Tag Archives: brebes

Cikarang-Jogja 18 Jam

Ini kisahnya sebagian besar sudah ditulis dalam Ada Yang Tertinggal di Jogja dan Ketika Mimpi Itu Jadi Nyata. Tapi rasanya ada yang kurang kalau saya nggak menceritakan detail khusus dari perjalanan ini.

Saya mengambil merk bis yang terkenal, Lorena. Satu-satunya alasan saya menggunakan armada itu adalah karena itu adalah jadwal termalam untuk eksekutif yang saya tahu. Bagaimanapun besoknya saya harus Gladi Bersih, dan itu pasti sangat melelahkan, maka saya perlu istirahat yang cukup di jalan.

Lagipula, dua trip terakhir saya ke Jogja yakni  Desember dan April juga menggunakan Lorena paling malam, dan hasilnya baik-baik saja. Okelah, yang Desember sebenarnya kurang baik, tapi itu karena macetnya Semarang-Magelang-Jogja gegara plat B pada mau liburan *sigh*

Perjalanan nyatanya dimulai jam 9 lewat, telat 1 jam dari jadwal. Saya masuk bis dan segera duduk di bangku nomor 1A, persis dekat pintu. Yah, saya belum pernah ambil seat 1A lagi semenjak kaki ketekuk sepanjang Bukittinggi-Palembang dengan armada Yoanda Prima.

Keluar Tol Cikarang Barat masih seperti biasanya, lanjut sampai ke Cikampek juga biasa saja. Ya, biasanya kan juga macet. Masih masuk akal. Tentunya selepas Cikampek saya nggak melepaskan pandangan dari sisi kiri (sisi utara). Terutama ketika melewati Indramayu.

Intinya sih, banyak yang mulus-mulus di sepanjang jalan itu.

Sekitar jam 11-an, bis akhirnya sampai di Pamanukan. Waktunya makan. Walaupun sebelumnya saya sudah makan mie, tapi bolehlah kalau diisi lagi. Sedikit keluhan sempat muncul di jalan karena bis itu kok rasanya panas sekali. Tapi namanya orang Indonesia, apa iya mau komplain?

Hampir jam 12 ketika kemudian Pak Supir dapat kabar bahwa HARUS menunggu 2 penumpang lagi, yang sedang dibawa sama Bis Purwokerto-an. Ini nih yang paling saya nggak suka dari Lorena, sistem oper-opernya. Di satu sisi itu keunggulan mereka, karena armada yang banyak. Dulu pernah dari Jogja ke Cikarang isi bisnya cuma 3, iya TIGA! Satu Cikarang, satu Cikampek, satunya Lampung. Si Lampung ini ya oper-operan dong. Hehehe.

Selama menunggu, servis AC dilakukan, dan saya malah berkenalan dengan Andreas, si bule dari Salzburg yang sampai sekarang masih nggak masuk akal buat saya kalau dia naik bis.

Sesudah AC beres, Pak Supir dapat kabar bahwa daerah Patrol macet 5-6 Km. Mak! Kilometer macetnya, panjang amat. Awalnya Pak Supir ngikut ke jalur macet itu, tapi kemudian belum 1 Km, udah mandek.

“Ngene tok iki?”

“Mbalek wae.”

Dan pada akhirnya bis besar itu berputar arah, kemudian menuju Subang dan seterusnya sampai saya bangun, sudah di Tol Kanci-Pejagan.

Bis akhirnya sampai di sekitar Brebes, dan ini berarti akan menuju Selatan. Niat awal saya, kalau dia turun di utara, saya kan turun di Jombor, jadi saya bisa langsung beli tiket pulang baru deh capcus ke Taman Budaya.

Tapi kalau lihat jalanan begini, kudu nyari alternatif solusi.

Dan percayalah, saya malah bersyukur bisa naik di bis yang supirnya enak begini. Punya inisiatif, nggak tampak ngantuk, dan ngajak ngomong penumpang. Keren.

Begitu mau ke arah Purwokerto, tahu-tahu ada aroma tidak menyenangkan. Dan nggak lama diikuti asap mengepul dari kotak yang berada PERSIS DI DEPAN SAYA. HUAAAAA!!!

“Mas.. Mas.. Iki kok ketoke kemebul yo..,” kata saya rada gemetar.

Bis lalu berhenti, copot aki, dan ternyata kotak itu isinya panel pengendali sistem elektrik. Syukurlah nggak kenapa-kenapa.

Saya belum pernah ngebis di masa jelang puasa. Kalau jelang lebaran, pernah. Dan jelang lebaran itu jalanannya mulus habis.

Ternyata… yang mulus itu dikerjakan jelang puasa.. -___-

Kena deh saya.

Banyak jalanan yang sedang digarap, dan itulah sumber kemacetannya. Jelas sekali, dan di beberapa tempat panjang sekali. Karena memang sudah kadung jalan, ya mau gimana lagi?

