Feel Their Happiness

Baru sadar, sudah lebih dari 6 bulan nggak mengupdate cerita soal Dolanz-Dolanz. Uhuk. Rencana saya sih, tulisan ini akan jadi kompilasi yang menarik jika sebelumnya saya sudah jadi penulis yang terkenal. Dan pada akhirnya teman-teman saya yang gokil-gokil itu akan jadi terkenal juga. Sayangnya, sampai hari ini pageview saya ya masuk 100-an aja per hari.

Kapan terkenalnya?

Ya sudah. Populer tentu saja bukan tujuan. Tapi berkarya adalah keharusan. Bukan begitu?

Jadi, mari kita teruskan.

* * *

Hidup itu kadang runyam ya. Makin runyam lagi urusan perlelakian di sesama dolaners. Selain Bona yang terus bertahan menerjang badai lautan bersama kekasihnya sejak SMA, dolaners lelaki yang lain adalah peserta penggalauan massal yang digelar secara rutin oleh yang lainnya.

Dan tentu saja termasuk aku.

Tapi penggalauan itu bisa jadi nggak runyam, ketika satu persatu kabar gembira muncul. Yah, kabar gembira buat anak kuliahan selain jam kosong adalah…

teman punya pacar.

Ketika akhirnya teman sepergalauan itu punya pacar, rasanya sudah ikut senang. Walaupun aku masih juga tidak punya pacar. Walaupun itu berarti aku akan kehilangan teman menggalau ria sambil nonton bokep yang di-fast forward. Nah, berikut beberapa kisahnya, dan mohon maaf kalau akan terlalu banyak melibatkan Chiko. Iya, dia yang paling playboy soalnya.

Playboy kok galauan?

Chiko – Eka

Ini berita yang sifatnya syahdan. Apalagi Eka itu kakak kelas, dan aku sudah mengenalnya sejak aku masih SMA. Kabar kabur sudah muncul sesudah perhelatan Pharmacy Performance yang merupakan embrio terbentuknya UKF Dolanz-Dolanz.

Dan sebagai anak yang masih polos, aku tidak terlalu paham bahwa Chiko dan orang yang aku panggil Mbak Eka itu sudah dekat. Lah manggil Mbak soalnya kakak kelas. Iya to?

Begitu mendengar kabar kalau Chiko jadian sama Eka, perasaannya sih, “ohhh…”

Dan berhubung UKF Dolanz-Dolanz belum terbentuk, perasaan ikut bahagianya masih sedikit. Belum kelihatan, kayak mukaku.

Chiko (lagi) – Tina

Baiklah, untuk sebuah sebab musabab yang akupun tidak mengerti apa, Chiko putus sama Eka. Dan seiring dengan rencana perhelatan besar dolaners, maka tertiup kabar yang oye, Chiko sepertinya sedang dekat sama Tina.

Perhelatan besar ini adalah silaturahmi ke Pantai Ngobaran, season 2. Setelah season 1 yang agak kurang sukses, namun kemudian sukses menjadi momen berdirinya UKF Dolanz-Dolanz. Disebut besar karena direncanakan dengan lebih matang, dan dengan peserta yang jauh lebih banyak. Dua kali lipat rasanya.

“Kowe karo sopo, Ko?”

Pertanyaan mendasar ini, karena di petualangan sebelumnya Chiko memboncengkan Mami Aya, sekaligus sebagai korlap, koordinator ngelap. Perlu ditanyakan karena Tina juga termasuk angkatan kita, jadi siapa tahu hendak turut.

“Bonceng Tina, lah.”

“Lah uwis jadian po?”

Dan playboy itu diam seribu bahasa. Oke, baiklah. Nanti juga ketahuan.

Chiko pada akhirnya membawa Tina di perjalanan 70 kilometer ke selatan, yang bukan dilakukan untuk mencari kitab suci. Di perjalanan menggunakan sepeda motor yang kalau nggak salah namanya Gita itu, dolaners silih berganti menguntit kebersamaan dua sejoli itu.

“Eh, lah uwis jadian po?”

Bisik-bisik terjadi di pasukan sepeda motor di belakang Chiko-Tina.

