Tag Archives: reddoorz

Minggat Dong Corona, Saya Mau ke Jogja

Minggat Dong Corona, Saya Mau ke Jogja – Dulu sekali ketika saya masih jadi penjaga gudang di pabrik, ada rasa bosan dengan aktivitas yang hanya tentang kantor dan kosan. Plus, di kantornya itu ya antara ruang office dan gudang saja. Begitu kemudian pindah, pergerakannya langsung meningkat ekstrem. Suatu hari pada tahun 2018, saya pagi-pagi berangkat dari Serpong, rapat di Jakarta, kemudian siangnya rapat lagi di Bogor, dan kemudian malamnya balik lagi ke Serpong.

Pernah pula pada suatu pekan saya balik dari Denpasar dan mendarat kurang lebih jam 10 pagi, balik ke kantor di Jakarta, terus jam 3 pulang dulu ke Serpong untuk kemudian jam 11 malam naik kereta ke Bandung untuk acara di ITB keesokan harinya. Acara di ITB selesai jam 2, saya lalu bergegas balik ke Serpong untuk bersiap-siap karena hari Jumat pagi buta saya ada penerbangan ke Jogja.

Ya, sebelum pandemi, saya pernah segesit itu bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan begitu ada pandemi saya betul-betul jadi bapak rumahan seutuhnya. Sebagai gambaran paling jelas mari kita lihat pergerakan saya pada akhir 2018 dan pada bulan Agustus 2021.

Sayangnya memang, tahun 2018 itu adalah terakhir kali saya ke Jogja. Sebuah kota yang punya banyak cerita dalam masa lalu saya. Sebagai bapack muda, sesungguhnya mengajak anak semata wayang saya jalan-jalan ke Jogja adalah salah satu mimpi yang sebenarnya biasa, tapi sejak Maret 2020 berasa jadi mimpi yang terlalu liar. Itu 1 tempat baru di Agustus 2021 bahkan sebenarnya hanyalah Indomaret dekat rumah yang memang baru buka. Artinya, ya saya memang tidak kemana-mana…

Sebenarnya, sih, anak saya yang sekarang berusia 4 tahun ini bukan kali pertama ke Jogja. Pertama kali dia naik pesawat malah ke Jogja di tahun 2017. Masih bayi 5 bulan, lho. Kami ke Jogja karena ada acara pernikahan sepupu. Ya namanya juga acara nikahan, yang dibawa juga masih bayi 5 bulan, dibawa jalan-jalan pasti nggak berasa.

Ketika kemudian anak saya sudah paham mengenai ‘apa itu main?’ tentu ingin rasanya mengajak dia jalan-jalan ke pantai-pantai di Gunungkidul yang dahulu kala menjadi tempat saya dan teman-teman dolan jauh-jauh dari Sleman. Ingin pula mengajaknya ke Taman Pintar, Alun-Alun, Kaliurang, Penting Sari, atau bahkan sekadar main di kampus.

Padahal, ketika tahun 2019 saya kuliah lagi dan betul-betul off dari pekerjaan, berbagai perjalanan itu juga sudah ada dalam perencanaan. Selalu ada keinginan untuk jalan-jalan singkat sama anak, ya sekadar naik bis lintas Jawa yang cakep-cakep atau kereta api untuk datang ke tempat-tempat saya pernah bertumbuh di Jogja dan sekitarnya.

Lagipula dalam pengalaman saya, semakin besar anak, urgensi untuk harus menginap di hotel dengan fasilitas ekstra seperti kolam renang atau tempat bermain yang luas menjadi minim karena toh kita memang ingin jalan-jalan. Satu-satunya yang menjadi penting adalah kamar yang nyaman dan tentu saja terjangkau harganya. Kayak waktu di Bogor beberapa waktu sebelum pandemi, kami menginap di RedDoorz dekat Kebun Raya. Durasi di kamarnya tentu saja minim karena kami lebih asyik main ke Taman Topi atau Istana Bogor buat kasih makan rusa.

Yang paling penting, begitu balik ke hotel, kasurnya bersih, tivinya oke, AC-nya adem, dan bisa tidur dengan nyenyak. Walhasil saya sebagai bapack nan qiqir bisa mengalihkan anggaran untuk makan yang lebih enak atau sekalian dikonversi jadi tiket di tempat bermain. Dan pada dasarnya kebutuhan tersebut sudah tersedia di RedDoorz. Saya malah jadi ingat dulu pas masih pengantin baru ada kalanya staycation di hari kerja, ya di RedDoorz. Cari-cari di sekitar Setiabudi atau Bendungan Hilir agar dekat kantor istri dan bisa terjangkau ke kantor saya. Seru saja sih buat variasi hidup. Dan yah, lagi-lagi yang model begitu semakin tidak bisa terlaksana karena selain faktor anak, ya faktor Corona juga.

