5 Kenikmatan yang Lepas Karena Lulus Cepat

Kemaren dapat whatsapp dari teman di Surabaya, katanya ada universitas disana yang mengadakan les! Yasalam, kuliah farmasi saja sudah ngenes, apalagi ada lesnya. Kapan mau pacaran kalau gitu ceritanya mah? Belum lagi, kalau lulus, apa bisa langsung struggle saat ‘dihajar’ oleh keadaan?

Mboh.

Tapi, sebagai salah seorang yang b(er)untung bisa lulus cepat 1 semester, saya hendak memaparkan 5 jenis kenikmatan yang lepas ketika kita memutuskan untuk lulus kuliah lebih cepat.

1. Nikmat Nongkrong di Kampus

Kalau status kita masih mahasiswa, nongkrong di kampus itu amat sangat diperkenankan. Lihatlah, mahasiswi-mahasiswi berkeliaran, dan mereka adalah adik-adik kelas yang muda-muda. Bukankah itu pemandangan yang bikin awet muda belia melanda?

Sekarang bayangkan ketika kita sudah lulus, lalu kemudian nekat datang ke kampus untuk nongkrong. Saya pernah, dan pertanyaan pertama, “sudah diterima dimana?”

Saya sebagai pengangguran waktu itu kemudian mendadak gundah gulana, lalu melipat muka dan menurunkan sandaran hati, serta membuka penutup jelaga, plus mengencangkan sabut kelapa. Maluw brow!

Jadi, selagi bisa nongkrong, kenapa nikmat itu harus ditinggalkan?

2. Nikmatnya Bangun Siang

Hari Senin, bangun jam 9. Hari Selasa, bangun jam 10. Hari Rabu, bangun jam 11. Itu kalau nggak mahasiswa, ya pengangguran. Lah, siapa yang mau dapat embel-embel pengangguran? Bukanlah lebih nikmat berlabel mahasiswa, lantas kemudian bisa bangun siang?

Orang yang sudah lulus memang bisa bangun siang, tapi itu juga kalau mereka sakit (potong cuti), cuti (ijin sakit), pura-pura sakit (karyawan nakal), atau paling masuk akal: shift 2.

3. Nikmat Nggak Dimintain Duit

“Eh, sudah kerja dimana? Gajinya gede dong? Makan-makan ya.”

-____-

Paling semprul nih yang beginian, untung masa saya yang begitu sudah lewat. Tapi iya demikian, kalau sudah kerja, pasti dimintain makan-makan, duit dan semacamnya. Waktu saya kuliah, mana ada cerita adek-adek saya minta duit. Begitu sudah kerja?

“Bang….”

“Yoh…”

*elus elus dompet*

4. Nikmatnya Minta Duit

Sejalan dengan nikmat nomor 3. Maka status karyawan akan membatasi kita untuk minta duit ke orang tua. Udah kerja kok minta duit? Malu sama perusahaan! Pasti orang susah ya? -____-

Meninggalkan kesempatan untuk tetap nikmat minta duit, sebelum kemudian menjadi orang yang dimintain duit, itu adalah sebuah pilihan. Nah, nah, nah, sila diputuskan.

5. Nikmat Jadi Senior

“Hey, semester berapa kamu?”

“Dua, Bang.”

“Sini pacaran sama Abang.”

Itu kalau di kampus. Kalau di kantor?

“Hey, anak baru ya?”

“Iya, Pak.”

“Itu angkat kesini.”

*dokumen setinggi 2 meter*

Kalau masih belum puas menjadi senior, orang yang dihormati, dikenali, dan lainnya, silakan memegang nikmat ini. Karena begitu lulus, apalagi jadi karyawan, maka kita akan serta merta jadi cupu kembali seperti semula. Jadi objek penderita lagi. Jadi kroco lagi, dan sejenisnya.

Yeah, dipastikan bahwa 5 hal diatas adalah nikmat yang nyata, namun tentu saja sesat. Jadi, mau ditiru atau tidak, silakan. Saya sendiri, lulus 3,5 tahun (plus 1 tahun apoteker), dan sejauh ini nggak menyesal kok meninggalkan 5 nikmat di atas. Tentunya karena selama 3,5 tahun saya benar-benar memanfaatkan nikmat yang ada tersebut.

😀

Limit

No. No. No. Ini bukan limit yang pelajarannya Pak Mantri di JB, yang mana saya hanya dapat 3 untuk setiap ulangan. Oya, nilai minimalnya Pak Mantri itu ya 3. Intinya?

Saya salah semua.

Bukan itu dong. Ini tentang batas dalam diri kita.

Kemarin saya psikotes, tentunya bukan dalam rangka interview di company lain, soalnya yang ngadain psikotes itu kantor sendiri. Nah loh. Untuk keperluan tertentu pastinya.

Satu tes yang saya dapat adalah Tes Pauli. Yang isinya kertas segede koran, lalu kemudian diisi penjumlahannya. Tes ini pertama kali saya temui saat amotrap. Dan syukurlah cukup bisa diikuti.

Lalu limit apa yang saya maksud?

Selama ini saya nggak pernah nembus 2 lembar untuk tes Pauli ini. Bahkan waktu tes PKL Pharos, hanya dapat 3/4 kalau nggak salah. Wajar sih, dulu itu psikotes sambil LAPAR (maklum mahasiswa..)

Nah, kemarin, saya mencoba menembus rekor itu. Sekali-kali kek, bisa nembus 2 lembar. Masak sih nggak bisa?

Dan untunglah, bisa. Walaupun ya di halaman kedua cuma kegarap sedikit. Yang penting batas psikologis untuk mengerjakan lembar kedua sudah dilewati. Well, pressure itu ternyata penting untuk menetapkan limit. Dan membuat saya sadar bahwa harus terus memberikan batasan pada diri saya, yang terus menerus ditambah agar bisa dapat hasil terbaik.

Itu hanya Pauli.

Semoga saya bisa melakukannya di hal-hal lainnya.

😀