“Lha mboh.”

“Nek uwis, kok ora dipeluk?”

Kala itu harga bensin masih di bawah 4.500, jadi wajar kalau anak mudanya beda kayak sekarang. Sekarang mah pacar juga bukan, tetap aja main peluk-pelukan.

“Ngko wae takon.”

Informasi sudah jadian itu ternyata dimiliki beberapa orang di dalam rombongan, namun memang belum tersebar luas. Dan pemandangan 70 kilometer pp tadi, plus adegan di pantai akhirnya membongkar fakta tersebut.

Cihuy, turut bergembira. Bahkan turut nggarapi di pantai. Fotonya? Ada. :p

Bayu – Putri

Sejujurnya hubungan Bayu dan Putri ini termasuk absurd tingkat kotamadya. Bayu temanku SMA, Putri temanku waktu ospek fakultas. Dan sebagai rangkaian dari proyek gagalku mencari pacar yang adalah temannya Putri, maka ditemukan efek samping yang lebih poten. Putri ternyata suka sama Bayu.

Ini juga cihuy. Proyek yang menarik. Apalagi melihat bahwa Bayu ini tampaknya belum suka wanita. Waduh. Padahal, kurang apa dia? Tampang lumayan, nyaingi si Chiko deh. Otak? Jelas ada. Saking adanya, Bayu bisa tidur sepanjang kuliah namun kemudian ketika bangun bisa melontarkan pertanyaan yang relevan dengan kuliah yang disampaikan sepanjang dia tidur tadi. Bahkan beberapa kali pertanyannya dapat pujian dari dosen.

Entah bagaimana ihwalnya, sampai kemudian Bayu yang nggak suka sama Putri, terus kemudian bisa dekat, teruusss, teruuuusss, dan teruussss sampai terdengar kabar bahwa mereka sudah jadian.

Sebagai salah satu pelopor-ingat, dia efek samping proyekku yang gagal-tentu saja aku ikut senang!

Roman – Adel

Nah ini, termasuk yang menjadi catatan turut senang milikku. Adel adalah korban yang berhasil aku gaet untuk kuliah di Farmasi. Dia teman agak lama, ketemunya waktu sama-sama ikut sanggar menulis yang sukses untuk gagal menelurkan buku. Ealah.

Roman sendiri adalah salah satu tempat peraduan untuk berteduh, selain kosannya Toni. Kebetulan nih, Adel sering SMS-an sama aku dan sebenarnya bilang kalau dia nge-fans sama Toni dengan rambut gondrongnya yang penuh dilema.

Tapi mungkin peletnya Roman lebih kuat, mereka kemudian bisa janjian. Sebuah janjian yang monumental, di tempat gorengan. Sepuluh meter dari kamar Roman.

Aku dan Bayu sempat membuka-buka HP Roman sesudah itu, maklum jaman itu belum ada smartphone, jadi semuanya phone masih bisa dibodohi, termasuk untuk dibuka-buka SMS-nya. Jadi deh kami tahu bahwa Roman dan Adel janjian di gorengan.

Dan persis ketika Dolaners plus-plus melakukan perjalanan ke Sri Ningsih, Roman dan Adel ikutan berangkat. Tanpa perlu disimpulkan, itu namanya sudah jadian.

Lah, kok bisa-bisanya Adel pindah kiblat dari Toni ke Roman? Mboh. Sebagai teman main dan teman lama, ikut senang juga pastinya.

Riono alias Richard – Riana

Sesungguhnya ya, kata orang Jerman, witing tresno jalaran soko kulino dan sesekali dapat diterjemahkan menjadi witing tresno jalaran soko ora ono sik lio, dan sekali-kali juga dapat menjadi witing tresno jalaran soko telo (emang e getuk?). Dan pepatah warga Jerman tadi dipakai banget oleh Richard untuk mendapatkan Riana.

Pendekatannya sih sudah dari awal. Ibarat kata sudah ditakdirkan oleh yang berkuasa di Biro Akademik. Riana punya nomor mahasiswa 87 dan Richard 88. Namanya juga mahasiswa, jadilah mereka selalu bersama, dalam suka dan duka, dalam kelompok apapun yang dibagi berdasarkan nomor absen. Hore!

