Lost in Bangka (7): Pantai Parai Tenggiri

Separuh gagal menikmati pantai Tanjung Pesona–ceritanya bisa disimak di edisi 6 serial Lost in Bangka–kami memutuskan untuk makan dahulu. Tempat makan yang dengan mudah memberi nama salt fish fried rice untuk sebuah makanan yang sebenarnya adalah sego goreng iwak asin. Mbel. Walau begitu, mungkin dampak hari Minggu, tempat makan yang saya lupa namanya itu ramai sekali. Cukup lama kami menunggu, setidaknya sampai hujan reda.

Continue reading

Advertisements

Mencoba Berdamai Dengan Jakarta

mencobaberdamaidengan

Pagi hari–sama halnya dengan pagi-pagi lain–kala para jomblo masih meringkuk manja di bawah naungan selimut, pukul 7 tepat, saya membuka gembok pagar kontrakan kecil yang saya huni bersama Istri.

Ciye, punya istri. Ciye.

Sekilas memandang sekitar, gedung Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tampak berdiri dengan angkuh. Sementara udara yang tersedia untuk dihirup terasa benar tidak menyuguhkan kesegaran hakiki yang dibutuhkan, hanya cukup untuk bernapas dan melanjutkan siklus oksigen untuk mendukung kinerja mitokondria di dalam sel sana.

Seketika saya terkenang kala pertama kali melihat Jakarta dalam kondisi sadar dan bisa mengingat, medio 1997. Setelah kena tipu bis asal Padang yang dengan janji manis bak playboy akan mengantar hingga Kampung Rambutan namun lantas semena-mena mengoper keluarga saya di sebuah mesjid dekat Pelabuhan Merak, kami akhirnya mendapat tumpangan sebuah bis nan penuh sesak.

Saya terduduk setengah terhimpit di tangga pintu belakang bis. sementara orang-orang lain yang lebih tua bahkan tidak peduli sedikitpun pada anak kecil yang teronggok di sudut mati bis pengap itu. Aroma apapun bercampur baur layaknya toko parfum bermetanol berada di tengah-tengah pasar ikan. Tumplek blek menjadi satu dalam persaudaraan nan erat.

Nyaris tengah malam ketika bis yang entah apa namanya itu melewati Tol Dalam Kota, menyajikan gedung-gedung tinggi dengan gemerlap lampu yang terangnya minta ampun. Saya terpana sepenuhnya, melihat sesuatu yang selama 10 tahun hidup tidak pernah saya saksikan di Bukittinggi. Lha, angkutan umum bernama Ikabe saja berakhir pukul 6 sore. Bagi saya dalam raga nan kecil, hari berakhir pukul 6 sore, kala lampu terbesar yang tampak berasal dari mushala Al-Ikhlas di depan rumah.

Si BG segera saya keluarkan dari parkiran mini di depan pintu kontrakan, sembari melakukan ritual memanaskan mesin dan menanti istri mengunci pintu, saya seketika ingat kali lain saya menginjak Jakarta. Enam tahun sesudah saya terpana dengan gedung tinggi Jakarta pada waktu tengah malam.

Pernah saya tulis juga di blog ini ketika saya ketiban rejeki juara sekian lomba sebuah Kementerian. Saya melaju bersama Kereta Api Taksaka Malam bersama Frater Danang Bramasti, SJ, sekarang sudah Romo dan bertugas di Paroki Kotabaru, Jogja. Saya diajak ke rumah beliau, diajak juga ke rumah para Romo, diajak juga naik bajaj yang kala itu masih oranye semua. Saya menemukan sisi-sisi Jakarta yang berbeda. Gang-gang sempit, jalan kecil, penatnya menumpang bajaj, dan lain-lainnya. Akan tetapi, gegara saya kemudian ikut acara di Hotel Bidakara yang megah sekali itu, maka Jakarta versi realistis itu menjadi pemandangan sekunder untuk disimpan dalam memori, bergabung bersama kenangan kecupan mantan.

Klik untuk membaca selengkapnya!

Saya dan Jakarta

Sebagai pemuda harapan bangsa kelahiran kota nan kecil, mungil, merata, saya kini tinggal di Jakarta. Ibukota Republik Indonesia yang kata Koh Ernest sudah dikuasai oleh kaumnya. Sebuah kota yang oleh karena pilihan nan tersedia, lantas menjadi peraduan bagi siapapun untuk mencari nafkah. Siapapun itu termasuk saya. Sejujurnya, belum setahun saya menjadi penghuni Jakarta. Mungkin terlambat, karena teman-teman saya justru telah meninggalkan Jakarta.

Tadi kan saya bilang bahwa saya adalah pemuda kelahiran kota kecil, dan sampai usia saya ke-10 tempat terjauh yang saya jajah adalah Padangsidimpuan, kampung Mamak saya. Udah. Maka, ketika tahun 1997 ada program mudik bareng ke kampung Bapak, saya senang minta ampun karena akhirnya bisa menjejak Jawa dalam keadaan sadar. Sebelumnya ke Jawa pas usia 2 tahun. Mungkin satu-satunya yang saya ingat saat itu adalah pipis di celana.

Selepas Merak, saya dan adek-adek GANTI CELANA DI DEPAN MESJID. Sudahlah diturunkan sama Gumarang Jaya, tas banyak, harus nyari bis ke Jogja sendiri, pula. Kenapa harus ganti celana, karena kami sudah hitungan hari di dalam bis, dan akan menempuh perjalanan hitungan hari lainnya ke Jogja. Pas maghrib, diperolehlah bis itu dalam keadaan penuh.

