123 Bulan

Bis tampan warna hitam itu akhirnya sampai di Terminal Mangkang.

“Mangkang… Mangkang…”

Marlon menggeliat sejenak dari tidurnya dan sedetik kemudian sadar bahwa ia sudah sampai tujuan. Secepat kilat ia bangkit dari bangkunya dan bergegas turun dari pintu tengah.

Pagi sudah mewarnai Semarang. Tentunya panas. Ah, ternyata dimana-mana sama. Panasnya Semarang sama saja dengan kawasan industri yang hobi demo di sebelah sana, pikir Marlon. Mungkin Marlon lupa, di kota ini juga banyak kawasan industri. Jadi ya pantas kalau sama saja.

Ia melangkahkan kaki ke sisi terminal yang berisi bis-bis ke kota Semarang. Telepon genggamnya yang smart sudah tidak lagi smart karena kehabisan baterai. Jadi, ia menggunakan ponsel jadulnya, memencet beberapa angka yang tampaknya sudah dihafal.

“Halo..” Suara imut dari seorang anak kecil terdengar dari ujung sana.

* * *

“Mas, kita temenan udah lama lho. Nggak sayang tuh?” tanya Aira.

“Memangnya kenapa?” Marlon bertanya balik.

“Ya, simpel lah. Kita temenan udah lama banget. Malah yang keluarga kita udah kenal juga. Kamu kenal orang tuaku. Aku juga begitu. Dan itu kan sebagai teman, Mas. Dan kamu nggak sayang kalau itu semua hilang?”

“Itu malah salah satu bahan pemikiranku, makanya aku begini, Ai.”

“Mas, teman itu hubungan yang lebih abadi dari apapun. See? Kamu gundah sama yang dulu, cerita ke aku. Aku galau sepanjang waktu karena yang dulu juga, cerita ke kamu. Nggak ada yang lebih berharga dari itu lho Mas.”

“Hmmm, jadi sebenarnya?”

“Yah, kamu itu ya temanku, Mas. Mungkin malah lebih kayak Masku sendiri. Kamu tahu-lah kalau aku nggak punya sosok Mas yang bisa melindungiku. Dan aku dapat itu dari kamu.”

“Haha, tapi kalau adik cewek, aku udah punya, Ai.”

“Iya sih. Ya begitulah intinya.”

“Apa?”

“Ya, kamu itu Masku. Dan nggak mungkin buatku menerima kamu jadi pacarku, Mas. Biar berjalan seperti biasa aja yah.”

“Yah, kamu memang cewek berprinsip. Appreciate.”

“Nah itu kamu kan tahu prinsipku kayak apa. Masih nekat.”

“Siapa tahu, manusia berubah, Ai.”

“Kayaknya nggak sih. Hehehe.”

“Ya sudah. Aku hargai itu. Oya, selamat ulang tahun ya,” ujar Marlon sambil menyerahkan sebungkus kado.

Sebuah obrolan ringan di teras KFC Banyumanik, pada sebuah bulan muda, ketika senja menjelang.

* * *

“Ai, nggak nonton konser?” tanya Marlon ketika berpapasan dengan Ai di teras laboratorium Steril.

“Nggak dapat tiket, Mas.”

“Oh. Kehabisan ya?”

“Iyo.”

Aira berlalu, Marlon juga. Namanya aja berpapasan, jadi ya ngepas ketemu dengan kepentingan masing-masing. Marlon bergegas berjalan menuju tempat gladi bersih konser paduan suaranya, di hall kampus. Aira tampaknya hendak menuju lab lantai 4.

Sebuah pertemuan kadang hanya sekejap mata, di bulan belasan, masih menjelang senja.

* * *

“Wuih, yang mau jadi eksmud. Congkak nian,” kata Aira sambil menepuk pundak Marlon, yang sedang membaca pengumuman di kampus.

“Wuih yang udah jadian, nggak bilang-bilang. Hayo, congkak mana?”

“Heh? Siapa bilang?”

“Gitu ya sekarang, jadian nggak bilang-bilang. Giliran galau aja bilang-bilang aku, kalau seneng nggak. Nggak CS ah..”

“Ehm, nggak gitu kali Mas.”

“Terus gimana hayooo.”

“Yah, nantilah diceritakan. Kapan berangkat ke ladang mencari segenggam berlian?”

“Tanggal 4 pagi, Ai. Doakan saya ya. Hahaha.”

“Siap bos!”

Aira berlalu menuju kelas kuliahnya, Marlon menatap gadis itu dari belakang dengan pilu. Tampak sebongkah pilu dan sekarung sesal di mukanya. Sebuah pertemuan terakhir di bulan muda.

* * *

“Hey, kamu farmasi kan?”

“Iya, Mas. Kenapa?”

“Lha ya sama. Kayaknya pernah liat waktu inisiasi. Marlon. Kamu?”