Tapi momen mereka jadian sedikit lenyap karena Dolaners sibuk bekerja di berbagai tempat karena gempa. Aku di Bethesda, lanjut ke JRS. Roman dan Adel banyak di Bantul, demikian juga Bayu plus Putri. Oya, pada periode ini Bayu dan Putri sudah menjadi mantan kekasih, dengan realita yang miris. Kalau dulu Putri ngebet sama Bayu sekarang kebalikannya. Seandainya mereka saling ngebet pada saat yang sama.

Kabar kabur mulai terasa sesudah masuk lagi demi menyelesaikan ujian. Dan memang Riono dan Riana sudah menjadi sejoli pada periode menjadi relawan gempa.

Somebody said, “berkah gempa.”

Meski aku kurang setuju dengan istilah itu, ya sudahlah. Ikut senang! Senang melulu, aku kok nggak jadian-jadian ya?

Nasib.

Toni – Tini

Aku dan Toni kebetulan sekelas, dan di kelas anak Klinis, lelaki adalah manusia yang sama langkanya dengan Panda di dunia. Plus, entah darimana pula ada ide terkutuk untuk lomba Pom-Pom Boys se-farmasi. Huaaaa…

Mau nggak mau, aku, Toni, dan beberapa lelaki yang ada terpaksa terjun payung, termasuk menerjunkan tingkat kemaluan ke level terbawah untuk mewakili kelas Klinis ini.

Persiapan.. Persiapan.. Akuakuakuakua.. Mijonmijonmijon..

“Aku isin cah.”

“Aku yo iyo.”

“Lha aku ora po?”

Begitulah. Lelaki pun bisa malu, apalagi disuruh Pom-Pom Boys.

“Nek aku jomblo selamanya, kowe-kowe kudu tanggung jawab,” ujar Toni.

“Matamu,” timpal yang lain.

Pergelaran itu akhirnya berlalu juga, tentunya dengan sedikit meninggalkan kemaluan yang tersisa. Ya sudahlah, semoga adek-adek yang saya asisteni tidak melihat aib yang terjadi tersebut. Maluk euy.

Itu hari Kamis.

Seninnya, aku datang ke kosnya Toni. Dan karena sudah menganggap kos Toni adalah milik sendiri–sama halnya dengan Dolaners yang lain–maka aku langsung melihat di depan pintu yang terbuka itu ada…

sandal wanita.

Tercekatlah aku di depan pintu, begitu melihat Tini ada disana lagi ngobrol sam Toni. Sambil mengeluarkan flashdisk, aku melangkah mundur, lalu pura-pura menyapa Bambang di kamar sebelah.

Yah, teman yang nomor mahasiswanya denganku ibarat Riono-Riana itu sudah punya pacar juga. Ikut senang. Hore. Hore.

*menangis pilu dalam hati*

Bayu – Putri (season 2)

Hari terakhir ngampus. Akhirnya! Dan keesokan harinya aku hendak pulang kampung ke kampung yang sudah tidak pernah aku injak sejak aku jadi mahasiswa. Gile ya, toyib sekali aku ini.

Di hari terakhir ini, aku masih bertemu Chica dan Bayu di kampus. Maka ngobrollah kami di tangga depan hall kampus.

Dan si Chica yang polos habis, dan cenderung oon, tapi kalau kuliah pinter ini tanpa tedeng aling-aling bertanya ke Bayu, “Wis jadian urung karo Putri?”

Memang, beberapa pekan belakangan, mereka tampak akrab kembali. Sebuah petualangan 1 tahun yang keren sekali. Ya meskipun aku sudah menangkap perubahan pesat dalam diri Putri, yang kemudian sedikit menjauhkanku darinya. Selain tentunya karena nggak ada proyekan lagi gitu.

“Uwis,” jawab Bayu sambil cengegesan.

Haiyah! Ada pula pacaran season 2 selang setahun? Cinta memang gila, segila cinta fitri yang berseason-season itu. Meski sudah nggak setuju. Turut senang deh.

