Category Archives: Berniat Lucu

Belajar menulis lucu :|

Teknik Mencontek yang Aman

Semoga murid-murid orang tua saya nggak baca posting ini dah. Bisa-bisa saya nggak dianggap anak karena sudah menyebarkan kesesatan.

Sebagai produk pendidikan kampret, mau nggak mau saya harus berhadapan pada kebutuhan harus mencontek. Iya dong. Pendidikan–apalagi waktu saya SD-SMP–itu bertepatan dengan sidang konstituante, jadi belum modern, jadi masih tipe dan model menghafal sampai mati. Saya baru mendapati pendidikan yang agak beda ya waktu SMA, di De Britto, ketika ada saja ulangan yang menjelma menjadi pertanggungjawaban karya tulis atau paper. Itu keren.

Nah, dikarenakan saya sudah pernah mencontek dan rekor saya luar biasa: tidak pernah ketahuan, maka ada baiknya saya membagi tips mencontek.

Disini ya

Tipe-Tipe Penonton Pertandingan Sepakbola

Ini lagi nonton sepakbola, ceritanya tim Garuda Muda alias Indonesia U-19, dan kok ya pas lagi kalah. Jadilah sandal sudah siap saya lempar ke TV. Untungnya masih ingat kalau itu TV punya orang, dan kebetulan pula orangnya ada di belakang saya. Jadi kalau TV-nya saya lempar, mungkin dia lempar kursi ke kepala saya.

Jadi mari kita urungkan niat melempar sandal.

Nah, sekarang lagi mulai nih babak kedua. Dan saya jadi mencoba berpikir tipe-tipe penonton pertandingan sepakbola, berdasarkan pengalaman saya sebagai tukang komentar yang jelas nggak bisa main bola. Sekadar informasi, selama saya main bola, saya sudah dipecat dari posisi striker, lalu kemudian gelandang, dan lantas bek. Untungnya saya diterima di posisi kiper karena memang nggak banyak orang yang pengen berciuman dengan sepatu bola.

Pokoknya Bukan Indonesia

Ini jarang terjadi di Indonesia Raya Merdeka-Merdeka, tapi beneran ada lho. Ada dulu teman kos saya yang selalu memilih jalur anti-mainstream setiap menonton pertandingan sepakbola bareng-bareng. Mau Indonesia lawan Bayern Muenchen, Uruguay, Arab Saudi, sampai Laos dan Kamboja sekalipun, dia akan dengan senang hati mendukung lawannya Indonesia.

Kalau lagi baru pulang gitu, dia akan bertanya, “Indonesia kalah piro?”

Saya sih agak heran, dia itu sebenarnya punya KTP apa nggak.

“Gitu Aja Nggak Bisa”

Komentar yang paling keren dari setiap penonton sepakbola kalau yang ditonton salah umpan atau salah jodoh adalah, “gitu aja nggak bisa…”

Padahal yang ngomong itu nendang bola aja nggak bisa. Padahal juga yang diomongin itu kerjaan sehari-harinya nendang bola. Kok ya berani-beraninya? Nah, demi menciptakan azas keadilan, kalau saya selalu menambah keterangan, “gitu aja nggak bisa…

…kayak saya.”

Deg-Degan Sambil Pegang Dompet

Selalu ada penonton sepakbola yang deg-degan sambil lirik-lirik dompet. Orang sejenis begini sudah punya pengetahuan soal voor-vooran, mulai dari seperempat sampai satu tiga perempat dan seterusnya. Iye, ini adalah penonton sepakbola tipe penjudi. Padahal kan Bang Rhoma bilang…

…judi. Toettt.

Tipe penonton semacam ini umumnya realistis. Jadi kalau Indonesia lawan Uruguay, dia nggak akan mendukung Indonesia walaupun lahir dan besar di Indonesia. Kalau Indonesia lawan Singapura, dia akan lihat voor-vooran, dan melupakan KTP selama 90 menit ke depan.

Newbie

“Eh, itu kok berhenti sih?”

“Eh, itu kok ada lasernya sih?”

“Itu kenapa nggak boleh pakai kaki?”

“Kalau kebelet boker gimana dong?”

