Cerita Farmasi: Realita Skripsi Lapangan

4 Omongan Yang Sering Dilontarkan Kepada Anak Farmasi (1)

Halo! Lanjut lagi ya dengan edisi luntang lantung gaje. Kali ini saya mau membahas soal skripsi lapangan. Ehm, tentu saja yang dimaksud bukan skripsi di lapangan sepakbola, lapangan basket, apalagi di lapangan tembak.

Jadi di farmasi itu secara umum ada dua pembagian jenis skripsi. Yang pertama adalah skripsi di lab. Berhubung dunia farmasi itu amat sangat luas banget sekali, maka skripsi lab ini menyajikan banyak peluang untuk diteliti. Beberapa judul dari skripsi genre ini adalah “Penetapan Kadar Aspartam Dalam Minuman Sachet bla..bla..bla…” atau juga “Pengaruh Pemberian Paracetamol Dosis Tinggi Pada Mencit Galur Wistar bla..bla..bla..”. Dalam konteks tertentu bisa saja berubah menjadi “Penetapan Kadar Cinta Yang Tersisa Pada Mantan Terindah bla..bla..bla…” atau “Pengaruh Pemberian Baygon Dosis Tinggi Pada Mencit Yang Galau Habis Putus Cinta bla..bla..bla..”

Berdasarkan pengamatan saya, skripsi lab adalah pilihan mayoritas dari anak farmasi. Tentu saja karena objek penelitian yang sangat luas yang ditawarkan. Lihat saja judul  tadi. Ganti saja Aspartam dengan nama zat lain, sudah jadi satu judul skripsi. Lalu ganti juga kata Paracetamol dengan obat lain, juga bisa jadi satu judul skripsi. Padahal nama zat dan obat itu banyaknya melebihi bintang di langit dan pasir di toko bangunan terdekat. Benar-benar ruang yang maha luas dan maha dalam untuk ditelusuri.

Nah, genre kedua adalah yang akan saya bahas ini, skripsi lapangan, atau banyak yang bilang juga skripsi sosial. Objek dari skripsi ini adalah manusia dan umumnya perilakunya. Jadi judulnya kira-kira begini “Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Perilaku Pemilihan Merk Kondom bla..bla..bla..” atau “Pengaruh Iklan Obat di Televisi Terhadap Persepsi Pemilihan Obat Oleh Ibu Rumah Tangga bla..bla..bla..”. Ya, tentu tidak bisa diganti menjadi “Hubungan Yang Kandas dan Korelasinya Terhadap Pemilihan Merk Kondom  bla..bla..bla..” atau “Pengaruh Iklan Baygon di Televisi Terhadap Tindakan Setelah Ditinggal Kawin Sama Gebetan bla..bla..bla…”

Saya sendiri, dengan latar belakang yang banyak dijelaskan di banyak bagian di blog ini, akhirnya masuk di realita skripsi sosial a.k.a skripsi lapangan. Makanya topik ini yang hendak saya bahas. Meskipun ada sebagian orang yang pernah saya tahu mengerdilkan skripsi lapangan, tapi saya tidak dalam konteks hendak membela diri serta mengunggulkan genre yang saya pilih ini.

Bagaimanapun setiap genre skripsi memiliki kesusahannya sendiri-sendiri. Sekarang, kalau anak-anak skripsi analisis harus lembur di lab, bagaimana cerita mereka harus menjalin hubungan baik dengan penunggu lab dari alam lain? Bagaimana pula jika karena mereka terkejut, lalu menyenggol botol-botol cairan kimia yang kemudian tumpah ke tubuh salah satu dari mereka sehingga lantas menjelma menjadi zombie yang jago menggunakan HPLC?

Atau untuk anak-anak skripsi farmakologi. Kalau kemudian mereka salah menghitung dosis yang diberikan pada hewan uji, dan kemudian mencit yang imut-imut itu menjelma menjadi segede gurunya kura-kura ninja, kan susah juga.