Yama – Lia

Boleh baca kisah Dolaners yang lain untuk tahu seberapa strategis posisi Yama di UKF Dolanz-Dolanz. Dan ketika dia kemudian termasuk jomblo, maka itu juga jadi isu. Apalagi umurnya waktu itu sudah mau 22 tahun.

Tapi ya, walaupun tampangnya begitu, yang ngefans yang tetap saja ada. Heran saya. Pesonanya sungguh luar biasa.

Semuanya baik-baik saja sampai kemudian Chiko memberi kabar padaku di akhir bulan Januari itu, bahwa Yama sudah jadian sama Lia! Oya, Lia ini teman satu kosnya Adel.

Weitz!

“Percoyo ora kowe?” tanya Chiko

“Sakjane ora sih.”

“Aku yo ora. Tapi kuwi tenan.”

Dan bagian terbaik dari semua itu adalah ketika Chiko mendeskripsikan semua detail penembakan yang kemudian membawa kita sampai pada kesimpulan:

ORA YAMA BANGET! TAPI KUWI TENAN!

Well, muka dan keseharian tidak mencerminkan keromantisan rupanya.

Dan beberapa hari kemudian, Chiko datang ke kosan Roman, melingkari sebuah tanggal di kalender, dan bilang:

“Aku wis nembak. Tapi njawab e tak kon sebulan meneh. Ben mikir.”

Chiko (lagi-lagi dia) – Irin

Bahwa kisah pahit ternyata tidak mengendurkan apapun, kalau sudah cinta. Mau tahu pahitnya semacam apa? Klik aja disini.

Ya, dengan kepahitan yang macam itu, Chiko kemudian tetap dekat-mendekat-lebih dekat, dan akhirnya menembak (dor!) Irin. Waktu ditembak ini, si Irin sudah jomblo sih, jadi ya wajar saja.

Fiuh.

Mau jadi apa kowe, Ko?

Ya gitu deh, kalau sudah sama-sama dewasa. Your own risk. 🙂

Dan persis 1 bulan sesudah Yama dan Lia diproklamirkan, due date yang dipasang Chiko tadi terlewati. Jawaban diterima, dan mereka jadian.

Ikut senang! Ikut senang! Meski dalam hati tetap bertanya-tanya. Kok ya bisa sih?

*catatan: di sela-sela Yama – Lia dan Chiko – Irin, aku jadian, sebentar sih.. tapi lumayan sempat nyari kado bareng Yama di Mirota Kampus plus ketahuan Roman-Adel di perempatan Concat*

Chiko (masih ini anak! edan!) – Cintia

Nyatanya Chiko juga nggak awer sama si Irin. Maka kembalilah dia menjadi petualang cinta. Dan edannya, sesudah dia putus di Lotek, langsung pamer ke aku sekaligus meminta nomor HP target selanjutnya.

Dasar lelaki! Untuk aku tidak suka lelaki!

Aku memberikan 2 nomor kala itu. Cintia dan Marin. Yang Marin tidak direkomendasikan karena toh dia pacarnya temanku. Gile ape?

Dan melalui proses silent operations tahu-tahu 1 September alias hanya beberapa bulan sesudah permintaan nomor HP itu, Chiko sudah jadian sama Cintia.

Sumpah, dalam hal mencari pacar, makhluk ini memang perlu disembah, terus dibanting. Begitu.

*Catatan: sebulan sesudah Chiko jadian, lewat proses yang juga silent operations, aku bisa jadian juga. Fiuh.*

Bayu – Clara

Beberapa bulan sebelum aku lulus dan Dolaners menjadi semakin seret untuk ketemu, Bayu mulai menebar tanya soal seorang wanita. Nggak jauh-jauh sih. Adek kelas, yang sengit-nya minta ampun sama dia. Terbukti waktu jadi panitia, dan tahu sendiri pemikirannya Bayu itu antah berantah, banyak dilawan oleh adek kelas, termasuk Clara.

Sambil sesekali rapat SC, Bayu bilang kalau Clara itu lumayan.

Ehm.

