Feel Their Happiness

Baru sadar, sudah lebih dari 6 bulan nggak mengupdate cerita soal Dolanz-Dolanz. Uhuk. Rencana saya sih, tulisan ini akan jadi kompilasi yang menarik jika sebelumnya saya sudah jadi penulis yang terkenal. Dan pada akhirnya teman-teman saya yang gokil-gokil itu akan jadi terkenal juga. Sayangnya, sampai hari ini pageview saya ya masuk 100-an aja per hari.

Kapan terkenalnya?

Ya sudah. Populer tentu saja bukan tujuan. Tapi berkarya adalah keharusan. Bukan begitu?

Jadi, mari kita teruskan.

* * *

Hidup itu kadang runyam ya. Makin runyam lagi urusan perlelakian di sesama dolaners. Selain Bona yang terus bertahan menerjang badai lautan bersama kekasihnya sejak SMA, dolaners lelaki yang lain adalah peserta penggalauan massal yang digelar secara rutin oleh yang lainnya.

Dan tentu saja termasuk aku.

Tapi penggalauan itu bisa jadi nggak runyam, ketika satu persatu kabar gembira muncul. Yah, kabar gembira buat anak kuliahan selain jam kosong adalah…

teman punya pacar.

Ketika akhirnya teman sepergalauan itu punya pacar, rasanya sudah ikut senang. Walaupun aku masih juga tidak punya pacar. Walaupun itu berarti aku akan kehilangan teman menggalau ria sambil nonton bokep yang di-fast forward. Nah, berikut beberapa kisahnya, dan mohon maaf kalau akan terlalu banyak melibatkan Chiko. Iya, dia yang paling playboy soalnya.

Playboy kok galauan?

Chiko – Eka

Ini berita yang sifatnya syahdan. Apalagi Eka itu kakak kelas, dan aku sudah mengenalnya sejak aku masih SMA. Kabar kabur sudah muncul sesudah perhelatan Pharmacy Performance yang merupakan embrio terbentuknya UKF Dolanz-Dolanz.

Dan sebagai anak yang masih polos, aku tidak terlalu paham bahwa Chiko dan orang yang aku panggil Mbak Eka itu sudah dekat. Lah manggil Mbak soalnya kakak kelas. Iya to?

Begitu mendengar kabar kalau Chiko jadian sama Eka, perasaannya sih, “ohhh…”

Dan berhubung UKF Dolanz-Dolanz belum terbentuk, perasaan ikut bahagianya masih sedikit. Belum kelihatan, kayak mukaku.

Chiko (lagi) – Tina

Baiklah, untuk sebuah sebab musabab yang akupun tidak mengerti apa, Chiko putus sama Eka. Dan seiring dengan rencana perhelatan besar dolaners, maka tertiup kabar yang oye, Chiko sepertinya sedang dekat sama Tina.

Perhelatan besar ini adalah silaturahmi ke Pantai Ngobaran, season 2. Setelah season 1 yang agak kurang sukses, namun kemudian sukses menjadi momen berdirinya UKF Dolanz-Dolanz. Disebut besar karena direncanakan dengan lebih matang, dan dengan peserta yang jauh lebih banyak. Dua kali lipat rasanya.

“Kowe karo sopo, Ko?”

Pertanyaan mendasar ini, karena di petualangan sebelumnya Chiko memboncengkan Mami Aya, sekaligus sebagai korlap, koordinator ngelap. Perlu ditanyakan karena Tina juga termasuk angkatan kita, jadi siapa tahu hendak turut.

“Bonceng Tina, lah.”

“Lah uwis jadian po?”

Dan playboy itu diam seribu bahasa. Oke, baiklah. Nanti juga ketahuan.

Chiko pada akhirnya membawa Tina di perjalanan 70 kilometer ke selatan, yang bukan dilakukan untuk mencari kitab suci. Di perjalanan menggunakan sepeda motor yang kalau nggak salah namanya Gita itu, dolaners silih berganti menguntit kebersamaan dua sejoli itu.