Sampailah kemudian di Karanganyar, dan saya melihat ATM BRI. Segera saya colok HP yang nyaris mati ke Powerbank, lalu telepon 021-121. Yah, jam 11 siang menelepon ke nomor itu jelas banget butuh perjuangan. Dan pada akhirnya ya memang butuh, ada kali 14 kesempatan panggilan sebelum kemudian sampai ke Mbak Sukma.

Transaksi terjadi. Jalanan ini terlalu kejam untuk saya pulang besok Minggu sesuai rencana awal, jadi keberangkatan dari Jogja digeser ke pagi saja.

Dan perjalanan dilanjutkan, disertai obrolan hangat Pak Supir dengan Andreas, yang saya terjemahkan.

Seperti waktu lihat poster “Piye Kabare Le? Penak Jamanku To?”

“Mister, do you know that?”

“Oh yeah. Soeharto.”

Atau ketika Andreas memuji Pak Supir.

“He is a good driver.”

“Mas, jarene kowe supir sik apik.”

“Tenane?”

“Tenan!”

“Weh. Thank you mister.”

Saya ngakak aja di jalanan ini, menemui Pak Supir yang lucu, dan bule Austria yang membumi.

“Ketoke umur e podo aku, Mas,” kata Pak Supir pada saya.

Saya lalu nanya umurnya Andreas.

“Almost fifty.”

“Arep seket, Mas.”

“Actually, fourty eight.”

“Papat wolu, Mas.”

Saya jadi kayak penerjemah presiden di kancah per-PBB-an.

Syukurlah, akhirnya sampai juga di Jogja, tepatnya di Giwangan, nyaris jam 3, dan itu berarti ada sekitar 18 jam saya ada di atas bis Lorena ini.

Saya turun, lalu mengucap terima kasih kepada Pak Supir, dan kerennya, kepada setiap penumpang dia selalu pesan untuk hati-hati. Asli, ini supir keren abis.

Sayangnya saya lupa namanya 😦

Andreas saya ajak ngojek, setelah sebelumnya saya nawar ojek. Mentang-mentang saya bawa bule, mau dimahalin.

“Jalane macet lho Mas.”

“Mas.. Mas.. Aku ki wong kene.. Aku ki yo ngerti dalan e..”

Mungkin dia belum tahu definisi macet versi anak Cikarang.

Akhirnya dengan 20 ribu, saya bisa berangkat ke TBY. Ehm, di Cikarang, ojek 20 ribu itu nggak ada apa-apanya, dan di Jogja saya bisa dapat Terminal Giwangan ke Taman Budaya Yogyakarta. Sebagai konsumen, saya iri. Titik.

Begitulah sekilas perjalanan saya. Meski bukan durasi terlama saya naik bis, karena ke Sumatera saya satuannya bukan jam tapi hari, tapi ini adalah paling lama yang saya tempuh untuk rute Cikarang-Jogja, atau sebaliknya. Cukup layak untuk jadi kisah tambahan di blog ini.

Setidaknya saya jadi tahu, bahwa perjalanan darat menjelang bulan puasa, ada perjalanan yang sebaiknya dihindari. Hehehe..

🙂

Ada Yang Tertinggal di Jogja

Tadi pagi bangun jam setengah 6, seperti biasa. Tapi agak aneh juga, ketika saya mencoba tidur lagi adanya malah gagal. Aneh karena seharusnya waktu tidur saya akan menjadi sangat panjang mengingat hari-hari yang baru saja saya lalui.

Ini dia hari-hari itu.

Kamis, 20 Juni

Seperti biasa, ya kerja. Pagi-pagi ada receiving cacing, lanjut siang sampai sore beres-beres WO untuk produksi minggu depan, harus kelar hari itu karena besoknya saya mau cuti. Dan nyaris tenggo, saya pulang lalu packing dengan tas baru (hehehehehe…).

Makan mie sebentar, ehm agak lama sih gara-gara yang bikin mie yang punya warung–eksmud bank yang umurnya 26 dan buka warung (tertampar…plakkk..). Lalu jam 7 cabut ke penitipan motor Bang Iwan.

Semuanya masih tampak baik-baik saja hingga di pool bis Lorena, jadwalnya jam 8 dan biasanya nih dari dua pengalaman sebelumnya, bis ini cukup ontime. Nyatanya? Jam 9 mau setengah 10 baru nongol.

Bis berjalan, dan disinilah saya akan menjalani petualangan unik 18 jam 🙂

Jumat, 21 Juni

Dimulai dari rumah makan di Pamanukan, persis pada saat pergantian hari. Mulai dari si Andreas bule Austria yang entah kenapa kok naik bis, yang komplain soal AC, saya malah jadi banyak ngobrol sama dia. Soal si Andreas ini saya akan kisahkan dalam posting terpisah deh.