Padahalnya di SC itu juga ada Dita yang sohibnya Clara banget. Kok ya nggak bilang sama Dita aja? Malah sama aku? Nanti kan repot. *apa coba?*

Iseng deh, waktu ketemu Clara, aku menitipkan salam. Dan tentu saja responnya sengit. Iya, mereka sempat debat terbuka waktu rapat panitia yang mana Bayu SC-nya dan Clara salah satu OC.

Tapi siapa sangka?

Sengit itu lama-lama juga bisa nyerempet jadi cinta loh.

Isu beredar ketika salah seorang OC, adek kelas, laporan mendapati Bayu dan Clara pergi berdua di suatu hari Minggu dalam rangka bertemu Tuhan. Kedok religi adalah mekanisme paling mendasar dalam PDKT terhadap wanita, khususnya anak Dolaners. Percayalah!

Isu itu berkembang seminggu lamanya sampai kemudian aku dan pacar pergi bertemu Tuhan dan tidak sengaja melihat sebuah objek menarik hanya 4 meter di depan kami. Iyah, Bayu dan Clara duduk berduaan, sebelahan.

Nah.. Nah.. Nah..

Aku yang sudah resmi tentu nggak masalah dengan itu, nah mereka? Pasti ini ada apa-apanya.

Keesokan harinya terkuaklah fakta itu. Bayu akhirnya jadian sama Clara, persis sesudah momen aku nge-gap mereka. Dan ironisnya, bahkan jadian saja pakai bawa-bawa namaku. Kira-kira begini:

“Eh, kata si Goz kita digosipin loh.”

“Iya ya?”

“Iya. Lha gimana?”

“Gimana apanya?”

“Apa dijadiin beneran aja, biar nggak jadi gosip?”

PLAKKKK!!!!

Lu kate gue bigos?

Ah, ya sudahlah, turut bangga saja namaku dibawa dalam proses penembakan.

* * *

Begitulah beberapa kisah mendapati teman jadian. Sejatinya, aku merindukan saat-saat itu. Tapi sekarang adanya mereka sudah pada nikah. Jadi nggak mungkin kan ada kabar macam itu lagi? Yang ada kabar bahwa Clara melahirkan, lah itu baru masuk akal. Hehehehehehehe….

Cinta Yang Tak Sama

“Vin! Kembaranmu lewat!” seru Jonas kencang-kencang.

Sontak, tawa meledak dari mulut-mulut yang ada di tangga depan kampus itu. Hidup itu kadang unik, beberapa orang yang tidak memiliki pertalian darah sedikitpun ternyata bisa mempunyai muka yang mirip. Dan kali ini Davin yang ketiban nasib menemui adik kelas yang bermuka mirip dengannya.

Sejak pria-bermuka-mirip-davin ini masuk, seluruh teman-teman Davin sudah menggunakannya sebagai sarana untuk menghina-dina. Davin sendiri lebih suka tertawa-tawa sok manis, karena memang tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Ini adalah resiko berkumpul dengan Jonas, Olan, dan yang lainnya.

Bahwa nasib memang sedang menggariskan Davin untuk di-bully. Buktinya, tidak sampai 65 detik setelah pria-bermuka-mirip-davin itu lewat, muncullah Icha.

“Ihirrrrrr..,” teriak Olan, tak kalah kencangnya dengan Jonas.

“Tuh, Vin. Kejar! Gebetan jangan hanya untuk diceritakan, tapi untuk dijadikan pacar,” ujar Jonas, semacam pakar. Tentunya, karena Jonas sudah punya riwayat berpacaran dengan cewek dari 4 angkatan, mulai dari kakak kelas, teman sekelas dan seangkatan, teman sekelas waktu ngulang, sampai mahasiswi yang diasisteni. Kalau Jonas ngomong, kebanyakan itu praktek. Maka sebutlah ia sebagai praktisi percintaan.

“Apa sih?”

“Halah, sok cupu. Sudah sejauh mana sama Icha?”

“Sejauh timur dari barat,” jawab Davin, asal.

“Koplak.”

