yang mudah. Untuk bisa masuk saja sudah butuh usaha keras bertahun-tahun–dalam kasus saya. Begitu masuk, penulis-penulis baru itu juga harus berjibaku agar bisa survive. Dan sebenarnya, ada orang-orang terdekat yang bisa membantu penulis baru untuk bisa melakukan itu semua.

Teman.

Soal kata teman ini, saya jadi ingat obrolan di Tapian Nauli diiringi lagu Menyesal oleh Ressa Herlambang. Adek saya bilang, “kalau teman itu menusuknya dari belakang, kalau musuh dari depan”. Agak jleb juga sih. Tapi kadang-kadang, dalam petualangan menjadi penulis baru yang berusaha eksis, sesekali pengen membenarkan pernyataan adek saya itu.

Ya, teman sebenarnya adalah lini pertama yang diperlukan penulis baru untuk mencari apresiasi atas karyanya. Teman jugalah yang sangat memungkinkan untuk menjadi corong promosi munculnya seorang penulis baru. Tapi kadang-kadang, teman juga bisa melakukan tindakan dalam konteks bercanda, yang lama-lama jadi nggak lucu. Nah, berikut beberapa pertanyaan yang bisa jadi terlontar dari teman. Coba dicek, kalian pernah mengalami atau mengucapkannya nggak?

Gue nunggu gratisannya, deh!

Syukurlah, ketika OOM ALFA meluncur, teman yang mengucapkan kalimat ini nggak banyak, tapi ya tetap ada. Bahwa saya adalah pecinta gratisan, mungkin ini adalah sebagian dari karma. Dalam konteks bercanda, kalimat di atas sih nggak ada salahnya. Cuma, ketika yang mengucapkannya sudah lebih dari tingkat kejenuhan, lama-lama ya bikin bete. Bagaimanapun buku adalah sebuah karya, dan karya itu ada nilainya. Masak sih, kita menghargai karya teman kita dengan gratis alias nol?

Lain kisah jika gratisan yang dimaksud adalah seperti yang pernah saya buat, giveaway gitu. Bos DP, senior saya, bahkan merelakan diri di usianya yang sudah 30 tahun itu ngeblog soal benda mati, demi bisa dapat giveaway OOM ALFA. Padahal secara kantong, saya yakin dia bisa beli OOM ALFA dua puluh lusin dengan sekali mengedipkan mata. Ya, ketika ada yang menyenggol saya itu bagi-bagi buku dalam konteks kuis atau giveaway setidaknya niatnya lebih mulia daripada bilang “GUE NUNGGU GRATISANNYA!”

Sekadar info aja, dalam setiap penerbitan sebuah buku, penulis memang mendapat sejumlah tertentu sebagai bukti terbit. Tapi jumlahnya ya paling sekitar 5-20 buku saja. Itupun nggak sekadar dikasih untuk dibagi-bagikan. Penulis baru harus pintar-pintar memanfaatkan jumlah itu untuk bisa menjadi strategi promosi. Ada yang menjadikannya hadiah lomba, ada pula yang mengirimkannya kepada reviewer terkemuka agar awareness bisa meningkat. Walaupun kami ini penulis bukunya, tapi tentu saja nggak bisa tahu-tahu datang ke gudang penerbit lalu minta buku untuk dibagi ke teman yang berkata, “minta buku lo, dong!”

Oya, dalam kasus OOM ALFA, bahkan dua adek saya saja beli OOM ALFA dan tidak minta gratisan ke abangnya. Tentu saja, karena mereka tahu, harga OOM ALFA itu nggak seberapa dibandingkan keuntungan yang bakal mereka peroleh ke depannya dengan permintaan, “Bang, minta duit.”

“GUE MINTA SOFTCOPYNYA AJA YA!”