Sekeluarnya dari restoran, eh sudah macet aja. Si pak supir langsung putar arah dan kemudian melewati Subang dan seterusnya sampai kemudian saya bangun sekitar jam 5. Termasur rekor bahwa saya bisa tidur di bis untuk durasi hampir 4 jam tanpa terbangun.

Dan saya baru ngeh, kalau di matahari terbit gini masih lewat Brebes, sampai Jogja-nya KAPAN???

Dan jadilah. Dari estimasi saya sampai Jogja jam 9, atau mentok-mentoknya 12, saya sampai Terminal Giwangan jam 3 sore. Langsung ngojek ke Taman Budaya dengan 20.000 rupiah. Berhubung di Cikarang 20.000 itu cuma dapat Jababeka-CTC, jadi ya saya ambil saja deal itu.

Sekitar setengah 4 saya akhirnya bergabung dengan penyanyi lain di Panggung Poelang Kampoeng yang lagi GR. Dan GR terus berlangsung sampai pukul setengah 11 (kira-kira). Dan bekal saya hanya gorengan di Brebes seharga 5000 rupiah sebelum akhirnya makan jam 8-an malam.

Dan saya kuat lho saudara-saudara. Hehehe.

Pulang jam 11-an, saya balikin si Cici dulu ke Paingan lalu rencananya mau ke kos si Dani. Eh, malah disuruh cari hotel sama curut yang satu itu. Ya sudah, akhirnya ambil hotel deh di dekat-dekat situ, untungnya masih dapat. Sambil setting-setting OFM dll, saya baru tidur jam 2 di hari Sabtu. Total waktu tidur saya di hari itu, ya hanya 4 jam. Mungkin tambah sisa-sisa di perjalanan ke Jogja, ya bisa 5 jam deh.

Sabtu, 22 Juni

THE DAY! YEAH! Dan saya belum hafal lagunya! Yeah lagi!

Saya bangun jam 6. Jadi ya tidurnya 4 jam kira-kira. Sarapan dulu, terus mandi-mandi tanpa kembang, lalu cabut dari hotel jam setengah 9 ke Stasiun Tugu buat nukerin tiket. Jam setengah 10-nya saya ke kos si Dani bareng-bareng mau terima raport.

Jadi wali murid lagi euy. Hahaha. Sesudah dulu saya jadi wali murid unyu di usia 18 tahun. Delapan tahun kemudian, ya saya ikut rapotan lagi. Dan seperti biasa, banyak hal-hal yang disampaikan dan sebenarnya malas untuk saya dengarkan. Saya lebih fokus menghafal Cantate Domino -____-;

Rapotan berlangsung sampai kira-kira jam 1. Dan si Dani minta makan pulak. Ampun dah! Ya ladeni dulu. Akhirnya saya sampai di TBY jam 2 kurang dan lantas make up sesudah sedikit mengeringkan keringat yang bercucuran. Cur…cur..cur..

Make up-cek panggung-ganti baju-pemanasan-lalu show. Hebring dah. Walau memang ini tidak penuh seperti konser CF yang lainnya, tapi tetap saja bikin hepi.

Sesudah bla-bla-bla, saya minggat jam setengah 1. Ke kosnya Dani lagi, lalu mengikuti kehendaknya untuk makan McD. Kasihan, orang susah, ya dibeliin dah. Balik lagi jam 2, persis ketika kick off Italia-Brazil.

Saya kemudian tidur, dan bangun lagi pas evaluasi pertandingan, kira-kira jam 4. Jadi saya tidur selama 2 jam. Hore!

Minggu, 23 Juni

Pagi jam 6 sudah cabut ke Paingan, jemput Cici dengan muka kantuknya. Lalu ke Tugu untuk kembali ke ibu tiri. Ibukota kan Jakarta, lah Cikarang anggap saja Ibu Tiri.

Persis 7.15, kereta Fajar Utama meluncur ke barat. Dan dengan niat kukuh saya pengen tidur. Tapi nyatanya, ya nggak tidur-tidur juga. Hamparan sawah hijau bikin nggak bisa tidur karena isinya mirip lagu Nusantara. Hahahahaha.

Mungkin saya hanya tidur 1 jam sepanjang jalan itu. Dan tentunya nggak bisa tidur juga dengan taksi dan bis Jababeka yang membawa saya beneran kembali ke Cikarang.

Begitu sampai, pengen tidur, ya nggak bisa juga. Akhirnya malah makan di Saung Air. Kelar jam 9, baru deh saya pulang dan tidur.

Fiuh. Dari Kamis malam ke hari ini yang mana seharusnya waktu tidur normal adalah 32 jam, saya hanya tidur 5  tambah 4 tambah 2 tambah 8 alias 19 jam. Artinya masih ngutang setengah hari. Entahlah, mungkin panggung terlalu mengeuforia sampai kemudian untuk tidur saja saya lupa. Hehehe..

Sungguh, itulah yang tertinggal di Jogja 🙂