Petualangan Ke Montong

Karyawan baik hati yang dicintai oleh bos adalah karyawan yang masuk kerja di hari dia cuti. Dan kebetulan hari itu saya cuti tapi justru nongol di kantor 1 jam lebih cepat dari jam kantor dimulai. Benar-benar layak dicintai kan?

Saya mengambil cuti dalam rangka hendak berangkat ke Jogja. Tapi…

…mumpung dapatnya kereta malam banget, jadi saya berkesempatan untuk mampir sejenak ke penerbit yang akan menerbitkan buku saya.

HORE.

Sebut saja penerbit itu Bukune, karena memang namanya demikian. Pertama kali saya tahu soal Bukune adalah lewat buku Marmut Merah Jambu. Telat banget ya saya. Buku MMJ sendiri saya sudah nggak punya karena sudah saya pindahtangankan ke seseorang yang penting buat hati saya. #tsahhh

Saya membaca dan–tentu saja membeli–beberapa judul buku Bukune lainnya, dan kembali tertegun pada buku Skripshit. Sampai saya niatkan, kalau saya sampai bikin buku, maka penerbitnya HARUS Bukune.

Bersyukurlah kemudian bahwa saya akhirnya sempat mampir ke Bukune. Iya sih, terminologi MAMPIR itu perlu dipertanyakan. Lha wong saya itu dari Cikarang, mampir Komdak, lanjut Dukuh Atas, bablas arah Ragunan, yang jelas-jelas berlawanan dengan Stasiun Senen. Cuma mempertanyakan terminologi ini sama dengan mempertanyakan jodoh saya yang belum datang-datang. Jadi mending nggak usah ditanyakan deh.

Mungkin perjalanan saya termasuk enak kemarin itu. Begitu si BG sampai ke Bang Iwan, saya langsung nemu 121A yang ber-AC dan bebas pengamen sedang ngetem di seberang jalan. Pengen rasanya berlari mengejarnya, tapi apa daya tronton sedang lalu lalang. Jadi dengan sedikit kesabaran, akhirnya saya bisa sampai di depan Cikarang Square dan duduk manis di dalam 121A.

Begitu sampai di Komdak Bawah, saya tidak menunggu terlalu lama untuk TransJ koridor 1 itu. Jomblo 1 tahun masih lebih lama daripada nunggu busway kok. Tenang saja. Bis panjang itu sampai dan saya masuk di tengah untuk kemudian turun di Dukuh Atas. Dan dasarnya hoki, begitu dapat bis arah Ragunan, kosong. Jadi saya bisa guling-guling sampai kayang di dalam bus yang penuh derit derita itu.

Begitu turun di Deptan, saya tanpa mikir langsung ambil angkot 61. Dan begitu angkot 61 itu jalan saya baru sadar kalau seharusnya saya naik angkot 20.

Untungnya dulu saya melakoni jalan yang sama waktu antar naskah, jadi masih ingat sedikit kalau angkot 61 dan 20 itu akan melewati rute yang sama sampai titik tertentu. Namanya juga pria melankolis tiada penting, hal-hal begini aja diingat.

Saya kemudian menunggu ada ibu-ibu turun, baru ikutan turun. Jadi dijauh-jauhin dikit biar nggak ketahuan kalau salah angkot. Meskipun salah angkot masih lebih baik daripada salah jodoh.

Tidak lama setelah turun, saya langsung naik angkot yang benar, ditandai tulisan Ciganjur di atasnya. Maka, saya mulai dengan tenang melihat ke depan dan berharap nggak kebablasan.

Dan kok ya kebeneran agak macet persis di jalan masuk Jalan Montong. Jadi mata yang gundah ini masih sempat membaca tulisan ‘Montong’. Saya lalu turun, membayar ongkos, dan tentu saja tidak memeluk dan pamitan pada Pak Supir.

Sambil membawa tas gede banget–karena memang saya mau langsung ke Jogja–saya menyusuri jalan Montong. Rencana awal mau beli burjo tempat saya dulu ngetem mengeringkan keringat sebelum mengantar naskah. Tapi kok…

…tutup. Sebagai fans burjo garis keras, saya layak bersedih.

Ya sudah, langsung saja ke tujuan, sebuah rumah besar yang adalah kantor penerbit itu. HORE. SAMPAI JUGA. TERIMA KASIH PADA DORA ATAS BANTUANNYA.

