Sunrise di Swiss-Belhotel Kendari

Pertama-tama, saya mau nanya, bagaimana pendapat kamu-kamu semua dengan pemandangan ini di pagi hari?

SWISBEL1

Kece, kan? Kece, dong! Pemandangan semacam ini saya temukan di sebuah pagi ketika saya menginap di sebuah hotel yang berlokasi di Kendari. Yup, ketika berada di Kendari, saya menginap di Swiss-Belhotel. Menurut website resminya, bintangnya 4. Namun satu hal yang krusial, harganya lumayan terjangkau. Bulan Januari silam saya sempat telepon–tapi nggak jadi karena perutusan dibatalkan–harga promonya hanya 400 ribu saja. Wow juga, kan.

Selengkapnya!

11 Fakta Tentang Anak Paduan Suara Mahasiswa

Kiranya hampir semua universitas punya Paduan Suara Mahasiswa alias padus alias PSM atau apalah namanya. Paduan Suara Mahasiswa kiranya merupakan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau apalah namanya yang sejenis. Suka-suka yang punya kampus, toh? Nah, sebagai mantan anak Paduan Suara Mahasiswa saya lantas mengerutkan kening untuk mengenang apa-apa aja sih yang unik dari anak Paduan Suara Mahasiswa itu. Mengingat saya sudah lulus kuliah sejak zaman Boedi Oetomo, maka kerutan kening saya lumayan berlipat sehingga bisa membentuk partitur lagu galau.

CF

Daripada kelamaan, baiklah, sesudah rada sering menulis kisah perjalanan #KelilingKAJ, ada baiknya kita refresh sejenak dengan beberapa fakta unik tentang anak Paduan Suara Mahasiswa versi ariesadhar.com

1. Anak Paduan Suara Mahasiswa biasanya adalah hasil seleksi. Namun biarpun sudah diseleksi, tetap ada seleksi alam.

Namanya juga Paduan Suara Mahasiswa yang membawa nama kampus, rekrutmen jadi nggak sembarangan ketimbang koor-koor biasa yang bahkan–kayak yang pernah saya lakukan–nyaut orang lewat yang penting rame. Anak-anak yang mau ikut Paduan Suara Mahasiswa harus dihadapkan pada persaingan ketat. Biasanya anak-anak semacam ini sudah ikutan paduan suara sejak dari TK, SD, SMP, atau SMA. Atau kalau ada yang nggak ikut sama sekali, lalu daftar jadi PSM ada juga kok. Saya. Padahal saat daftar saya itu nggak bisa membaca not. Membaca saja sulit, bagaimana mungkin diterima?

Selengkapnya!

Melintas Masa di Matraman

Jakarta alias Batavia adalah sentral perkembangan Gereja pada zaman dahulu kala. Selain Katedral, generasi awal Gereja Katolik di Jakarta ada di tempat #KelilingKAJ yang saya bahas kali ini. Yup, kali ini kaki saya melangkah ke tempat yang nggak jauh-jauh benar dari kos yakni Gereja Santo Yoseph Matraman. Gereja ini, menurut saya, punya nilai spesial. Selain tergolong dalam generasi awal perkembangan Agama Katolik di Jakarta, juga termasuk dalam sebuah peristiwa titik balik. Jika belum pada lupa, Gereja Santo Yoseph Matraman merupakan salah satu sasaran bom malam natal tahun 2000, dan membawa korban jiwa.

Matraman3

Gereja Santo Yoseph berlokasi di Jalan Matraman Raya nomor 127 Jakarta Timur. Letaknya sebenarnya terbilang dekat dengan Gereja lainnya. Untuk ke Gereja Kramat, tinggal lurus–atau naik TransJakarta via Slamet Riyadi – Tegalan – Matraman- Salemba Carolus – Salemba UI – Kramat Sentiong – Pal Putih–turun dah. Kalau mau diterusin lagi, juga sampai ke Bidara Cina.

Aksesnya juga mudah, semudah ke Wisma Kemhan. Selain halte Slamet Riyadi, Gereja ini tidak jauh dari Stasiun Pondok Jati. Pun bisa dijangkau dengan angkot biru M.01. Benar-benar sangat dimudahkan. Plus bukan titik macet karena lumayan jauh dari perempatan Matraman yang durasi lampu merah (plus macetnya) setara durasi menanak nasi lalu kemudian menggorengnya.


Selengkapnya!

Melihat Laut dari Hotel Travello Manado

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya di sini, jelek-jelek begini saya pernah berada di Manado. Memang bukan kali pertama saya menjejakkan kaki ke Sulawesi, karena beberapa bulan sebelumnya sudah pernah ke Kendari, namun Manado tetaplah menjadi destinasi lumayan menarik. Baik itu menarik dari sisi pemandangan alam, maupun pemandangan berupa manusia alias ceweknya cantik-cantik.

Selama dua malam berada di Manado, saya menginap di Hotel Travello. Hotel ini berada di posisi yang lumayan tengah kota, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman nomor 123. Sebuah nomor yang menjadi alasan saya memilih hotel ini, karena bisa dibaca di bagian lain blog ini bahwa saya itu cinta tiga angka tersebut. Alasan lain? Tentu saja, budget!