“Aira.”

“Enjoy ya. Nggak banyak anak farmasi yang bisa eksis disini. Tuh, aku aja mencoba eksis dengan itu,” ujar Marlon sambil menunjuk setumpuk laporan di mejanya.

“Bakal gitu Mas?”

“Ya, biar bisa sama-sama eksis. Kalau nggak gini, kapan lagi ngerjain laporannya. Hahaha.”

“Oh gitu. Okelah Mas.”

Sebuah percakapan kala malam turun sempurna, di bulan menjelang tua. Ketika pertemuan memulai rasa. Ketika semuanya berjalan mulai angka 1.

* * *

“Gimana ya Mas?” tanya Ai dengan gundah.

“Lha kamu seneng nggak?”

“Ya, sepertinya sih.”

“Trus?”

“Ya, gini-gini kan aku cewek. Masak aku yang bilang kalau suka?”

“Ya jangan sih,” kata Marlon, “Pasti ada jalannya. Cowok kan tinggal dikasih tanda-tanda jaman aja. Hehehe.”

“Lha itu tanda-tandanya gimana?”

Marlon berkisah bak konsultan, Aira bercerita bak counselee. Keduanya berbicang diatas hijau rerumputan ketika pagi baru saja menyapa dunia.

* * *

“Silahkan kalian saling berjabatan tangan kanan dan menyatakan kesepaktan kalian di hadapan Allah dan GerejaNya.”

“Saya, Marlon Simamora, memilih engkau Cicilia Dinaira menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.”

“Saya, Cicilia Dinaira, memilih engkau Marlon Simamora, menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.”

“Semoga Tuhan memperteguh janji yang sudah kalian nyatakan dan berkenan melimpahkan berkatNya kepada kalian berdua. Yang telah dipersatukan Allah…”

“Janganlah diceraikan manusia.”

Tiga orang anak manusia di depan altar mengucap baris-baris kata, di pagi hari ketika matahari menyapa dunia di bulan muda.

* * *

“Ai, sudah selesai baca bukunya?”

“Sudah, Mas.”

“Siplah. Sesuai janjiku, kalau aku ditolak, buku ini akan aku buat. Untunglah laku. Jangan-jangan banyak yang senasib yak.”

“Apa coba?”

Marlon mengaduk-aduk Caramel Machiato-nya, Aira asyik dengan Java Chip-nya. Sebuah buku, novel, berjudul Yang Terindah, tergeletak diantara mereka.

“Jadi, pada intinya, kamu memang yang terindah, Ai.”

“Bisa aja kamu, Mas.”

“Ya begitulah. Jadi kalau aku bilang cinta lagi sama kamu, kira-kira diterima nggak ya?”

“Hmmmm..”

“Aku sayang kamu, Ai. Dan aku ingin menghabiskan sisa umurku bersamamu. Maukah kamu melakukannya denganku?”

“Mas?” Aira terdiam sambil memegang gelas Java Chip-nya.

Marlon menatap Aira dalam-dalam.

Aira bernapas dalam.

Marlon tersenyum manis.

Jam serasa berhenti.

“Iya, Mas.”

Malam baru saja meliputi siang ketika dua anak manusia ini bertaut hati satu sama lain, di sebuah bulan tua yang penuh pesona.

* * *

“Ai?”

“Iya Mas?”

“Aku udah di tol, bentar lagi sampai.”

“Oke Mas.”

Aira bergegas mencari kunci mobilnya, hendak menuju exit tol dan menjemput suaminya.

“Ayo Al, kita jemput papa.”

Anak 2 tahun itu mengikuti Aira masuk ke dalam mobilnya.

Aira melajukan mobil dan berhenti di SPBU yang tepat berada di exit tol.

“Papaaaaaa..”

Al bergegas berlari menuju sesosok pria yang baru turun dari bis itu.

“Selalu begini, dua minggu nggak ketemu, dan pasti kangen. Sini sayang.”

Marlon mengangkat jagoannya tinggi-tinggi. Aira mendekat.

“Tuhan itu baik ya Ai?”

“Kenapa?”

“Dia menyuruhku bermimpi tentang kamu, Dia kasih waktu bertahun-tahun. Dan Dia mempersatukanku dengan kamu. Tambah jagoan satu ini pula. Aku nggak bisa berharap dan berdoa yang lebih baik dari ini.”

Aira tersenyum, tangannya menggandeng Marlon.

Marlon, Aira, dan Al berjalan ke mobil, melanjutkan siklus hidup sesuai yang digariskan, 123 bulan sejak semua mulai berjalan dari 1. Bahwa hidup ini berjalan untuk sebuah kebahagiaan.

🙂

One thought on “123 Bulan

  1. Pingback: Cerita Farmasi: Jenis Bolos Anak Farmasi | Sebuah Perspektif Sederhana

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s