Cerita Farmasi: Balada Mengerjakan Tugas

Habis nonton Habibie dan Ainun di TV. Setengah senang karena akhirnya bisa nonton film itu juga. Tapi sedikit mempertanyakan kok secepat itu nongol di TV, padahal film itu kan termasuk film laris. Gegara nonton film itu, saya jadi memikirkan hal-hal yang romantis dalam hidup saya untuk ditulis sebagai cerita farmasi.

Sayangnya…

Apa sih baladanya?

Cowok Capricorn dan Cewek Sagitarius

Pembahasan gaje di blog ini yang soal-soal zodiak, sebenarnya dikutip dari sini. Jadi jangan tanyakan ke saya mengapa. *mengapaaaaaa*

Baiklah, kita mulai.

Relasi Sagitarius dan Capricorn sebenarnya merupakan kombinasi yang sulit. Sagitarius dapat melonggarkan Capricorn dari strict-nya si kambing ini. Jadi ada semacam kesegaran dalam hubungan. Sementara dari sisi lain Capricorn akan membantu Sagitarius melihat ke depan, maklum jago berencana. *pantes saia jadi PPIC yak*

Pria Capricorn adalah orang yang praktis, bijaksana, punya tujuan tinggi, dan pejuang untuk sukses. Pria Capricorn ini semacam dingin karena takut menunjukkan emosinya. Ya, semacam semuanya tampak baik-baik saja gitu. Tapi, aslinya, dia itu mencoba melakukan apapun yang dibutuhkan oleh keluarga mereka. Pada akhirnya tetap saja pria Capricorn adalah orang yang protektif dan tegas dalam hubungan. #eaaaaa

Wanita Sagitarius adalah persona yang jujur, namun dengan kata-kata setajam silet *tsaahhh*. Ya tajam karena jujur gitu sih. Wanita Sagitarius sangat independen, sehingga keluarga hanyalah bagian kecil dari kehidupan mereka. Maka nggak jarang wanita Sagitarius itu melakukan banyak hal sendiri. Dalam suatu hubungan, wanita Sagitarius adalah wanita yang menyenangkan, asalkan diberikan kemerdekaan.

See? Satu protektif, satu bertendensi merdeka. Ketemu nggak tuh?

Tingkat kecerdasan keduanya sejajar. Keduanya belajar mengejar kualitas yang terbaik satu sama lain dan hormat-menghormati (emang PPKn?) tidak mudah buyar. Keduanya belajar bahwa mereka memiliki kualitas saling berbagi.

Keduanya memiliki perbedaan dalam kompatibilitas yang jarang ditemukan. Pikiran keduanya cocok bahwa hati mereka berdetak dalam irama yang sama. Perempuan Sagitarius dengan kesabaran dan gairah mengajarkan lelaki Capricorn untuk menjadi lebih ekspresif dan romantis. Sebaliknya, lelaki Capricorn membawa perempuan Sagitarius lebih dekat dengan ikatan keluarga dan pendekatan praktis.

Capricorn memiliki banyak ide imajinatif dalam hubungan, sementara Sagitarius menampilkan banyak toleransi. Yang penting sih jangan sampai Sagitarius mengeluarkan kata-katanya yang setajam silet itu tadi. Hehe.

Kira-kira begitu. Jadi menurut penerawangan saya, hubungan semacam ini tidak disarankan. Hahahahahahaha.

Sedingin Kisah Cinta

Bagaimanapun, Dolaners itu orangnya romantis-romantis. Hanya sayang nasibnya kadang nggak cocok sehingga kisahnya kagak romantis. Ketika Chiko, si playboy kena batunya waktu ngedeketin Irin, pada saat yang sama Bayu kena pencuekan dari mantannya, Putri. Dan kebeneran pada saat yang sama, aku juga lagi galau karena kedekatan tidak biasa dengan Alin. Bagaimanapun dan bagaimananya, namanya deket dengan pacar orang itu nggak biasa.

Maka, Yama, yang tampak ayem-ayem kampung berinisiatif meminimalkan kegalauan tiga temannya dengan cara standar: berdoa.

“Cah, ayo nang Sri Ningsih,” ajak Yama ketika kami berempat sedang nongkrong membahas masa depan bangsa dan negara. Paras Chiko masih macam vokalis kehilangan band, Bayu masih seperti orang pintar kehilangan otak pintarnya, dan parasku tetap tidak kelihatan. Lha hitam soalnya.

“Kapan?”

Ngko wae. Kalau besok-besok pasti nggak jadinya.”

“BERANGKAT!” ujarku. Percayalah, bagaimanapun orang galau, gamang, resah, gelisah, dan risau itu sejatinya hanya butuh satu hal: berdoa. Dan biasanya sih, orang akan ingat berdoa kalau lagi galau, gamang, resah, gelisah, dan risau. Yah ini sih sekadar silogisme belaka.

Sepeda motor merah-nya Chiko dan Grand hijau-nya Yama jadi alat angkut untuk berdoa dalam risau di sendang Sri Ningsih. Dan seperti biasa, ketika harusnya jam tidur, kami berangkat. Padahal, jangan salah, hari Jumat pagi besok masih ada kuliah jam 9.

