Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

Dan kembali ini soal passion..

Rene Suhardono menulis buku yang sangat menyentuh nurani saya, terlihatnya buku itu tepat ketika saya berada dalam kegalauan berkarier. Dan bagian terpenting dari buku itu adalah kalimat “Passion is not what you are good at. It’s what you enjoy the most.” Dan satu bagian terbaik adalah perbedaan antara Career dan Job, bahwa Job adalah bagian dari Career. Yap, pekerjaan hanyalah bagian dari untaian karir kita, tentunya dengan aspek bahwa ‘seharusnya’ ada kaitan signifikan antara karir dan passion. Kenapa? Karena hanya dengan keberadaan passion-lah, manusia dapat menentukan dan menjalankan karir-nya. Mengutip blog seorang teman, bahwa passion adalah juga a strong of affection or enthusiasm for an object.

Yap, sejatinya memang tidak akan ada sesuatu yang dahsyat yang akan tercapai tanpa antusiasme.

Nah, celakanya, saya sendiri masih kurang paham passion saya dimana. Maksudnya bukan benar-benar tidak paham, tapi belum sepenuhnya paham.

Ada jalur-jalur yang saya rasa menjadi kunci mengapa perjalanan membawa saya pada kondisi yang sekarang ini. Mulai saat memilih masuk IPA di SMA, mulai saat memilih fakultas di perkuliahan, sampai saat saya memilih untuk bekerja di bidang tertentu. Jalur-jalur itu menentukan. Pada saat itu, saya belok mengikuti satu arah tertentu, yang membawa kemari. Ibarat kata jalan ke luar kota, pasti ada percabangan, dan cabang-cabang jalanan itu akan menuju ke tempat yang berlainan pula.

Saya memang belum sepenuhnya paham. Namun saya masih paham bahwa antusiasme saya pada sebuah pengembangan adalah besar. Bagi saya, turut terlibat membangun suatu sistem adalah kegairahan tersendiri. Terlibat aktif ketika ada pengembangan baru, ada sistem baru, dan menjadi bagian penting dari sistem itu sebenarnya cukup menarik. Dan jangan lupa, berkembang dalam membangun selalu punya tantangan tersendiri.

Berkembang dalam membangun tentunya beda dengan berkembang dalam sesuatu yang sudah eksis. Berkembang dalam membangun memberikan kesempatan kepada kita untuk menunjukkan diri, menujukkan kemampuan.

Satu kelemahan dari antusiasme ini. Ketika kondisi sudah menjadi statis dan eksis, maka antusiasme perlahan akan berkurang. Atau yang kedua, kondisi tidak sepenuhnya berhasil dan mempengaruhi banyak aspek, tekanan meningkat, dan antusiasme menurun.

Mengapa?

Ini tentunya beda dengan antusiasme pada perkembangan yang baru. Kita akan selalu antusias melakukan eksplorasi sampai pada titik dan deadline yang ditetapkan. Kita akan terpacu untuk berbuat yang terbaik dalam menaklukkan kondisi yang baru berkembang itu. Agar apa? Agar kita jadi penguasanya.

Sayangnya, ketika kondisi perubahan itu berjalan dan terkadang ada cacat-cacat dalam perjalanannya, sehingga mempengaruhi sisi teknis dari suatu pekerjaan, disitulah antusiasme menurun. Pada titik itu, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kita belum sepenuhnya menaklukkannya.

Ketika kondisi sudah sepenuhnya baik, kita akan sangat kehilangan antusiasme karena memang tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Dan satu-satunya cara adalah mencari tantangan baru.

Sebenarnya saya hanya ingin berbagi soal itu saja sih. Mengingat saya masih harus mencerna banyak hal agar mengerti sepenuhnya soal passion saya, maka sebatas itu dulu wacana-nya. Hehe..

Semangat!!

9 Tahun, 9 Bulan

Hari ini iseng-iseng bongkar-bongkar merapikan dokumen pribadi. Hasil bongkar-bongkar itu menjawab pertanyaanku mengenai sudah berapa lama aku merantau. Yap, lembar kuning penerimaan siswa baru SMA Kolese De Britto menyebutkan bahwa aku memulai semua proses itu di 2 Juli 2001, which is means itulah hari pertama aku berstatus perantauan.

Dan di 2 April 2011, sudah 9 tahun, 9 bulan. Angka yang unik.

Sebenarnya tidak terasa juga sih, hidup di perantauan sudah selama itu. Artinya sudah nyaris 10 tahun aku hidup terpisah dari orang tua, mencoba untuk survive sendiri. Memang, sebagian besar masih pakai budget orang tua, karena hidup yang benar-benar mandirinya baru 2 tahun belakangan saja. Tapi hidup merantau, pastilah punya value tersendiri, apapun itu, bagi para pelakunya.

Apa yang kulakukan ketika menemukan tanggal 2 Juli 2001 tadi, sekaligus membuka beberapa file kesuksesan. Yah, aku memang hobi menyimpan file-file kesuksesan hehe.. Ada beberapa piagam, kliping koran. Cukup membanggakan.