Mungkin memang saya yang terlalu melankolis, ya itulah kenyataannya. Mungkin itu juga yang membuat kalimat sakti ini menjadi sangat menyakitkan bagi saya. Yah, kami-kami penulis baru itu berjuang ngetik untuk bisa menelurkan sebuah buku. Naskah penulis baru itu nggak terjun payung dari langit dan lalu mendarat di sebuah folder di laptop. Belum lagi kalau menghitung proses edit-mengedit dengan deadline yang belum biasa kami lakoni. Ada darah dan air mata dibalik softcopy yang diminta oleh teman itu.

Ah, jangankan naskah buku. Sekadar tugas sekolah atau kuliah yang sudah kita kerjakan dengan susah payah saja, kita nggak akan rela kalau tiba-tiba ada teman yang minta softcopy-nya kan? Buku pertama bagi para penulis baru itu sudah seperti anak pertama dan pacar pertama. Jadi, umumnya penulis baru akan mendadak posesif.

Saran saya sih, jangan pernah mengucapkan kalimat itu kepada teman yang statusnya adalah penulis, apalagi penulis baru.

Halah, udah kaya masih aja pelit! Kan udah jadi penulis buku!

Percayalah, kalimat kampret ini pernah saya dengar sendiri. Memangnya apa hubungan penulis buku dengan kekayaan? Mungkin ada, kalau kita bicara Raditya Dika yang buku Cinta Brontosaurus-nya saja sudah dicetak lebih dari 37 kali. Tapi kalau bicara penulis baru? Sama sekali nggak relevan.

Penulis buku dengan skema penerbitan standar–non indie–umumnya baru akan mendapatkan royalti dalam periode 6 bulan sesudah buku diterbitkan, setelah sebelumnya mendapat uang muka royalti. Jadi, kalau punya teman penulis baru, ya janganlah minta makan-makan pas royalti belum turun.

Jadi, jangan anggap royalti yang diterima penulis itu adalah langsung ditransfer begitu sebuah buku terjual di toko. Ini bukan skema auto debet. Plus, jangan juga melontarkan kalimat di atas kepada penulis buku yang sedang berjuang mempertahankan performa bukunya agar tidak dikembalikan ke gudang penerbit. Ucapan itu seolah-olah bermakna bahwa buku si penulis baru itu laku banget, padahal nyatanya kebalikannya.

Sebagai teman, tentunya kita bisa mengatur kata-kata.

Lo ngerjain buku sambil kerja ya?

Kalimat sakti yang satu ini nggak akan dialami penulis semacam Kevin Anggara yang masih pelajar, tapi akan mengena banget bagi penulis baru dari kaum pekerja kerah putih kayak saya. Faktanya memang saya kerja kantoran, dan pada saat yang sama saya bisa jadi penulis buku. Ah, jangankan saya. Ada Roy Saputra, ada Ika Natassa, dan banyak penulis lain yang punya pekerjaan dan jabatan mumpuni, tapi tetap bisa menjadi penulis buku.

Kalimat di atas memang tampak menuduh bahwa saya menyalahgunakan jam kerja untuk menulis buku. Well, tapi ada loh yang bilang begitu. Satu-satunya cara menyikapinya adalah mengelus dada. Dada sendiri, bukan dada Jupe, apalagi Dada Rosada.

Buat saya pikiran semacam itu tergolong picik. Lagipula, misal saya lagi asyik bikin Working Instruction nggak mungkin juga saya nulis naskah. Menulis naskah membutuhkan imajinasi dan aneka lainnya yang amat sayang jika disambi dengan mengerjakan pekerjaan rutin. Saya juga nggak mau menyia-nyiakan naskah saya atas sebuah tulisan yang nggak oke, karena dikerjakan tidak dengan fokus pada jam kerja. Tenang saja.

Teman yang sebenarnya…

Seperti saya bilang tadi, teman yang sebenarnya adalah teman yang memberikan apresiasi. Teman-teman yang kirim WA, atau ngetwit, lalu nanya, “buku lo udah ada di sini belum?” dan beberapa jam kemudian mengirimkan foto OOM ALFA, adalah contoh teman yang mengapresiasi karya penulis baru macam saya. Atau seperti Bayu, teman kos yang bisa saja pinjam OOM ALFA punya saya, tapi justru memilih menunggu kesempatan mampir ke Gramedia dan lantas membelinya.