Tawa masih bersahutan di tangga depan kampus itu, sebuah tawa persahabatan, sebuah tawa hinaan yang menguatkan. Termasuk tawa yang membuat Davin masih dapat menyembunyikan sebuah fakta perih dari teman-temannya ini.

* * *

“Jadi gimana?”

Davin bertanya sambil mengaduk-aduk tape susu di hadapannya. Aslinya Davin memesan tape hangat dan Icha memesan susu hangat. Tapi entah karena mix-up atau hal lain, benda yang datang adalah tape susu. Sebuah minuman aneh yang mungkin memfirasatkan kejadian selanjutnya di malam ini.

“Nggak bisa, Mas.”

“Masih nggak bisa?’

“Ya, memang nggak bisa.”

“Masih sama alasannya dengan kemarin-kemarin?”

“Yup, benar sekali.”

“So, what should I do?”

“Nothing. Ya memang perasaanku ke kamu sebatas ini, Mas. Teman.”

Davin menghirup oksigen lebih dalam. Tidak banyak oksigen di tempat makan yang temboknya menggunakan milik Stasiun Tugu ini. Ada banyak asap rokok yang bercampur baur dengan asap panggangan jeroan ayam plus asap dari kopi joss.

“Boleh tanya sesuatu kalau gitu?”

“Apa, Mas?”

“Lalu kenapa kamu masih mau dekat denganku?”

“Kenapa?”

“Ehm, maksudku. Biasanya, cewek kalau sudah menolak cowok kan akan menjauhi atau bagaimana begitu.”

“Ah, siapa bilang?”

“Ya, menurut pengalaman.”

Icha tergelak. Davin memang sangat terbuka padanya, termasuk pengalamannya 20 kali ditolak cewek. Termasuk yang paling heroik ketika mengikuti Lora naik kereta api Pramex dari Lempuyangan, melakukan penembakan di atas kereta, ditolak dan kemudian turun di Klaten.

“Nggak lah, Mas. Justru aku yang nanya, sudah ditolak 3 kali, 4 sama ini, kok ya masih deket-deket aku?”

“Karena aku sayang kamu, Cha.”

Icha diam saja, mengaduk susu panas di hadapannya. Dan malam semakin larut, pertanda kehidupan lain di kota ini dimulai.

* * *

“Cieee, yang udah gandengan sama Icha. Udah sukses nih kayaknya?” seru Jonas ketika bertemu dengan Davin di depan papan pengumuman fakultas.

“Maksudnya?”

“Halah, nggak usah bohong. Atha bilang kok dia ngeliat Icha gandengan sama kamu, Vin.”

“Pacarmu bohong kali?”

“Mana ada Atha bohong, Vin? Kalau Jonas yang bohong, itu baru mungkin. Hahaha… Jadi udah jadian nih?”

“Apa sih? Nggak mudeng saya,” kata Davin sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Mas Jo!” Sebuah teriakan terdengar dari kejauhan. Jonas menoleh sekilas.

“Iya, Tha,” teriak Jonas. Pria playboy ini lalu berpaling ke Davin, “Ya kalau emang belum mau dipublish silahkan sih. Turut bahagia lah pokoknya, Bro. Semangat! Pacaran dulu ya. Haha.”

Tinggallah Davin dalam bengongnya. Bergandengan tangan dengan Icha adalah isi mimpinya, tapi bahkan untuk makan ke angkringan Tugu-pun mereka menggunakan sepeda motor sendiri-sendiri, bagaimana caranya mau gandengan?

Davin menerawang dalam bingungnya.

* * *

“Loh, Vin. Udah disini aja?” sapa Olan ketika memasuki ruang laboratorium.

“Dari dua jam yang lalu disini kali.”

“Eh, apa iya?”

“Iya.”

“Perasaan tadi di tangga aku ngeliat kamu sama Icha.”

“Ketularan deh nih anak.”

“Ketularan siapa, Vin?”

“Ketularan Jonas. Ketularan playboy juga nggak?”

“Syukurlah, belum.”

“Bagus.”

“Jangan mengalihkan topik, Vin. Beneran udah dua jam disini?”

“Iya.”

“Berarti tadi ngelihat siapa ya?”