Sumber: fark.com

Sumber: fark.com

Makanya, sekali lagi, saya tidak hendak membanding-bandingkan. Setiap skripsi punya masalahnya sendiri-sendiri. Dan untuk skripsi lapangan, berikut realitanya. Kalau anak lab mau nulis, wow, pasti bakal keren tuh.

Birokrasi Yang Kadang Kampret

Banyak orang benci birokrasi, demikian juga saya. Ketika saya mengurus skripsi ini, saya berdoa supaya nggak join dalam birokrasi yang kadang kampret ini. Tapi namanya harus dijalanin, ya mari kita jalanin saja.

Oya, tim skripsi saya adalah delapan orang yang terdiri dari saya, Fandi, Rissa, Ana, Henni, Pipin, Limdra, dan Tika. Ceritanya delapan orang ini akan membahas topik yang sama yakni pengobatan mandiri, tapi ditinjau dari penyakit yang berbeda-beda. Saya sendiri mendapat topik soal sakit kepala. Sungguh judul yang sangat sesuai dengan proses panjangnya. Yang ditinjau adalah hubungan tingkat pendapatan dan pendidikan dengan perilaku pengobatan mandiri mereka. Konteks daerahnya sendiri adalah DIY, yang lantas dibelah menjadi beberapa daerah sampel.

Nah, untuk mendapatkan data penduduk yang benar, tentunya harus minta ke tempat yang benar. Dan tempat itu tentu saja Pak Kepada Desa/Dukuh atau Pak RW masing-masing tempat. Lalu apa susahnya minta data penduduk ke orang-orang itu?

Kalau ada yang nanya gitu, tak lempar tabung gas.

Saya baru tahu ya pas mengurus skripsi ini. Jadi setiap proposal penelitian itu harus memiliki izin, dan izin itu diperoleh dari bagian perizinan (ya iyalah…). Sesudah mendapat restu dari mertua… eh… bagian perizinan, para pencari data lalu menuju ke tahap selanjutnya. Izin tadi kan tingkat propinsi DIY, berikutnya pejuang skripsi pergi menghadap ke kantor balai kota (untuk kota) dan kantor bupati (untuk kabupaten).

Tentu saja ke balai kota bukan buat nyari Pak Jokowi, apalagi Pak Ahok. Tapi minta surat izin untuk tahapan lanjutan.

Sumber: inboxkita.blogspot.com

Sumber: inboxkita.blogspot.com

Dari level kota, surat itu dibawa ke level kecamatan, maka pejuang-pejuang skripsi lapangan harus nangkring di kantor camat untuk memperoleh surat izin lagi. Iya! Lagi!

Surat pengantar kecamatan ini kemudian diteruskan ke tingkat kelurahan. Artinya? Dengan membawa bambu runcing, para pejuang skripsi harus nongkrong lagi di kantor kelurahan demi memperoleh…

…surat izin lagi.

*garuk-garuk muka pak camat*

Surat izin itulah yang kemudian dibawa ke kepala desa/dukuh (kalau di kabupaten) dan ketua RW (kalau di kota). Berdasarkan izin kuadrat penuh darah dan air mata itu, saya dan teman-teman bisa memperoleh data jumlah warga di dalam suatu desa/pedukuhan dan suatu RW. Ujungnya adalah data warga itu yang akan menjadi populasi penelitian.

Percaya atau di tidak, di skripsi saya lampiran surat izin itu ada dari halaman 101 sampai 120. Hitung sendiri berapa banyak kantor yang harus disambangi, berapa banyak orang yang harus dihadapi. Ya kalau enak. Masalahnya, nggak semuanya enak.

Inilah yang saya sebut kampret.

