Kopi ASEAN 2015?

Saya lagi merebahkan diri setelah semalaman nggak bisa tidur di atas Kereta Api Senja Utama Solo. Lagi tidur-tiduran gini mata saya liar mencari jodoh…

…eh, bukan. Mata saya liar ke segala sisi yang ada di kamar adek saya. Dan saya ketemu kopi. Kebetulan menjadi indah ketika kemudian saya buka aseanblogger.com dan melihat bahwa topik #10daysforASEAN hari ini adalah kopi.

Saya tentu tidak perlu mengisahkan soal kambing-kambing yang mendadak mabok lalu happy-happy sebagai awal mula ditemukannya kopi. Silakan lihat lebih lanjut melalui Mbah Google yang jago itu.

Beberapa data menyebut bahwa kopi adalah jenis minuman yang paling sering dikonsumsi di dunia, setelah air putih. Saking pentingnya kopi bagi beberapa orang, sehingga kalau nggak ngopi, nggak gaul katanya. Bacalah novel “Cinta Dalam Gelas” Andrea Hirata dan lihat betapa kopi menjadi sangat penting di Belitung sana.

Menurut Bloomberg, Vietnam dan Indonesia ada di top 5 produsen kopi dunia. Keduanya bahkan mengalahkan Ethiophia yang oleh sejarah disebut-sebut sebagai tempat pertama kali kopi ditemukan sebagai minuman. Kopi di Vietnam baru diperkenalkan pada 1857. Sedangkan di Indonesia juga di periode yang tidak jauh beda sebagai materi tanam paksa.

Sebenarnya fokus utama Vietnam dan Indonesia adalah di kopi Robusta. Kalau Arabica itu sudah milik Brazil, Kolombia, Peru, dan sekitarnya. Dan kalau menilik produsen kopi Robusta saja, maka ada kok nama Thailand dan Malaysia di deretan 10 besar.

Jadi, bisa nih bikin nama KOPI ASEAN 2015?

Ehm, kalau saya pikir sih nggak perlu sampai sebegitunya. Mengalahkan Brazil bisa dilakukan dengan cara yang lebih mulus. Toh kalau kita mengacu pada cara industri farmasi Indonesia bekerja, kita sudah menang. Maksud saya, di Indonesia ini kebanyakan industri tergabung dalam grup-grup. Jadi PT A dan PT B dari grup X. PT P dan PT Q dari grup Y. Jadi dengan membuat total Vietnam dan Indonesia, sudah mulai ada persaingan kok dengan Brazil. Memang, Brazil memimpin terlalu jauh.

Persoalannya, bagaimana membuat sinerginya?

Penekanan lokalitas menjadi penting. Seperti Pak Tifatul bilang waktu sosialisasi di Caraka Loka Sabtu kemarin, pada awalnya adalah kembali dulu memperkuat diri sendiri. Vietnam sendiri punya lokalitas yang menjadi nilai tambah dari produksi kopinya. Kopi yang sama Mbak Venus dibilang enak banget.

Indonesia?

Saya sendiri pernah mencicipi kopi Nias–beli langsung di Nias, lalu dapat oleh-oleh kopi Flores, serta membeli kopi Lampung. Masalahnya nih, kalau Vietnam punya khas Cà phê sữa đá, kita punya apa?

Saya dikasih kopi Flores sama teman yang habis berkunjung dari sana, tapi kopi itu dikemas dalam plastik gula. Padahal rasa kopinya, uhuk, enak banget pokoknya.

Selain menjual produknya, penguatan lokalitas bisa menjadi nilai tambah dari kopi di setiap daerah. Kalau di Nias, Lampung, sampai Flores memperkuat brand sendiri-sendiri, maka karakter itu bisa dibawa bersama-sama dengan kopi yang ada di Vietnam untuk melawan kopinya Brazil.

Jadi, kuatkan dulu nih lokalitasnya, begitu ada brand yang jelas dan kemasan yang juga oke, siap deh kita menyerbu hasil produksinya Brazil dan bahkan mengalahkannya. Atas nama siapa? Atas nama kopi ASEAN tentu saja.

Salam kopi!

*sruput*

One thought on “Kopi ASEAN 2015?

  1. Pingback: Petualangan #10daysforASEAN | Sebuah Perspektif Sederhana

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s