5 Cara Bikin Meme Lucu

5 CARA BIKIN MEME LUCU

Hidup sekarang dipastikan nggak bebas dari meme, karena sebenarnya hidup kita lebih lucu dari meme. Nggak di Facebook atau di Instagram atau bahkan di WhatsApp sekalipun kita pasti sering menerima atau mengirimkan meme. Sayangnya, seringkali meme itu kek kerupuk. Garing. Garing Nidji. Bah.

Sebenarnya, bikin lucu itu susah-susah gampang. Sebagaimana banyak pelawak justru meninggal bunuh diri, sebenarnya memikirkan komedi itu adalah hal yang sangat-sangat serius. Lantas, bagaimana cara bikin meme lucu agar tidak bunuh diri? Berikut 5 hal yang kayaknya bisa membantu. Kalau nggak membantu? Ya, tinggal order Gojek. Go-Meme.

1. Template Meme

Ini adalah cara paling mudah yang disediakan pula oleh banyak aplikasi. Gambar-gambar meme seperti Leo Di Caprio, Yao Ming, hingga Nicholas Cage hanya tinggal ditambahi kata-kata yang relevan lucunya. Atau kalau kita agak (((niat))), kita bisa kok menggunakan foto sendiri yang ditambahkan caption yang ciamik. Kayak punya Om-nya Isto ini misalnya:

Screenshot_1516
Kata saya, sih, lucu. Nggak tahu sih kalau nanti sore.

2. Topik Viral

Supaya pas lucunya, kita bisa mengambil topik yang sedang viral. Misalnya pas zaman Bowo Tiktok atau pas era film AADC2 turun ke pasar atau ketika Dilan dan Milea sedang asyik-asyiknya balapan liar. Kata-kata yang biasa, jika ditampilkan bersamaan dengan momen yang tepat, ya bisa lucu juga.

3. Ambil dari Percakapan Sehari-Hari

Seringkali di obrolan warung kopi atau bahkan chat WhatsApp dan LINE banyak yang lucu. Nggak tabu juga jika kita mengambilnya untuk dijadikan meme lucu-lucuan. Tapi ingat, ini bukan mengunggah screenshot percakapan di grup, yha!

Supaya lucu, pastikan kita ambil satu bit dan satu punchline. Ya kira-kira mirip teka-teki deh. Misalnya, ada obrolan tentang kondangan mantan, lalu percakapan jadi panjang. Kita bisa ambil Bagian “Hal paling seram itu adalah datang ke kondangan mantan.”

cake celebration dairy product decorate

Photo by Ana Paula Lima on Pexels.com

Supaya greng, berikan punchline yang singkat dan sangat padat: SENDIRIAN atau TANPA GANDENGAN. Atau malah BAWA GENDONGAN. Sila dipilih saja yang cocok dengan suasana hati.

4. Ambil dari Postingan Orang Lain

Status FB yang lucu itu nggak ada royaltinya, lho. Jadi ketika ada status orang yang berisi kata-kata lucu kek gini, terus kalian tempel dan jadikan meme, ya nggak akan kena tuntut. Cuma demi etika bahwa ada orang yang susah-susah berpikir buat ngelucu, lebih baik kita mencantumkan sumbernya. Komik tenar Gump n Hell selalu menuliskan bahkan jika suatu status menjadi sumber inspirasi.

5. Ditunjang Desain Yang Ciamik

woman in brown scoop neck long sleeved blouse painting

Photo by bruce mars on Pexels.com

Nah, walaupun sudah ada banyak aplikasi meme, kadang-kadang kita perlu juga buat desain meme sendiri. Atau misalnya lagi kesambet dan pengen posting kata-kata bijak. Kalau saya, misalnya, termasuk untuk bikin header blog ini, pakainya aplikasi Canva yang interface-nya lumayan mudah dan sederhana.

Nah, bagaimana? Sudah mau bersiap bikin meme? Monggo, silakan. Tapi jangan lupa kerja atau sekolah ya, hidup itu bukan buat bikin meme soalnya~~

Advertisements

Menjadi Lektor yang Baik

Hahahahahahahaha.