Berdasarkan pembagian, saya kejatahan mengurus surat izin sebuah kelurahan di kota Jogja. Sebagai clue, letak kantor kelurahan ini tidak jauh dari rel kereta api. Jadi dari rel kereta api, ke utara sedikit, begitu bertemu percabangan jalan, beloklah ke sebuah gang yang ada di kanan jalan. Nah, singkat cerita itu adalah kali kesekian saya datang kesana dalam rangka mengurus surat izin dan memfotokopi kartu keluarga, tentunya tidak dalam rangka mengurus surat nikah. Pada saat saya hendak mengambil surat izin kelurahan itu, terjadilah dialog ini.

“Ini, Mas,” katanya sambil mengangsurkan surat izin yang saya damba-dambakan saat itu, melebihi saya mendamba jodoh. Waktu itu baru putus sih.

“Terima kasih, Mas.”

Ya, sama-sama manggil Mas. Jadi sebenarnya siapa yang mas siapa yang adiknya sih?

“Ya, kalau sudah, minta tolong seiklhlasnya. Tapi ya jangan nanti bilang-bilang ke orang.”

Saya terpekur sebentar berusaha mencerna kalimat petugas kelurahan barusan. Sakjane karepe opo? Tapi berhubung dia sudah bilang “seikhlasnya”, sudah jelas asosiasinya sih duit. Sebenarnya terminologinya nggak benar juga. Duit saya waktu itu di kantong tinggal 10 ribu, ya mana ikhlas saya ngasih dia duit? Nanti malam saya mau makan apa? Batu koral?

“Berapa, Mas?” tanya saya, polos beneran. Bukan pura-pura polos lho ini.

“Seikhlasnya aja. Asal jangan bilang-bilang ke orang, itu di kelurahan sini ada yang minta duit.. bla..bla..bla..”

Dan saya nggak fokus lagi mendengarkan petugas kelurahan ini ngomong apaan.

Ya sudah. Untungnya 10 ribu yang saya punya itu terdiri dari 1 pecahan 5 ribuan, dan sekian keping duit cepek. Coba kalau hanya 1 lembar uang 10 ribu. Mati gaya saya. Jadi saya ambillah uang bercover Tuanku Imam Bonjol itu, lalu mengasurkannya ke dalam sebuah kaleng rokok.

Buset. Kaleng rokok ini benar-benar mirip dengan warung tuak dan bir punya opung saya. Ini kelurahan apa tempat jualan miras sih?

Begitu uang itu masuk, saya langsung mengucapkan terima kasih dan lantas kabur dari tempat terkutuk itu. Yang penting data dan surat izin ada di tangan, sisanya saya nggak peduli. Kejadian ini sudah bertahun-tahun silam. Kalau pada waktu saya minta izin ini ada yang bikin anak, sekarang anaknya sudah bisa main basket. Jadi silakan bayangkan sudah berapa lama kejadian kampret ini terjadi.

Semoga sekarang nggak ada yang beginian lagi ya. Kalau masih ada, saya mau ngadu sama Ahok, biar kelar.

Tapi, berkat urusan birokrasi kampret ini, saya jadi tahu kalau ada perbedaan struktur di kota dan kabupaten, ini saya amati dari suratnya. Kalau di kotamadya, sesudah kota itu ada kecamatan, lalu kelurahan, baru RW dan RT. Sedangkan di kabupaten, sesudah kabupaten itu ada kecamatan, desa, baru pedukuhan, baru deh ada RT. Lumayan buat pengetahuan. Bagaimanapun pelajaran struktur ini saya temukan di rencana pengajaran emak saya yang adalah guru kelas 4 SD. Hey dude! Ini pelajaran anak kelas 4 SD!

Jalan Berbatu dan Berteduh di Gubuk

Pengolahan metode penelitian menghasilkan delapan pedukuhan dan delapan RW untuk dijalani oleh kami berdelapan. Sebelumnya, tidak ada yang melakukan survei terhadap lokasi-lokasi yang tertulis di daftar yang dicatat dari kecamatan itu. Saya sendiri tidak punya perasaan apa-apa ketika membaca nama Dukuh, Penjalin, Dlingo, Ngangin-Ngangin, Durungan, Beji, dan Sogan, serta nomor-nomor RW.