“Eh, lah uwis jadian po?”

Bisik-bisik terjadi di pasukan sepeda motor di belakang Chiko-Tina.

“Lha mboh.”

“Nek uwis, kok ora dipeluk?”

Kala itu harga bensin masih di bawah 4.500, jadi wajar kalau anak mudanya beda kayak sekarang. Sekarang mah pacar juga bukan, tetap aja main peluk-pelukan.

“Ngko wae takon.”

Informasi sudah jadian itu ternyata dimiliki beberapa orang di dalam rombongan, namun memang belum tersebar luas. Dan pemandangan 70 kilometer pp tadi, plus adegan di pantai akhirnya membongkar fakta tersebut.

Cihuy, turut bergembira. Bahkan turut nggarapi di pantai. Fotonya? Ada. :p

Bayu – Putri

Sejujurnya hubungan Bayu dan Putri ini termasuk absurd tingkat kotamadya. Bayu temanku SMA, Putri temanku waktu ospek fakultas. Dan sebagai rangkaian dari proyek gagalku mencari pacar yang adalah temannya Putri, maka ditemukan efek samping yang lebih poten. Putri ternyata suka sama Bayu.

Ini juga cihuy. Proyek yang menarik. Apalagi melihat bahwa Bayu ini tampaknya belum suka wanita. Waduh. Padahal, kurang apa dia? Tampang lumayan, nyaingi si Chiko deh. Otak? Jelas ada. Saking adanya, Bayu bisa tidur sepanjang kuliah namun kemudian ketika bangun bisa melontarkan pertanyaan yang relevan dengan kuliah yang disampaikan sepanjang dia tidur tadi. Bahkan beberapa kali pertanyannya dapat pujian dari dosen.

Entah bagaimana ihwalnya, sampai kemudian Bayu yang nggak suka sama Putri, terus kemudian bisa dekat, teruusss, teruuuusss, dan teruussss sampai terdengar kabar bahwa mereka sudah jadian.

Sebagai salah satu pelopor-ingat, dia efek samping proyekku yang gagal-tentu saja aku ikut senang!

Roman – Adel

Nah ini, termasuk yang menjadi catatan turut senang milikku. Adel adalah korban yang berhasil aku gaet untuk kuliah di Farmasi. Dia teman agak lama, ketemunya waktu sama-sama ikut sanggar menulis yang sukses untuk gagal menelurkan buku. Ealah.

Roman sendiri adalah salah satu tempat peraduan untuk berteduh, selain kosannya Toni. Kebetulan nih, Adel sering SMS-an sama aku dan sebenarnya bilang kalau dia nge-fans sama Toni dengan rambut gondrongnya yang penuh dilema.

Tapi mungkin peletnya Roman lebih kuat, mereka kemudian bisa janjian. Sebuah janjian yang monumental, di tempat gorengan. Sepuluh meter dari kamar Roman.

Aku dan Bayu sempat membuka-buka HP Roman sesudah itu, maklum jaman itu belum ada smartphone, jadi semuanya phone masih bisa dibodohi, termasuk untuk dibuka-buka SMS-nya. Jadi deh kami tahu bahwa Roman dan Adel janjian di gorengan.

Dan persis ketika Dolaners plus-plus melakukan perjalanan ke Sri Ningsih, Roman dan Adel ikutan berangkat. Tanpa perlu disimpulkan, itu namanya sudah jadian.

Lah, kok bisa-bisanya Adel pindah kiblat dari Toni ke Roman? Mboh. Sebagai teman main dan teman lama, ikut senang juga pastinya.

Riono alias Richard – Riana

Sesungguhnya ya, kata orang Jerman, witing tresno jalaran soko kulino dan sesekali dapat diterjemahkan menjadi witing tresno jalaran soko ora ono sik lio, dan sekali-kali juga dapat menjadi witing tresno jalaran soko telo (emang e getuk?). Dan pepatah warga Jerman tadi dipakai banget oleh Richard untuk mendapatkan Riana.