Atau seperti yang dilakukan oleh adek saya dengan berpromosi ke teman-temannya untuk membeli karya abangnya. Pun yang dilakukan oleh teman-teman dekat yang mengintimidasi saudara-saudaranya untuk mencicipi karya saya sebagai penulis baru. Langkah-langkah sederhana ini sebenarnya yang dibutuhkan oleh para penulis baru sebagai bentuk dukungan, bukan bercanda yang lama kelamaan menjadi tidak lucu dan bikin bete.

Sekali lagi, mungkin memang saya yang terlalu sentimentil, tapi seperti yang pernah dimention Stevan Purba ke saya, bahwa kami-kami para penulis baru ini butuh apresiasi lho. Sesungguhnya apresiasi itulah yang akan membuat kami penulis baru bisa eksis di dunia perbukuan ini.

Dan Satu Lagi Mimpi Jadi Nyata

Saya sedang di kamar, dan tentu saja bukan kamar mandi, karena saya sedang berada di depan Tristan. Di samping saya ada 10 eksemplar buku yang semuanya sama persis. Bukan buku yang biasa-biasa saja bagi saya, karena disitu tertulis nama “Ariesadhar” sebagai penulisnya. Di halaman terakhir bagian dalam juga ada nama dan foto saya.

Judul buku itu adalah “Oom Alfa”, ditulis oleh saya, dan diterbitkan oleh Penerbit Bukune. Satu-satunya penerbit yang ada di otak saya ketika saya menuntaskan naskah “Oom Alfa” itu.

Oom Alfa

Dan saya masih setengah percaya bahwa saya sekarang sudah punya buku sendiri. Makanya, sambil menulis posting ini, saya masih suka lirik-lirik ke tumpukan buku bercover hitam bergaris kuning itu. Masalahnya, di kamar ini memang nggak ada cewek atau bahkan foto cewek sekalipun yang bisa dilirik. Maklum, jomblo.

Ada sekian “kalau” yang kemudian menjadi titik kunci kenapa kemudian mimpi saya untuk menjadi penulis buku akhirnya bisa jadi nyata.

11 Januari 2011, persis ketika saya berganti usia, atasan saya di kantor yang lama memanggil saya ke dalam ruangannya yang mirip akuarium *if you know what i mean*. Sesudah mengucapkan selamat ulang tahun, PakBos bilang macam-macam hal, yang pada intinya kemudian adalah…

…sebuah tawaran untuk promosi.

Saya kerja belum genap 2 tahun, dan sudah ditawari jabatan baru yang lebih tinggi. Hanya orang gila yang akan menolak tawaran semacam itu.

Dan kebetulan, saya termasuk yang gila. Tawaran promosi itu saya tolak. Kenapa? Semata-mata karena hati saya memang menolaknya. Dan ada seseorang yang menjadi tempat curahan hati saya ketika ada tawaran ini, dia selalu bilang, “ikuti kata hatimu”. Perkara tawaran promosi itu yang kemudian menuntun saya mencari-cari, apa sih passion saya yang sebenarnya. Ada kali 1-2 minggu saya bergulat penuh nafsu kegamangan. Sampai akhirnya saya menemukan kembali blog ini, yang pernah saya buat tahun 2008. Ada kok riwayatnya disini, cari aja.

Kalau saja PakBos di kantor lama tidak menawari saya promosi, tidak akan ada blog ini.

Lalu, kemudian, seseorang yang menjadi faktor kunci keputusan saya menolak promosi dengan selalu mengingatkan saya soal hati itu, mengirimi saya link blog-nya. Bahkan saya baru tahu kalau dia itu bisa menulis, bagus pula. Saya kemudian menjadi penikmat setia blognya, bahkan sesudah dia tidak lagi mengirimi saya link postingan barunya.