Di dalam kantor ini ada beberapa penerbit, dan disini saya menemukan banyak sekali buku. Sebagai pecinta buku, ini semacam masuk surga.

Bagian yang paling keren adalah halaman belakangnya yang pakai ada gazebo segala, dan warnanya yang hijau. Memang sih, di sebelah kantor juga hijau, tapi itu kan hijau ilalang. Jadi, beda rasanya.

Oya, sebagai juru kunci saya masuk ke dalam adalah Elly, editor Oom Alfa. Kalau tidak ada dia, saya pasti sudah dikira om-om jualan parfum yang menerobos masuk barikade satpam. Ahay pemirsah!

Oleh Elly saya akhirnya berkenalan dengan orang-orang yang sering seliweran di buku-buku dan media sosial. Ngobrol dengan Bedu dan Edo, plus saya baru sadar sekarang kalau saya ternyata ngutang nasi padang.

Ya ampun.

Saya ketemu lagi sama Mbak Iwied, yang pernah saya temui waktu #NulisBarengBukune. Saya juga bisa ketemu sama Abang Christian Simamora yang notabene satu marga sama saya, dan satu marga sama Bapaknya.

YA IYALAH.

Saya juga dipertemukan dengan Kitin. Siapa Kitin? Dia bukan siapa-siapa sih. Dia adalah kru Bukune yang adalah lulusan Sadhar dan kenal dengan BANG GONDRONG.

Sejujurnya saya selalu menemukan cara memperkenalkan diri dengan mudah kalau membawa-bawa BANG GONDRONG ini. Senangnya punya adek artis.

Saya juga ketemu sama Gita, yang badannya ternyata…

…imut. Dan sayangnya membuka lacinya di hadapan saya sehingga saya seperti menemukan paradoks, bagaimana ceritanya dengan badan yang imut, dia punya stok makanan yang banyak. Dan ada CHIKI disana. Saya kan suka CHIKI, karena sesuai lagunya “Chiki Kesukaan, Kita Semua.”

Di kantor ini, saya menemukan nuansa yang benar-benar beda dengan pabrik. Disini industri kreatif, sedangkan di pabrik ada banyak keteraturan yang harus dijaga termasuk sampai ke baju yang digunakan. Saya berasa mengadu dua alam, apalagi beberapa jam sebelumnya saya masih sempat mampir ke kantor.

Disini juga saya melihat bahwa naskah yang masuk itu memang bejibun jumlahnya. Jadi ya wajar kalau leadtime naskah itu makan waktu berbulan-bulan. Ada banyak naskah yang bertumpuk disana dan disini.

Entah sesuai atau tidak, tapi menurut saya dengan saingan sebanyak ini, seharusnya kita tidak mengirim naskah secara “biasa”. Ada benarnya juga dulu saya bikin cover naskah Oom Alfa dengan agak meriah, jadi setidaknya tampak aneh di tumpukan. Beberapa slip permintaan bahan di meja saya juga saya perlakukan demikian, kalau ada yang unik sedikit, baru digarap.

#oranggudangsalahgaul

Sekitar jam 3 saya cabut dari kantor Bukune dan melanjutkan perjalanan saya ke Senen. Kebetulan dapat angkot yang rada baik mau mengantar saya ke Ragunan.

Bukan untuk dikandangkan lho.

Di Ragunan saya dapat Kopaja AC jurusan Monas. Saya lalu turun di Sarinah, karena baru sadar kalau saya itu nggak bawa pitih, juga tidak bawa hepeng, apalagi bawa duit. Jadi kita ke ATM dulu.

Dari kejauhan memandang, saya lihat bis koridor 1 nggak lewat-lewat. Artinya? Bakal ada penumpukan gila-gilaan, dan itu berbahaya buat Tristan dan Eos yang ada di dalam tas saya. Jadi, saya, Tristan, dan Eos kemudian naik taksi. Burung biru, terbang tinggi…

Jam 17.00 saya sampai di Stasiun Senen, masih ada 4 jam sebelum kereta api Senja Utama Solo membawa saya ke Jogja. Fiuhhh, saya ngemper sambil mencerna petualangan seru yang baru dilakoni.

Dan sambil menanti kereta datang, saya akhirnya membaca naskah final Oom Alfa 🙂

Advertisements

One thought on “Petualangan Ke Montong

  1. Pingback: Petualangan #10daysforASEAN | Sebuah Perspektif Sederhana

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s