Tangisan Berbuah Dolan-Dolan

Odong-odong merah memasuki Pok-We, biasanya hal ini akan disambutstanding oviation oleh para Dolaners. Yak, di musim demam berdarah, sebuah fogging gratis dari knalpot sepeda motor dua tak berkecepatan maksimal 40 km/jam mungkin adalah berkah tersendiri.

Biasanya begitu, tapi kali ini kok berasa aneh.

“Kowe sih Ko.”

“Lha ngopo aku? Kowe kuwi Bon.”

Yak, permainan voli tanggung jawab antara Chiko dan Bona memang adalah hal biasa. Cuma kok yang ini suasana agak sunyi senyap. Nggak dolan-dolan banget deh. Aku segera mengambil kesimpulan kalau aku baru saja melewatkan sesuatu yang penting.

“Ono opo kie?” tanyaku.

Sunyi, semua berpandang-pandangan kecil ke Aya. Hmm, ini seperti ada sesuatu. Untuk waktu itu Syahrini belum tenar dan belum mengeluarkan istilah sesuatu banget, apalagi jambul anti badai dan bulu mata gorong-gorong jalan sudirman.

Tidak ada kata dan penjelasan yang aku dapat di Pok-We kali itu selain, “besok dolan ke Ketep!”

“Lha, dolan PS e piye?” Aku bertanya lagi.

“Yo tetep.”

Aneh lagi nih, nggak pernah sekali-kalinya Dolaners membuat dua acara dalam 1 rentang waktu yang pasti akan berakhir dengan tidur bersama. Ya iyalah, dolan itu capek loh, apalagi kalau dolan plus-plus.

Sungguhpun aku mendapati sebuah misteri dari rencana esok hari ini.

* * *

Siang hari menjelang, dan masih di Pok-We, sebuah tempat yang mungkin bosan dengan Dolaners. Bagaimana tidak? Kalau pembeli lain mungkin akan membeli menu-menu mahal. Kalau anak Dolanz-Dolanz sebangsa aku dan Yama misalnya, pakai metode lain. Yah kalau di menu itu, di sisi kiri ada nama makanan dan di sisi kanan ada harganya, maka mata kami segera menatap ke kanan tanpa peduli yang ada di sisi kiri. Kalau memang menu itu tertempel di dinding, maka tangan kiri segera menutup yang di sisi kiri.

Ketika harga yang paling masuk akal ditentukan, barulah mata melihat ke nama menu. Dan biasanya sih nggak jauh-jauh dari tahu goreng, tempe goreng, atau maksimaaaallll banget telur goreng. Demikian adanya.

Dan juga, durasi nongkrong anak Dolanz-Dolanz di Pok-We itu kadang nggak mengenal toleransi. Bisa dari siang sampai sore, dan mengambil slot meja yang banyak. Belum lagi gojek kere yang kadang membuat orang lain yang nggak kenal risih sendiri.

Dan satu-satunya alibi adalah karena ada 3 Dolaners yang ngekos disana, maka tempat itu segera menjadi meeting point yang paling ideal dalam janjian.

Dan hari ini, perjalanan menuju ke KETEP PASS, Magelang.

Formasi ditentukan dengan 12 personil yang ikut serta. Roman berhasil mengajak Edo, Dolaners yang hilang. Ano bareng Chica, lalu Chiko bareng Aya. Duo tak terpisahkan Bona dan Richard (nama ini sesuai request lho.. hehehe..) masih eksis berdoa. Aku memboncengkan Lani dengan sepeda motor barunya. Dan terakhir, Soe Hok Gie wanna be, Yama bersama Toni dengan motor Honda Grand legendaris AD AV.

“Berangkat ki?” tanya Chiko.

“Iyolah. Ngko ndak ono sik nangis meneh,” ujar Bona.

“Bonaaaa…,” sergah Aya.

Dan percakapan singkat ini sudah memberi tanda bahwa perjalanan dadakan ini dilakukan karena Aya menangis kemarin! Aha! Aku memang detektif jempolan, jempol kaki nan kapalan. Yah, lagian mana mau anak-anak lelaki liar ini diganggu jadwal PS yang sudah ter-planning lama itu dengan aktivitas yang melelahkan kalau nggak benar-benar kepaksa? Yak, kepaksa karena Aya nangis. So sweet sekali.. *sweet darimana yak?*

Perjalanan dimulai dengan rute standar yang jelas-jelas dipahami bersama. Yah kalau cuma dari Paingan sampai Magelang, Dolaners sejati pasti paham sak jalan tikuse. Hehehe.