Perasaan saya mulai nggak enak ketika pertama kali memulai tugas. Ketika ini jatah saya bersama Pipin, Tika, dan Ana, di Ngangin-Ngangin.

Kalau dari Jogja, teruslah berjalan ke barat, dan jangan sampai menemukan matahari terbenam, karena itu artinya sudah sore. Kalau sudah ketemu Kali Progo jangan berenang juga, ada jembatan buat menyeberanginya. Nah, lantas akan ketemu tuh beberapa tanjakan. Kalau nggak salah, di tanjakan kedua, akan ada jalan kampung masuk ke sebelah kanan.

“Pin, ini bener jalannya?”

“Benerlah.”

Saya boncengan sama Pipin waktu itu, kebetulan dia sudah duluan ke Ngangin-Ngangin. Saya sendiri sebelumnya masih sibuk di kelurahan penuh dilema untuk mengurus izin. Karena ini kerja kolektif, jadi pembagian kerja wajib dilakukan.

Begitu sampai ujung jalan aspal, saya tidak melihat ada tanda-tanda perkampungan.

“Ini ke mana?”

“Kanan.”

Padahal di kanan itu yang saya lihat adalah jalanan kecil dengan batu-batu kecil sebagai alasnya.

“Tenane?”

“Yo tenanlah.”

Sepeda motor akhirnya saya lakukan kesana. Dan memang benar, begitu jalanan berbatu itu selesai, saya akhirnya menemukan tempat berbentuk seperti rumah. Saya sambil berdoa semoga saya masih ada di dunia yang benar dan sedang tidak nyasar di negeri Narnia.

Perjuangan menuju pedukuhan itu saja sudah menggugah selera. Ini benar-benar skripsi yang dahsyat.

Tapi sungguhpun melelahkan, saya dan teman-teman jadi bisa menyaksikan sawah hijau yang terhampar luas yang masih ada di desa yang sebagian penduduknya mengandalkan penghidupan dari pertanian ini. Saya jadi sadar kalau waktu SD saya diajari bahwa Indonesia adalah negeri Agraris. Padahal kalau sekarang sebenarnya Indonesia adalah negara Imporis.

Realita.

Namanya juga kampung, dan apalagi waktu saya kuliah itu masih ada acara Album Minggu dan Aneka Ria Safari, jadi ya tempat itu beneran sepi. Jarang dari satu rumah ke rumah lainnya berjauhan. Kalau nanya ke orang pasti bakal berasa korban PHP.

“Kulo nuwun, Pak. Ajeng tanglet. Dalemnipun Pak Keso pundi nggih? Tebih mboten?”

“Oh Pak Keso, nggih cedak. Lurus kemawon. Ngilen kali.”

“Nggih, Maturnuwun.”

Saya dan teman-teman ya jalan lurus dong, wong disuruhnya gitu. Tapi ternyata lurusnya itu 2 kilometer, baru ketemu yang namanya kali. Perspektif jauh dan dekat itu memang relatif. Amat sangat relatif.

Bagian paling suram dari acara keliling kampung dan sawah ini adalah kalau hujan. Kalau di kota kan tinggal cari mall terdekat atau apapun yang ada atapnya.

Lah kalau lagi di tengah sawah gimana?

Pada akhirnya, khusus di Ngangin-Ngangin, saya, Tika, Pipin, dan Ana pernah duduk galau di poskamling yang ada di pinggir sawah sambil menatap kosong ke hamparan hijau pepadian.

Belajar Bahasa Jawa

Skripsi lapangan nggak selalu identik dengan derita kok. Kadang di balik derita, saya bisa memetik pelajaran baru. Dan pelajaran yang saya dapat banget selama perjalanan ini adalah pelajaran bahasa Jawa.

Kok gitu?

