Secuil Cerita Dari Citraland

Sejak jaman OOM ALFA eksis, saya sudah join Cantus Firmus. Nah, sampai sekarang saya menggelandang di ibukota nan lebih kejam daripada ibu bos ini, tersebutlah kisah Cantus Firmus lainnya yang sering dikisahkan di blog ini. Rupanya cerita tentang Cantus Firmus Extraordinary masih berlanjut. Sesudah manggung ceria di Karawaci, sekarang topiknya adalah ikut lomba. Manusia-manusia ini adalah banci panggung mendasar. Maklum, dulu pada jaman belia dan unyu-unyu labil di Jogja, panggung adalah jajahan reguler. Tugas wisuda? Jelas duduk manis di panggung. Dies Natalis? Malah dikasih panggung. Konser? Apalagi itu. Belum lagi lomba-lomba lainnya. Beresin kursi? Iya juga, sih. Bahkan konsep banci panggung ini sampai menelurkan konser yang kalau dipikir-pikir banyak uniknya, atas nama Poelang Kampoeng, medio 2013 silam.

Nah, ketika kebetulan sebagian orang sama-sama mencari segenggam reksadana di Jakarta Raya (include Bekasi, yang katanya dekar Mars), maka diada-adakanlah agenda berkumpul ria bersama dalam lomba yang semata-mata hanya mencari panggung belaka. Ditemukanlah panggung itu di sebuah mal milik enterpreneur terkemuka di negeri ini yang letaknya di Grogol Town sana. Sebut saja Citraland.

Saya sih saking siapnya mengikuti lomba ini jadinya cuma latihan sekali saja, itu juga dua minggu yang lalu. Cerita tentu saja hampir mirip dengan kemenangan di lombanya Mall @ Alam Sutera. Bagaimana mungkin mengumpulkan manusia yang berceceran di berbagai sudut Jabodetabek setiap pekannya? Ya, sulit. Lebih sulit daripada mencari jodoh di tumpukan jerami.

Janganlah berfokus kepada pupu

Janganlah berfokus kepada pupu

Sesiangan saya sudah tiba di halte Jelambar yang tidak jembar. Rencananya kami berkumpul di sebuah sekolah yang ada dekat sana. Satu-satu-satu datang, kumpul, dolanan asu, baru kemudian kita latihan. Masih belum komplet dan nyaris kagak ikutan karena jumlahnya belum 20. Hanya doa mama yang menemani langkah masing-masing agar sanggup jadi 20 orang. Halah, jangankan bahas jumlah orang. Sampai 3 jam sebelum manggung saja masih ada sesi belajar not kembali. Sungguh super pokoknya.

Nah, sekitar setengah 4, kaum lelaki yang hanya 7 orang jalan kaki ke mal yang dimaksud. Cukup pegal, dan namanya juga Grogol, tidak ada pedestrian yang oke punya. Sesudah sabet sana sabet sini demi celah yang memadai, akhirnya saya dan pria-pria lainnya tiba dan langsung masuk serta berganti pakaian. Lah, jebule panggungnya tini wini biti ciliknya. Nggak kebayang juga bergerak penuh cinta ala Jingle Bell Rock di panggung nan sesempit itu. Dan agak aneh ketika saya baca kriteria penilaiannya ada koreografi. Piye le arep koreo wong bernapas saja susah.

Tiada menduga bahwa pada pukul setengah 5 lomba dimulai. Itu saya baru kelar ganti baju di lantai 3. Bela-belain naik demi mendapatkan WC yang sepi, karena mal ini memang ramai banget, termasuk WC-nya penuh pria-pria yang pipis karena ini adalah WC pria. Di lantai 3 rada sepi, dan saya bisa mengenakan baju hijau dengan tenang. Ya, memang hanya atas nama Cantus Firmus-lah saya punya koleksi baju berwarna antik. Hijau blink-blink? Ada. Merah ala Saiful Jamil? Ada juga. Ungu gonjreng? Tentu ada. Dan sekarang hijau. Ini saya kalau lewat kantor PPP atau PKB mungkin dikira kader.

