5 Hal yang Disia-siakan Karena Terlalu Memilih

pablo

Alhamdulilah yah. Seburuk-buruknya tampang saya ini, kok ya masih saja ada yang ngefans. Cihui. Mungkin orang-(orang) yang nge-fans itu sedang terbutakan mata hatinya oleh cinta. Tsahhh. Bukan sotoy lho ini, tapi mendapat input dari orang-orang yang bisa dipercaya. Saya pas dikasih tahu juga kaget. Kok bisa-bisanya?

Tapi menjadi masalah buat saya ketika kemudian perfeksionisnya Capricorn Melankolis nongol. Mintanya yang sempurna. Padahal muka sendiri sudah jelas jauh dari standar, apalagi sempurna, gimana cara mau minta yang sempurna. *lempar kaca*

Ketika menggalau berjomblo ria, sudah nyaris setahun ini, hal yang kemudian jadi soal adalah: apakah saya terlalu memilih? Dipadukan dengan berbagai pengalaman orang lain, berikut lima hal yang disia-siakan oleh manusia akibat terlalu memilih pasangan.

1. Status Aman

Orang-orang yang terlalu memilih itu ya bakalan jadi jomblo. Mereka lupa bahwa jomblo itu adalah status yang tidak aman. Iya dong. Jomblo adalah status yang mempermudah orang untuk menjodoh-jodohkan. Which is, saya amat sangat tidak suka dijodoh-jodohkan. Jomblo juga bisa dengan mudah menjadi bahan cerita orang, bahkan ketika hanya sekadar pergi makan berdua dengan lawan jenis. Para jomblo–apalagi kantoran–juga cenderung akan jadi korban rayuan dan pendekatan dari orang-orang lain yang mengetahui bahwa mereka jomblo. Status taken sejatinya adalah perisai (emangnya kapten Amerika?) untuk pendekatan tahap awal dari orang-orang nakal. Hiyuh.

2. Kesempatan Belajar

Orang terlalu memilih karena ada yang tidak sesuai. Kalau saya misalnya, punya 2 patokan utama. Usia dan Agama. Itu nggak bisa ditawar-tawar lagi. Itu sebab saya pernah jadi bajingan yang melewatkan seorang gadis hanya karena ternyata dia beda agama sama saya. -___-“

Atau juga karena ketidaksesuaian sikap. Ada kan cewek nggak suka kalau cowoknya terlalu polos. Ada cowok nggak suka kalau ceweknya terlalu mudah dekat lelaki.

Padahal kalau mau ditelaah nih, bukankah itu kesempatan belajar yang besar? Seorang posesif begitu bertemu seorang yang berpikiran bebas, akan ada pembelajaran yang besar disana. Sama halnya dengan seorang yang tepat waktu, ketemu yang suka moloran. Saya belajar banget dari ketidaksesuaian karakter kedua orang tua saya. Satu Jawa, satu Batak. How come? Tapi nyatanya, perbedaan itu bisa menjadi kesempatan belajar yang baik untuk membentuk rumah tangga yang sa-ma-ra.

3. Kemungkinan Belaian

Jomblo-jomblo itu kalau di FB apa Twitter aja nggaya ngeluh kesepian. Giliran ada yang deketin, eh dicuekin. Giliran ada yang nyuekin, eh digalauin. Susah jadi jomblo yah.

Kalau tidak terlalu memilih, maka jomblo-jomblo itu tidak akan kekurangan belaian. Yah minimal belaian si Brown LINE (ala LDR).

4. Jodoh yang Dilewatkan

Ada kalanya orang terlalu memilih, saking kelewatnya, ternyata itu jodoh yang dilewatkan. Biasanya ini karena faktor prinsip. Misal suku dan agama. Dalam menjaring kandidat jodoh penghapus jomblo, apalagi usia 25 ke atas, maka suku dan agama menjadi faktor yang sangat penting. Soalnya, pikirannya udah ke kapan kawin, gimana bisa kawin, dll. Nggak ada tuh, “mari kita jalani dulu.”