Ketika saya berdinas ria sekarang ini ke Kendari, Palembang, dan lainnya, saya menemukan anak-anak kecil yang kecil-kecilnya sudah naik Garuda. Bersyukurlah kalian, nak, nggak kayak Om.

Continue Reading!

Memang Harus Jakarta

Jakarta, kotaku indah dan megah
disitulah aku dilahirkan
rumahku di salah satu gang
namanya gang kelinci

Lagu “Gang Kelinci” adalah satu dari satu-satunya lagu lawas yang nangkring di MP3 andalan saya sejak dibeli tahun 2007. Sudah ada 6 tahun lamanya lagu itu ada disana dan selalu saya dengar setiap kali perjalanan. Utamanya sih perjalanan ke Jakarta. Maklum, anak Cikarang, jadi kalau mau gaul sedikit, ya kudu ke Jakarta, naik 121, dan biar asyik yang mendengarkan MP3.

Nah, dari lagu jadul itu saja kita sudah tahu kalau Jakarta adalah kota yang indah dan megah. Kota yang dahulu bernama Batavia ini juga merupakan pusatnya Indonesia. Hanya di Jakarta ini saya pernah menggunakan bahasa Jawa, bahasa Minang, dan bahasa Palembang dalam 1 jam menjelajah. Sederhananya, semuanya ada disini.

Soal Jakarta sebagai Diplomatic City of ASEAN seharusnya tidak perlu ditanya lagi karena gedung Sekretariat ASEAN saja sudah sejak lama ada di Jakarta. Dengan mekanisme simpel saja sebenarnya penetapan Jakarta sebagai ibukotanya ASEAN adalah hal yang mudah karena faktor lokasi sekretariat itu.

Atau kalau kita mau adil bahwa 40% alias mayoritas penduduk ASEAN itu adanya ya di Indonesia. Jadi dari sisi majority ini juga, sudah layak dan sepantasnya Jakarta, sebagai ibukotanya Indonesia, juga dijadikan sebagai ibukotanya ASEAN.

Okelah secara historis memang Jakarta beda sama Bangkok, soalnya Bangkok mencatatkan diri ketika Adam Malik, Narsisco Ramos, Tun Abdul Razak, Thanat Khoman, dan S. Rajaratnam berkumpul dan menghasilkan Deklarasi Bangkok. Tapi toh setidaknya, nama Adam Malik ada disana. Indonesia adalah 1 dari 5 pemrakarsa terbentuknya ASEAN.

Sekretariat di Jakarta, penduduk terbanyak di Indonesia, plus Indonesia adalah pendiri ASEAN bersama 4 negara lainnya. Nggak ada alasan untuk tidak menaruh ibukota ASEAN di Jakarta kan?

Nah, masalahnya sekarang, siapkah Jakarta?

Sungguh suatu kebetulan yang menarik ketika menjelang persiapan Komunitas ASEAN 2015 ini Jakarta dipegang oleh 2 pemimpin yang mumpuni. Seluruh Jakarta bahkan Indonesia sudah bisa melihat hasil karya sepasang anak bangsa pada ibukotanya dalam rentang waktu yang bahkan belum lama. Mereka adalah Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama. Simpelnya tentu saja Jokowi dan Ahok.

Sekretariat ASEAN terletak di Jalan Sisingamangara yang dekat betul dengan Sudirman-Thamrin, yang tentu saja sudah macet sejak zaman pra-sejarah. Apa iya nanti ibukota ASEAN akan identik dengan macet?

Sejatinya Jakarta sudah terbeban berat dengan proses yang ada sekarang, tapi menjadi pusat ASEAN adalah kesempatan yang tidak boleh dilepaskan. Paralel dengan itu, adalah tugas pemerintah daerah di bawah pimpinan Jokowi dan Ahok untuk melakukan pembenahan. Kebetulan juga aksi mereka ditunjang oleh Dahlan Iskan dengan sinergi bandara ke Jakarta via kereta api pimpinan Ignasius Jonan. 

Akses dari langit akan mudah karena bandara di Cengkareng sana juga akan diperbesar. Kalau-kalau memang kapasitas penuh, sudah disiapkan di Karawang, yang tidak jauh-jauh banget dari Jakarta.

Apalagi kalau nanti MRT sudah tersedia. Okelah sekarang kita sudah tertinggal puluhan tahun dengan Singapura soal MRT dan Malaysia dengan monorail-nya. Tapi di tangan Jokowi-Ahok sepertinya sudah mulai ada titik terangnya.

Satu hal yang pasti, isu keamanan menjadi penting. Setiap lewat kedutaan besar, saya selalu heran dengan pagarnya yang tinggi-tinggi, tebal-tebal, plus kawat duri. Yang paling ekstrim tentu saja milik Australia dan Amerika Serikat. Sedangkan Thailand, Kamboja, dan lainnya yang kebetulan bersebelahan memang tidak tampak tinggi sekali pengamanannya. Cuma, melihat bentuk yang begini, itu pertanda ada ketakutan kan? Tentu saja bom Kedubes Australia bertahun silam tidak mudah untuk dilupakan. 

Kalau isu keamanan di Jakarta perlahan bisa diperbaiki, plus jaminan tata kota yang baik dari duo kotak-kotak, akhirnya saya bisa bilang bahwa kota indah dan megah bernama Jakarta ini memang harus menjadi pusatnya ASEAN.

Salam Jakarta!