Silakan cek di bagian lain blog ini bahwa latar belakang saya ini sungguh-sungguh Indonesia. Bapak saya Jawa, emak saya Batak, dan saya lahir di Bukittinggi. Turunan Jawa Batak tapi lahir dan besar dalam lingkungan Minangkabau. Jadi wajar kalau saya lebih paham bahasa Minang pada awalnya.

Sampai kemudian saya diekspor ke Jogja karena menuh-menuhin rumah, baru saya belajar bahasa Jawa.

Sumber: ekoharyadi.wordpress.com

Sumber: ekoharyadi.wordpress.com

Mau tahu kata pertama bahasa Jawa yang saya tahu?

Engggg… yakin mau tahu?

Baiklah. Kata pertama itu adalah…

…Asu.

Jadi ceritanya di SMA saya yang batangan semua itu, di hari kedua MOS, ada semacam diskusi antar kelompok. Ada teman yang namanya Ari, dia ngacung mau mengajukan pendapat, tapi kelompok yang presentasi lebih memilih orang lain. Maka sebagai orang Jogja tulen, Ari langsung mengucap, “Asu.”

Dan itulah pertama kali saya mengenal bahasa Jawa.

Sebagai orang yang belajar bahasa Jawa dari pergaulan, saya memang hanya bisa kata-kata pergaulan. Jadi jangan harap saya bisa menggunakan bahasa Jawa berkonteks Kromo Inggil. Nggak mungkin banget.

Oya, kata pertama konteks kromo yang saya tahu itu adalah…

…segawon.

Jadi sebagai orang yang nggak ngerti bahasa Jawa, saya diajari sama teman untuk berbahasa halus, dan yang diajarkannya adalah kalau ketemu orang baru, sesudah kenalan, bilang gini, “Kulo segawon.”

Anak baru bin cupu memang mudah dikadalin ya. Sesudah derai tawa terhadap muka polos saya berakhir, baru saya tahu kalau segawon itu artinya sama dengan asu. Dan kulo itu artinya saya. Jadi kalimat tadi bermakna, “aku anjing.”

Ealah.

Ketika berhadapan dengan orang Jogja yang benar-benar Jawa habis, mau nggak mau bahasa Jawa kromo itu HARUS dipakai. Dan untunglah pada awal-awal saya berkeliling bersama Pipin, yang asli Klaten. Jadi untuk awalan, yang nanya dia saja. Saya semacam bodyguard dari golongan Ci Hua Hua.

Beberapa kata yang penting yang saya pelajari sepanjang perjalanan adalah:

Kalau lagi jalan, terus ada bapak-bapak  nongkrong di sawah, sapalah mereka dengan senyum sambil bilang, “Nderek langkung, Pak”. Itu artinya “Permisi Numpang Lewat.”

Begitu bertemu dengan responden, sesudah mengucap permisi alias kulo nuwun, maka kata sakit berikutnya adalah “Ajeng Tanglet” alias “Mau Nanya”.

Plus beberapa istilah lain semacam “gerah” yang berarti “sakit”, “wonten” yang berarti “ada”, dan tentu saja bukan “segawon” yang berarti “anjing”.

Responden Yang Tulus

Responden di kampung umumnya berasal dari tingkat pendidikan yang rendah. Hasil penelitian saya yang melibatkan 150 responden menunjukkan data 3.3% responden tidak sekolah, plus 35.3% hanya lulusan SD atau sederajat.

Mereka memang “cuma” lulusan SD, tapi saya sendiri mendapati penerimaan yang luar biasa. Ketika kami datang tanpa bawa apa-apa, dan bilang mau tanya-tanya untuk kepentingan penelitian, mereka akan menjawab dengan riang gembira dan senyum yang menyembang.

Ada sih responden yang baik hati, tapi karena memang sudah sepuh, dia agak budeg. Waktu itu kalau nggak salah saya keliling sama Fandy.

“Mbah…”

“Iyo…”

“Ajeng tanglet…”

“Sinten?”

“Kulo ajeng tanglet…”

“Oh. Anak kulo teng sawah..”

