[Review] Tulang Rusuk Susu – Indra Widjaya

Setelah dibawa kemana-mana, akhirnya buku “Tulang Rusuk Susu” ini kebaca juga. Fiuh. Ada untungnya juga buku ini saya bawa ke Jogja, karena akhirnya terbaca juga sembari menunggu jodoh bis Pahala Kencana di Terminal Jombor. Saking lamanya menunggu, saya hampir mengganti nama bisnya jadi PHP Kencana.

picture008Memang si Tristan nggak pernah jago kalau disuruh motret, jadinya ya kayak gambar di atas ini deh.


Tulang Rusuk Susu adalah judul yang sudah pernah nongol di buku Cerita Hati. Indra Widjaya sendiri sudah ada di Bukune lewat buku Idol Gagal. Nah, berdasarkan silogisme dua kalimat di atas, pertanyaannya adalah “Siapakah Tulang Rusuk Susu-nya Indra?”

Buku ini sesuai yang tertulis, bergenre non fiksi komedi. Definisi “Tulang Rusuk Susu” sudah dijelaskan sejak bab pertama. Jadi jangan bingung dan berujung nggak jadi baca. Kontennya adalah perjalanan kisah cinta penulisnya, dalam upaya mendapatkan tulang rusuknya yang sejati. Kata kuncinya masih sama dengan buku sebelumnya, gagal. Maka, isi buku ini akan banyak membahas soal kegagalan-kegagalan dalam mendapatkan tulang rusuk itu.

Kalau dicermati sekilas, Tulang Rusuk Susu ini punya beberapa kesamaan dengan Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika. Pertama, tentu saja dari konten cinta di dalam bukunya. Kedua, ada satu bab yang ditulis menggunakan sudut pandang hewan peliharaan. Di Tulang Rusuk Susu ini ada Kellmo Widjaya, seekor kelinci. Setelah ditelusuri, Kellmo juga bisa dilihat kesehariannya di @kellmowidjaya. Kelinci zaman sekarang sudah canggih kok. Bisa ngetwit juga.

Pada bagian-bagian awal, saya agak ragu apakah Indra memang sudah jatuh cinta pada usia SD level cupu, sampai sebegitunya. Soalnya, saya sendiri kenal suka-sukaan juga di level atas SD. Atau mungkin karena selisih usia saya sama Indra, jadi perspektifnya agak berbeda. Mungkin, dari sisi logis, hanya bagian ini yang agak mengganggu. Sisanya, cukup lancar untuk dinikmati.

Eh, tapi iya juga ding. Di buku ditulis kalau Indra wisuda SMA tahun 2009, lah tahun segitu saya malah sudah wisuda kuliah dua kali. Jadi, gangguan itu mungkin hanya terasa bagi orang-orang yang berusia lanjut.

Oke, lanjut.

Cukup banyak lika-liku percintaan yang ditampilkan di buku ini. Mulai dari cinta-cintaan anak kecil, anak SMA, jadian pakai SMS, putus tanpa alasan–kita hanya berteman saja, LDR, dan beberapa tipe lagi. Salut buat Indra yang di usia 23 tahun sudah merasakan pahit manis asam asin bercinta.

Seperti halnya buku-buku komedi Bukune lainnya, Tulang Rusuk Susu dapat dibaca dengan lancar tanpa perlu kesusahan mencerna silogisme-silogisme yang bikin bingung. Nggak butuh waktu lama kok untuk melumat habis seluruh isi Tulang Rusuk Susu ini. Salah satu opsi yang tepat untuk jadi bahan bacaan, menurut saya.

Untuk saya sendiri, buku Indra selalu menarik karena menggunakan kata “saya” sebagai bagian dari narasi, sebuah model yang cukup jarang ditemui di era “gue” sekarang ini. Okelah, dalam dialog, lo gue jelas masih ada, dan lagipula cukup kontekstual. Dari sisi kepenulisan, silakan diperhatikan, ada beberapa teknis menulis jeda dengan menggunakan tanda strip/hubung alias (-), sesuatu yang beberapa pekan yang lalu diajarkan oleh trio editor waktu Sunday Meeting GagasMedia-Bukune.

Sekadar info sampingan, desainer sampul “Tulang Rusuk Susu” ini adalah orang yang sama dengan desainer sampul “Oom Alfa”. Sebagai sampingan dari info sampingan, gambar cover “Oom Alfa” sendiri bisa dilihat di halaman belakang “Tulang Rusuk Susu”, tepatnya halaman 204.

*oke, promosi dalam review ini sudah keterlaluan, skip!*

Tapi begini, begitu membaca buku ini, dipadupadankan dengan buku-buku segenre, kok semacam penulis komedi itu identik dengan gagal bercinta yah? Semoga kebetulan belaka, semoga cap “Selalu gagal” nggak nempel dalam urusan paling penting ini.

Segitu saja ya. Sapo! Salam Kepo!

 

4 thoughts on “[Review] Tulang Rusuk Susu – Indra Widjaya

  1. Kalo tanda “-” itu buat tanda hubung, beda dengan tanda “—” kan sebagai tanda pisah? Anyway, penggunaan kata “saya” masih tetep dipertahanin ya dari buku pertama. Bikin beda hahaha.

    Like

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s