Nah, begitu ketemu, beda suku misalnya. Langsung dilewatkan. Padahal, bisa jadi dialah sebenarnya jodoh kita. Emak saya dulu, juga dapat resistensi ketika menikah dengan orang Jawa. Kalau mau langsung memilih saklek kriteria, ya nggak jadi sama Bapak saya dong. Padahal nyatanya jadi.

Hayo, siapa yang sudah merasa melewatkan jodohnya cuma gara-gara suku dan agama? Hehehehe.

5. Kesempatan Bahagia Lebih Muda

Ada yang bilang, ketika sudah berdua, dan kemudian memutuskan untuk saling menerima, maka itu adalah jalan bahagia. Ada juga yang bilang ketika sudah berdua(an), dan kemudian memutuskan untuk saling berpelukan, maka disitu ada kemungkinan kejadian yang berlanjut pada organogenesis *halah*

Tapi ya gitu, apakah yakin kalau kita menunggu, akan dapat yang lebih baik? Atau malah akan dapat yang seadanya? Apakah yakin bahwa yang kita lewatkan sekarang itu tidak baik? Padahal, kalau dipilih sekarang, siapa tahu kesempatan bahagia lebih muda itu bisa diperoleh. Nggak urus lagi menggalau di FB dan Twitter kan?

Fiuh. Ini nggak lucu. Masuk kategorinya supaya sama dengan yang lain saja. Semoga jadi refleksi bersama. Amin.

😀 😀

Tampannya Mantanmu

Pendekatan adalah bagian cukup sulit dalam mencari jodoh, bagian yang agak sulit itu melakukan rekonfirmasi alias nembak, dan bagian paling sulit adalah mempertahankannya. Nah, karena sama-sama SULIT, maka mencari jodoh itu tampak penuh warna. Apalagi untuk Rio yang dikejar target kudu punya cewek.

Siapa yang kasih target?

Nggak ada sih. Cuma, menurut Rio, nggak wajar kalau kemudian memperkenalkan diri begini:
Nama: Rio Adam
Status: Jomblo sejak lahir

Astaga! Ini sudah mendekati usia 25. Dan dalam waktu dekat, Rio akan merayakan PESTA PERAK JOMBLO, alias 25 tahun menjomblo pada usia 25 tahun. Artinya lagi, Rio akan diketahui sebagai cowok yang belum pernah pacaran seumur hidupnya.

Mengganggu, ya tidak juga. Tapi ketika hormon lagi tinggi, melihat pasangan pacaran peluk-pelukan di atas motor waktu lampu merah sudah cukup meningkatkan tensi. Entahlah, apakah punya itu suatu keharusan?

Rio punya standar yang tinggi. Kalau Rio mau, pasti dengan mudah dia memperoleh cewek. Ya tinggal bilang sama bude-budenya, pasti bisa dikenalin sama kembang desa. Bayangkan, kembang desa loh ini. Fisik? Pasti oke. Otak? Bagaimanapun, manusia itu punya otak, dan itu bisa diisi dengan belajar.

Masalah paling mendasar adalah spesifikasi material eh pasangan hidup Rio itu rada ribet. Harus dari suku tertentu, nggak enak ngomongnya, nanti dikira saru eh SARA. Harus usia sekian, harus tampang demikian. Dan spesifikasi lain yang ketinggian untuk dipasangkan dengan muka pas-pasan ala Rio.

Yah, pas-pasan pokoknya. Pas orang mau gampar, ya bisa, saking mukanya Rio itu MARMOS alias marai emosi alias melihat aja sudah bisa bikin emosi. Belum lagi kalau pas di mall, karena mukanya itu, paling mentok Rio hanya ditawarin es krim, padahal pernah 2 jam ngubek-ubek pameran mobil, ditawarin brosur saja nggak. Malah satpam mengikuti sepanjang waktu. Yah,PALING alias tampang maling. Bayangkan seorang cowok dengan tampilan PALING MARMOS, tampang maling marai emosi. Kayak gitu aja spesifikasi minta tinggi. Ngawur! Dari sisi tampang, Rio ini ibarat bumi dan langit sama cowok paling tampan sekantornya, Sammy. Meski tidak pakai marga Simorangkir, tapi Sammy yang ini tampannya memadai. Saking memadainya, ketika melihat Sammy dan kemudian melihat Rio, 80% orang akan muntah dengan segera, 10% lain akan masuk UGD, dan 10% lainnya kehabisan napas. Shock.

