Setiap Orang Punya Hidupnya Sendiri-Sendiri

Entah! *oalah, tulisan opo iki, awal-awal kok wis entah*

Jadi begini, dalam hidup saya yang fana ini memang saya sering mendapat jatah mendengar cerita orang-orang. It’s OK. Malah saya bersyukur banget bisa mendengar banyak referensi hidup dari banyak orang. Dan itu kemudian terefleksi dalam hidup saya sendiri, dan satu hal yang lantas saya sadari: bahwa setiap orang punya hidupnya sendiri-sendiri.

Saya, misal, di usia 14 tahun sudah menggembel di Jogja, di usia 17 tahun sudah jadi mahasiswa, dan di usia 22 tahun sudah jadi pekerja. Di sisi lain? Ada yang bahkan dari usia belum 10 sudah banting tulang cari duit, dan ada juga yang hingga usia lebih dari 22 masih menempuh pendidikan. So? Ya memang itulah jalannya sendiri.

Dan karena itulah, sejatinya tidak setiap hal itu bisa dibandingkan, namun memang bisa dijadikan referensi. Sekali lagi, kalau di pembuatan skripsi kita nggak membandingkan, tapi menggunakan referensi. Iya kan?

Misal nih, ketika adik saya sekarang usia 17 tahun dan kemudian memasuki hidup barunya di sekolah baru di usia 17 tahun. Saya kadang berpikir bagaimana ini anak bisa hidup. Tapi ketika hidup saya sendiri tak jadikan referensi, lha kok membalik sendiri. Umur segitu saya luntang lantung nyari kampus, dan sudah survive 3 tahun dengan badan yang (syukurlah) tambah kurus dan tambah kering.

Itu satu contoh.

Lalu kadang saya mencoba membandingkan masa silam saya yang penuh heroisme hidup lewat es mambo! Hahahaha.. Bener, dulu saya sore-sore kerjanya bungkusin es mambo buat dijual buat jajan. Kalau mau dibandingkan dengan teman lain yang lebih kaya, ya iri. Tapi saya lantas baru sadar setelah jadi orang pabrik begini, dengan penghasilan ortu mereka yang tinggi, konsekuensinya, waktu mereka lebih sedikit untuk interaksi. Sementara saya? Sepenuhny saya memiliki waktu bersama orang tua sejak pulang sekolah.

Jadi, bener kata stand up comedy kemarin yang saya tonton, kalau ada reality show yang mempertontonkan keperihan hidup, sebenarnya itu juga referensi saja. Lha begini, yang hidup aja nggak nangis kok, kenapa malah host-nya yang nangis? Hayo, kenapa coba? Hmmm..

Jadi memang, setiap orang punya hidupnya sendiri-sendiri, latar belakangnya sendiri-sendiri. Dan itu tidak bisa diubah. So? Tinggal bagaimana kita saling bertukar referensi untuk hidup yang lebih baik.

Salam Pessy! *opo jal*

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s