Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

My Awesome Boss

Saya adalah orang yang tidak pernah setuju pada novel “My Stupid Boss”, makanya saya tidak pernah membeli buku kondang itu, pun tidak mengirim naskah ke salah satu edisinya yang membuka peluang kontribusi dari pembaca. Ini sikap saja, setiap orang boleh berbispak, eh, bersikap berbeda. So, no offence buat penggemar MSB ya.

20606044-cartoon-boss-man-set-angry

Karena saya baru sadar bahwa posting bulan ini baru sebiji, kebetulan pula habis ber-WA-ria dengan seorang kawan berlatar belakang sama, eks company besar, tetiba saya ingat bos-bos yang pernah saya ladeni. Dalam karier saya yang hampir 5 tahun, tidak banyak memang jumlah bos yang pernah saya rasakan kepemimpinannya. Hanya 3, dan itu lelaki semua. Tapi, entah kenapa, saya memang selalu dianugerahi bos unik. Bukan bos yang lempeng saja. Menjadi unik, karena karier saya pada akhirnya jadi lebih berwarna. Berikut saya mencoba mengulas ketiga eks bos saya itu, namun dengan inisial saja ya. Yang pernah sekantor sama saya pasti langsung paham.

Continue Reading!

Tulisan ariesadhar.com di Laman Pertama Google

Tulisan ini sekalian promosi buat siapapun yang ingin bekerjasama dengan saya perihal blog. Hehe. Soalnya, kemaren saya iseng mengetik beberapa kata kunci dan agak kaget juga mengetahui bahwa beberapa tulisan yang ada di blog ini nangkring di laman pertama pencarian via Mbah Google. Tidak selalu nomor 1, sih, tapi ada deh di halaman 1 Google. Apakah itu pertanda saya sudah mulai bisa SEO? Ah, saya mah nggak mikir. Blog ini kan buat suka-suka-hore-hore, kalau ada pendapatan itu bonus.

Tulisan yang greng (mengutip bahasa dari seorang petinggi yang kelakuannya tidak bisa diprediksi) di blog ini umumnya adalah tentang fakta-fakta. Itu tentunya sejak saya menulis 77 Fakta Unik Mahasiswa Sanata Dharma. Maka jelaslah ada beberapa kata kunci yang terkait fakta-fakta itu yang nangkring di laman pertama Google, seperti:

Fakta Sadhar

Itu si nomor 2 sebenarnya tulisan saya yang dicopas orang (#akurapopo). Terus yang nomor 3, itu turunan dari si nomor 1, lumayan dong, menginspirasi sesama.

Continue Reading!

Selamat Ulang Tahun, Mamak!

Kalah set sama si Cici yang sudah duluan ngepost yang semacam ini. Nggak apa-apa. Toh ya ini soal Mamak yang sama. Kebetulan Mamak saya dan Mamak Cici sama. Kan dia adek saya, gimana, sih? Posting ini juga perlu karena tahun 2013 saya pernah menulis posting ucapan yang sama kepada Bapak. Salah-salah saya dikutuk jadi Malin Kundang. Ampun.

Hari ini, Mamak saya genap berusia 52 tahun. Sebuah usia yang masih so-so, dalam kategori menimang cucu. Sebagai wanita karier yang beranak di usia 24 tahun, kiranya umur segini masih segar. Ya kan, Mak? Jadi cucunya kapan-kapan saja kan? *uhuk*

foto1

Sebenarnya, saya paling sering ribut sama Mamak saya nan asli Batak ini. Tidak seperti Bapak saya nan bijak tiada tara, kalau sama Mamak, saya bisa tinggi-tinggian nada. Kadang kalau pakai telepon, berasa ingin membanting handphone kalau nggak sadar bahwa harga handphone-nya melebihi gaji saya sebulan. Cuma, saya yakin ini dinamika keluarga belaka. Anak yang ribut dengan orangtuanya kiranya lebih mending daripada anak yang menuntut Ibu-nya di pengadilan. Kadang ributnya nggak penting. Ingat sekali ketika tahun 2004 saya menangis di Bandara Tabing. Tangisan yang kalau dipikir sekarang adalah kurang krusial. Saya menangis karena menurut saya cukup ndeso untuk makan dengan bekal yang dibawa jauh-jauh dari Bukittinggi, di Bandara Tabing. Kalau dipikir-pikir lagi, itu kan tanda sayang? Begitulah.