Sampai suatu saat, dia menulis sebuah cerita pendek. Ahay! Terakhir kali saya menulis cerita pendek adalah ketika perjanjian Renville. Jadi sudah lama sekali saya tidak menulis cerpen. Terpacu oleh blognya, saya kemudian mulai menulis cerita pendek. Sebelumnya, blog saya memang hanya berisi refleksi-refleksi ringan saja, kadang-kadang malah copy paste berita yang ditambahkan sedikit komentar.

Kalau saya tidak membaca sebuah blog yang itu, maka saya tidak akan pernah mulai menulis cerpen.

Cerpen demi cerpen kemudian dihasilkan dari sebuah inspirasi yang datang itu. Hingga kemudian ketika saya buka-buka laptop, saya melihat sebuah foto bersama Alfa. Iseng, saya kemudian membuat posting khusus soal itu. “Cerita Alfa” adalah awal mula dari semuanya. Memang, Alfa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan kehidupan saya.

Sebagai orang yang baru kembali menulis sesudah sekian tahun tidak menulis, naskah tentang Alfa menjadi sebuah PR besar bagi saya, yang pada akhirnya memang selesai juga. Bagi saya, harus ada cara buat saya untuk menjadi penulis di penerbitan mayor, karena itulah yang ada di benak saya ketika saya ogah menapak tangga karier yang lebih tinggi–waktu dapat tawaran dulu.

Nyatanya, ya, jalannya tidak mudah. Tapi tidak perlulah saya berkisah soal ketidakmudahan itu. Mungkin nanti jatahnya ada di kisah benda-benda mati saya yang lain, seperti si LEPI–laptop sebelum Tristan–, atau juga Bang Revo atau Si BG. Akan ada waktunya.

Masih ada sederet kalau yang lain, sampai kemudian “Oom Alfa” bisa mendarat di kamar saya. Sebagai penulis, saya mengalami fase yang lebih baik daripada J.K. Rowling. Naskah pertama saya tidak ditolak. Iya sih, naskah kedua dan ketiga saya yang bergenre Romance malah sudah ditolak. Bahkan kata “Oom Alfa” itu adalah judul asli dari naskah yang saya kirimkan ke Bukune, alias tidak diubah sama sekali.

Melalui posting ini, saya hendak mengucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca setia ariesadhar,com atau yang dulu masih bernama ariesadhar.wordpress.com, karena disitulah sebenarnya embrio dari “Oom Alfa” ada. Kisah-kisahnya masih ada kok di blog ini, tapi saya simpan agar tidak kebanyakan spoiler. Nanti kalian nggak beli. Uhuk.

Terima kasih kepada seseorang yang sudah memberikan petunjuk soal hati pada saya, berikut juga ilham untuk turun tangan menulis cerita pendek, yang lantas malah jadi novel ini. Saya berharap bisa mengucapkan terima kasih secara langsung sama kamu.

Terima kasih juga kepada Bukune, Mbak Windy, Fial, dan Elly, serta tim lain yang ikut serta dalam perdamaian dunia…

…eh, salah, ikut serta dalam proses meluncurnya “Oom Alfa” ke pasaran. Saya ingat betul bahwa Bukune adalah satu-satunya penerbit yang ada di bayangan saya ketika “Oom Alfa” ditulis. Bahkan file-nya, sudah menyesuaikan standar pengiriman naskah ke Bukune. Entahlah, tapi dari hati saya keukeuh bahwa “Oom Alfa” hanya untuk Bukune.

Seperti biasa, mimpi saya akhirnya tercapai dengan tidak mudah. Ada usaha dan rangkaian doa disana. Tentu saja, saya akan berbuat yang terbaik pada buku pertama saya ini. Kalau bisa ya best seller, atau apapun yang lebih baik dari itu.

Thanks all!

🙂