Sudah terbayang sebenarnya ketika suatu masa sesudah pandemi ini berakhir, maka saya akan ke Jogja bersama anak dan istri, lalu menginap di hotel di Yogyakarta yang tidak jauh-jauh dari Stasiun Tugu dan Malioboro. Dari situ, kami akan naik andong menuju Taman Pintar dan kemudian menghabiskan cukup banyak waktu di berbagai wahana pendidikan yang ada. Sore menuju malam, kami akan menghabiskan waktu di daerah Nol Kilometer sembari memperlihatkan kepada anak saya rupa-rupa kelakuan bapaknya kala masih muda belia. Habis itu ya balik ke RedDoorz dan terlelap untuk keesokan harinya.

Tempat berikutnya mungkin adalah kampus tempat saya kuliah 4,5 tahun lamanya di utara Jogja yakni Kampus III Universitas Sanata Dharma di Mrican. Tempatnya asri dan asyik buat bocah main-main apalagi lari-lari. Dan sebenarnya selain tadi pantai sampai Kaliurang, ada begitu banyak destinasi baik yang hits maupun yang penuh kenangan yang ingin saya bagikan sensasinya ke anak saya pada suatu hari nanti. Terutama ketika herd immunity sudah tercapai dan yang paling utama adalah saya masih diberi kehidupan.

Berkaca pada Spanish Flu tahun 1918, akan ada masanya virus Corona-nya hilang. Apalagi di masa kini sudah ditunjang dengan ikhtiar vaksinasi. Walau mungkin akan lebih susah karena saya sudah harus kembali bekerja, tapi ya bisalah diluangkan waktu cuti jika memang hendak jalan-jalan. Setidaknya untuk memberikan reward kepada Kristofer yang selama 1,5 tahun benar-benar setia di rumah saja sesuai anjuran pemerintah.

Semoga Corona benar-benar cepat minggat, yha, karena saya sudah ngebet mau jalan-jalan ke Jogja~

Liburan Akhir Tahun di Tengah Kota Jakarta

Apakah hal yang lebih menyebalkan daripada Dora yang bertanya terus menerus padahal jawabannya sudah kelihatan di layar televisi? Yup! Rencana libur yang gagal. Seperti yang saya–dan beberapa teman–alami akhir tahun ini.

Seorang teman yang bekerja di kantor pemerintah tiba-tiba diminta masuk kantor pada 27-28 Desember untuk membuat laporan yang katanya akan diserahkan kepada Presiden Jokowi. Teman yang lain diminta membatalkan cuti yang sebelumnya telah disetujui karena ada pertemuan mendadak. Pertemuan yang menurut terawangan akan batal juga. Kasihan pokoknya. Oh, kasihan dan menyebalkan pada saat yang sama karena sebenarnya kegiatan-kegiatan semacam ini bisa direncanakan jauh-jauh hari. Sejauh harapan untuk balikan dengan mantan.

Namun, apapun yang terjadi, semua harus berjalan. Dan salah satu caranya adalah untuk tetap berlibur akhir tahun meskipun pada akhirnya perencanaan kota-kota seperti Jayapura, Semarang, Bandung, Pangkal Pinang, dan lain-lain itu berubah signifikan menjadi… Jakarta. Deuh.

Nah, lantas apa saja yang harus diperhatikan dan dapat diperbuat dalam rangka liburan akhir tahun di tengah kota Jakarta?

Tur Museum

Jakarta sebagai kota yang terbilang maturitasnya tingkat tinggi, juga dikenal dengan warisan budaya nan tiada duanya. Salah satunya adalah sederet museum yang letaknya tidak saling berjauhan dan bahkan berada di sekitar Jakarta Pusat. Artinya, dalam satu hari saja, kita bisa keliling ke beberapa museum sekaligus menikmati kenangan-kenangan tentang sejarah masa silam kehidupan di Jakarta–yang tambah lama tambah bikin penat itu.

Museum Taman Prasasti (Kompas.com)

Beberapa museum yang dapat dituju antara lain Museum Sejarah Fatahillah, Museum Taman Prasasti, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Museum Kebangkitan Nasional, hingga Museum Sumpah Pemuda dan Museum MH Thamrin. Dua nama yang disebut belakangan bahkan bisa dicapai dengan jalan kaki saja.

Bagaimana? Menarik, bukan?