Continue Reading!

Saya dan Jakarta

Sebagai pemuda harapan bangsa kelahiran kota nan kecil, mungil, merata, saya kini tinggal di Jakarta. Ibukota Republik Indonesia yang kata Koh Ernest sudah dikuasai oleh kaumnya. Sebuah kota yang oleh karena pilihan nan tersedia, lantas menjadi peraduan bagi siapapun untuk mencari nafkah. Siapapun itu termasuk saya. Sejujurnya, belum setahun saya menjadi penghuni Jakarta. Mungkin terlambat, karena teman-teman saya justru telah meninggalkan Jakarta.

Tadi kan saya bilang bahwa saya adalah pemuda kelahiran kota kecil, dan sampai usia saya ke-10 tempat terjauh yang saya jajah adalah Padangsidimpuan, kampung Mamak saya. Udah. Maka, ketika tahun 1997 ada program mudik bareng ke kampung Bapak, saya senang minta ampun karena akhirnya bisa menjejak Jawa dalam keadaan sadar. Sebelumnya ke Jawa pas usia 2 tahun. Mungkin satu-satunya yang saya ingat saat itu adalah pipis di celana.

Selepas Merak, saya dan adek-adek GANTI CELANA DI DEPAN MESJID. Sudahlah diturunkan sama Gumarang Jaya, tas banyak, harus nyari bis ke Jogja sendiri, pula. Kenapa harus ganti celana, karena kami sudah hitungan hari di dalam bis, dan akan menempuh perjalanan hitungan hari lainnya ke Jogja. Pas maghrib, diperolehlah bis itu dalam keadaan penuh.

Ketika saya berdinas ria sekarang ini ke Kendari, Palembang, dan lainnya, saya menemukan anak-anak kecil yang kecil-kecilnya sudah naik Garuda. Bersyukurlah kalian, nak, nggak kayak Om.

Continue Reading!

Kemajuan ariesadhar.com di 2014

Posting pertama di 2015. Baiklah, mungkin sudah pada muntab membaca kalimat barusan. Jadi saya coret saja ya. Posting pertama di 2015.

Tahun 2014 boleh dibilang menjadi lompatan besar bagi blog ini. Sebenarnya pengen nulis ini pas ultah kebangkitannya beberapa hari lagi, sih. Tapi daripada ketinggalan blog lain yang sudah ngepost dari tanggal 1, jadi ditulis sekarang saja ah.

Pada awal-awal 2014, blog ini masih standar belaka. Rekor view seharinya HANYA 316, itu juga karena ada orang yang search tentang Muara Gembong, dan memang masih sedikit artikel tentang Muara Gembong yang terindeks Google kala itu sehingga posting sayalah yang muncul terus. Standarnya ya 200-an. Apalah artinya 200 pageview sehari? Waktu itu, sangat banyak.

Ketika kemudian saya resign pada 5 Maret 2014, menjelmalah saya menjadi pengangguran terang-terangan. Maka, tidak ada cara lain mengisi waktu selain dengan mengerjakan pekerjaan kreatif seperti tidur siang sepuasnya sampai eneg, stalking FB mantan gebetan, dan menulis blog. Saya lantas membaca tulisan tentang fakta unik mahasiswa ITB. Nah, saya lalu bikin tulisan 77 Fakta Unik Mahasiswa Sanata Dharma. Tidak disangka animo terhadap tulisan itu luar biasa. Saya lalu bersemangat dan melanjutkannya dengan 97 Fakta Unik Anak Farmasi yang ternyata (lagi) animonya lebih banyak.

Tulisan tentang anak Farmasi itu pada akhirnya membuat saya sedikit lebih mudah memperkenalkan diri ketika masuk ke kantor baru yang notabene sebagian besarnya adalah Apoteker. Tinggal bilang, “Tahu tulisan 97 Fakta Unik Anak Farmasi? Nah, itu saya yang nulis.”

Cukup bangga.

Nah, di kala saya magabut di awal-awal kerja, maka muncul ide lagi untuk menulis fakta unik begitu. Kemudian setelah bekerjasama dengan adek saya, si Cici, muncullah ide untuk menulis 123 Fakta Unik Mahasiswa Jogja. Tanpa saya duga, tulisan inilah yang kemudian membuat pageview blog ini melonjak minta ampun, bahkan mencapai titik tertinggi yang bisa dicapai dan belum dikalahkan sampai saat ini. Untuk sebuah blog yang sehari-hari cuma sanggup 200 view, tiba-tiba menjadi satuan ribuan per hari, itu ngeri dalam arti bahagia.

