Am I Ready If?

Persetan itu judul bener apa nggak. Seperti biasa, saya kalau dipuji adanya malah mandeg. Iya, dulu begitu dapat gelar di lomba menulis apa, pasti dampaknya buruk. Bukannya tambah oke, malah tambah remuk. Apa malah nggak nulis sama sekali.

Oya, dan satu lagi. Saya itu orangnya masih takut terhadap kritik.

Mungkin bawaan melankolis saya, bahwa kritik itu menyakitkan hati. Cukup banyak kasus ketika kritik justru membuat emosi saya naik. Kritik yang menciptakan masalah juga ada, tanya saja sama mantan2 saya. Hahahaha..

Nah, sejalan dengan buku antologi mayor ketiga yang terbit dan ada tulisan saya di dalamnya, saya malah jadi bertanya-tanya. Sebenarnya, siap nggak sih saya menggapai passion saya yang bernama MENULIS itu?

Kenapa saya bertanya begitu, tidak lain dan tidak bukan adalah karena kasus Andrea Hirata. Dan sejujurnya itu masih mending (banget), karena yang disasar adalah klaim, bukan karya. Ketika saya menulis di Kompasiana dan dikomen kurang menarik, saya malah patah semangat. Semacam itulah.

Ketika saya kemudian sudah berhasil menyetorkan 3 naskah untuk terbit di antologi mayor, saya juga kemudian harus berkaca. Sebenarnya mimpi saya untuk jadi penulis beneran itu sudah tercapai. Untuk berharap punya 1 buku milik sendiri–at least, ya bisa dibilang sudah jalannya.

Tapi, namanya karya, nggak akan lepas dari kritik. Nah, sanggupkah saya? Siapkah saya?

Kadang hal ini jadi pertanyaan besar yang menjadi alibi saya untuk bersyukur bahwa saya belum-belum juga bisa menerbitkan buku. Hey, baru berhasil menyelesaikan 1 naskah saja sudah ngeluh kok belum bisa menerbitkan buku. Ngawur bener.

Apakah kalau nanti saya punya buku, saya akan siap dengan obrolan orang-orang tentang karya saya? Apakah saya siap menerima masukan dari pembaca? Apakah saya akan sanggup mengelola itu dengan tingkat emosional yang dewasa?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang kemudian berkecamuk di dalam pikiran saya. Satu hal, saya adalah orang yang terbiasa di belakang layar. Namanya juga orang planning. Kalau dulu orang hanya ngomong di belakang. Sekarang, orang bisa membicarakan orang lain di linimasa. Nah, sanggupkah saya jika nanti suatu ketika buka tab mentions di Twitter dan membaca kritik yang berat bagi tulisan saya?

Itulah dia. Saya masih terus bertanya. Apakah saya siap untuk itu.

Ah!

Advertisements

Hoki vs Kerja Keras

Pernah punya teman dengan hoki maksimal? Menurut saya, ada. Sebutlah begini, giliran ada agenda undi mengundi, hampir pasti orang ini dapat. Giliran yang lain galau menggalau jomblo, tanpa perlu kerja keras, orang ini bisa punya pacar. Giliran mencari kerja itu susahnya minta ampun, orang ini bisa dapat kerja dengan 1 kali melamar.

Dan kebetulan, saya nggak masuk golongan itu.

Yak, nama saya pernah masuk juara lomba caption foto Bola tahun 2004, tapi itu nama saya, dengan caption foto kreasi adik saya. Jadi itu bukan saya. Nah, jadi jelas lah, kalau namanya undian-undian itu, saya nggak pernah berharap. Kenapa? Hampir pasti saya nggak dapat. Seumur-umur dapat undian itu cuma tempat pensil berbalut batik. Enough.

Dan perlahan saya sadar relasinya adalah dengan kerja keras.

Why? Syukurlah saya punya beberapa prestasi. At least, saya bisa dapat beasiswa dulu plus beberapa kali dapat duit dari lomba menulis. Intinya? Saya nggak punya hoki tinggi sehingga saya harus kerja keras untuk mendapatkan yang saya mau. Sesederhana itu saja.

Dan kadang saya ngiri dengan betapa mudahnya orang hoki mendapatkan segala yang dimaui. Tapi perlahan saya sadar, bahwa sejatinya, itu hanya bentuk pengalihan. Aslinya saya harus bekerja lebih keras untuk memperoleh apa yang HARUS saya dapatkan.

Hehehe.. Semangat!