Salon Thailand? Siapa Takut?

Mendapat kesempatan mengikuti sosialisasi perihal ASEAN Economic Community (AEC) 2015 ternyata adalah sebuah hal berharga buat saya. Dalam rangka mengamalkan ilmu-ilmu yang saya dapat hari Sabtu kemarin di Caraka Loka, dan mengingat saya sudah dapat kaos dan flashdisk, maka saya mencoba mengikuti #10daysforASEAN via ariesadhar.com ini.

Topik pertama cukup unik, perihal berdirinya salon-salon Thailand dan pengaruhnya kepada salon-salon lokal. Masalahnya, seumur hidup ini saya ke salon itu cuma…

…dua kali.

Nomor satu waktu saya persiapan pesta sunatan, dan kedua pas kuliah karena pengen nyoba rasanya potong rambut di salon. Sempat hendak ketiga kalinya waktu saya di Palembang, dan saya mendadak kabur karena lelaki yang hendak menyalon saya itu agak melambai tapi kumisan.

imagesBaiklah. Itu memang kabur yang aneh.

Dan berhubung saya jomblo, jadi nggak ada kisahnya juga saya nungguin pacar di salon. Maka hal menarik pertama adalah karena saya sendiri nggak tahu dunia persalonan, apalagi dunia salon Thailand.

Kebetulan saya hidup di Cikarang, sebuah kawasan yang penuh dengan ekspatriat. Kemarin, sepulang dari gereja, saya dan teman mampir ke Lawson. Memang anak gaul Cikarang belum semaju anak gaul Jakarta yang mainnya ke Sevel. Jadi, Lawson dulu nggak apa-apa deh. Kan saya juga jebolan anak gaul Jogja yang nongkrongnya di angkringan dan tetap gaul. Yang penting tampak gaul dengan minum kopi di sebelah ibu-ibu yang sedang merokok di depan anaknya yang masih kecil.

Yeah.

Ada yang menarik dalam perjalanan saya mampir ngopi ini. Jadi sebelum menuju kesana akan lewat sebuah jalan yang terkenal di seantero Cikarang sebagai tempat hiburannya sini. Jalan Singaraja. Ada banyak ekspatriat yang menghabiskan waktu di tempat ini lewat aneka makanan, hiburan, sampai tempat kecantikan yang ada di tempat ini.

Terus apa hubungannya salon sama perjalanan ke Lawson?

Ehm, begini. Di kawasan ekspatriat menghabiskan waktu ini ada standar yang tinggi. Tentu saja orang-orang Korea yang bekerja di Cikarang sini nggak akan menghabiskan waktu disana kalau segala yang ada disana tidak sesuai dengan standar mereka. Hal yang sama berlaku untuk ekspatriat India, Amerika Serikat, dan negara-negara lainnya.

Sumber: phuketdir.com

Sumber: phuketdir.com

Nah, salon Thailand menjadi menarik dimanapun juga karena punya standar tertentu yang disukai konsumennya. Dan dalam memperlengkapi standar tertentu ini, wujud sertifikat kemudian menjadi bentuk yang mudah untuk dilihat.

Sekarang, apalagi nanti sesudah Komunitas ASEAN 2015, apakah kita bisa melarang orang yang hendak mendirikan salon berbasis Thailand? Apakah kita bisa demo konvoi keliling kampung, keliling kota, sampai keliling Monas guna meminta salon Thailand itu ditutup?

Ya mana bisa.

Terus bagaimana?

Bicara soal sertifkat, sertifikasi, dan standar, saya lumayan ngerti karena di tempat sekarang saya ikut serta dalam perdamaian dunia…

…eh, salah.

Saya ikut serta dalam system development yang kemudian membuatkan sekian sertifikat pengakuan pemenuhan standar. Dan dari pengalaman itu, sebenarnya benang merahnya sama.

Kalau salon Thailand punya suatu standar untuk disertifikasi, salon-salon lokal bisa apa dong?

Menurut International Classification for Standards (ICS Catalogue) ada beragam jenis standar. Soal salon menyalon ini saya anggap cocok di poin 03 yakni Sosiologi, Jasa, Organisasi, dan Manajemen Perusahaan.