Ini kalau nggak galau maksimal pasti berdoanya sudah ditunda sampai besok.

Perjalanan ke arah timur itu adalah perjalanan paling nikmat untuk anak muda. Jalannya lurus, banyakan mulus, jadilah tinggal was wus. Apalagi itu sudah jam 10 malam yang berarti sepi minta ampun. Paling saingan sama mobil yang mau ke Klaten-Solo. Nggak banyak juga. Maka kecepatan memang berkisar 80-100 km/jam. Kalau sama emakku tahu, pasti udah dihabisin aku, lha 40 km/jam aja udah dipesenin, “jangan kencang-kencang.” Nah!

Sesudah pabrik susu terkemuka, akan ada puteran dan kami masuk ke selatan. Dari situ, masih rada jauh juga sih, akan ketemu tempat yang bernama Sri Ningsih dengan patokan sekolahan. Kalau weekend, sekolahan itu jadi tempat parkir, dan berhubung ini weekdays, jadinya kami bisa naik sedikit dan parkir di rumah penduduk. Tentunya bayar.

“Ayo doa,” ajak Yama begitu kami sampai.

“Ntar lah,” sahutku ringan. Berdoa ketika baru sampai itu asli nggak biasa.

Jadi nih, kalau lagi mau doa ini, doa itu sendiri lebih banyak sebagai kedok. Doanya 10 menit, ngobrol plus curcolnya berjam-jam, tidurnya 1-2 jam, lalu pulang sambil terkantuk-kantuk ria. Ya, semacam itu saja.

Karena belum mau doa, kami akhirnya mampir di sebuah warung dan makan mie instan penuh kehangatan. Cerita lalu dimulai, dengan tiga lelaki galau dan satu konsultan. Dan aku cuma ragu kalau konsultan ini tidak galau. Apa iya?

Aku, sebagai pemain api kelas kacang, masih sempat-sempatnya bertukar pesan singkat dengan Alin. Malah, selagi makan mie instan itu, masih nelpon Alin beberapa menit.

“Hati-hati,” ujar Chiko, masih dengan tampang kehilangan band-nya.

“Iyo. Ini ya nggak ngapa-ngapain kok.”

“Ntar senasib lho,” goda Bayu.

“Beda kasus dikit.”

Dan Bayu beda lagi, ternyata si Putri itu sudah punya pacar baru. Jadi pantas saja kalau si Bayu dicuekin sepanjang acara inisasi anak muda beberapa minggu lalu. Seperti yang pernah aku bilang, miris memang terjadi ketika ngebet sama ngebet itu tidak terjadi pada waktu yang sama. Percayalah! Ada lelaki sedang makan mie di depanku yang jadi buktinya.

“Yo, nek nggak ngapa-ngapain ya nggak usah dihubungi,” timpal Yama. Sebagai makhluk paling tua diantara kami berempat memang wajar kalau di agak wise. Apalagi ia bercita-cita menjadi gubernur BEM dalam waktu dekat dan ketua lingkungan kelak kalau sudah uzur.

Aku mengiyakan saja, mencoba mengalihkan topik.

“Lha kowe piye,Ko?”

“Apanya?”

“Lha ya si itu,” kataku tanpa menyebut nama, rasanya agak membuat hati bertanya bagaimana, saking nggak enaknya menyebut nama itu. Membayangkan saja sulit, apalagi merasakannya. Memang hanya playboy sekelas Chiko yang bisa menjalaninya tanpa banyak sakit hati. Dan percayakah, mereka masih kontak-kontakan.

Mbohlah.”

Sebuah kata yang bermakna mirip ‘hehehehe…’ kalau lagi chatting. Itu bermakna suatu percakapan kudu ganti topik.

Dinginnya malah masih memeluk nikmat dan menimbulkan kantuk yang amat sangat. Kami berempat segera menuju sebuah tempat beratap yang memang banyak dipakai untuk menginap. Tikar yang ada kusambar dan rentangkan. Di sudut pondokan itu ada sepasang, entah pacaran atau pasutri, tapi pokoknya cowok dan cewek. Sementara di pondokan lain ada beberapa pria tidur terpisah. Tidak sampai 10 orang di tempat sunyi ini.

Turu sik po?” tanya Chiko.

“Iyolah. Sambil curhat, sambil bobo,” ujarku.

Maka empat lelaki dengan empat kisah sendiri-sendiri itu terlelap dalam dingin. Ehm, Yama sendiri punya kisah juga, dengan adik kelas yang kami juga kenal. Aku juga sempat ditegur karena terlalu kepo. Yah, mohon dimaklumi, naluri jurnalisme warga untuk seorang calon gubernur. Walaupun baru sebatas gubernur BEM.

Aku, Bayu, dan Chiko tidur seadanya. Yama? Komplit dengan bantal dan selimut yang dibawa dari rumahnya. Bagiku ini tampak biasa, toh biasanya juga hanya modal sarung dan kaos kaki cukup. Ngapain juga bawa selimut?