Pendekatannya sih sudah dari awal. Ibarat kata sudah ditakdirkan oleh yang berkuasa di Biro Akademik. Riana punya nomor mahasiswa 87 dan Richard 88. Namanya juga mahasiswa, jadilah mereka selalu bersama, dalam suka dan duka, dalam kelompok apapun yang dibagi berdasarkan nomor absen. Hore!

Tapi momen mereka jadian sedikit lenyap karena Dolaners sibuk bekerja di berbagai tempat karena gempa. Aku di Bethesda, lanjut ke JRS. Roman dan Adel banyak di Bantul, demikian juga Bayu plus Putri. Oya, pada periode ini Bayu dan Putri sudah menjadi mantan kekasih, dengan realita yang miris. Kalau dulu Putri ngebet sama Bayu sekarang kebalikannya. Seandainya mereka saling ngebet pada saat yang sama.

Kabar kabur mulai terasa sesudah masuk lagi demi menyelesaikan ujian. Dan memang Riono dan Riana sudah menjadi sejoli pada periode menjadi relawan gempa.

Somebody said, “berkah gempa.”

Meski aku kurang setuju dengan istilah itu, ya sudahlah. Ikut senang! Senang melulu, aku kok nggak jadian-jadian ya?

Nasib.

Toni – Tini

Aku dan Toni kebetulan sekelas, dan di kelas anak Klinis, lelaki adalah manusia yang sama langkanya dengan Panda di dunia. Plus, entah darimana pula ada ide terkutuk untuk lomba Pom-Pom Boys se-farmasi. Huaaaa…

Mau nggak mau, aku, Toni, dan beberapa lelaki yang ada terpaksa terjun payung, termasuk menerjunkan tingkat kemaluan ke level terbawah untuk mewakili kelas Klinis ini.

Persiapan.. Persiapan.. Akuakuakuakua.. Mijonmijonmijon..

“Aku isin cah.”

“Aku yo iyo.”

“Lha aku ora po?”

Begitulah. Lelaki pun bisa malu, apalagi disuruh Pom-Pom Boys.

“Nek aku jomblo selamanya, kowe-kowe kudu tanggung jawab,” ujar Toni.

“Matamu,” timpal yang lain.

Pergelaran itu akhirnya berlalu juga, tentunya dengan sedikit meninggalkan kemaluan yang tersisa. Ya sudahlah, semoga adek-adek yang saya asisteni tidak melihat aib yang terjadi tersebut. Maluk euy.

Itu hari Kamis.

Seninnya, aku datang ke kosnya Toni. Dan karena sudah menganggap kos Toni adalah milik sendiri–sama halnya dengan Dolaners yang lain–maka aku langsung melihat di depan pintu yang terbuka itu ada…

sandal wanita.

Tercekatlah aku di depan pintu, begitu melihat Tini ada disana lagi ngobrol sam Toni. Sambil mengeluarkan flashdisk, aku melangkah mundur, lalu pura-pura menyapa Bambang di kamar sebelah.

Yah, teman yang nomor mahasiswanya denganku ibarat Riono-Riana itu sudah punya pacar juga. Ikut senang. Hore. Hore.

*menangis pilu dalam hati*

Bayu – Putri (season 2)

Hari terakhir ngampus. Akhirnya! Dan keesokan harinya aku hendak pulang kampung ke kampung yang sudah tidak pernah aku injak sejak aku jadi mahasiswa. Gile ya, toyib sekali aku ini.

Di hari terakhir ini, aku masih bertemu Chica dan Bayu di kampus. Maka ngobrollah kami di tangga depan hall kampus.

Dan si Chica yang polos habis, dan cenderung oon, tapi kalau kuliah pinter ini tanpa tedeng aling-aling bertanya ke Bayu, “Wis jadian urung karo Putri?”

