Teknik Mencontek yang Aman

Semoga murid-murid orang tua saya nggak baca posting ini dah. Bisa-bisa saya nggak dianggap anak karena sudah menyebarkan kesesatan.

Sebagai produk pendidikan kampret, mau nggak mau saya harus berhadapan pada kebutuhan harus mencontek. Iya dong. Pendidikan–apalagi waktu saya SD-SMP–itu bertepatan dengan sidang konstituante, jadi belum modern, jadi masih tipe dan model menghafal sampai mati. Saya baru mendapati pendidikan yang agak beda ya waktu SMA, di De Britto, ketika ada saja ulangan yang menjelma menjadi pertanggungjawaban karya tulis atau paper. Itu keren.

Nah, dikarenakan saya sudah pernah mencontek dan rekor saya luar biasa: tidak pernah ketahuan, maka ada baiknya saya membagi tips mencontek.

1. Pastikan Tidak Ada Serigala Berbulu Domba di Kelas

Meskipun tidak sekolah di Ragunan atau di Kinantan, tapi sebelum mencontek, kita harus waspada pada lingkungan sekitar karena selalu ada saja hewan di dalam kelas. Mukanya polos, tampak seperti domba, tapi di balik itu ada Serigalanya. Meskipun agak kurang paham juga saya bentuknya serigala dengan bulu domba, itu kan semacam imut.

Tipe hewan seperti ini akan dengan mudah merekam tindak tanduk kita kalau mencontek, lalu kemudian melaporkannya ke guru. Ada sebuah sekolah yang menerapkan aturan tidak boleh mencontek sama sekali, kalau nyontek DO. Nah, si hewan serigala berbulu domba ini akan tetap dengan tega melaporkan tindak pencontekan ke guru, tanpa pikir panjang kalau temannya DO itu butuh duit berpuluh juta untuk bisa masuk sekolah baru kalau di DO.

Jadi, waspadalah. Sebelum mencontek, pastikan di kelas kita itu semuanya benar-benar manusia. Jangan sampai ada serigala berbulu domba, apalagi domba berbulu serigala.

2. Siapkan Pencitraan

Kalau guru atau siapapun pengawas pasti nggak akan detail mengawasi orang sekelas waktu ulangan atau ujian. Apalagi kalau ujiannya di GBK. Mereka akan lebih fokus pada orang-orang yang sudah punya pencitraan nggak oke, mulai dari bolosan, suka ribut di kelas, jarang buat PR, rengking rendah di kelas, dan seterusnya.

Guru nggak akan memberi perhatian lebih pada orang-orang yang rengking 1, aktif bertanya di kelas, anak baik-baik, rajin ngerjain PR, dan sejenisnya.

Jadi, sebelum memutuskan untuk mencontek, siapkan dahulu pencitraan bahwa kita adalah anak baik-baik. Misal nih, kita berniat mencontek di semester 2, ya waktu semester 1 belajarlah mati-matian sehingga kita memperoleh predikat anak baik. Dijamin waktu semester 2, kita nggak akan dilihat sama guru atau pengawas waktu ulangan atau ujian.

3. Siapkan Contekan Jauh-Jauh Hari Sebelumnya

Kalau memang hendak mencontek di paha, segeralah tato paha dengan contekan, kira-kira dua bulan sebelumnya. Uhuk.

Jadi begini, dalam mempersiapkan contekan, kita nggak mungkin menyalin semua buku catatan ke dalam kertas panjang yang akan dilipat dan disimpan di tempat-tempat maksiat. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membaca seluruh catatan yang ada, sesudah itu memilah-milah mana saja tidak sanggup disimpan sama otak. Semisal saya, tingkatan kingdom sampai ke spesies, saya nggak pernah bisa hafal. Tapi struktur atom 1 sampai 20 masih bisa masuk ke otak saya, mulai dari H He Li Be B C N O F Ne Na Mg Al Si P S Cl Ar K Ca. Jadi ya saya nggak perlu nyontek struktur atom 1-20, tapi saya perlu nyontek tingkatan kingdom sampai spesies.

Sama seperti ngeblog, dalam membuat contekan juga harus ditinjau ulang. Jadi sesudah menulis satu contekan, baca lagi contekan itu apakah akan benar-benar berguna waktu ujian atau ulangan kelak. Kalau tidak, revisilah contekan itu.

4. Menconteklah Pada Event Dengan Konsekuensi Ringan

Seumur-umur, saya nggak pernah nyontek pada saat ujian akhir nasional. Yang ada juga seorang anak SD Negeri Ngarai yang nyontek jawaban saya waktu saya Ebtanas.

Kenapa nggak?

Gila aja. Lebih baik lulus dengan nilai pas-pasan, daripada kita dikeluarkan dari lokasi ujian dan itu berarti otomatis nggak lulus.

Kalau nyontek, ya yang konsekuensinya ringan-ringan saja, pas ulangan harian adalah momen yang tepat. Lagipula kalau ulangan bisa jadi load tinggi karena dalam sehari harus pelajaran, dan ada 2-3 ulangan.

Kalau ujian? Kan jadwanya sudah diatur, pulang cepat juga, ke sekolah memang cuma ujian. Terus ngapain juga nyontek kan?

Ya begitu saja tips mencontek dari saya. Dijamin aman, karena sampai usia lanjut seperti sekarang, yang mana daripada saya sudah nggak ikutan ujian lagi kecuali ujian hidup. Kalau ujian hidup boleh nyontek soalnya.

Ehm, coba perhatikan kembali teknik 2 dan 3.

Kalau kita bisa jernih melihatnya, maka jadinya akan berbeda.

Teknik 2. Ketika seseorang membuat pencitraan anak baik-baik, maka dalam periode itu dia akan berlaku baik-baik. Pada akhirnya dia akan terbiasa hidup baik-baik dan menganggap mencontek itu ya nggak guna.

Teknik 3. Dalam memilih materi yang hendak dicontek, otomatis ada proses membaca catatan, adalah proses pemilihan poin-poin penting pelajaran. Lalu kemudian menulis contekan, ada proses membaca-mencerna-menyalin disana. Sejak sebelum UAN SMA saya terbiasa memiliki 1 buku yang isinya adalah re-write dari catatan yang saya punya, karena membaca-mencerna-menyalin adalah salah satu metode yang baik untuk sebagian orang, meskipun nggak baik untuk kantong anak kos. Jadi dalam tahap ini, menurut pengalaman saya, contekan yang sudah dibuat jadinya ya nggak dikeluarkan, wong gara-gara baca dan nyalin tadi, saya malah jadi ingat isi catatan saya.

Sekian saja. Semoga membantu. Kalau tidak, yah harap maklum. Terima kasih sudah nyasar disini.

Advertisements

5 thoughts on “Teknik Mencontek yang Aman

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s