Jalan ke arah Magelang sana sih sudah biasa pakai banget buat pelaku sekelas Dolaners, lha wong lurus-lurus wae. Bagian ini berubah ketika sudah belok kanan dan segera menanjak menuju puncak gemilang cahaya, menggapai cita seindah asa. Ini disorientasi dengan akademi fantasi sepertinya.

Aku beruntung dapat jatah motornya Lani yang notabene masih baru gress hingga gigi 2 pun masih kuat melibas tanjakan. Sementara Edo dengan mantap melibas jalanan karena emang punya cc yang juga gede dan termasuk baru juga. Sisanya? Aku nggak lihat. Bawa anak orang, yang punya motor pula, motor baru pula, jadi kudu eling lan waspada.

Ketep Pass sejatinya ‘hanyalah’ sebuah tempat ketika kita bisa menyaksikan puncak Merapi dari sisi yang berbeda. Tapi melihat pemandangan secakep itu tentu penyegaran tersendiri di masa ujian sisipan. Yah jelas aja, wong ujian nggak bisa garap, pasti butuh penyegaran kalau begitu.

Merapi View (Dokumentasi Pribadi)

Dan ketika motor kami satu per satu masuk ke area parkir, obrolan khas Dolaners mulai mengemuka.

“Lha kuat to Ton?” goda Chiko pada Toni yang membawa motor legendaris Yama.

“Lha iyo. Gigi 1 karo tak elus-elus.”

Yama selaku yang punya motor senyam senyum saja, pura-pura nggak tau kalau senyumnya itu sama sekali nggak manis, sepet lagi ada.

Chica lantas mengeluarkan benda legendaris lainnya dari Dolaners, kamera digital! Di era teknologi belum maju, benda bernama camdig yang boros baterai itu adalah harta yang paling berharga setelah keluarga cemara. Beneran deh. Dan kebetulan, Dolaners adalah MAGITO alias…

Hayo tebak apa? Yak, benar! *apa coba*, MAGITO adalah manusia… gila… hayo to-nya apa..

Betul! MAGITO adalah manusia gila magito!

Eh, salah.. Hehe. Manusia Gila Foto! Ini baru bener.

Tiupan angin kencang di Ketep Pass sanggup membuat rambut Toni berkibar-kibar layaknya bendera di pucuk tiang. Namun tak sanggup menggoyahkan rambut Edo yang bagai bonsai beringin.

“Jagung yo cah?” ajak Chiko.

Dan seperti biasa pula, satu beli, yang lain juga. Tapi nggak semua sih. Jagung bakar itu tidak layak konsumsi kalau nggak bawa bekal minum dan tusuk gigi. Tapi ya aku beli juga.

Obral-obrol, eca-ece, gojak gajek, plendas plendus kami lakoni di dekat parkir motor itu. Tentunya sambil makan jagung. Dan perpaduan gojek kere bersama dengan tiupan angin itu lantas membuat jagung yang lagi dipegang dan dikerokoti Bona bersua dengan tanah.

“Waduh tibo.”

“Huahahahaha.. rasakno.”

“Belum lima menit.”

Bona lantas mengambil jagung itu dan melanjutkan kerokotannya. Sungguh tidak layak ditiru untuk kategori anak farmasi!

Hampir tidak ada yang dilakukan di ketinggian itu selain menikmati angin yang semakin lama semakin bisa bikin Yama melayang bak layangan dan menikmati keindahan pemandangan. Mau nambah jagung, kantong tipis.

“Muleh?” tanya Yama.

“Mampir sik omahku,” ajak Edo.

“Mangan ki?”

“Siap!”

Yak! Inilah gunanya teman! Rumahnya Edo memang ada di sekitar Pakem yang tentunya dilewati kalau mau pulang dari Ketep ke Paingan. Dan, ehm, makan gratis? Wah, sungguh keindahan hidup yang luar biasa bagi anak rantau, anak kos, dan mahasiswa pas-pasan, misalnya semacam aku.

Kami bersiap pulang, menempuh jalur yang sama. Meninggalkan Ketep dengan sindiran mendasar, “uda nih, puas? Nggak nangis lagi kan?”

Dan Aya hanya tersipu saja.

Setidaknya tangisannya berhasil membuahkan sebuah perjalanan. Dan percayalah, itulah sebenar-benarnya teman 🙂

Advertisements