*benturin kepala ke pohon nangka*

Bahkan, beberapa responden sampai menyuruh kami masuk ke rumah mereka dan sebagian kecil menawari kami minum. Yah, bertualang di kampung-kampung itu memang bikin lelah, jadi kalau ada yang nawarin minum gini kadang menggoda.

Cuma mengingat target responden yan bejibun, terpaksa deh tawaran minuman itu ditolak. Saya jadi menyesal nggak bawa plastik, kalau bawa kan bisa bungkus. Yah, orang-orang yang kita sebut sebagai orang kampung itu punya ketulusan yang mendalam. Saya merasakannya saat itu.

Responden Yang Sok Jago

Namanya skripsi lapangan, suka dukanya tentu akan sangat terkait dengan manusia. Kalau ada manusia yang tulus, maka ada juga yang sok jago. Ini kami alami di daerah Wates, bagian kabupaten Kulonprogo edisi kota. Kalau di tempat sebelumnya saya dan teman-teman harus bertemu dengan jalanan berbatu, sawah, ani-ani, sampai Pak Dukuh berkumis, maka di edisi kota ini kami sudah bertemu dengan perkampungan cenderung padat penduduk dengan rumah yang berdempetan. Tidak semacam di kampung.

Nah, disini ada tuh responden yang bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan, tapi justru mempertanyakan soal pertanyaan yang kami ajukan. Nah loh bingung kan? Sudah begitu, responden yang ini pakai acara berkata-kata dengan bahasa Inggris pula.

Mungkin di kehidupan sebelumnya, dia adalah Marylin Monroe.

Jenis responden yang kadang sok jago dan mempertanyakan hal-hal yang kami tanyakan itu umumnya memang ditemukan di daerah kota. Sebagian bahkan melakukannya dengan cara yang ketus. Kalau lagi begini, saya sih hanya mengelus dada dan berharap cobaan hidup ini segera berakhir.

*elus-elus dada ayam mekdi*

Responden Gosipers

Masih soal manusia, dan yang ini fenomena umum saya temukan sama persis di kampung dan di kota. Benar-benar sama persis, yakni di lingkungan apapun kita berada, selalu akan ada tukang gosip. Mungkin dalam setiap penciptaan sekian manusia, Tuhan mensisipkan 1 orang manusia yang akan diberi tugas menggosip kelak di dunia.

Jadi di suatu desa ada beberapa rumah di sebuah jalan yang agak panjang. Saya sudah bertanya di rumah kedua. Objek penelitian saya dan teman-teman adalah ibu-ibu, jadi tentu yang dicari pertama adalah ibunya. Nah, di rumah kedua ini nggak ada ibunya. Tapi ada Bapaknya. Ya, nggak apa-apa deh, minimal dapat data dulu, nanti kan bisa dieksklusi kalau sudah cukup.

Selesai nanya ke rumah kedua, saya jalan ke rumah keempat.

“Sudah dari mana aja, Mas?”

“Sudah dari ujung, Bu. Tapi kalau di rumah yang situ tadi Ibu-nya nggak ada.”

“Oh, iya, itu mah ibu-nya gila.”

Kemudian hening.

Atau soal Mbah Budeg murah senyum tadi. Waktu saya bergeser ke rumah sebelahnya, saya malah dapat cerita dari tetangga yang budiman itu.

“Sudah dari sebelah, Mas?”

“Sudah, Bu. Ketemu Mbah-nya.”

“Oh. Dia kan budeg.”

“Iya, Bu. Nggak apa-apa.”

Si tetangga yang adalah ibu-ibu itu kira-kira mikir nggak ya kalau dia tua nanti juga bakalan budeg kayak si Mbah itu?

“Kasihan itu Mbah-nya. Anaknya nggak ada.”

“……”

Kalau sudah begini, jurus yang terbaik adalah segera permisi dan berlalu. Kalau tidak, saya akan  terlibat dalam persekongkolan yang bisa menghancurkan dunia persilatan. Spesialis silat lidah.