Blog2

Namanya posting blog sudah pasti trending. Apapun yang naik, pasti akan turun. Supernya, saya kemudian iseng memasukkan posting itu ke Kaskus dan, voila, jadilah HT. Maka dalam bulan itu, pageview blog ini mencelat menjadi 40 ribu. Saya terharu dengan pencapaian ini, saking terharunya saya lalu meluk pacar. *untungnya sudah punya*

Continue Reading!

Tentang Kebelet Bilang Cinta

Salah satu hal yang saya sesali di tahun 2014 ini adalah minimnya karya monumental. Kalau tidak karena project bukunya Jamban Blogger yang judulnya Galau: Unrequited Love sudah bisa dipastikan tahun 2014 ini saya nihil buku. Padahal sejak 2012 saya sudah mewarnai dunia persilatan dengan buku-buku antologi yang berujung di OOM ALFA tahun 2013. Selain itu, kiranya semua penyesalan tertutupi oleh fakta bahwa saya punya pacar tahun ini.

Entahlah, saya itu kalau nggak sreg sama cewek, eh, plot, dijamin nggak semangat nulisnya. Ada 2-3 outline yang saya serahkan ke Elly untuk harapan buku kedua, tapi nyatanya juga saya sendiri nggak sreg sama outline itu. Berakhirlah dia pada tumpukan file yang mungkin akan kena defrag, saking jijiknya si Tristan sama isi outline itu.

Sampai kemudian Bukune bikin KAMFRET. Awalnya saya sih ngerasa nggak enakan buat ikutan, soalnya itu toh penerbit saya sendiri. Tapi ketika kemudian saya melihat di Twitter banyak penulis lain yang juga ikutan, maka saya bersemangat untuk ikutan. Bahkan, karena terlalu semangat saya sampai bersyukur bahwa KAMFRET itu diperpanjang sama Bukune. Padahal, dulu saya males banget sama lomba yang diperpanjang, sementara kita sudah buru-buru mengejar deadline. Dunia memang mudah berubah, Bung!

Continue reading!

Secuil Cerita Dari Citraland

Sejak jaman OOM ALFA eksis, saya sudah join Cantus Firmus. Nah, sampai sekarang saya menggelandang di ibukota nan lebih kejam daripada ibu bos ini, tersebutlah kisah Cantus Firmus lainnya yang sering dikisahkan di blog ini. Rupanya cerita tentang Cantus Firmus Extraordinary masih berlanjut. Sesudah manggung ceria di Karawaci, sekarang topiknya adalah ikut lomba. Manusia-manusia ini adalah banci panggung mendasar. Maklum, dulu pada jaman belia dan unyu-unyu labil di Jogja, panggung adalah jajahan reguler. Tugas wisuda? Jelas duduk manis di panggung. Dies Natalis? Malah dikasih panggung. Konser? Apalagi itu. Belum lagi lomba-lomba lainnya. Beresin kursi? Iya juga, sih. Bahkan konsep banci panggung ini sampai menelurkan konser yang kalau dipikir-pikir banyak uniknya, atas nama Poelang Kampoeng, medio 2013 silam.

Nah, ketika kebetulan sebagian orang sama-sama mencari segenggam reksadana di Jakarta Raya (include Bekasi, yang katanya dekar Mars), maka diada-adakanlah agenda berkumpul ria bersama dalam lomba yang semata-mata hanya mencari panggung belaka. Ditemukanlah panggung itu di sebuah mal milik enterpreneur terkemuka di negeri ini yang letaknya di Grogol Town sana. Sebut saja Citraland.

Saya sih saking siapnya mengikuti lomba ini jadinya cuma latihan sekali saja, itu juga dua minggu yang lalu. Cerita tentu saja hampir mirip dengan kemenangan di lombanya Mall @ Alam Sutera. Bagaimana mungkin mengumpulkan manusia yang berceceran di berbagai sudut Jabodetabek setiap pekannya? Ya, sulit. Lebih sulit daripada mencari jodoh di tumpukan jerami.