“Hantu kali.”

“Oya, mungkin juga. Secara muka-mukamu itu memang sangat pasaran. Adik kelas aja ada yang mirip. Mungkin juga kamu punya kembaran di dunia lain. Ya udah, ini mau ngambil laporan doang kok. Duluan ya.”

“Ya.”

Davin semakin tenggelam dalam bingung yang mulai tak berkesudahan. Ada apa hari ini? Davin mulai lepas fokus dari eksperimennya, sampai kemudian, sebuah kemungkinan terlintas di benaknya.

“Jangan-jangan….”

* * *

sumber: love.catchsmile.com

Davin melajukan sepeda motornya dengan kecepatan biasa-biasa saja. Kebingungan yang melingkupi membuatnya berjalan sambil setengah berpikir. Ah, semoga saja kebingungannya tidak membuat Davin salah jalan dan tahu-tahu nongol di depan rumah Icha.

Bak tape hangat dan susu hangat yang menjadi tape susu hangat, otak Davin tiba-tiba meminta mata untuk melihat sebuah objek. Sweater garis-garis putih ungu. Ini mix up atau kenyataan?

Benda ini adalah kesayanagan Icha. Davin selalu melihat sweater ini ketika mereka berdua beriringan naik sepeda motor kalau hendak pergi makan. Davin bahkan tahu kalau di kanan atas sweater ini ada sedikit bagian yang tersangkut paku sehingga agak rompal. Saking detailnya.

Perlahan Davin sadar kalau ini kenyataan. Pandangannya lantas terpaku pada kenyataan bahwa orang yang menggunakan sweater itu tidak dalam posisi mengendarai sepeda motor, tapi berada jok belakang. Dan sepeda motornya bukanlah milik Icha karena Davin sangat paham nomor plat berikut bulan habis pajaknya plus berapa mur yang digunakan untuk memasang plat itu. Lagi-lagi, efek kebiasaan berjalan beriringan kalau janjian.

Otak Davin yang dipenuhi pertanyaan lantas mengarahkannya untuk bertindak bak mata-mata amatir. Davin mulai menjaga jarak sambil tetap membuntuti sepeda motor nuansa hitam merah yang menjadi target operasinya.

Empat lampu merah terlewati hingga akhirnya sepeda motor itu berhenti di sebuah tempat makan di kompleks Kridosono. Davin mengikuti namun kemudian menjauh ke arah pintu masuk stadion sepakbola. Matanya tetap awas mengamati keadaan.

Kedua orang di atas sepeda motor itu turun, melepas helm, melepas slayer, dan….

berjalan bergandengan tangan.

Davin menatap tajam dari kejauhan. Itu memang Icha. Sweaternya sudah jelas, termasuk bagian yang rusak, sama persis. Rambut panjang itu juga milik Icha, termasuk bando biru yang dikenakannya. Pipi chubby itu juga punya Icha. Ya pokoknya itu memang Icha.

Dan Icha bergandengan tangan dengan seseorang…

Keduanya menuju pintu masuk tempat makan bercat hijau, masih sambil bergandengan tangan. Tiba-tiba, si cowok melepaskan pegangan tangannya dan berlari kembali ke sepeda motornya. Icha sendiri berdiam di depan pintu masuk.

Cowok itu melihat bagian kunci kontak sepeda motornya dan mencabut sesuatu. Ah, paling kunci ketinggalan. Sambil mengantungi kunci itu, ia melihat ke sekeliling, dan Davin dapat melihat muka cowok itu dengan sangat jelas. Dan ternyata, Davin mengenalinya.

Davin mengucek-ucek matanya, lalu menampar pipinya sendiri.

Ia tidak sedang bermimpi, ini nyata. Bahwa cowok yang bergandengan tangan dengan Icha adalah adik kelasnya, si pria-bermuka-mirip-davin.

“Muka boleh sama, cinta yang tak sama,” gumam Davin, lemas. Ia kemudian menyalakan sepeda motornya dan beranjak pergi. Meninggalkan kepedihan dari 4 penolakan dan 1 penglihatan. Itu sebenar-benarnya pedih.