TRAVELLO4

Ketika menghubungi Hotel Travello di nomor telepon (0431) 855999, telepon saya diangkat dengan cukup ramah. Eh, kok saya bisa tahu yang ngangkat itu ramah ya? Ya begitulah. Namanya juga hotel, kan harus ramah. Setelah bertelepon ria, saya mendapatkan jumlah kamar yang dibutuhkan, di lantai 8, lantai tertinggi di hotel Travello.

Continue Reading!

Melangkah Hingga Mangga Besar

Sesudah mengkalkulasi KAJ secara holistik, ternyata memang bagian Barat belum saya jamah secara sempurna. Maka, sesudah sempat ke Kemakmuran, saya lantas menguatkan hati, batin, dan ongkos untuk menapak jejak kedua di sebelah barat. Mempertimbangkan akses dan jadwal, maka pilihan jatuh di Mangga Besar.

Siapapun yang kenal Jakarta, pasti kenal kawasan Mangga Besar. Hotel-hotel di sepanjang jalan, hingga sebuah kompleks hiburan jelas menggambarkan itu semua. Di salah satu grup obrolan lelaki yang ada di ponsel saya, Mangga Besar jelas disebut sebagai sebuah lokasi untuk bersenang-senang di waktu malam. Saya kadang pengen ikutan, apa daya, untuk bayar ongkos taksi ke Mangga Besar saja tiada sanggup, kan disuruh hidup sederhana.

Saya menyisir jalan menuju Gereja Mangga Besar via Stasiun Mangga Besar. Penelusuran via Google Maps kali ini mengecewakan. Saya lantas dibantu oleh Wikimapia dan sedikit logika sederhana. Dari Stasiun Mangga Besar, cukup berjalan ke sebelah kiri, kemudian menyeberang, dan nanti sesudah Lokasari, kamu akan menemukan sebuah gerbang dengan tulisan berbackground merah pada bagian atas. Gereja Santo Petrus dan Paulus Mangga Besar berada di dalam kawasan yang dilindungi oleh gerbang itu. Perhatikan dengan saksama jalur yang saya tempuh, tampak jelas bahwa yin dan yang memang harus bersebelahan.

Lanjutkan!

Pagi Syahdu di Pasar Minggu

Masih lanjut dengan #KelilingKAJ, mumpung masih niat. Seperti biasa, rute ditentukan oleh arah angin. Kali ini angin mengarah ke selatan, dan dalam rangka persiapan bangun pagi minggu depan (tugas balkes ke Cikarang-red), maka Gereja yang dituju mesti dekat dengan jalur kereta api. Dan pilihan jatuh kepada Gereja Keluarga Kudus Pasar Minggu. Sebagai catatan, di Keuskupan Agung Jakarta, nama Keluarga Kudus juga dimiliki oleh Rawamangun. Memang nama idola.

PASARMINGGU2

Perjalanan saya mulai dengan keluar dari kos jam 4.30 pagi, kemungkinan bersamaan dengan maling-maling yang pulang dari perjalanan dinas. Saya naik bajaj ke Stasiun Manggarai. Kenapa naik bajaj? Supaya kelihatan merakyat. Tsah. Di Manggarai, pukul 04.50 pagi, saya naik KRL ke arah Bogor. Ini kan ceritanya subuh aja belum kali ya, tapi KRL menuju Bogor itu sudah penuh, saudara-saudari. Saya harus berjalan beberapa gerbong untuk menemukan kursi yang kosong. Ini penduduk Jakarta kagak ada tidurnya apa ya?

Selanjutnya Tentang Pasar Minggu!

First Anniversary

Selama bertahun-tahun, isi blog ini adalah bentuk penggalauan. Baik itu penggalauan individual, semisal tentang LDR sama pacar yang punya teman dekat satu kota, hingga penggalauan umum semacam cinta diam-diam. Sebenarnya, konten tersebut berasal dari penggalauan pribadi yang digeneralisasikan. Begitulah kira-kira. Kenapa galau? Sebenarnya karena saya itu jomlo menahun, sebuah terminologi yang didefinisikan sebagai berada dalam keadaan sendiri selama bertahun-tahun.

Sayap Citilink

Saya kemudian sempat berada dalam fase-pengen-jadi-romo-gara-gara-jomlo-menahun. Keinginan itu saya batalkan karena tidak baik untuk kemaslahatan umat. Jadi jomlo itu kadang menyenangkan, memang, tapi menjadi tidak menyenangkan ketika mudik, lalu ditanya, “calonnya orang mana?”, sebuah pertanyaan yang bikin tangan ingin membekap mulut si penanya untuk kemudian disumpeli jeruk mandarin. Belum lagi ditunjang kalau kumpul sama teman-teman Dolaners, yang lain sudah bawa anak, saya masih gini-gini aja. Robert sampai bilang, “Ojo nganti anakku wis kuliah, kowe jik PDKT wae…

Continue Reading!