Godaan Untuk Menjadi Maling

Entah karena ini saya melakukan penelitian di Jogja, atau karena hal lainnya, tapi rata-rata responden saya cukup menerima kehadiran para mahasiswa berjas almamater yang berkeliling kampung. Kebetulan yang mukanya semacam muka orang minta sumbangan cuma muka saya sih.

Jadi kalau cewek-cewek kayak Rissa atau Ana yang masuk, mereka akan dapat data. Kalau saya yang masuk, akan dapat beras satu gelas. Begitu kira-kira.

Nah, suatu kali, di satu bagian kota di Jogja, jam 2 siang, panas melanda. Kalau begini enaknya tiduran sambil kipasan di kos. Tapi apa daya, data belum terkumpul. Maka saya jalan-jalan di sekitar lokasi penelitian. Sesudah cek sana sini, saya kemudian masuk ke sebuah rumah.

“Tok…Tok..Tok…”

“….”

Pintu terbuka, sejauh mata memandang, nggak ada orang. Masak ini pintu terbuka sendiri?

“Kenapa, Mas?”

Hah? Sudah  terbuka sendiri, ada yang nanya pula? Masak ada setan gaul siang-siang begini?

Ternyata, sesudah saya lihat ke bawah, ada seorang anak usia sekitar 6 tahun yang membuka pintu, Pinter juga ini anak ya.

“Oh, adek. Mamanya ada?”

Dia langsung berlari ke dalam rumahnya. Masalahnya, adalah dia tidak menutup pintu, dan di ruang tamu rumahnya itu ada laptop, ada speaker, dan beberapa alat elektronik lainnya.

Sejurus kemudian dia kembali sambil bilang, “lagi tidur.”

“Oh, ya udah dek. Makasih ya.”

Itu kalau saya bagian dari gerombolan Siberat, pasti saya sudah ngembat segala yang ada. Ya elektroniknya, ya anaknya juga. Saya justru mengkhawatirkan kalau kemudian yang datang ke rumah itu pencuri atau penculik beneran, dan bukan saya.

Sumber: ravimalekinth.wordpress.com

Sumber: ravimalekinth.wordpress.com

Apa yang akan terjadi?

Makanya, mending juga punya muka pencuri, tapi hati penyanyi, kayak saya.

You Know The Truth

Sesudah aneka peristiwa absurd yang saya alami sepanjang perjalanan skripsi lapangan saya, sebenarnya ada satu nilai yang kemudian melekat benar dalam diri saya. Entah kenapa pula metode penelitian kami menghasilkan tempat-tempat yang penuh cerita. Kalau kami memilih kota Jogja, kok ya nggak menghasilkan random di daerah yang mewah?

Sebagai profil, sebagian daerah yang kami sapu di Kulonprogo adalah daerah yang akses ke jalan besarnya saja jauh. Kalaulah ada daerah yang agak enak, itu di kota Wates. Setiap kali saya naik bis via jalur Selatan, saya masih bisa mengingat gang mana yang saya masuki berkali-kali dulu, waktu muda.

Mungkin wajar ya, namanya juga kabupaten.

Tapi ternyata begitu merambah Jogja, hasilnya sama saja. Saya dan teman-teman harus mengendarai motor di gang-gang kecil. Beberapa responden kami bahkan rumahnya benar-benar di pinggir kali yang kumuh. Sebagian lagi tinggal di tempat yang sangat pengap.

Ada satu responden yang memberi saya penyadaran soal hidup yang berat ini. Waktu itu acara-acara seperti “Orang Pinggiran” atau “Jika Aku Menjadi” atau “Jika Aku Menjadi Orang Belah Pinggir” belum ada.

Lokasi penelitian hari itu letaknya nggak jauh dari SMA saya. Kebetulan pula dekat SMA saya itu ada mall yang baru dibangun. Dan setahu saya, daerah SMA saya berada itu termasuk “kota”, meski memang pinggiran Jogja, berbatas dengan Sleman.