Pernah nonton sama orang yang kayak gini? Saya sih pernah, dan rasanya gemes habis. Soalnya saya kenal sepakbola sejak zaman prasejarah, dan saya itu kurang sabaran kalau ngejelasin sama orang. Kalau sudah ada yang memberikan pertanyaan yang aneh-aneh bin absurd, lebih baik dijawab, “ya memang begitu…”

Masalahnya adalah kalau ada penonton begini, akan susah menjelaskan kepada newbie untuk istilah semacam:

Gelandang Angkut Air: air mana yang mau diangkut?
Strategi Parkir Bis: memangnya bis boleh masuk lapangan?
Turun Minum: turun kemana, kan lapangannya rata gitu?

Ya sudah, nikmati saja.

Begitu dulu ya. Ini sudah menit ke 78. Indonesia lagi menyerang. Semoga menang ya.

Momen-Momen Sulit Untuk Pipis

Pipis. Iya, pipis.

Ini kita bukan ngomong strikernya Newcastle United ya, karena itu Papiss. Jadi ini beneran pipis yang orang sopan bilang sebagai buang air kecil. Saya juga kurang paham asal mula dinamakan demikian. Kalau dilihat dari lubang tempat keluarnya, bukankah air yang keluar via pori dan kita namakan keringat itu lubangnya lebih kecil.

Entah.

Pipis sebenarnya adalah mekanisme ekskresi dari manusia dan hewan-hewan lain yang sejenis. Asal mulanya adalah darah yang mutar-mutar dalam tubuh yang akan keluar dari glomerulus dan masuk dalam Simpai Bowman. Layaknya sungai yang mengalir sampai jauh, calon pipis juga begitu. Sesudah lewat Bowman akan ada tubulus proksimal, lalu mutar sedikit di Lengkung Henle dan masuk ke tubulus distal. Cairan hasil dari jalan-jalan ini akan dibawa ke kandung kemih melalui ureter.

Nah, terus apa maksud posting ini?

Apa dong?

Jenis-Jenis Pengirim Bahan Baku

Sekitar dua tahun bergulat dengan dunia per-herbal-an setidaknya sudah membuka mata saya bahwa dunia herbal itu berbeda cukup banyak dengan dunia farmasi pada umumnya. Tentunya karena kita nggak mungkin menerima daun yang bebas debu, padahal kita senewen minta ampun kalau ada tepung sejenis laktosa yang kemasannya berdebu. Padahal kan, aku tanpamu, butiran debu.

Nah, dalam kapasitas saya sebagai orang gudang–sesuatu yang amat sangat tidak relevan dengan passion saya dilihat dari sisi apapun–saya justru bertemu dengan pengirim-pengirim yang unik dan kadang bikin senyum tapi sesekali juga bikin sakit kepala. Satu hal yang saya sayangkan adalah mereka berulang kali mengirim bahan baku, tapi tidak sekalipun mengirim jodoh. Beberapa kali terlambat kirim dengan alasan macet, seakan menyindir orang gudang yang jodohnya macet. Yang menjadi sedikit kesesuaian adalah saya suka menyimpan perasaan dan barang-barang sentimentil. Kira-kira bahan baku itu sentimentil nggak ya?

Lanjut gan!

Cerita Farmasi: Ketika Saya Didadar

pablo (3)

Malam ini kusendiri
Tak ada yang menemani
Seperti malam-malam
Yang sudah-sudah

Ini kok malah nyanyi minta kekasih? Ya pada intinya saya sedang nggak bisa tidur. Bukan karena banyak pikiran, tapi karena tadi pulang kerja malah tidur pulas sampai jam 9 malam. Jadilah sekarang saya melek tidak karuan. Yah, yang penting bukan tengah malam merem-melek, bisa bahaya itu.

Kalau urusannya sudah nggak bisa tidur begini, saya jadi ingat sebuah rangkaian peristiwa yang melibatkan kata kunci “nggak bisa tidur”. Sebuah peristiwa nggak bisa tidur paling bodoh yang pernah saya alami, menurut saya.

Peristiwa apa itu?

Kisah Selengkapnya

Ketika Membuka Kembali Skripsi Sendiri

Besok masuk. Ya, libur 4 harinya sudah berakhir, 2 libur tanggal merah, 2 weekend biasa. Maka edisi luntang lantung gaje akan diakhiri. Terutama mengingat sesudah ini, target produksi di tempat kerja saya begitu kencangnya. Ya, siapapun yang pernah bilang “katek gawe” harus tahu ini.