Santapan Ringan dari Gereja Kemakmuran

Misi #KelilingKAJ kembali lagi pekan ini. Sesudah Blok Q dan Bidara Cina serta diselingi oleh Kolese Kanisius, saya pengen sesuatu yang berbeda kali ini. Blok Q kan masuk Dekenat Selatan, Bidara Cina ikut Timur, Pusat ya tinggal Jalan Malang yang belum pernah saya injak. Kayaknya seru juga kalau beranjak ke sisi Barat, namun tidak mencari kitab suci bersama OOM ALFA. Sesudah mencari angin yang berhembus, maka keputusan dibuat. Sasaran berikutnya adalah Paroki Bunda Hati Kudus atau yang sering dikenal juga sebagai Paroki Kemakmuran.

Ada beberapa alasan saya memilih dan menetapkan Paroki Kemakmuran sebagai TKP #KelilingKAJ. Pertama adalah karena kaki kiri saya cedera kecil pas futsal kemaren, sehingga harus mencari yang dekat-dekat dengan sarana transportasi umum. Kedua, gereja ini berlokasi di Jalan Hasyim Ashari. Siapapun tahu bahwa KH Hasyim Ashari adalah pendiri Nahdlatul Ulama yang juga adalah ayah dari KH Wahid Hasyim, ulama terkemuka Indonesia. KH Wahid Hasyim sendiri adalah ayah dari Presiden paling nyentrik Republik Indonesia versi saya, Gus Dur. Bukankah hal menarik bahwa di Jalan Hasyim Ashari berdiri sebuah Gereja? Apalagi ketika saya masuk, di layar tertera ucapan selamat datang, berikut alamat jelas yang notabene adalah nama tokoh Islam besar di Indonesia. Sesungguhnya saya terharu, bahwa sebenarnya Indonesia bisa kok saling menyayangi satu sama lain.

Selanjutnya tentang Gereja Kemakmuran!

Kisah Klasik Bersama Lion Air

Hari-hari ini ramai sekali soal Lion Air. Sebuah maskapai yang begitu super power. Kenapa super power? Bahkan Emirsyah Satar sekalipun tidak pernah menandatangani perjanjian jual beli di depan Francois Hollande dan Barrack Obama. Bos Lion Air? Pernah. Bahkan saking super power-nya, maskapai yang sudah amat sangat dikenal dengan delay-nya–sampai orang YLKI bilang di tivi perihal jargon Late Is Our Nature–ini tetap laku, tetap laris, tetap digemari.

IMG_3947

Kenapa saya bilang begitu? Karena saya adalah pengguna setia maskapai lokal ini. Ibarat orang pacaran, saya ini sudah setia minta ampun. Disakiti, diselingkuhi, dipermalukan, tapi tetap balik-balik juga. Yup, sampai tulisan ini ditulis, saya sudah naik Lion Air sebanyak 44 kali dari total 92 penerbangan yang telah saya jalani. Nyaris 50% kan? Dari 44 kali penerbangan itu, aneka problematika khas Lion Air tentu sudah saya alami.

Pertama kali saya naik Lion Air adalah Desember 2006, dilanjutkan Januari 2007. Sampai penerbangan keempat di tahun 2008, masih selamat dari cerita orang soal Lion Air. Demikian seterusnya sampai penerbangan ke-16 di tahun 2010 pun saya masih bebas dari cerita delay dan aneka bunyi-bunyi nggak enak tentang Lion Air. Saya baru kena di Mei 2010, delay nyaris 2 jam saat hendak ke Jogja dari Jakarta. Menjadi cukup krusial karena waktu itu mau ketemu pacar LDR yang sudah 9 bulan nggak ketemu. Cieh.

Continue Reading!

Berkelana Hingga Bidara Cina

Sesiangan tidur siang dalam kondisi hujan deras, saya lantas terbangun dan melihat via jendela bahwa matahari bersinar begitu teriknya macam knalpot OOM ALFA. Tetiba saya bingung, tadi itu hujan-hujanan mimpi apa bukan ya?

Karena matahari masih baik hati untuk bersinar, saya kemudian membulatkan perut, eh, tekat untuk menuju ke pengelanaan berikutnya. Mengingat sudah Minggu sore, maka berkelananya nggak usah jauh-jauh banget, yang penting terjangkau. Maka, tujuan yang ditetapkan adalah Gereja Santo Antonius Padua Bidara Cina, dengan jadwal yang saya incar adalah 17.45.

Berhubung saya itu anaknya rajin menggalau, akhirnya saya sampai TKP malah pukul 16.30, terlalu cepat. Gereja ini boleh dibilang sangat strategis karena bisa dicapai dengan mudah via TransJakarta jalur gemuk, Harmoni-PGC. Meski namanya Bidara Cina, namun jangan turun di Halte Bidara Cina. Gereja ini bisa dicapai secara lebih mudah dengan turun di Halte Gelanggang Dewasa, eh, Gelanggang Remaja. Hayo, nggak pada bayangin aktivitas dewasa yang dilakukan di gelanggang kan? Dari Halte Gelanggang Remaja, tempat tujuan bahkan sudah bisa dilihat–setidaknya dari parkiran mobil di jalan.

Continue Reading!

Bapak Millennial