Ketika menuju lokasi yang sudah dipetakan, sepeda motor kami harus masuk di gang sempit yang hanya bisa dilalui 1 sepeda motor. Banyak anak berlarian disana, jadi kudu hati-hati. Mengingat prinsip menyetir apapun adalah lebih baik menabrak benda mati daripada benda hidup. Sesudah menitipkan sepeda motor di rumah Pak RT, saya kemudian blusukan.

Rumah keempat yang saya datangi itu dari luar sudah tampak kecil.

“Permisi, Bu.”

“Iya, Mas.”

“Kami mahasiswa, mau penelitian, boleh tanya-tanya sebentar..”

“Oh, boleh. Silakan masuk, Mas.”

Dan apa yang saya lihat?

Saya masuk ke tempat yang disebutnya rumah. Rumah itu ukurannya sama persis dengan kamar kos saya. Di sebelah kiri ada dipan, di ujung lainnya adalah pintu tempat saya masuk, sehingga sisa 1 ujung yang adalah tempat mencuci. Kebetulan, ada suami dan anak dari ibu itu di rumah.

Batin saya langsung bertanya, “ini rumah?”

Saya langsung ingat rumah orang tua saya yang dulu kecil dan lama-lama jadi besar. Dulu saja saya kadang mengeluhkan rumah keluarga saya yang kecil dan kurang hiburan.

Asli, ini sangat bikin trenyuh.

Sesudah selesai dengan kuesioner, saya bergegas keluar. Dan perasaan ini semakin miris ketika persis dari pintu rumah mungil itu, saya melihat puncak mall baru yang saya ceritakan tadi.

Ini yang kalian sebut negara berkeadilan sosial, wahai pemerintah?

Ya, skripsi lapangan sungguh memberi pelajaran kepada saya tentang realita hidup yang aslinya memang tidak mudah.

Bagaimana, buat yang mahasiswa jadi tertarik dengan skripsi lapangan? Susah? Ah, nggak juga. Nyatanya saya lulus kok.

Itulah sebabnya kalau lagi nongkrong di warung makan atau di mall atau di bandara, ada orang yang permisi minta tolong isi kuesioner, saya akan dengan sangat senang hati mengisi dan membantu mereka. Kenapa? Karena saya cukup paham susahnya mencari responden. Para pembaca juga besok-besok gitu ya. Kasihan mereka.

Oya, delapan anggota tim swamedikasi itu sudah membangun hidupnya masing-masing sekarang. Dari delapan itu, dikurangi saya artinya tujuh. Nah, dari tujuh orang itu, enam diantaranya sudah menikah, dan sebagian bahkan sudah punya momongan. Sedangkan 1-nya lagi sudah punya pacar.

Eh, sebentar-sebentar…

Enam menikah, satu punya pacar, berarti satunya lagi jom…

LIHAT!!! ADA PAK DUKUH TERBANG!!!

*kemudian menghilang dari kenyataan hidup*

Sekian. :D

9 thoughts on “Cerita Farmasi: Realita Skripsi Lapangan

  1. melu PKK ae.. nyanyi sik.. dalam hitungan 2, satu dua.. marilah hai semua rakyat Indonesiaaaaaa…. Hiduuuup jayaaaa pekakaaaaaaaa…

    Like

  2. Pingback: Ketika Hak Itu Masih Bisa Diperjuangkan | ariesadhar.com

  3. Zonkie..ngakakk abiez keinget jaman2 berjuang…kadang aq msh suka flashback ke wates..lewat t4 kami kos dulu..mampir ke t4 kita baksos dl..lewat durungan, beji, mana lg yak..
    Benerrr bgt yg km blg soal skripai lapangan…cerita yg dihasilkan so meant to me too…
    Thx for reminding me..
    Kapan reunian tim swamedikasi?? Haha…

    Like

  4. Pingback: Bersua Kembali Dengan Merapi | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s