Tapi jangan salah, aku juga membuka nilai raportku, dimana sejak SMA mulai bermunculan nilai merah. Bahkan titik nadir prestasi sebagai rangking 22 dari 38 siswa di Cawu III kelas I-5.

Yah, sudah 9 tahun 9 bulan dan pasti akan terus bertambah. Sejauh ini sudah terjadi dan nyata bahwa GOD bless my way. Dan aku yakin akan terus diberkati.

Semangat 🙂

Membahas Bahasa

Beberapa menit yang lalu, ada pesan muncul di chat FBku, bunyinya “Piye kabare?”

Sebenarnya itu ucapan yang sangat standar, biasa diucapkan. Tapi agak menggelitik ketika yang menyebutkannya adalah seseorang bermarga Batak. Semakin menggelitik lagi, ketika aku dalam posisi ngobrol langsung dengan sang pemberi pesan (dan saudara-saudaranya), mereka sangat fasih berbicara bahasa Jawa. Sebenarnya nggak aneh juga, toh sejak kuliah mereka sudah hidup di pulau Jawa. Jadi wajar jika kemudian sangat familiar berbahasa Jawa.

Negara kita tercinta Indonesia ini memang punya banyak keunikan, salah satunya bahasa. Negeri ini punya banyak koleksi bahasa, bandingkan dengan negara-negara lain yang bahkan menggunakan satu bahasa (misal Perancis) bersamas-sama. Kita punya Bahasa Indonesia dan segepok bahasa daerah.

Bahasa daerah seolah menjadi keharusan untuk bisa membaur dengan lokasi yang baru. Waktu masih kecil, dimana di rumah tidak dibiasakan berbahasa Minang, aku agak kesulitan juga saat berbahasa dengan teman. Sampai suatu momen, seorang guru menyuruhku memanggil anaknya, “Kecekan ka si X, diimbau amak”. Poin di percakapan tadi adalah kata Imbau. Pada saat mendengarnya, aku sama sekali tidak tahu artinya. Tapi malu juga mau tanya. Ya dilogika sendiri, kebetulan benar. Itulah yang aku sebut momen berbahasa.

Memasuki era kehidupanku di Jawa, beda lagi. Meski sudah dibekali siji loro telu sampai sepuluh di rumah, tetap saja aku belum memperoleh momen berbahasa itu. Uniknya momen itu didapat lewat kata yang agak kurang sip: Asu.. hehe.. Ceritanya di hari ketiga Masa Orientasi Siswa SMA dulu, ada forum diskusi. Seorang teman asli Jogja mengacungkan tangannya ingin berpendapat, eh ternyata diberikan ke teman yang lain. Spontan ia berucap, “Asu”. Yap, momen sepele, namun itu jadi momenku berbahasa. Perlahan-lahan, berbahasa Jawa mulai menjadi kebiasaan.

Lain halnya dengan era baru kehidupan di Palembang. Dari awal sudah ngeri, soalnya ada kesamaan dengan dua bahasa yang sudah kukuasai sebelumnya. Model banyak O ala bahasa Minang, dan kesamaan beberapa istilah dengan bahasa Jawa. Tapi, mau tidak mau, menguasai bahasa lokal itu penting. Kali ini momen berbahasanya tidak terlalu spektakuler, hanya muncul ketika seorang teman menyebut “Galak pempek dak?” tanya-tanya sedikit muncullah statement “Galak tu sama dengan Gelem” Owwww… Yah, sesederhana itu, dan sejak itu mulailah era berbahasa Palembang.

Memang, apa yang aku lakukan ini hanya mencakup permukaan saja, hanya memaknai bahasa-bahasa pergaulan. Jadi ingat dulu belepotan untuk menyebut gerah, nderek langkung, dan sejenisnya yang halus-halus. Namun setidaknya, ada bekal untuk sekadar mengerti bahasa lokal. Disadari atau tidak, banyak kok gunanya. Itu sebabnya aku agak menyesal hanya mengerti arti kata Awa’ai (selesailah sudah) ketika berada 9 hari di Nias. Dan aku masih memegang kata-kata: aya naon, sabaraha, kadie yang ternyata cukup untuk modal keliling Bandung sendirian.

So, what next? Semoga ada tantangan berbahasa yang baru.

Semangat!!!

Restart

Terima kasih kepada Mbah Google yang membawaku kembali ke dunia yang sangat kucintai ini. Berawal dari sekadar mengetik sebuah keyword, aku menemukan kembali sebuah blog yang penuh dengan kisah-kisah dan refleksi menarik. Sesuatu yang sudah bertahun-tahun hilang dari diriku.

Jadi, mari kita restart.

Ibarat komputer, ketika dia hang, maka langkah tercepat adalah melakukan restart. Dan segera ia akan kembali, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

So, mulai hari ini, aku akan kembali!!

Semangat!!!