Hasil penelusuran Rio, dengan bantuan rombongannya yang rata-rata sudah berpacar, rekomendasi mengarah pada staf di kantor seberang, namanya Dina. Nama klasik, kayak Dina Rahman. Ada ya?

Pengalaman sebagai cowok dengan riwayat pendekatan memadai, membuat naluri detektif Rio cukup terasah. Maka dengan mudah, Rio bisa mengetahui tentang Dina. Tanggal lahir, nomor telepon, alamat rumah, pekerjaan orang tua, hingga riwayat percintaan orang tua Dina. Sungguh sesuatu, begitu kata Syahroni.

Cuma ya itu tadi, namanya juga pengalaman pendekatan, berhubung belum ada yang berhasil, jadi tidak ada yang paham guna data-data itu tadi.

Menunggu bus adalah pekerjaan paling menarik bagi Rio beberapa hari belakangan. Kupingnya bagaikan penangkap sensor. Harap maklum karena kantor seberangpun kalau nunggu bus di halte yang sama dengan anak-anak kantor Rio, dan tentunya Rio juga. Makanya, sedikit diksi Dian terlontar, telinga Rio akan mendekat ke arah pembicaraan lalu kembali lagi setelah pembicaraan usai. Pernah sekali telinganya kebawa bus karena pembicaraan belum selesai.

“Iya tuh.. Si Dina kan masih single. Kebanyakan milih dia mah…” kata cewek yang tampan.

Single? Wah, peluang!

“Padahal ya cyinnnn… mantannya gantenggg boooo…” timpal cowok yang kemayu.

Yah, dunia memang mudah berotasi. Bahkan jenis kelamin kadang ikut berotasi juga.

“Setampan apa sih?” gumam Rio. Apakah cukup tampan atau pas tampan, atau pas-pasan dan tidak tampan macam dia?

Maka informasi ini kemudian dibawanya sampai jauh, akhirnya ke laut. Pelan-pelan komunikasinya dengan Dina mulai dijalin. BBM mulai dilancarkan, meski terkadang tanpa balasan. Itu biasa dalam pendekatan. Tapi tidak biasa dalam hubungan.

“Soreeeee.. Mendung nih.. Pulang?”

Send. Sebuah pesan Whatsapp disampaikan, paket BBM lagi habis. Harap maklum. Ini tanggal tua, saking tuanya, si tanggal sampai ubanan.

“Belum ah.. Nanti aja..”

Pesan-pesan mulai saling berbalas antara Rio dan Dina. Terus menerus, sampai mentari terbenam, sampai OB mengantarkan makanan ke meja masing-masing, sampai keduanya makan bersama. Ya sama-sama makan, di kantor yang berbeda. Anggaplah penjajakan untuk makan bersama.

Pesan berjalan sampai yang agak pribadi.

“Sudah berapa kali pacaran sih?” tanya Rio iseng.

“Sekali doang. Kamu?”

“Saya sih sudah sering. Sering ditolak.”

“Wah, kasihan. Mukanya nggak memadai ya?”

Asem. Pikir Rio. “Mantannya anak mana Din?”

“Nggak jauh-jauh. Itu ada di kantor kamu.”

Lho? Taring kepo mulai keluar. Kepo adalah penyakit berbahaya yang kadang-kadang perlu digunakan, sesekali.

“Siapa?”

“Yakin mau tahu?”

“Yakin! Siapa sih? Mau ngetes aja, siapa tahu saya menang ganteng.”

“Sammy.”

Upssss…. Dina ini mantannya si Sammy? Dan dia baru sekali pacaran? Artinya, kalau nanti Rio jadian sama Dina, maka pertanyaan dari teman-teman yang mungkin terjadi adalah, “Kok nggak seganteng yang kemarin?” atau “Ini dapat peliharaan darimana?”

“Mantanmu terlalu tampan Din. Aku tak cari yang lain sajalah,” gumam Rio, sambil menutup laptopnya dan bergegas pulang.