*ngakak dulu*

Posting sotoy juga ini yak. Jelas-jelas masih lektor cupu, bisa-bisanya nulis judul sangar begitu. Yah, tapi okelah, kalau mau melihat dan membaca soal bagaimana menjadi lektor yang baik boleh dicek disini, disini, dan disini.

Dulu, iya duluuuuuu banget, saya mengawali karier membaca sabda Tuhan ini pada hari ketika saya menerima komuni pertama. Maklum, kan anak guru dan anak ketua rayon (tentunya anggota dewan paroki juga), jadi punya privilege untuk bisa tampil. Hahahaha. Muka saya tentu masih amat sangat cupu dan unyu walaupun sekarang juga sih.

Itu tahun berapa ya? Sekitar 1996 atau 1997, pastinya saya lupa. Sudah belasan tahun silam. Bahkan anak yang tahun itu belum lahir saja sudah bisa memperkosa *barusan baca berita perkosaan oleh anak 12 tahun, absurd*

Waktu kecil, saya itu amat sangat anti kritik. Pas pertama kali disodorin bacaan, maka saya baca secepat kilat, pokoknya kelar. Saya anggap semakin cepat semakin baik.

Salah. Saya ngambek.

Lalu ketika mulai paham bahwa ini sabda Tuhan yang harus dibaca dengan tempo tertentu (saya kalau ngomong biasa memang dasarnya cepat), saya kemudian dilatih untuk membaca oleh orang tua. Pas jatah kata “mereka”, saya baca dengan “mEreka”, saya diketawain orang tua.

Salah. Saya ngambek lagi.

Sebuah proses kampret dalam pendewasaan diri saya yak. Begitulah. Memang sungguh semprul sekali.

Pada perjalanannya, saya punya idola anaknya Pak Edi, kalau nggak salah namanya Mas Uus. Kalau ngelektor santai banget. Paling senang kalau lihat dia baca bacaan pertama Jumat Agung, dari Yesaya, yang panjangnya ora kiro-kiro itu, tapi kontennya menarik.

Dari situ saya mulai mengerti ‘cara membaca yang baik’.

Pindah ke SMA, waktu dimana saya nyaris murtad dan menjelma menjadi Kristen NaPas, ya mana ada cerita jadi lektor?

Saya baru jadi lektor lagi di Cana Community, kapel Santo Robertus Bellarminus Mrican. Yang ironisnya, saya tinggalkan karena satu kritik.

Kritik sih, cuma buat saya disampaikan dengan tidak proper oleh seorang suster. Saya lagi baca, kurang mengalir, terus dibilang, “gini nih kalau nggak biasa nyanyi.”

Dan saya sikapi dengan daftar PSM, lalu berkarier disana. Bye bye lektor. Hahahahaha.

Itu tahun 2005, dan saya baru ngelektor lagi tahun 2013. DELAPAN tahun kemudian. Syukurlah, skill itu nggak hilang-hilang banget.

Sebenarnya, apa sih makna menjadi lektor? Buat saya ada beberapa hal.

1. Membaca sabda adalah hal yang berbeda dengan membaca biasa. Saya coba praktek dengan membaca buku Rectoverso (pinjem), dengan cara lektor, rasanya jelas beda. Persislah dengan teman saya yang muslim yang mendaraskan surat-surat yang tertera di kitab sucinya. Itu inspiring sekali loh. Terutama si Irfan, kalau lagi malam-malam di mushala office lantai 2.

Menurut teori, memang ada pesan yang disampaikan ketika kita membaca. Tapi kalau saya sih mencoba berpikir sederhana saja. Sesudah doa pembukaan kan dibilang, “marilah kita MENDENGARKAN sabda Tuhan”, itu yang buat saya–walau megang teks–nggak pernah baca teks. Nah, bagaimana supaya yang mendengar itu bisa menerima isinya, itu yang sulit. Caranya? Ya bacalah sebaik-baiknya. Itu saja. Kita kan nggak tahu umat yang lagi dengerin lektor itu sedang ngelamun jorok apa kagak (itu mah saya kali…)

Poinnya adalah membaca sabda, punya nilai, yang sebisa mungkin tersampaikan kepada pembaca.