Memang, beberapa pekan belakangan, mereka tampak akrab kembali. Sebuah petualangan 1 tahun yang keren sekali. Ya meskipun aku sudah menangkap perubahan pesat dalam diri Putri, yang kemudian sedikit menjauhkanku darinya. Selain tentunya karena nggak ada proyekan lagi gitu.

“Uwis,” jawab Bayu sambil cengegesan.

Haiyah! Ada pula pacaran season 2 selang setahun? Cinta memang gila, segila cinta fitri yang berseason-season itu. Meski sudah nggak setuju. Turut senang deh.

Yama – Lia

Boleh baca kisah Dolaners yang lain untuk tahu seberapa strategis posisi Yama di UKF Dolanz-Dolanz. Dan ketika dia kemudian termasuk jomblo, maka itu juga jadi isu. Apalagi umurnya waktu itu sudah mau 22 tahun.

Tapi ya, walaupun tampangnya begitu, yang ngefans yang tetap saja ada. Heran saya. Pesonanya sungguh luar biasa.

Semuanya baik-baik saja sampai kemudian Chiko memberi kabar padaku di akhir bulan Januari itu, bahwa Yama sudah jadian sama Lia! Oya, Lia ini teman satu kosnya Adel.

Weitz!

“Percoyo ora kowe?” tanya Chiko

“Sakjane ora sih.”

“Aku yo ora. Tapi kuwi tenan.”

Dan bagian terbaik dari semua itu adalah ketika Chiko mendeskripsikan semua detail penembakan yang kemudian membawa kita sampai pada kesimpulan:

ORA YAMA BANGET! TAPI KUWI TENAN!

Well, muka dan keseharian tidak mencerminkan keromantisan rupanya.

Dan beberapa hari kemudian, Chiko datang ke kosan Roman, melingkari sebuah tanggal di kalender, dan bilang:

“Aku wis nembak. Tapi njawab e tak kon sebulan meneh. Ben mikir.”

Chiko (lagi-lagi dia) – Irin

Bahwa kisah pahit ternyata tidak mengendurkan apapun, kalau sudah cinta. Mau tahu pahitnya semacam apa? Klik aja disini.

Ya, dengan kepahitan yang macam itu, Chiko kemudian tetap dekat-mendekat-lebih dekat, dan akhirnya menembak (dor!) Irin. Waktu ditembak ini, si Irin sudah jomblo sih, jadi ya wajar saja.

Fiuh.

Mau jadi apa kowe, Ko?

Ya gitu deh, kalau sudah sama-sama dewasa. Your own risk. 🙂

Dan persis 1 bulan sesudah Yama dan Lia diproklamirkan, due date yang dipasang Chiko tadi terlewati. Jawaban diterima, dan mereka jadian.

Ikut senang! Ikut senang! Meski dalam hati tetap bertanya-tanya. Kok ya bisa sih?

*catatan: di sela-sela Yama – Lia dan Chiko – Irin, aku jadian, sebentar sih.. tapi lumayan sempat nyari kado bareng Yama di Mirota Kampus plus ketahuan Roman-Adel di perempatan Concat*

Chiko (masih ini anak! edan!) – Cintia

Nyatanya Chiko juga nggak awer sama si Irin. Maka kembalilah dia menjadi petualang cinta. Dan edannya, sesudah dia putus di Lotek, langsung pamer ke aku sekaligus meminta nomor HP target selanjutnya.

Dasar lelaki! Untuk aku tidak suka lelaki!

Aku memberikan 2 nomor kala itu. Cintia dan Marin. Yang Marin tidak direkomendasikan karena toh dia pacarnya temanku. Gile ape?

Dan melalui proses silent operations tahu-tahu 1 September alias hanya beberapa bulan sesudah permintaan nomor HP itu, Chiko sudah jadian sama Cintia.