Janganlah berfokus kepada pupu
Janganlah berfokus kepada pupu

Sesiangan saya sudah tiba di halte Jelambar yang tidak jembar. Rencananya kami berkumpul di sebuah sekolah yang ada dekat sana. Satu-satu-satu datang, kumpul, dolanan asu, baru kemudian kita latihan. Masih belum komplet dan nyaris kagak ikutan karena jumlahnya belum 20. Hanya doa mama yang menemani langkah masing-masing agar sanggup jadi 20 orang. Halah, jangankan bahas jumlah orang. Sampai 3 jam sebelum manggung saja masih ada sesi belajar not kembali. Sungguh super pokoknya.

Baca selengkapnya, Mbohae!

Salah Kaprah Tentang PNS

Seperti biasa, begitu ada Presiden baru dan kabinet baru, yang pertama kali disasar adalah PNS. Entah mengapa selalu jadi demikian. Bahwasanya PNS yang main judi di kantor memang masih ada, bahwasanya PNS yang jomlo juga masih banyak, tapi tentu kita tidak bisa menutup mata pada PNS-PNS yang baik hati dan tidak sombong serta rela lembur tanpa dibayar. Bagi saya, menjadi PNS yang lurus dan tidak merepotkan negara itu sudah jauh lebih mulia daripada ngomyang melulu tentang negara di Twitter tapi kemudian diajak masuk ke dalam lingkup birokrasi nggak mau, dengan alasan nanti terkontaminasi. Ini lebih ke arah lucu bin ironis. Kita mengeluh bahwa para pelaku birokrasi alias PNS itu bobrok, tapi kemudian kita merelakan jalannya negara ini pada mereka yang sudah kita anggap bobrok itu. Aneh kan ya?

pns-eselon-jabatan130516b

Satu hal yang pasti, PNS dimanapun berada adalah penggerak dan pekerja. Menteri secakap apapun, kalau PNS-nya loyo, kerja mereka nggak akan paripurna. Saya kemaren menghadiri sebuah seminar yang pembicaranya adalah PNS eselon I-nya Bu Susi. Dan pembicara itu memberikan apresiasi awal kepada Bu Susi, alih-alih resisten. Yang begini tentu saja bagus. Lalu kemudian ada pembicara lain–di seminar yang lain–yang bilang, “mana kita dapatnya menteri partai pula!”. Hal sejenis ini boleh jadi preseden buruk bahwa ada perbedaan perspektif yang menjadi bahaya laten. Latentofive. *nyanyik i will fly into your armmm….*

Nah, supaya agar lurus, mari kita sibak beberapa salah kaprah yang beredar di muka umum tentang PNS sejak kabinet baru ini dilantik.

Selanjutnya, Mbohae!

Email Resign Anti-Mainstream

ROADTRIP

Seumur hidup, saya baru sekali merasakan resign. Kalau sekadar pindah tempat kerja, sekali juga. Kalau kawin? Belum, sih. Nah, perkara resign ini sangat khas. Namanya juga pekerja swasta, ketika tidak betah, atau ketika disingkirkan pelan-pelan oleh teman sejawat, atau ketika ada tawaran lain yang lebih baik, tinggal pindah dong ya? Ketika berpisah, umumnya ada sekadar sapaan perpisahan by email. Tentunya ini berlaku bagi level yang memang jamak berkomunikasi via email. Kalau yang resign satpam, nggak perlu juga pakai email resign.

images5

Perihal email resign ini selalu saya perhatikan dan simpan di folder khusus. Jadi saya tahu bahwa ada sebagian orang yang copy paste email resign yang lain dengan hanya mengganti nama belaka. Ada juga yang nulis sendiri tapi sebatas 1-2 kalimat. Saya cuma mikir aja, ini kan resign dan akan sulit kita berkomunikasi lagi dengan orang-orang di perusahaan itu, jadi, kenapa kita nggak bikin email resign alias email perpisahan yang anti mainstream? Sesuatu yang bisa dikenang oleh orang banyak bahwa kita itu unik, dan saran saya sih nggak usah mengirim email resign pada sejawat yang menyingkirkan kita. Nanti dia lonjak-lonjak kegirangan.

Ketika saya pindah unit, dalam perusahaan yang sama, saya membuat email perpisahan lokal dengan judul Terima Kasih. Dan ketika saya resign beneran, maka saya harus membuat email sekali seumur hidup yang keren. Ini dia emailnya.

emailnya

Sebenarnya, Itu Tulisan Saya!