Sedikit membenarkan si suster yang menghina dina saya dulu, bahwa menyanyi itu membantu dalam membaca. Setiap bacaan mempunyai lagu, dan tidak selalu harus dibaca ala puisi. Yeah, dulu pas Bahasa Indonesia paling tobat saya kalau disuruh baca puisi. Terimo ora. Tenan.

Inilah yang kemudian membantu upaya penyampaian maksud bacaan kepada umat. 🙂

2. Lebih dekat dengan sabda Tuhan adalah sisi baik lektor. Saya ini yah, ampun-ampun, walaupun punya kitab suci, mana pernah saya baca? Coba tanya saya 1 kalimat yang saya hafal di alkitab, mana ada?

Tapi, saya bisa ingat loh, bacaan-bacaan yang pernah saya baca di mimbar, dan sekaligus kata-kata penekanannya. Misal, “….karena engkau, mentaati sabda-Ku..”, atau “….dan mereka semua disembuhkan…”

Nggak usah muluk-muluk ke orang, urusan ke diri sendiri si lektor aja dulu. Pengaruhnya signifikan, terutama bagi orang yang jarang baca alkitab kayak saya. Hahaha.

3. Menikmati diri didengarkan, buat saya adalah perspektif lain. Dulu, buat saya, secepat mungkin selesai, lebih baik. Hehe. Tapi perlahan saya sadar, umat nggak akan melempar saya dengan sepatunya kalau saya terlalu lama di mimbar. Lha wong romo yang kotbahnya 1 jam sendiri juga nggak dilempar kan? *ekstrim mode on*

Umat datang (salah satunya) untuk mendengarkan sabda, jadi menikmati saat-saat di mimbar adalah penting.

Datanglah ke mimbar, lalu bersiap sejenak. Lihat ke depan, jangan ke belakang, apalagi ke atas *iki ngopo sih?* Kalau melihat ke depan, toleh dikit kiri kanan siapa tahu ada yang cantik.

*lektor sesat*

Untuk hal ini, saya angkat topi untuk Felic, anak Cana dulu. Ini anak paling menikmati soal tengak tengok ini. Naik mimbar, tengak tengok dulu. Pede abis pokoknya. Tapi jadinya keren.

Coba nikmati begini:

Naik ke mimbar, letakkan buku, pastikan bacaan terbuka dengan baik. Lalu lihat ke depan, sedikit kiri, sedikit kanan. Kalau nemu yang cantik, tetapkan sasaran. Kalau ada pacar, bolehlah jadi titik pusat. Lalu ambil nafas, tahan sampai besok.

*ngawur kan*

Ucapkan kalimat dengan perlahan, sehingga tidak akan merasa kehabisan napas. Karena di altar tidak ada tabung oksigen. Pelan-pelan saja, dan jangan terus gemetar. Ini posting sotoy, jadi jangan percaya kalau yang nulis nggak gemetaran. Percayalah, bahwa saya pun kadang masih gemetaran.

Cari kalimat-kalimat yang perlu ditekankan. Itu akan menjadi penekanan berbeda waktu membaca. Plus, begitu mau kelar, temponya diperlambat. Ini teori saya dapat waktu di Cana, lupa dari siapa, tapi ini yang bikin membaca jadi asyik. Tempo diperlambat, kata per kata kalau perlu ditekankan. Kebanyakan sih, poin utama bacaan itu memang ada disana. Nggak tahu kalau ada perubahan dari 2005 ke 2013 ya.

Nah, sesudah kelar. Tarik napas lagi, tahan lagi sampai besok, lalu bilang, “demikianlah sabda Tuhan.”

4. Tapi sebenarnya, bagian terbaik dari menjadi lektor adalah ketika mendapat berkat di sakristi ketika tugas sudah berakhir. Itu rasanya berbeda dibandingkan jadi umat biasa. Maklum, bertahun-tahun jadi umat biasa. Luar biasa sih, maksudnya, biasa di luar. *halah*

Ya begitulah. Seperti saya bilang tadi, kalau mau yang baik dan benar sila baca tautan yang sudah saya buat. Tapi kalau mau jadi yang sesat, boleh ikuti cara saya. Dijamin ngawur. Hehehehe.