Sumpah, dalam hal mencari pacar, makhluk ini memang perlu disembah, terus dibanting. Begitu.

*Catatan: sebulan sesudah Chiko jadian, lewat proses yang juga silent operations, aku bisa jadian juga. Fiuh.*

Bayu – Clara

Beberapa bulan sebelum aku lulus dan Dolaners menjadi semakin seret untuk ketemu, Bayu mulai menebar tanya soal seorang wanita. Nggak jauh-jauh sih. Adek kelas, yang sengit-nya minta ampun sama dia. Terbukti waktu jadi panitia, dan tahu sendiri pemikirannya Bayu itu antah berantah, banyak dilawan oleh adek kelas, termasuk Clara.

Sambil sesekali rapat SC, Bayu bilang kalau Clara itu lumayan.

Ehm.

Padahalnya di SC itu juga ada Dita yang sohibnya Clara banget. Kok ya nggak bilang sama Dita aja? Malah sama aku? Nanti kan repot. *apa coba?*

Iseng deh, waktu ketemu Clara, aku menitipkan salam. Dan tentu saja responnya sengit. Iya, mereka sempat debat terbuka waktu rapat panitia yang mana Bayu SC-nya dan Clara salah satu OC.

Tapi siapa sangka?

Sengit itu lama-lama juga bisa nyerempet jadi cinta loh.

Isu beredar ketika salah seorang OC, adek kelas, laporan mendapati Bayu dan Clara pergi berdua di suatu hari Minggu dalam rangka bertemu Tuhan. Kedok religi adalah mekanisme paling mendasar dalam PDKT terhadap wanita, khususnya anak Dolaners. Percayalah!

Isu itu berkembang seminggu lamanya sampai kemudian aku dan pacar pergi bertemu Tuhan dan tidak sengaja melihat sebuah objek menarik hanya 4 meter di depan kami. Iyah, Bayu dan Clara duduk berduaan, sebelahan.

Nah.. Nah.. Nah..

Aku yang sudah resmi tentu nggak masalah dengan itu, nah mereka? Pasti ini ada apa-apanya.

Keesokan harinya terkuaklah fakta itu. Bayu akhirnya jadian sama Clara, persis sesudah momen aku nge-gap mereka. Dan ironisnya, bahkan jadian saja pakai bawa-bawa namaku. Kira-kira begini:

“Eh, kata si Goz kita digosipin loh.”

“Iya ya?”

“Iya. Lha gimana?”

“Gimana apanya?”

“Apa dijadiin beneran aja, biar nggak jadi gosip?”

PLAKKKK!!!!

Lu kate gue bigos?

Ah, ya sudahlah, turut bangga saja namaku dibawa dalam proses penembakan.

* * *

Begitulah beberapa kisah mendapati teman jadian. Sejatinya, aku merindukan saat-saat itu. Tapi sekarang adanya mereka sudah pada nikah. Jadi nggak mungkin kan ada kabar macam itu lagi? Yang ada kabar bahwa Clara melahirkan, lah itu baru masuk akal. Hehehehehehehe….

Advertisements

Jawabannya Adalah….

Percayalah bahwa anak muda labil hanya akan ingat pada Tuhan ketika sedang gamang plus lagi gembira ria. Kalau flat-flat aja, yah so-so lah. Ini aku bukan bermaksud melakukan generalisasi, tapi setidaknya berlaku padaku. Dan jadwal hari ini adalah bertualang ke tempat yang baru dalam list Dolaners. Sebuah tempat doa berbasis sendang di barat Jogja. Maksudnya dari Jogja barat, terus ke barat lagi sampai jauh, kemudian mengalir ke laut. Eh salah, itu lagu Bengawan Solo ding!