Adalah kebiasaan bagi saya untuk mencari perkembangan share tulisan saya via Twitter. Maka, saya cukup rajin mengetik 97 fakta unik atau 77 fakta unik. Dua keyword itu merujuk ke dua tulisan saya yang termasuk dalam kategori best pageview di ariesadhar.com ini. Tapi sore ini saya justru terkejut ketika yang muncul justru link milik sebenarnya.com ini.

http://www.sebenarnya.com/2014/04/77-fakta-unik-mahasiswa-usd-yogyakarta.html

Sengaja saya printscreen juga, karena basic saya auditor. Saya butuh bukti yang bisa disimpan.

SEB1

Kelihatan banget di bagian awal website sebenarnya.com itu, dan ketika diklik tentu saja yang muncul adalah:

SEB2

Pakai tertulis ‘hak cipta dilindungi oleh’. Wew, ini si pembuat website tahu definisi hak cipta nggak ya? Soalnya, sudah jelas dan saya bisa pastikan bahwa 77 Fakta Unik ini adalah murni tulisan saya, benar-benar hasil tarian jemari saya.

SEB5

Saya menulisnya tanggal 12 Maret, siang hari, di kos-kosan Kedasih, karena waktu itu saya pengangguran. Dan memang tulisan itu segera menjadi tulisan paling populer di blog ini, sehingga bisa mencapai 5000 pageview lebih dalam hari kemunculannya. Banyak yang komen, banyak yang nge-share dan banyak yang memberikan feedback bagus dan sudah saya kumpulkan untuk di-launch lagi pada saat yang tepat.

Lalu maksud si pemilik sebenarnya.com ini apa ya? Mencari apa dengan memosting tulisan saya hanya dengan mengganti judul ‘Sanata Dharma’ menjadi ‘USD’? Ah, mungkin buat indeks Google, dan notabene dia berhasil.

SEB4

Sejujurnya, ini pertama kalinya saya mengetahui tulisan saya dicopas mentah-mentah begini. Tentu saja, blogger lain banyak yang sudah dan mungkin sering mengalami ini. Rasanya sungguh semacam putus cinta, kecewa, sedih, gundah, dan sejenisnya. Kenapa? Karena saya benar-benar menggarap seluruh tulisan di blog ini tanpa copas. Mungkin memang ada tulisan yang mengambil referensi lain, tapi pasti saya kasih link, atau memang ada satu yang saya lupa link-nya karena itu saya ketik dari kertas. Tapi itupun saya tuliskan dengan jelas bahwa itu bukan tulisan saya.

Menjadi sangat gila ketika di bagian akhir, makhluk abstrak pemilik website ini kemudian mencantumkan begini:

SEB3

Dia menggunakan COPYSCAPE untuk sebuah tulisan yang copy paste. Plus, dia menulis artikel original hanya di link itu. HAHAHAHA. Entahlah si author yang tertulis bernama Donny ini benar-benar paham soal hak cipta atau setidak-tidaknya penghargaan intelektual pada karya orang lain atau tidak. Apalagi dia hanya menulis ‘facebook’ sebagai sumbernya. Even kita tahu bersama kalau di Facebook itu sudah pasti ada link aslinya.

Saya dulu pernah ingin copas, tapi apa daya tangan saya nggak bisa mengikuti kehendak otak untuk copas. Dia semacam pengen berhenti dan nyatanya kalau memang saya copas, ya saya copas idenya. Bahwa posting 77 Fakta Unik ini memang idenya menginduk pada 100 Fakta Unik tentang ITB, plus gaya Roy Saputra dalam ‘hal yang tidak boleh dilakukan’. Content? Saya bisa pastikan itu asli.

Iya, mungkin saya terlalu membesar-besarkan masalah copas ini, karena ini adalah kasus pertama saya. Tapi bukankah orang yang setia pada perkara kecil, baru layak dipercaya untuk perkara besar? Bagaimana jadinya negeri ini jika blogger copas dibiarkan? Ini memang perkara kecil, sebuah tulisan dengan total pageview belum sampai 10 ribu, tapi ini adalah tendensi negatif bagi berkembangnya karya di negeri ini.

Hmmm, Mas Donny atau siapapun yang ada di balik sebenarnya.com, kalau pengen tulisan itu tetap tayang, ya monggo, tapi kasih link ke sumber asli, tanpa mengklaim itu menjadi milik situ. Atau kalau justru ribet, ya silakan dihapus. Semoga hidupnya nyaman dengan copy paste ya.

STOP PLAGIARISME!