Deg-degan terjadi karena peserta nomor 3 tidak daftar ulang. Jadi langsung nomor 4. Pada saat yang nomor 4 ini manggung, tim belum komplet sama sekali. Masih jalan dari tempat kumpul ke mal. Sampai mal juga masih cari-carian yang pegang rok, dll. Masih dandan bla-bla-bla lainnya pokoknya. Begitu terus sampai ketika nomor 7 tiba di panggung, kami dipanggil ke belakang, dan pas. Iya, pas 20. Dan itu artinya yang 20 ini baru komplet, ya, pas di belakang panggung gini. Kayak gitu kok minta menang? Nggak. Nggak ada yang minta menang. Semuanya dilakoni hanya demi manggung. Sik penting guyub. Kalau nggak atas nama guyub mana ada Oon naksi dari Bumi Atut hingga Agus yang ngojek 65 ribu dari Setiabudi ke Grogol karena Jakarta Raya sedang dibajak–sehingga macet total.

Begitu tiba giliran nomor 9, terasa benar sempitnya. Panggungnya ya tidak sehebring tempat lain. Diantara panggung-panggung lain yang pernah saya ikuti, rasanya kok ini yang paling mini. Tanpa tedeng aling-aling, lagu pertama dimainkan. Judulnya Noel dengan lirik lagu yang mengandung beberapa kata ‘Israel’. Sungguhpun saya rasa kalau lagu ini diperdengarkan di kalangan yang lebih luas, pasti banyak yang bilang kami-kami yang nyanyi ini adalah antek wahyudi. Lha piye, liriknya begitu, masak Israelnya diganti Depok. Nggak cocok.

Lagu berikutnya adalah lagu andalan karena sudah dinyanyikan berkali-kali. Video ketika lagu itu pertama kali diperdengarkan ke publik bisa kok dilihat di blog ini. Itu, TUJUH tahun yang lalu. Iya, TUJUH. Desember 2007, di Kemayoran. Sekarang sudah Desember 2014 dan saya belum kawin. Dua tahun silam juga lagu ini yang dibawakan pas juara 1 di lombanya Mall @ Alam Sutera. Tapi biarlah, toh nggak ada larangan untuk menyanyikan lagu yang sudah dinyanyikan tujuh tahun sebelumnya kan? Mengulang hubungan yang pernah gagal sebelumnya saja diperbolehkan kok.

Begitu turun panggung, tujuan selanjutnya adalah makan. Saya sendiri lapar karena seharian cuma makan Batagor. Mau nyari Singkong sesuai arahan Pak Menteri, kebetulan kok nggak ada. Kami semua makan di sebuah tempat makanan yang mirip SPBU karena pakai Solar, sambil mendengar teriakan “Israeeeeellll….” dari lantai dasar. Ya, sudahlah, penting kan guyub.

Malam menjelang, ditandai dengan anak-anak Jogja yang jadi pionir duduk lesehan di depan panggung, akhirnya pengumuman pemenang disampaikan oleh Cicik Emsi. Tanpa diduga-duga, nama paduan suara pertama yang disebut olehnya adalah…

…Cantus Firmus.

Kami teriak kencang, hora-hore dengan matang dan dewasa, TANPA TAHU NAMA KAMI ITU DISEBUT KARENA APA! Soalnya, berikutnya ada pemenang kostum terbaik, ada pemenang juara 3, 2, dan 1. Lah, terus kenapa CFX disebut?

Well, ternyata CFX diberi kesempatan untuk mendapatkan 1 panggung lagi dalam waktu dekat. Memang, omongan itu adalah doa. Kami tidak meminta untuk menang. Kami hanya minta panggung dan minta guyub, dan dikasih (bonus). Jadi baiklah, walaupun saya harus merelakan diri tidak menyaksikan peristiwa langka ketika Fial (Pemred Bukune) baca puisi, setidaknya saya mendapat kesenangan yang lain. Kesenangan diatas panggung.

So, nantikan panggung CFX berikutnya!

Advertisements

One thought on “Secuil Cerita Dari Citraland

  1. Pingback: 11 Fakta Tentang Anak Paduan Suara Mahasiswa | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s