Tempat itu bernama Sendang Jatiningsih, sebuah sendang yang berada di tepian Kali Progo yang arusnya sungguh wah itu. Tapi sebentar, emang pada tahu artinya sendang? Yak, sendang adalah kata serapan dari bahasa Jawa. Tentunya tidak diserap dengan kanebo. Arti sendang menurut kamus adalah kolam di pegunungan dsb yang airnya berasal dari mata air yang ada di dalamnya, biasa dipakai untuk mandi dan mencuci, airnya jernih karena mengalir terus; sumber air.

Jadi sendang yang dimaksud ini yang mana? Anggap saja sumber air yang jernih dan mengalir terus serta digunakan untuk mencuci dosa. Yak, ini adalah perspektif pendosa macam aku!

Sendang ini adalah koleksi kunjungan rohani berikutnya setelah Sendang Sono, yang mana aku tidak ikut semata-mata tidak ada angkutan dan aku tidak layak menggunakan odong-odong merah bernama Alfa ke tempat penuh tantangan macam Sendang ternama di seantero Indonesia itu. Koleksi kunjungan lain adalah Sendang Sriningsih. Ini sih sebenarnya ulah si Yama, pria asli Klaten yang kalau galau suka nangkring sendirian di Sriningsih. Mungkin dalam rangka kebersamaan, maka ngajak galau juga sama-sama. Begitulah persahabatan masa kini. Jangan ditiru ya!

Lokasi sendang ini dekat dengan rumahnya Randu, yang juga Dolaners. Jadi kalau dari arah Jogja, sendang ini lurus terus, nah di suatu pertigaan yang jumlahnya tiga, Randu belok kanan kalau mau pulang. Maka EO dalam hal ini adalah Randu. Pastinya!

Tim dari dusun Paingan dan kota Jogja berangkat. Tentunya sesudah menunggu Roman selesai mbojo sama Adel. Bagaimanapun single alias jomblo macam aku harus kukuh tegar berlapis emas dalam rangka menggelar toleransi terhadap teman yang bermalam mingguan. Toh, itu kan salah satu esensi berpacaran. Harap maklum kalau aku kurang paham karena emang belum pernah pacaran. Eh malah curhat.

Setelah jamnya usai, Roman yang kenaikan berat badannya tidak pernah berkurang ini bergabung dengan Toni yang gondrong sejati mirip rocker tapi doyan lagunya Padi yang romance asyik. Aku yakin role modelnya adalah Piyu, sayangnya Toni kriwul di ujung, jadi tingkat kemiripannya dengan Piyu menurun hingga tidak terdeteksi kualitatif.  Roman dan Toni lantas join dengan aku, Bayu, dan Chiko untuk sama-sama berangkat. Gelapnya malam membawa sepeda motor yang rata-rata berwarna gelap plus mengangkut aku yang gelap menuju ke sendang. Benar-benar gelap sekali dunia kalau begitu ya? Randu sendiri menunggu istruksi. Jadi kalau kami sudah sampai pasar akan SMS supaya ia berangkat dari rumah, jadi sama-sama sampai dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun kecuali bensin subsidi hasil perjalanan. Yang penting jangan kehilangan keperjakaan.

“Lha kok rame?” gumamku. Ini retorika, ya jelas aja ramai. Tempat ini kan tempat doa dan ini juga malam minggu, pastilah banyak orang yang berdoa.

“Jalan-jalan sik wae,” seret Chiko. Jadilah lima lelaki dengan kantuk yang melanda jalan-jalan mengitari sendang bak kehilangan mainan dan dengan guyub mencarinya bersama-sama. Sungguh indah persatuan dan kesatuan kalau begini ya.

Tak lama, Randu muncul dengan bermodal gitar. Yak, sebagai EO yang baik hati dan tidak gemar menabung, maka Randu wajib melayani tamu-tamu yang butuh alas tidur ini.

“Tapi masih rame, Ran,” tunjuk Bayu ke pondokan beratap satu-satunya di tempat itu yang layak dijadikan tempat beristirahat.