Apakah aku benar?

Dua jam kemudian, semuanya menjadi salah.

Angin di jam 2 pagi sangat sangat sangat sangat sangat dingin. Sampai lima kali sangat saking dinginnya. Aku terbangun, menekuk badan, mengangkat sarung, dan gagal menambah suhu. Aku mulai gemetar dan semakin meringkuk.

Tiupan angin memang bebas karena pondokan itu hanya ada dinding, tiang, dan atap. Ini semacam tidur di alam bebas saja. Jadi ya semua bebas. Termasuk suhunya bebas.

Kondisi dingin membuatku tidak bisa terlelap. Aku menoleh ke kanan dan tampak Yama tidur dengan pulasnya bersama bantal dan selimut. Kalau ingat episode Spongebob waktu Chandy hibernasi, ingin rasanya memotong selimut itu. Sayangnya, Yama tidak sedang hibernasi. Itu saja bedanya.

Aku mendekati meja pendek yang ada di tengah pondokan. Biasanya meja ini untuk berdoa atau menaruh bekal. Tapi tampaknya akan menarik kalau dijadikan tameng angin saja. Anginnya datang dari arah depan, sementara di belakangku sudah tebing. Jadilah aku membuat tameng dari meja itu dan memilih untuk tidur di belakangnya.

Tapi yah namanya meja, yang ditutup hanya satu sisi. Dua sisi samping tidak tertutup sama sekali, tetap saja DINGIN!

Chiko dan Bayu tampak begitu gelisah dalam tidurnya. Dan aku sungguh yakin mereka sedang bermimpi main ski di kutub utara. Nggak mungkin mereka tahan dengan dinginnya pagi ini.

Kali ini aku benar. Tidak lama kemudian Bayu bangun dan mendekatiku yang sedang berlindung dibalik meja pendek. Yak, aku dan Bayu kemudian membentuk formasi seperti perang-perangan dengan angin. Dua orang cowok tidur berdua di balik meja sambil kedinginan. Tampak ironis dan menggelikan.

Jadilah malam yang seharusnya nikmat itu, menjadi penuh perjuangan. Aku dan Bayu tidak berkata-kata karena lebih baik diam daripada membiarkan udara malam masuk rongga mulut. Lha, nggak masuk aja, gigi sudah gemetar. Apalagi aku dan Bayu juga dapa kesadaran 50% yang bangun hanya karena kedinginan.

Chiko? Mungkin masalahnya terlalu pelik hingga dingin tidak berasa. Sepertinya kisah cintanya jauh lebih dingin.

Dua jam penuh penderitaan akhirnya diakhiri dengan kegagalan tidur sempurna. Aku beranjak ke tempat doa dan mulai curhat disana. Menyusul Chiko, Yama, dan Bayu. Tampaknya Bayu baru menikmati angin yang mulai reda di jam 4 pagi.

Tujuan akhirnya tercapai, curhat sambil doa. Eh, atau doa sambil curhat? Sama saja kali ya?

Maka berikutnya adalah… PULANG dan KULIAH!

Jalan Solo kembali menjadi tempat berpacu yang asyik. Jam 5 pagi masih nikmat untuk keluar Klaten menuju Jogja.  Dinginnya memang lumayan, tapi tidak seganas jam 2 pagi tadi. Kantuk masih menggantung sebenarnya, tapi jadi nggak ketika sampai di jalan besar karena kemarin setengah janjian mau bareng Alin. Yup, Alin lagi mudik dan balik Jogja pada pagi yang sama.

Ndi?” tanya Yama.

“Mboh,” ujarku.

Kedua motor berjalan perlahan sambil tengok belakang dan depan. Berhubung janjiannya keputus handphone yang low bat, jadinya cuma setengah doang. Nggak bisa janjian beneran.

Setelah berjalan dua kilometer, Alin tidak ditemukan dan memang tidak bisa dihubungi.

Bablas?” tanya Chiko.

“Iyolah. Emang main api itu tidak diberkati.”

Pelajaran utama, sesungguhnya main api itu memang tidak dianjurkan.

Was wus was wus sepanjang Jalan Solo membuat kami sampai Jogja dengan cepat. Ketika hendak menyeberang masuk ke rumah Yama, motor Chiko tiba-tiba melambat.

“Bocor!”

Wah! Apa ini dampak dari tuah bermain api? Bahkan ban motor Chiko yang notabene ada di bawah tubuhku, karena aku membonceng, bocor!

“Walah.. Isuk-isuk meneh,” gerutuku.

Chiko akhirnya meninggalkan sepeda motornya di rumah Yama. Sebagai pemuda harapan bangsa, bagi kami lebih penting kuliah. Apa iya? Entah juga sih.

Dan kuliah Jumat pagi menjadi penutup hari yang super dahsyat ketika karung mata menggantung nikmat minta ditutup sementara ilmu yang berguna bagi masa depan berkeliaran di telinga. Inilah profil pemuda masa kini. Tepatnya sih, pemuda masa kini dengan kisah-kisah cinta yang dingin.