Selayang Pandang Pangan Olahan

Coba nonton Spongebob di TV lokal Indonesia, kemudian simak iklannya. Ya, iklan di Spongebob memang menjadi satu hal yang membedakan tayangan di TV lokal dengan di TV aslinya. Episode standar Spongebob itu 3 sesi, awal-tengah-akhir. Namun, demi iklan, bagian tengah itu dipotong. Spongebob episode asli di TV lokal itu cuma ada di Lativi. Siapapun yang tahu bahwa pernah ada TV lokal yang mengambil nama pemiliknya itu, mungkin usianya sudah cukup matang.

Oke, fokusnya bukan itu. Mari simak iklannya! Segala macam pangan ada, segala makanan dan minuman, dari yang beku sampai cair, dari yang langsung santap hingga yang perlu dimasak terlebih dahulu, dari mantan pertama sampai calon istri kedua. Semuanya berseliweran silih berganti–tidak hanya di tayangan Spongebob–di TV kita. Apalagi yang masih TV tanpa bayar. Ah, jangankan gitu, Emak saya saja yang pakai TV berbayar malah memilih nonton acara tentang terong-terongan. *if you know what i mean*

Padahal, kalau mau tahu, iklan di TV itu hanya segelintir dan benar-benar secuil dari seluruh pangan olahan pabrikan yang beredar di Indonesia. Hanya perusahaan-perusahaan dengan budget maksimal yang berani main di above the line, sisanya milih below the line. Bahkan kadang ada yang nggak pakai line-line-an segala. Nih, tinggal masuk ke website Badan POM di www.pom.go.id lalu masuk ke tab ‘Produk Teregistrasi’ profilnya langsung kelihatan.

1Itu baru 2014 saja loh. Bulan puasa aja baru lewat, 17 Agustus juga belum, tapi jumlah produk yang mendapat persetujuan sejumlah itu. Atau kalau mau lebih seru, cuma masukkan query ‘MD’ di pencarian. Saya menemukan angka 30.655 data hanya untuk MD saja! Kalau mengetik ML, maka yang nongol adalah 28.211 data! Hampir 60 ribu macam pangan yang beredar di Indonesia Raya ini. Sekilas info, MD itu kode nomor yang diberikan untuk pangan yang dihasilkan di dalam negeri (domestik), sedangkan ML itu pangan yang dihasilkan di luar negeri dan kemudian diimpor masuk ke Indonesia. Please note bahwa itu hanya yang terdaftar di Badan POM saja.

Memangnya ada yang lain? Selain OOM ALFA?

Hwaduh!

Advertisements

Membanding-Bandingkan

Hahhhh… Entahlah, ini mungkin sedang hectic saja. Penuh, entah dengan apa. Jadi pengen sedikit berefleksi dengan membanding-bandingkan. Bukan maksud apapun kok, ini kan versi saya dan suka-suka saya, lha wong blog juga blog saya. Hahahaha..

Okehhh, kantor lama saya dan kantor saya sekarang sebenarnya satu perusahaan yang sama. Saya pindah dengan sebuah alasan yang (mungkin) lantas disesali. Jadi gini ya saudara-saudari, JANGAN SEKALI-KALI PINDAH KERJA KARENA ALASAN PACAR. Dari sisi itu, saya mungkin menyesal (lha njuk pedhot e.. hahaha..). Tapi dari sisi lain, saya bisa dibilang bersyukur dengan apa yang saya dapat di tempat baru ini, terutama penguasaan saya (dengan belajar sendiri) pada standar-standar yang sama sekali asing. Yah, dulu mana ada saya pernah tahu HACCP, ISO 22000, apalagi Sistem Jaminan Halal. Ya kan? Jadi ya sudah, nggak boleh ada penyesalan, karena toh semua ada positif dan negatif.

Total jenderal saya melakoni dua pekerjaan yang totally different dari sisi ritme dengan tingkat pusing yang sama. Ya iyalah, saya kan digaji untuk pusing dan lantas menghasilkan operasional yang baik. Bukan begitu?

Di tempat lama, saya terjun dalam sebuah rutinitas. Yak, tanggal sekian terima MPS, tanggal sekian upload planning, tanggal sekian running planning, tanggal sekian buat PR, tanggal sekian bikin ROFO. Begitu terus. Belum lagi ada kala material-material yang entah ada itunya, anunya, kurang itu, kurang anu. Ashh mbohh.. Hahaha.. Belum lagi, namanya juga orang planning, ada tarik ulur permintaan. Dan belum lagi yang paling bikin error dunia akhirat, gudang penuh. Hahaha.. Itu bagian-bagian yang setelah saya konfirmasi kemana-mana, jebule podho wae. Ya memang jatuhnya sama. Masalah itu ada relevansi dengan rutinitas. Dan ya memang begitu.

Di tempat sekarang, secara rutinitas memang anjlok. Lha dari 800 terjun ke 4, kompleksnya planning sejujurnya nggak kerasa. Tapi saya juga ngurus rutinitas untuk administrasi, dan saya baru bahan kenapa dulu saya harus susah payah nelpon ke gudang supaya bisa entry penerimaan ke sistem. Jebule angel rek. Saya ketemu dengan supplier yang macam-macam tingkahnya. Saya ketemu dengan dokumen-dokumen yang dulu saya nggak peduli. Itu separuh kerja saya. Sisi lain adalah di itu tadi, belajar standar-standar baru, implementasi, cari gap, cari pemenuhan gap, dan seterusnya. Well, sejujurnya, ini jauh lebih pusing daripada memutuskan harus order 5000 atau 7500. Bener deh. Tapi ya semoga bisa memberikan saya pemahaman lebih soal ilmu-ilmu baru ini, yang notabene di kuliah saya nggak paham. Jujur neh, karena kerja disinilah saya mulai konsen dengan kelas ruangan A sampai G, juga dengan IQ-OQ-PQ. Yah walau kuliah CPOB saya dapat A, tapi kan daya ingat rendah, jadi lupa deh.

Hahahahaha..

Jadi ya, kalau mau membanding-bandingkan, jatuhnya sama saja. Saya suka nguping kerjaan di pabrik otomotif hingga ke retail distribusi, ya sama. Konflik ada, masalah ada, hal-hal absurd ya ada juga. Semuanya berjalan karena memang kita hidup di dunia dan berhubungan dengan manusia.

Ini sekadar refleksi iseng saja kok, tidak mempengaruhi penilaian saya pada apapun. Saya bekerja disini sekarang, dan toh saya harus berkarya disini. Bekerja yang terbaik bukanlah sekadar demi bertahan hidup, tapi juga demi memberikan karya.

Eh, eh.. Satu hal yang kadang unik adalah ketika di pengobatan gratis ketemu obat dari kantor lama, yang saya paham batchnya, dan lantas tarik ke belakang… Ehhhh.. ini poly-nya saya yang order lohhh.. Ini doos-nya saya order sambil marah-marah, dan malah saya SOBEK sendiri (demi keamanan akan obat palsu). Hahaha.. Ini sungguh unik, buat saya. Entah buat yang lain.

Sekali lagi, ini semata-mata membandingkan. Kalaupun ada penyesalan, tentu karena sebuah alasan PACAR itu tadi. Tapi kira-kira sih impas dengan hal-hal lain, misal akses ke Jogja/Bukittinggi lebih murah, dan lainnya. Jadi, inilah hidup, kerjakan dan lanjutkan, demi kemuliaan Tuhan yang LEBIH BESAR.

Semua hal ada baik dan buruk kok, karena kita hidup di dunia 🙂