“Bentar lagi sepi,” ujar Randu. Sebagai orang dekat sini kami harus percaya pada Randu. Harap maklum, kalau lagi diajak kemana-mana gitu di malam minggu, hampir pasti Randu menolak karena lagi ada acara di tempat ini. Randu memang pendoa sejati, patut ditiru.

Dan benar saja, sejurus kemudian tempat itu sepi. Randu segera menggelar gitarnya, eh tikarnya yang disambut meriah dengan tepuk tangan oleh Roman dan Toni yang dari tadi sudah merindukan alas untuk berbaring. Jadi ini topiknya mau doa atau mau pindah bobo? Ehm, dalam hal ini curhat manis dalam wujud doa lebih enak dilakukan di dini hari dalam balutan angin malam dan kesepian yang maknyus. Jadi tidur adalah opsi awal. Ya semoga saja nggak kebablasan.

Dan topik hari ini, yaitu… ialah… yailah…. GEBETAN!

Ampun dah, jauh-jauh ke sendang, pakai bensin subsidi pula, masih aja ngomongin gebetan. Nongkrong di Pok-Whe ngomongin gebetan, terkapar di kosnya Roman juga ngomongin gebetan. Ehm, topik ini menarik karena Roman lagi tidur, sepertinya. Roman ini harus diwaspadai karena mulutnya ibarat ember bocor yang dapat mewartakan informasi kemana-mana dengan ceplas ceplos yang dahsyat dan kadang dilakukan dengan lantang di depan umum. Padahal sebagai rata-rata pemuja rahasia, kelakuan Roman bisa menjadi blunder yang mengerikan.

Gebetanku dan Bayu sudah bukan rahasia di Dolaners, soalnya berteman baik dan satu sekolah dulunya. Gebetannya Chiko? Yah, sebagai pria dengan ‘reputasi’ playboy tentunya kabar berita dan warta warga tentangnya begitu mudah diketahui publik dan mencari obrolan di angkringan. Macam artis kali bah!

NAH! Yang menjadi pertanyaan adalah gebetannya Randu yang tiada pernah kedengaran suaranya. Masak sih di Farmasi dengan perbandingan cowok-cewek 1:3, tidak ada satupun yang digebet. Kalaulah sampai tak ada maka aku akan mempertanyakan orientasi seksualnya. Ih, jauh kali yak!

“Lha kowe sopo, Ran?” tanya Bayu

Randu diam.

“Ada to tapi?” goda Chiko.

“Ya ada lah.”

Nah, ini disebut clue. Yeah!

“Anak mana?” tanyaku menyelidik penuh makna.

“Iyo bocah mana?” timpal Chiko.

“Farmasi?” sambung Bayu.

Dan ini sudah semacam interogasi pada tersangka pencurian hati anak calon mertua.

“Farmasi,” jawab Randu, tetap dengan suaranya yang tenang-tenang mendayung dihempas ombak. Bisa dibayangkan? Agak sulit ya?

Siapaaaa?” Aku, Chiko, dan Bayu sontak mempertanyakan kata yang sama. Sebagai cowok dengan reputasi gebetan berupa misteri, jawaban ini sangat dinantikan.

“Hoaehhmmmmm.. Ono opo iki?” Buntelan lemak di atas tikar bergerak manja.

“Wahhhhh.. bangun!” sebut Chiko dengan nada kecewa.

“Iya nih. Padahal tinggal dikit lagi,” sambungku.

Roman bangun dengan muka polos seolah tidak bersalah. Ya sebenarnya tidak bersalah sih, cuma ia bangun di waktu yang salah. Jadinya? Ya baiklah, Roman tetap salah dalam hal ini, karena ia bangun, sebuah rahasia besar tidak jadi terungkap!

Chiko, Bayu, dan aku terdiam dan memilih untuk terkapar. Satu kata lagi sebuah jawaban akan terungkap dan yang terjadi adalah gagal. Untuk mengobati kekecewaan, marilah kita menjawabnya dalam hidup kita masing-masing. Aku tak bobo risau dulu. Hiks.