Ibuk: Mencintai Tidak Bisa Menunggu

Sejak kerja, saya mungkin tambah gila pada buku. Kalau kuliah, saya hanya beli buku (non buku kuliah) kalau harganya dibawah Rp. 30 ribu. Nah, karena mulai kalap buku, maka saya nggak mengabaikan Jakarta Book Fair. Salah satu sisi positif saya pindah kerja ke Cikarang adalah akses yang lebih cepat ke ajang beginian. Karena sudah baca di twitter, saya lantas memburu stand Gramedia dan sebuah novel berjudul singkat “IBUK”.

Jakarta Book Fair itu udah agak lama, dan novel IBUK saya diamkan saja selama beberapa lama karena entah kenapa saya lagi kehilangan daya membaca novel. Nah, berhubung hari ini saya agak selo, baru deh saya baca.

Dan…..

Mas Iwan mampu membuat saya BERKACA-KACA dengan kadar melebihi novel 9S10A!

Saya sih yakin, siapapun yang masa kecilnya penuh perjuangan, pasti akan berkaca-kaca dengan tulisan Mas Iwan. Seperti biasa, ditulis dengan kalem dan memang terkadang tampak lambat, persis novel sebelumnya. Semuanya dijalin dengan manis dan yang patut diingat, hampir semua itu banyak dianggap “derita”, yah sebut saja sepatu rusak, telur bagi sekian, tempe, dan lainnya.

Jujur saya langsung ingat rumah. Ya walau memang pada level yang berbeda, saya juga merasakan perjuangan hidup orang tua dengan 4 anak. Beda dikit sama keluarga Bayek.

Sebenarnya bagian yang paling menyentuh adalah separuh awal dan seperempat akhir. Yang di tengah, sebenarnya mirip sisi lain dari 9S10A. Jadi bagi saya yang sudah baca 9S10A, merasa semacam diulang. *ini sekadar membahas saja ya Mas Iwan* hehehe..

Tentunya pelajaran hidup tampak dari sosok IBUK dan tentunya BAPAK. Novel ini memang jelas menonjolkan sosok IBUK sesuai judulnya. BAPAK bahkan hanya dikisahkan pergi pagi pulang malam. Dan itulah sudut pandangnya. Tapi bagian terakhir ketika BAPAK meninggalkan dunia itu sungguh sangat menyentuh sekali *kalau ada hiperbola lain, pasti saya pakai*

Dan sisi lain yang saya lihat, sebagai seorang karyawan, adalah:

1. bagaimana berjuang hidup, bekerja, sambil tetap menyisihkan uang untuk keluarga di rumah -> semacam balik modal investasi yang diawali dari kemauan sang anak.
2. ternyata bekerja dimana-mana sama ya.. Rasanya kok sama-sama pengen resign kalau lagi hectic.. Hehehehe..
3. bagaimana berada di “rumah” adalah sebenar-benarnya hidup, buat saya semuanya tampak demikian.

Terima kasih untuk tulisan yang menyentuh dari Mas Iwan, sungguh membuat saya berkaca-kaca, sambil mengenang masa silam. Saya bersyukur beli buku yang ada tanda tangannya. Hahaha..

Dan terakhir, soal foto keluarga. Sejak kecil, keluarga saya sudah ada foto keluarga. Dulu awalnya gratisan di tempat wali murid. Lalu berikutnya pas kami sama-sama mudik via Pak Campin (ini masih pake film sodara-sodara!). Lanjutannya pas saya wisuda dengan pose yang teramat sangat parah karena harga 2 pose 30 ribu, pake film pula (di era digital, what do you expect dengan harga segitu?). Dan karena keinginan saya untuk foto keluarga yang paling maksimal, maka saya berusaha agar ada sebuah foto yang dibuat di studio bagus. Syukurlah sudah pernah ada di wisuda adik cowok saya, dan saya ingin itu diulang lagi di wisuda adik saya tercinta tahun ini. Dan yang pasti, saya ingin membuat “foto keluarga” ala Bayek, sebuah buku. Semoga!

Inspiring!

*thanks a lot, Mas Iwan sudah mampir (lagi) ke blog ini*

Advertisements