Tag Archives: aspal

Jogja

Kemaren dapat kirim lagu via whatsapp. Mengingat sejak sudah nggak sama Mbak yang itu, kebiasaan kirim mengirim lagu pakai whatsapp sudah tidak dilakukan lagi, mendadak ingat deh. Hahahaha.

Untung juga HP habis service dan data hilang semua. Setidaknya ada sela di memori, dan jumlahnya lumayan lega.

Nah, lagu yang saya dapat agak mengundang tanda tanya.

Lagu opo iki? Ora tau krungu.

Tapi begitu didengarkan, asyik punya! Beneran. Ini juga nulis posting sambil muter itu lagu.

Judulnya saja sudah monumental banget -> JOGJA. Dinyanyikan sama Ni-na. Dan pastinya bukan Oh Nina, karena itu kan band-nya cowok. Ini cewek. Baiklah, begini liriknya. Saya kutip dari sini. Ada link download-nya juga disana.

Kutemukan cinta di indahnya Jogjakarta
Buat hidupku berwarna terbuai asmara

Kunikmati cinta berdua selalu denganmu
Menyusuri kota budaya Jogjakarta

Tapi kini saatnya tiba
Ku harus tinggalkan dirimu
Meski hati kan selalu milikmu

Ada yang tertinggal di Jogjakarta
Saat kunaiki kereta
Semua kenangan cinta terajut asmara

Entah kapan lagi kita bertemu
Tak mungkin hatiku mendua
Bila nanti kujauh kan kudekap cinta

Ku tlah jatuh cinta pasrahkan diri padamu
Eratkan pelukan hangatnya Jogjakarta

Kunikmati cinta tak lepas diriku kau cumbu
Pelan habiskan malam romantisnya Jogjakarta

Walau diriku kini telah pergi
Hatiku kan selalu disini
Selamanya kan kubawa
Kenangan di Jogjakarta

 

Opo ra nggawe garuk-garuk aspal ki lagune? >.<”

Eniwei, keren abis. ABIS!

Aspal vs Beton: Mana yang Lebih Bagus?

Sejak kapan saya ngeh soal jalanan? Hmmm, sebenarnya sejak di Palembang, terutama waktu mau main ke kos Pandawa. Ada jalan aspal hancur dekat Akbid. Jadi kira-kira saya baru ngeh soal per-aspal-an itu di usia 22-an. *pekok*

Makin kesini, makin ngeh. Apalagi sejak lihat Cikarang yang punya dua jenis jalan, beton dan aspal. Beberapa bagian jalan di Cikarang ini memang pakai beton. Sekilas, lebih tahan terhadap mobil yang gede-nya gila-gilaan di sini. Tapi, untuk jalan naik motor–menurut saya–cengkramannya nggak cukup oke.

Terakhir, saya jatuh, ya di jalan beton sih.. *alibi*

Oke, mari sedikit membahas aspal versus beton lewat artikel yang saya ambil di SUMBER INI.

Beton dibuat dengan menggunakan agregat massa, bisa batu kerikil atau pasir yang dicampur dengan semen dan air. Semen ini berfungsi sebagai pengikat. Nah, campuran ini sebenarnya kaku dan padat, tapi rentan retak dan patah kalau permukaan bawahnya tidak mulus sempurna. Jadi balik ke struktur dasar.

Aspal-pun juga agregat, tapi dia berasal dari turunan minyak mentah. Jadi kalau pengaspalan ini–katanya–menggunakan aspal panas yang dituang ke agregat, lalu ditekan dengan mesin giling.. hehe.. Ya, itulah.. Hot Mix mungkin. Dalam hal ini aspal mampu diaplikasikan pada permukaan yang tidak mulus sempurna.

Aspal juga cenderung lebih mudah diperbaiki sehingga kalau ada renovasi tidak lama dan tidak mengganggu benar. Dulu pernah di depan Akbid itu dipasang beton, sekarang juga saya lihat di daerah Lippo, bahwa jalan beton itu harus dibongkar pada panjang kaki lebar tertentu, baru deh diisi dengan beton baru. Lah kalau aspal? Tinggal remukkan di bagian yang retan, timpa dengan yang baru, tekan dengan mesin giling (tsahhh…)

Cuma nih, aspal itu cenderung nggak tahan air. Makanya, ketika digenangi air macam sekarang, bolong-bolonglah itu jalanan. Apalagi kalau kontur tanahnya labil kayak di depan Akbid, jadi tiap kali diaspal mulus, tiap kali itu juga turun. Kalau beton kan nggak. Ini kalau strukturnya bagus loh. Kalau nggak, ya retak juga bakalan. Hehehe..

Jadi, yang mana?

Nggak peduli. Yang penting saya bayar pajak dan pengen jalan mulus.. Nggak kayak sekarang.. huhuhuhu…