Maka, tanpa tag cerita farmasi, saya akan mengulas kembali berbagai hal yang saya temukan begitu membuka kembali skripsi saya. Oya, kenapa ini skripsi bisa saya buka lagi? Berawal dari setrika saya yang dipinjam sama Badrul, tapi dianya mudik dan setrika saya damai di kamarnya. Padahal saya punya seragam yang harus digosok. Nah, saya punya satu setrika lagi yang disimpan rapi di lubuk hati yang paling dalam. Maksudnya, di tumpukan barang lawas saya. Dan disitu juga ada skripsi saya.

Judul skripsi saya adalah “Hubungan Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pendapatan Dengan Perilaku Swamedikasi Sakit Kepala Oleh Ibu-Ibu di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Pada Bulan Juli-September 2007”

2007, sampai 2013…

Baca Lanjutannya

Cerita Farmasi: Realita Skripsi Lapangan

4 Omongan Yang Sering Dilontarkan Kepada Anak Farmasi (1)

Halo! Lanjut lagi ya dengan edisi luntang lantung gaje. Kali ini saya mau membahas soal skripsi lapangan. Ehm, tentu saja yang dimaksud bukan skripsi di lapangan sepakbola, lapangan basket, apalagi di lapangan tembak.

Jadi di farmasi itu secara umum ada dua pembagian jenis skripsi. Yang pertama adalah skripsi di lab. Berhubung dunia farmasi itu amat sangat luas banget sekali, maka skripsi lab ini menyajikan banyak peluang untuk diteliti. Beberapa judul dari skripsi genre ini adalah “Penetapan Kadar Aspartam Dalam Minuman Sachet bla..bla..bla…” atau juga “Pengaruh Pemberian Paracetamol Dosis Tinggi Pada Mencit Galur Wistar bla..bla..bla..”. Dalam konteks tertentu bisa saja berubah menjadi “Penetapan Kadar Cinta Yang Tersisa Pada Mantan Terindah bla..bla..bla…” atau “Pengaruh Pemberian Baygon Dosis Tinggi Pada Mencit Yang Galau Habis Putus Cinta bla..bla..bla..”

Baca Realita Skripsi Lapangan

Cerita Farmasi: Balada Mengerjakan Tugas

Habis nonton Habibie dan Ainun di TV. Setengah senang karena akhirnya bisa nonton film itu juga. Tapi sedikit mempertanyakan kok secepat itu nongol di TV, padahal film itu kan termasuk film laris. Gegara nonton film itu, saya jadi memikirkan hal-hal yang romantis dalam hidup saya untuk ditulis sebagai cerita farmasi.

Sayangnya…

Apa sih baladanya?

Cerita Farmasi: Jenis Bolos Anak Farmasi

Iya, saya masih luntang lantung gaje, jadi masih sempat berpikir soal cerita farmasi. Kalau saya sedang sibuk seperti biasa, saya mah sibuk mikirin bagaimana ceritanya kayu manis di Kerinci sana bisa sampai ke pabrik dengan selamat. Dan olahannya bisa dikirim tepat waktu untuk memastikan saya selamat dari kejaran konsumen.

Baiklah, sesudah membahas tentang cara anak farmasi dalam melakukan kerja kelompok serta ahli-ahli yang tersedia di kelas farmasi, maka kali ini saya akan mengetengahkan topik yang agak sensitif. Disebut sensitif karena kalau habis dicelup urine menghasilkan dua garis, maka bisa menimbulkan huru-hara.

Eh, itu merk testpack bukan ya?

Cerita Selengkapnya

Cerita Farmasi: Kelasnya Para Ahli

Edisi luntang lantung gaje masih berlanjut. Sesudah berbagi kesesatan tentang kerja kelompok ala anak farmasi. Sekarang saya mau ngasih tahu kalau di kuliahnya anak farmasi itu ada banyak sekali ahli. Iya, ahli beneran ini. Kalau menurut KBBI dalam jaringan (daring alias online), ahli artinya mahir benar dalam melakukan sesuatu.

Jadi orang-orang yang saya sebutkan di bawah ini benar-benar mahir dalam melakukan kegiatan yang adalah spesialisasinya. Sampai-sampai dalam beberapa kasus, kalau orang itu kebetulan tidak dapat hadir di kelas atau di praktikum, kelas akan bersedih karena kehilangan mereka. Galaunya kehilangan ahli ini di kelas kadang melebihi galaunya ditinggal kawin sama gebetan pas playgroup.

Ahli apa sajakah itu? Ini dia.

Cerita Selengkap-lengkapnya