Diantara sekian standar di poin 03, saya menyoroti 3 golongan standar yang patut menjadi perhatian yakni:

03.080 Jasa
03.100 Organisasi dan Manajemen Perusahaan
03.120 Mutu

Sebuah lingkup yang sangat global untuk usaha apapun, tapi justru karena sifat global itulah bisa menjadi dasar berpijak dalam menetapkan sebuah pencapaian.

Sekarang pertanyaannya, bisakah kita menciptakan standar yang kemudian mampu menjadi poin daya saing?

Jelas bisa, bisa banget malah.

Saya belajar dari sebuah percetakan yang ada supplier kemasan di tempat kerja saya yang lama. Mereka punya segala prosedur berstandar ISO, tapi sejatinya mereka belum berseritifikasi ISO sama sekali. Ketika saya datang mengaudit dengan bekal pengetahuan ISO 9001 dan CPOB ke supplier tersebut, mereka dengan lancar mampu memenuhi standar yang saya gunakan sebagai auditor.

Konsep adaptasi ini juga digunakan oleh seorang rekan saya, eks rekan sekantor di tempat kerja yang lama, yang menggunakan pendekatan ISO 9001 dalam pengelolaan klinik gigi yang dibuka oleh dia dan istrinya.

Jadi apa sih maksudnya?

Begini. Salon-salon Thailand boleh saja berdiri. Sekarang mencicipi 1-2 kali dengan membayar–sebagai konsumen–tentu tidak ada salahnya. Dengan begitu kita bisa mengetahui standar tertentu yang diterapkan dalam salon-salon yang bisa jadi bersertifikat nasional itu.

Lalu, lewat proses ini, terjadilah benchmark. Salon-salon lokal bisa membuat daftar detail perihal standar pelayanan yang digunakan. Sesudah daftar detail itu ada, lalu salon-salon lokal harus mampu menyandingkannya dengan yang dilakukan sehari-hari.

Lewat proses ini, muncullah kesejangan yang ada. Nggak apa-apa, ini bukan kesejangan sosial kok. Ini hanya gap analysis. Dan lewat proses inilah setiap celah dipersempit lewat improvisasi proses maupun pelayanan. Tentu saja, semua proses ini akan menjadi sempurna kalau terdokumentasi dengan baik.

Salon pakai acara buat standar operating procedure segala?

Emang ada yang ngelarang? Nggak ada kan?

Proses adaptasi yang kemudian selalu diperbaharui ini kemudian akan mengarah pada kesempurnaan. Tentunya tidak akan sempurna betul-betul, makanya dinamakan perbaikan berkesinambungan. Kalau caranya Metallica ngomong, continuous improvement.

Kalau sudah begini, nggak ada lagi yang ditakutkan.

Harusnya begitu.

Ketika ditanya sertifikat, memang belum bisa ditunjukkan. Tetapi ketika akan ada atau diwajibkan sertifikasi, nggak ada ceritanya buru-buru mengajukan sertifikasi yang justru malah berujung kegagalan. Namanya buru-buru itu kadang banyak gagalnya. Ada satu yang nggak sih, buru-buru jomblo.

Persis sama seperti yang dibilang oleh Bung Okto dan Bung Aidil waktu sosialisasi kemarin, kita nggak bisa melarang mereka (orang, wujud usaha, atau apapun) untuk masuk, apalagi kalau Komunitas ASEAN 2015 sudah dipukul gongnya.

Gonggg…

Satu hal yang kita sebagai bangsa bisa lakukan adalah mempersiapkan diri menghadapi persaingan yang ada. Salah satu wujud usahanya ya dengan proses yang saya sebutkan di atas. Jadi, mau ada salon Thailand kek, salon Korea kek, salon Lesotho, atau bahkan salon Madagaskar sekalipun, kita tetap bisa bilang:

Siapa takut?

🙂

2 thoughts on “Salon Thailand? Siapa Takut?

  1. Pingback: Petualangan #10daysforASEAN | Sebuah Perspektif Sederhana

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s