Tur Mal

Jakarta juga dikenal sebagai kota tempat mal bertumbuh dengan begitu hebat. Mal-mal baru selalu ada dan muncul meski kemacetan di sekitar mal lama sudah begitu padat. Nah, di tengah Jakarta yang mungkin sepi karena musim liburan, sebenarnya kita bisa berkunjung ke beberapa mal penting. Salah duanya adalah Grand Indonesia dan Plaza Indonesia yang depan-depanan serta berdekatan dengan Bundaran Hotel Indonesia. Kata teman saya yang tinggal di Jerman sana, isi Grand Indonesia itu kayaknya satu kota dia di sana. Heuheu.

Kota Kasablanka (Tripadvisor.com)

Selain itu, di tengah Jakarta kita bisa bersua dengan mal-mal unik seperti Kota Kasablanka (Kokas) yang terkenal ngehits, Plaza Senayan yang dikenal dengan jam jogetnya, hingga Mal Taman Anggrek yang punya layar LED berukuran raksasa, mengalahkan ukuran gabungan beberapa lapangan futsal.

Dekat Kantor

Nah, karena ini statusnya adalah disuruh masuk kerja pada saat seharusnya libur, maka penting bagi kita memilih tempat berlibur akhir tahun di tengah kota Jakarta yang dekat dengan kantor. Pemilihan tempat yang dekat dengan Sudirman atau Kuningan dapat menjadi pilihan. Niatnya adalah sepulang kerja tidak perlu ribet lagi naik KRL Commuter Line atau bis atau motor untuk menikmati hidup. Tinggal order yang online-online pada jarak dekat dan kita sudah bisa pura-pura bahagia di tengah kota meski gagal libur ke tempat yang jauh.

Harga Bersaing

Nah, di tengah kota itu apakah berarti harus di hotel nan bagus-bagus dan tinggi-tinggi? Tidak juga! Meski berada di tengah kota, kita bisa kok mendapatkan penginapan dengan harga bersaing. Salah satunya adalah dengan menggunakan RedDoorz. Untuk kepentingan kita yang akan tur museum dan tur mal namun nggak boleh jauh-jauh dari Sudirman dan Kuningan, maka RedDoorz Near Perbanas Jakarta menjadi salah satu opsi yang ciamik untuk dieksekusi.

Saya sendiri adalah pelanggan lama RedDoorz dan sudah berulang kali berhasil menginap di tengah kota Jakarta dengan anggaran yang minimalis tetapi tidur yang maksimal. Saya sudah, bagaimana dengan kamu? Selamat berlibur walaupun nggak jadi boleh cuti, yha. Nikmatilah. Heuheu.

Liburan Singkat di Tengah Jakarta

Heh? Apa? Liburan di Jakarta? Lho, se-Indonesia ngomongin Pilkada DKI Jakarta, kenapa kita nggak boleh berlibur di Jakarta? Kadangkala, Jakarta dapat menjadi tempat bagus untuk minggat sesaat, bahkan bisa minggat dalam ketenangan.

Pesona Jakarta tentu begitu besar hingga banyak orang tiba ke Jakarta tanpa modal untuk bekerja dan menempati celah-celah kosong yang bisa ditinggali. Di satu sisi tampak begitu bronx, namun di sisi lain kadang seru juga melewati gang-gang di tengah kota Jakarta. Jalan Sudirman misalnya, tampak megah dengan gedung-gedung tinggi. Demikian pula Jalan Rasuna Said. Namun di balik gedung-gedung tinggi itu yang bisa kita temukan adalah begitu banyak jalan kecil hingga gang yang bisa kita sebut sebagai gang senggol.

Lantas apa saja yang bisa kita lakukan dalam berlibur singkat di tengah Jakarta? Berikut beberapa diantaranya.

Tanah Abang

sumber: tempo.co

Ini adalah pasar paling legendaris di Jakarta. Tidak hanya menyebut tentang fenomena Haji Lulung yang begitu terkemuka sebagai produk Tanah Abang. Pasar ini juga dikenal sebagai pusat perdagangan tekstil paling besar. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Asia Tenggara. Lucunya, Tanah Abang yang dahulu adalah tempat dagang kambing. Disebut dulu ya karena memang usia Tanah Abang itu memang tua benar. Sampai ratusan tahun. Salah satu versi sejarah mencatat bahwa sampai akhir abad ke-19, Tanah Abang aslinya bernama Nabang yang berasal dari jenis pohon yang tumbuh di daerah tersebut. Nah, karena berada dalam zaman Hindia Belanda, maka gaya londo terpakai. Salah satunya adalah dengan penambahan partikel ‘De’. Maka, Nabang menjadi De Nabang, dan lama-lama menjadi Tenabang. Versi kisah yang dimuat dalah buku ‘212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe’ karya Zaenuddin HM kemudian melanjutkan bahwa perusahaan jawatan kereta api bermaksud memperjelas si ‘Tenabang’ itu dan kemudian muncul nama ‘Tanah Abang’.

Continue reading Liburan Singkat di Tengah Jakarta